
Huwannuru yahdil kha irina dziyau hu...
Ponsel Budi berdering kembali. Tapi karena pikirannya masih fokus memikirkan korelasi antara Luki dan bubarnya hubungan cintanya dengan Adel, membuatnya tidak responsif. Dengan enggan dia meraih ponsel itu. Bahkan dia tidak melihat siapa yang menelepon.
“Assalamu’alaikum”
Budi terkejut mendengar suara orang yang meneleponnya. Sontak matanya terbuka dengan penuh.
Adel?
“Wa’alaikum salam” jawab Budi.
“Maaf mas, ganggu istirahatnya”
Suara Adel terdengar serak, bergetar dan terisak. Tanda kalau dia baru saja menangis. Dan tangis itu belum sepenuhnya berhenti. Budi beranjak dari duduknya, karena dia mendapati Putri telah tertidur. Ke luar ruangan dia menuju.
“Del. Gimana kondisimu? Sekarang lagi dimana?” tanya Budi.
“Adel pusing, mas. Dunia Adel rasanya ancur, mas” jawab Adel.
“Eeem. Ini Adel di kantor polisi?”
“DI rumah sakit, mas”
“Tapi Adel nggak terluka, kan?”
“Enggak, mas. Cuman, sama polisinya ditempatin di sini dulu”
“Oke, oke. Adel nggak ada temen, ya? Aduh, aku juga nggak punya temen di daerah situ”
“Iya, mas. Makanya Adel nelpon mas Budi. Adel pusing banget, mas. Adel bener-bener nggak nyangka, ternyata dia beneran jahat”
Suara Adel terdengar menggeram. Terdengar juga suara besi berdenting. Sepertinya Adel meninju Salah satu besi di dekatnya sebagai ekspresi marah.
“Sabar, Del! Kontrol amarahmu!” saran Budi.
“Terus, ini belum boleh pulang apa belum kuat jalan, Del?” tanya Budi.
“Belum boleh, mas” jawab Adel.
“Mas. Adel mau nanya” lanjut Adel.
Suaranya masih menyiratkan kemarahan di tengah kesedihan.
“Apa?” sahut Budi.
“Mas. Mebel Adel apa pernah temuan narkobanya?” tanya Adel.
“Narkoba? Enggak” jawab Budi, terkejut.
“Nggak ada temuan keanehan, mas? Bentuk yang nggak sesuai desain, mungkin?”
“Eeem” Budi mencoba mengingat-ingat.
“Nggak ada, Del. Dari QC oke-oke aja. Dari bea cukai juga nggak ada laporan”
“Tapi kok kata penyidik tadi, ada temuan nakobanya, mas”
“Lah. Kok nggak diramein? Kan udah lama, itu”
“Itu dia, mas. Adel kaget banget dengernya. Bingung juga. Kan mebel Adel tuh, kayu pejal, bukannya besi bolong. Kalo ada ruangan khusus buat nyimpen sesuatu, pasti keliatan dari luarnya. Tapi pas Adel tanya, apa posisinya pas di lubang pasak, penyidik itu nggak jawab. Malah nanya, apa pernah liat pasak itu diganti sama bahan yang sama sekali berbeda. Dan dia merujuk pada besi bolong gitu, mas”
“Eeem” Budi seperti mendapatkan informasi baru seputar temuannya sendiri.
__ADS_1
“Kalo dari QC PRAM sih belum ada laporan, Del. Dari bea cukai juga belum ada laporan. Tapi emang dulu pernah ada kasus sama forwardernya”
“Kasus apa, mas?”
“Packing mebel kita, sempat dibobol orang. Waktu Madin nginep di rumahku itu”
“Oh, iya. Dibobol siapa, mas? Terus, mebel Adel gimana? Kok nggak ada laporan kerusakan dari PRAM?”
“Nggak tahu. Pak Paul yang bilang. Aku juga baru keinget lagi”
“Apa yang dicari dari mebel kita, mas? Jangan-jangan bener, mebel Adel ada narkobanya?”
“Jangan jauh-jauh dulu, mikirnya! Saingannya PRAM kan banyak, Del. Bisa-bisanya penyidik aja itu, nyari kambing hitam tambahan. Segala mebel disangkut-sangkutin. Ya masa bea cukai kelolosan? Segitu banyaknya lagi. Nggak mungkin itu ”
“Kalo sampe bener dia naruh narkoba di mebel Adel, Adel kutuk itu manusia laknat” kata Adel penuh kemarahan.
“Tunggu, tunggu! Maksudnya gimana, Del? Belum nyambung, aku” tanya Budi bingung.
Adel menceritakan pembicaraannya dengan penyidik perempuan tadi. Tentang bengkel kayu bapaknya yang dijadikan basis peredaran narkoba, tentang kemungkinan peredarannya menggunakan mebel produksi mereka. Terutama pada mebel pesanan pelanggan yang datangnya dari luki.
“Bang***. Bocah kepa***. SE*AN”
Budi mengumpat dengan suara menggeram lirih. Dia tidak menyangka kalau Luki benar-benar hanya memanfaatkan Adel.
