Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
pesan rahasia


__ADS_3

Pagi ini, siswi-siswi jurusan tata-boga terlihat sibuk. Mulai dari bel berbunyi, mereka sudah mempersiapkan diri untuk praktek memasak. Praktek memasak kali ini bisa dibilang menjadi penentu di semester ini. Karena dari nilai hasil dari praktek ini, seorang siswa dinyatakan naik ke kelas 12, atau tetap tinggal di kelas 11.


Dan seperti biasanya, Madina selalu meminta untuk dijadikan satu tim dengan Putri. Walau dari awal masuk kelas, mereka berdua tampak sedang tidak akur.


Bagi teman sekelasnya, itu bukan pemandangan aneh. sudah sering mereka berbeda pandangan, beradu pendapat, marahan, tapi tak lama kemudian, baikan lagi.


Ketika sedang fokus memasak, tiba-tiba saja Madina terlihat sempoyongan. Tapi tidak ada yang melihatnya. Dia tetap berusaha untuk melanjutkan memasaknya. Tapi dia berkeringat banyak. Putri yang melihat perubahan sikap dari Madina, menjadi curiga.


Saat dia bertanya ada apa, Madina masih bilang tidak apa-apa. Tapi itu tidak bertahan lama.


“DINA”


Putri memekik saat melihat Madina limbung. Sontak dia melempar panci yangs sedang dia pegang, dan menangkap tubuh Madina.


“Din, kamu kenapa?”tanya Putri.


Tapi Madina tidak menjawab. Wajahnya pucat, dan matanya seperti hendak terpejam. Dia nyaris pingsan.


“Cepat kita bawa ke UKS!” perintah gurunya.


“Baik, bu” jawab Putri.


“Kamu bantu Putri!” perintah bu guru itu kepada siswi lain.


Berdua, Putri memapah Madina menuju ruang UKS. Beruntung, Madina belum sepenuhnya pingsan. Jadi dia masih bisa menggerakkan kakinya,mengikuti langkah teman-teman yang memapahnya.


Tapi sialnya, tidak ada satupun siswa yang menjaga UKS. Tidak bisa disalahkan memang, karena yang mendapat jadwal menjaga UKS adalah teman sekelasnya. Itu artinya, Putri harus memberikan Madina pertolongan pertama sendiri.


“Put, kamu bisa sendiri, kan? Aku nggak mau tinggak kelas, ih” tanya temannya. Nada suaranya terdengar cemas.


“Ya udah, nggak papa. Bisa, kok” jawab Putri.


Seketika teman yang membantunya tadi berlari keluar ruangan, kembali ke ruang praktek memasak.


Putri melepas beberapa kancing baju seragam Madina,untuk memberikan ruang lebih bagi tubuh Madina. Dia juga melepas sepatu Madina. Tak lupa dia mengendurkan ikat pinggang sahabatnya itu.


Di saat mengendurkan ikat pinggang itulah, Putri merasakan ada keanehan pada perut Madina. Perut itu terlalu langsing, menurutnya. Bahkan ketika rebahan sekalipun.


“Kamu nggak sarapan, Din?” tanya Putri.


Madina tersentak mendapat pertanyaan menjurus dari Puri. Dia hanya menggelengkan kepala, sebagai jawabannya.


“Astaghfirulloh. Kamu marahan lagi sama ibu kamu?" tanya Putri.


Dia membaluri perut Madina dengan minyak kayu putih. Termasuk dada dan mengolesi di sekitaran lubang hidung Madina.


“Aku cariin makanan dulu” kata Putri.


Tanpa menunggu respon dari Madina, Putri langsung pergi menuju kantin. Ibu kantin sempat mempertanyakan kehadiran Putri.


Tapi saat sudah tahu masalah yang dihadapi Putri, bu kantin malah memberikan sebungkus roti dan sebotol air mineral secara gratis. Putri mengucapkan terimakasih seraya mencium tangan si ibu kantin.


“Makan dulu, Din!” pinta Putri.


“Enggak mau” jawab Madina.


“Makan!” pinta Putri lagi. Kali ini dia memaksa.


