
Tepat pada pukul sembilan pagi ini, ekspo kabupaten telah resmi dibuka. Bersamaan dengan santernya pemberitaan mengenai virus korona jenis baru, yang mulai merebak di Wuhan, tiongkok.
Sebenarnya sudah semenjak tiga hari yang lalu, pengunjung berdatangan silih berganti. Padahal para peserta ekspo masih mempersiapkan stand masing-masing. Termasuk stand milik PT.PRAM.
Baru juga ditata, sudah banyak yang mengambil gambar maupun berswafoto. Terutama sekali karena ada satu set sofa yang lain dari kebanyakan sofa. Belum juga selesai dirakit, sofa milik Budi sudah menjadi bahan pembicaraan di dunia maya.
Ya, sofa Budi menjadi satu dari tiga sofa yang terpilih untuk diakuisisi PT.PRAM, dan dipajang di ekspo kabupaten. Sekaligus yang akan dibawa ke Berlin.
Kata pak Paul, bukan karena Budi adalah pimpinan tim ekspo ini, tapi lebih karena ide desain sofa Budi yang tidak biasa.
Sekali lihat, pak Paul langsung terpukau pada desain sofa itu. Dan sudah pasti, ditinjau dari semua parameter penilaian, secara obyektif, sofa Budi menduduki peringkat tertinggi dalam seleksi itu.
Walau menjadi pusat perhatian, tak menjadikan Budi tinggi hati. Dia tetap fokus pada tugasnya. Mengkoordinasikan teman-temannya yang bertugas di Stand, agar ramah dan solutif terhadap setiap pengunjung. Pak Paul yang datang bersama Erika sempat memuji kinerja Budi dan kawan-kawan.
Sepagi ini saja, sudah ada beberapa letter of intent yang mereka dapatkan. Dua diantaranya malah langsung gerak cepat dengan mengajukan kunjungan ke pabriknya langsung. Dan sudah pasti pengajuan itu disetujui. Beberapa unit sederhana yang harganya terjangkau juga langsung terjual di stand. Membuat Budi harus meminta kiriman stok dari pabrik.
Semakin siang semakin ramai pengunjung yang datang. Area seluas tiga stand sekaligus ini sampai tidak muat menampung banyaknya pengunjung. Banyak dari mereka yang sebenarnya hanya penasaran dengan postingan sofa dengan tema monster laut kepunyaan Budi.
Budi selalu mengingatkan kepada rekan-rekannya untuk selalu ramah kepada pengungjung. Sekalipun mereka hanya ingin berswafoto.
Kata Budi, sekalipun tidak membeli, tapi mereka berjasa menyebarkan informasi tentang produk mereka.
Dengan kata lain, mereka mengiklankan produk mereka tanpa mereka sadari. Dan itu adalah keuntungan tersendiri buat mereka. Terlebih lagi, dengan seragam PT.PRAM yang khas itu, tidak perlu ada tulisan lagi. Untuk warga kota ini, pasti langsung paham, dimana harus mencari produk itu jika ingin mendapatkannya.
Menjelang dzuhur, barulah suasana ramai ini berkurang. Para karyawan yang bertugas di stand ini bisa sedikit mengistirahatkan kakinya. Mereka berbincang dan bercanda, mengomentari kejadian-kejadian lucu sedari pagi.
Budi menyelipkan kata-kata penyemangat kepada timnya. Sekian banyak barang yang terjual baru di hari pertama ini, merupakan prestasi tersendiri. Dan dengan inovasi baru dari tim marketing, yang menggandeng leasing, Budi memperkirakan akan ada lebih banyak lagi barang yang terjual.
Mereka juga mengomentari tentang pemberitaan di berbagai media, tentang perkembangan terkini mengenai virus jenis baru yang berasal dari wuhan, tiongkok. Virus yang dibilang mirip dengan sars itu telah merebak dengan sangat cepat di wuhan. Kecepatan penularan virus baru ini membuat seluruh dunia siaga.
Beberapa dari mereka membagikan berita tentang kesiapsiagaan negara-negara maju menghadapi kemungkinan masuknya virus dari wuhan ini. Tak ketinggalan dengan negara tercinta ini. Peralatan pendeteksi suhu sudah dipasang di setiap bandara internasional.