Terjawab sudah untuk apa Luki bersikeras mendapatkan Adel, yang asetnya hanya sebuah bengkel kayu kecil. Pasti faktor kedekatan keluarga merekalah, yang membuat Luki merasa lebih punya advantage di bengkel itu, daripada bengkel-bengkel lain. Tinggal jenis narkoba apa yang diedarkan si luki itu, yang belum jelas.
“Oke, Del. Kamu yang tenang dulu, ya! Aku cairiin bantuan. Mungkin aku nggak bisa secepetnya ke sana. Tapi aku coba bantu semaksimalnya dari sini” Lanjut Budi.
“Iya, mas. Makasih. Jujur, Adel takut, mas. Ada tiga kelengahan Adel, yang berpotensi bikin Adel keseret, mas”
“Oke, oke. Jangan panik, ya! Aku usahain pengacara juga”
“Makasih ya, mas. Agak legaan sekarang”
“Iya, mas. Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikum salam”
Tuuut
Sambungan teleponpun terputus. Budi langsung memikirkan skenario apa yang akan dia ambil. Siapa saja orang yang sekiranya bisa dia mintai tolong.
Ingin dia minta tolong pada Liza. Tapi mengingat dulu Liza menolongnya justru saat dia berhadapan dengan Adel, rasanya aneh, jika sekarang dia minta tolong untuk Liza membantu Adel.
Pikirannya mengarah kepada Stevani. Dia pernah punya pengacara yang membantu disaat kasus sebelumnya. Dia berpikir, pertengkaran Stevani dengan ayahnya tidak menjadikan hubungan profesionalnya dengan sang pengacara rusak.
Huwannuru yahdil kha irina dziyau hu...
Tapi angan-angannya buyar, saat ponselnya berdering lagi. Ada sebuah panggilan video, tapi dari nomer yang tidak tersimpan di ponselnya. Foto profil pemilik nomor juga tidak sepenuhnya jelas. Karena penasaran, Budipun menerima panggilan itu.
“Assalamu’alaikum”
Tampak sesosok perempuan berwajah ayu muncul di layar ponsel Budi. Dan Budi kenal dengan wajah itu. Walaupun baru sekali, dan itupun hanya beberapa saat saja.
“Wa’alaikum salam, Icha. Kok punya nomerku?” sahut Budi heboh.
“Iya, mas. Sengaja, Icha minta sama ibu. Mungkin ibu dapet dari ibunya mas Budi” jawab di seberang telepon perempuan itu.
“Oh. Oke. Gimana kabarnya?”
“Alhamdulillah sehat, mas”
“Eh, makasih ya kemarin, warningnya. Beneran kejadian, tahu. Ya, meskipun sedikit berbeda sih, detil prosesnya”
__ADS_1
“Oh, ya? Nggak ada yang terluka, kan? Seinget Icha, malam itu juga heboh sama berita tembak-tembakan di laut”
“Alhamdulillah, nggak ada. Orang itu cuman ngambil terus pergi. Aku juga cuman ngikutin aja”
“Syukurlah. Icha ikutan seneng, dengernya”
Mereka saling melempar senyum.
Untuk beberapa saat, terjadi keheningan. Hanya saling menatap, dan sibuk dengan pikiran masing-masing.
“Oh, ya. Icha udah mendarat, ya? Apa masih di pengeboran?”
“Alhamdulillah. Udah mendarat, mas. Udah ngerasain ayam geprek lagi” jawab Icha sambil tergelak.
“Hempf. Ha ha ha ha” Budi tertawa mendengar jawaban itu.
“Oh, ya. Ada yang bisa aku bantu, Cha?” tanya Budi, sehubungan dengan meneleponnya Icha.
“Iya, mas. Icha mau ngomongin sesuatu. Icha dimimpiin lagi tentang keluarganya mas Budi”
“Eis. Jadi ge er, aku” komentar Budi, berkelakar.
“He he” Icha tergelak.
“Apa tuh, mimpinya? Aku diambil menantu, sama bu Mar?” goda Budi.
“Ha ha ha ha. Bukan” seru Icha, heboh.
“Terus?”
“Mas Budi kenal sama cewek ini?”
Icha bertanya sambil memperlihatkan sebuah gambar sketsa.
“Adel?” gumam Budi. Tapi Icha bisa mendengar gumaman Budi.
“Itu Adel, mantanku” lanjut Budi, menjawab dengan suara normal.
“Dia baik-baik aja kan, mas?”
Icha bertanya dengan ekspresi wajah khawatir. Budi sampai keheranan. Seolah akan terjadi sesuatu yang menyedihkan pada Adel.
“Eem. Lagi pusing, sih. Dan masih dirawat” jawab Budi.
“Ya Alloh. Di rumah sakit itu juga, mas?”
“Enggak, sih. Di Tangerang. Jatake bilangnya, sih”
“Loh. Ya Alloh. Jangan bilang dia di tempat yang digrebek polisi tadi siang, mas!”
“Ya itu. Dia emang di situ”
“Astaghfirulloh. Dia kena tembak, mas? Icha denger, di sana tembak-tembakan juga”
“Enggak. Cuman lebih ke syok aja, sih”
“Syok? Karena?”
“Eeem”
Budi agak berat untuk bercerita. Dia merasa belum mengenal Icha.
“Oke. Kalo orang ini, mas?”
__ADS_1