Madina berusaha untuk duduk. Putri membantunya dengan perlahan. Sedikit demi sedikit, Madina memakan roti pemberian Putri. Dalam hati, dia merasa senang mendapat perhatian dari sahabatnya ini.

__ADS_1


“Kamu kenapa nggak sarapan, sih? nggak dikasih uang jajan?” tanya Putri. Madina tidak menjawab, tapi juga tidak menggelengkan kepala.


“Kalo emang lagi marahan, terus nggak dikasih uang jajan, ya jangan terus nggak sarapan dong!” saran Putri. Madina masih tidak menjawab.


“Nggak usah malu, minta sama aku! Kalopun aku ngasih kamu, itu bukan aku merasa sok kaya”


“Aku sengaja, kok” potong Madina.


“Puasa?” tanya Putri. Madina tidak menjawab.


“Kalo puasa itu, sahur dulu! Nyari penyakit namanya, kalo ngasal gitu”


“Emang aku lagi nyari penyakit” jawab Madina. Putri terdiam beberapa saat.


“Dih, konyol banget sih, jadi orang” komentar Putri.


“Motivasinya apa, lagi? Buang-buang waktu orang aja” keluh Putri.


“Ya udah, sana kalo mau lanjut masak! Makasih, udah ditolongin. Kalo nggak iklas sih, nggak usah nolongin”


“Ya nggak gitu juga keles. Kamu udah bikin orang panik, tahu nggak? Terus sekarang?”


“Ya udah, kalo mau ikutan masak, balik aja!”


“Terus kamu? Tinggal kelas, sendirian? Emang bisa kamu masak segitu banyaknya sendirian?”


“Apa peduli kamu?”


Mereka saling menatap, masing-masing saling menunjukkan kekesalannya. Tapi tak ada juga yang ingin membuka suara lagi.


Putri tahu, mustahil bagi Madina untuk bisa keluar dari remidi jika tugas yang diberikan masih sama. Dia mengambil ponselnya.


“Halo, assalamu’alaikum, bu” sapa Putri.


“Bu Guru nggak perlu khawatir. Dina nggak apa-apa kok” jawab Putri.


“Ya udah, kamu buruan balik ke sini! Mumpung masih ada waktu. Entar kalo Dina butuh bantuan, biar telepon ibu aja” potong gurunya.


“Maaf, bu. Putri nggak bisa ninggalin Dina”


“Kalo kamu nggak balik sekarang juga, itu artinya kamu nggak naik kelas”


“Ada remidi kan, Bu?”


“Remidi itu buat yang nggak lolos, atau yang sakit, kaya Dina. Bukan buat yang mangkir”


“Ya, Putri tahu, bu. Tapi nggak mungkin juga Dina bakal lolos dari Remidi, kalau tugas yang diberikan, masih sama seperti sekarang. Dia butuh bantuan”


“Urusan tugas, itu urusan ibu. Bukan urusan kamu”


“Iya bu, Putri paham. Tapi maaf, Putri nggak bisa ninggalin Dina dengan kondisi begini. Putri tahu caranya membayar hutang uang, tapi Putri belum tahu bagaimana caranya membayar hutang budi. Putri ijin mangkir, bu. Assalamu’alaikum”


TUUUT


“Gila lu, minta ijin buat mangkir” komentar Madina.


“Apa urusan lu?” sahut Putri tak kalah sewot. Mereka terdiam beberapa saat.


“Abisin dong!” pinta Putri dengan suara lembut.

__ADS_1


“Emang harus?" tanya Madina.


“Itu pemberian dari seorang ibu, yang sedang berjuang menghidupi kedua anaknya. Jangan disia-siain. Insya Alloh ada berkahnya” jawap Putri disertai senyuman.


“Put”


Tiba-tiba Madina memeluk Putri, yang sedang berdiri di hadapannya. Terdengar pula isak tangis di pundak kanan Putri.


Putri bingung dibuatnya. Tapi sebelum mencari tahu apa yang sedang terjadi dengan sahabatnya itu, Putri terlebih dahulu membalas pelukan itu.