Ada juga yang membagikan berita tentang temuan orang yang sakit dengan gejala seperti yang dilaporkan terjadi di wuhan. Negara-negara di eropa telah menyiagakan segala kemampuannya. Bahkan berita terkini menyatakan kalau virus serupa telah terdeteksi di beberapa negara di eropa. Membuat beberapa negara mengeluarkan travel warning kepada warganya yang hendak bepergian ke negara tiongkok
“Assalamu’alaikum”
Sedang asyik-asyiknya berbincang, perhatian mereka teralihkan pada sapaan seseorang.
“Wa’alaikum salam” jawab mereka kompak.
“Eh. Adel, kan?” seru Farah.
“Iya, mbak Farah” jawab Adel.
“Masuk, masuk!” pinta Farah.
Dia mendekati Adel dan menyalaminya. Budi ikut mendekat tanpa membubarkan rekan-rekannya terlebih dahulu.
“Udah pulang kuliahnya?” tanya Budi, sambil menyalaminya.
“Cieeeee”
Semua teman-temannya bersorak saat Adel mencium tangan Budi. Pipi Adel merona merah, mendengar sorakan itu. Dia ikut tertawa melihat teman-teman kekasihnya tertawa mencandainya.
“Baper nih, kalian mesra gini” celetuk Hilda.
“Iya, bener” timpal Farah.
“Serasa dunia milik berdua” celetuk yang lain.
“Kita-kita sih, ngekos” sahut yang lain lagi.
Adel tidak marah dicandai begitu. Dia malah senang, karena candaan itu masih bersifat umum. Dan Adel merasa kalau keberadaannya diterima oleh mereka.
__ADS_1
“Nih, Bram. Tata bawain sotonya mbah Manidi. Ada sate atinya juga” kata Adel.
“Loh, emang udah buka?” tanya Budi.
“Kan buka stand di depan”
“Stand? Dimana?”
“Deket parkiran”
“Oh”
Budi menerima soto itu. Dia hirup dulu aromanya. Matanya merem, dan sebuah senyum tersungging. Seolah dia ingin mengatakan kalau aroma soto itu sedap sekali.
“Duduk dulu, gih! Abram kelarin dulu briefingnya” kata Budi.
“Oke”
Budi kembali ke barisan teman-temannya. Melanjutkan briefing yang terpotong tadi dengan menenteng soto pemberian Adel.
Selepas briefing, ternyata Budi tidak langsung bisa makan. Farah mengajaknya briefing lagi. Terutama mengenai keuangan dan skema pendanaan. Cukup lama mereka briefing, sampai Adel sempat memainkan ponselnya.
“Lama ya, nunggunya?”
Adel mendongakkan kepalanya mendengar suara kekasihnya.
“Lumayan” jawab Adel sambil tersenyum.
“Alhamdulillah, Abram dapet kepercayaan lebih dari perusahaan. Jadi ya, pasti ada konsekuensinya” kata Budi.
“Tata tahu, kok” jawab Adel.
“Heem. Masih seger. Baru buka, ya?” komentar Budi.
“Kalo soal itu, mana Tata tahu, Bram. Yang jelas, sotonya mbah Manidi kan emang selalu seger” jawab Adel.
“Ya alhamdulillah, kan?”
“Iya”
Budi tersenyum saat menoleh ke arah Adel. Dia lahap menikmati hidangan makan siang itu tanpa bertanya, apakah yang membawakan makanan itu sudah makan apa belum. Yang penting makan, sampai kenyang.
“Alhamdulillah”
Budi mengucap syukur atas nikmat yang dia terima siang ini. Adel tergelak melihat gaya Budi yang begitu menikmati hidangan yang dia bawakan. Adel bermaksud mengemasi sampah sisa makanan tadi, tapi Budi melarangnya. Dia sendiri yang membereskan sisa makan siangnya.
“Makasih ya, Ta. Pas laper, pas Tata dateng”
“Sama-sama,Bram. Seneng deh rasanya, ide Tata sukses” jawab Adel.
Merekapun berbincang-bincang sambil duduk di sofa yang dipajang memunggungi jalan. Mereka membicarakan sofa Budi yang dipajang di depan sofa tempat mereka duduk. Sofa yang menjadi trending topic pagi ini.
“HOE. APA-APAN KALIAN?”