“Kamu kenapa, Din?” tanya Putri, setelah beberapa lama. Tapi tangis Madina belum juga mereda.


“Berat ya, ketularan kamu, tuh” jawab Madina.


“Ketularan? Ketularan apa? kan aku lagi sehat?” elak Putri.


“Ketularan baik, dan nggak suka boong” jawab Madina sambil tergelak.


“Lah?”


Putri keheranan dibuatnya. Dia sampai mendorong tubuh Madina untuk menjauh dari tubuhnya. Ditatapnya mata bening yang sedang berkaca-kaca itu.


“Aku emang pengen mangkir. Aku juga pengen ajak kamu mangkir. Tapi tiap hari duduk sama kamu, bikin aku ketakutan sendiri, kalo mau boong sama guru”


“Ha? gila, kamu. Kamu rela nyakitin tubuh kamu sendiri, cuman buat mangkir? Nggak ada cara lain, apa?” komentar Putri.


“Enggak. Cuman di jam ini, UKS sepi. Nggak ada yang jaga” jawab Madina. Putri masih tetap keheranan.


“Sumpah, aku nggak abis pikir deh, sama jalan pikiran kamu. Buat apa coba? Mau apa sekarang?”


“Buat ini”


Madina mengeluarkan sebuah buku dari dalam tasnya. Buku itu mengeluarkan aroma yang khas sekali. Putri mengernyitkan dahinya.


Dia sangat mengenal buku itu. itu buku ibunya. Dia bingung, bagaimana bisa buku itu ada pada Madina. Ya, meski buku itu sudah tidak dipakai, karena habis. Saat buku itu dia buka, di balik lembaran-lembaran kertas itu, terdapat selembar amplop putih.


“Aku mau ngasih ini” kata Madina lagi. Dia memberikan amplop itu.


Putri malah semakin keheranan, daripada mendapatkan jawaban. Dalam hati dia bertanya-tanya, sejak kapan tas madina ada di ruang UKS? Dan apa juga isi dari amplop itu. yang pasti itu bukan uang. Amplop itu tidak dilem, isinya terlihat saat dia menyibakkannya.


“Ini buat ibu kamu” kata Madina lirih.


Dia merebut amplop itu, sebelum Putri berhasil mengintip lebih jauh. Putri terkejut, lantas menatap wajah Madina. Mereka saling beradu pandang. Madina mengedutkan mata kanannya.


Bagi orang yang tidak tahu, mungkin dia akan mengira kalau Madina memang sedang kedutan. Padahal Madina bisa menggerakkan otot di bawah bola matanya.


“Oke” jawab Putri.


Dia mengerti apa arti dari kedutan itu. Dia mengambil kembali amplop itu, beserta dengan bukunya sekalian. Dia mengambil sesuatu dari lemari UKS. Ternyata dia juga punya sebuah tas slempang yang dia simpan di sana. Ke dalam tas itulah, Putri menyimpan titipan dari Madina.


Putri kembali menatap wajah Madina. Untuk pertama kalinya, setelah sekian lama, Madina menggunakan kembali metode aneh untuk menyampaikan pesannya, itu artinya, dia mencurigai setiap orang yang ada di antara mereka. Bukan hal aneh buat Putri, melihat Madina curiga kepada banyak orang.


Karena putusnya dia dengan pacarnya, itu karena ada teman yang jahil, melaporkan hubungan mereka kepada orang tua Madina. Sehingga orang tua Madina marah besar, mengetahui Madina berpacaran dengan orang tidak punya.


Tapi apa hubungannya dia dengan ibu? Apa ada kaitannya dengan mbak Adel?


“Now, what?” tanya Putri memecah keheningan.


“Nggak tahu” jawab Madina.

__ADS_1


“Dih. Dodol. Bener-bener, bocah” komentar Putri. Madina tergelak.


Mereka tertawa bersama, menertawakan kegilaan mereka. Pada akhirnya mereka berdua memutuskan untuk tetap berada di ruang UKS, sampai jam praktek selesai.


__ADS_2