Sebuah teriakan dari arah jalan sontak mengejutkan mereka. Keduanya lantas berdiri dan balik kanan.
“Nduk? Kamu di sini?”
Ternyata yang berteriak tadi adalah pak Fajar. Ada bu Lusi di sebelahnya, dan Madina di sebelahnya bu Lusi.
“JANGAN SEMBARANGAN KAMU. INI SOFA MAU DIKIRIM KE EROPA. MAIN DUDUK AJA. KALO SAMPE RUSAK, EMANG KAMU SANGGUP GANTIIN, HA?” Hardik pak Fajar lagi.
“Pak! Mbok jangan teriak-teriak! Malu di lihat orang” tegur bu Lusi.
__ADS_1
Kehebohan itu sontak membuat teman-teman Budi mendekat.
“BIARIN. BIAR ORANG TAHU KALO DIA PERUSAK BARANG PAMERAN” jawab pak Fajar.
“Pak. Dia kan karyawan PRAM. Nggak mungkin dia ngerusak barang pameran. Malah dia yang harus jagain” kata bu Lusi berusaha meredakan emosi suaminya.
“Selamat siang pak Fajar” sapa Farah dari belakang Budi.
“Mbak Farah. Tolong kasih tahu anak ini, jangan coba-coba nyentuh sofa saya! Ini barang buat pameran ke eropa. Jangan sampe dia sembarangan” kata pak Fajar mengadu.
“Baik, pak Fajar” jawab Farah.
“Bud. Berlin problem. Ratna pengen bicara” kata Farah kepada Budi. Dia berikan ponselnya.
“Oke” jawab Budi. Dia pergi ke belakang stand.
“Maafkan Budi, pak Fajar. Dia sama sekali tidak punya maksud sama sekali buat merusak barang pameran. Dia adalah bagian dari kami. Dan dia tahu betul seberapa tinggi kualitas yang harus kami jaga. Turunnya kualitas barang berarti kerugian juga buat kami. Jadi itu tidak mungkin terjadi, pak. Kami juga pasti saling mengingatkan” kata Farah sambil tersenyum.
“Gaes. Kalian perlu liat ini gaes. Perhatian buat kita semua” seru Budi.
Dia muncul dari belakang Stand. Kali ini bukan membawa ponsel Farah, tapi laptopnya. Dia mencoba mengkoneksikan laptopnya dengan LCD TV besar yang tergantung di rangka stand sebagai latar belakang. Sontak perhatian pak Fajar dan yang lain tertuju padanya.
“Ratna, apa kabar?” seru Hilda, begitu layar besar itu menampilkan sosok Ratna.
“Hilda. Baik, Da. Dingin banget tahu, di sini”
“Ya kalo panas sih bukan berlin, kongo” sahut salah seorang teman cowok di samping Hilda.
“Ha ha ha ha” Ratna tertawa mendengar kelakar itu.
“Oke. Semua udah ngumpul. Lanjutin, Na!” perintah Budi.
“Oke, mas” jawab Ratna.
“Gini gaes. Kita ada problem di ekspedisi. Rencana utama atau plan A, udah fix nggak bisa kita jalanin. Barusan kita dapet kabar kalo ada kapal container cargo super besar, karam. Karamnya karena sempat kandas, tapi masih sempat melaju. Jadi lambungnya kegesek sama pasir dan bebatuan di dasar laut gitu, yang dangkal. Jadi pelabuhannya sama sekali nggak bisa dimasukin. Buat evakuasi kapal itu, bisa makan waktu dua bulanan. Jadi udah pasti, kita nggak bisa maksain pake plan A. kita udah harus beralih ke plan B”
Berhenti di sini, Ratna mendapat beragam komentar dari rekan-rekan di stand. Walau hanya seperti gumaman, dan saling bisik.
“Buat mas Budi dan mbak Farah. Plan B juga mepet waktunya. Jadi kalau bisa segera saja dicicil packing dan urusan eximnya” lanjut Ratna.
“Oke” jawab Farah setengah berseru.
“Satu problem lagi. Seperti yang kalian liat, di sini ada pengurangan luas booth. Sehingga, kalo diitung-itung, kita harus ngorbanin satu set mebel yang dari kayu. Jadi, buat mbak Farah, mungkin bisa segera memilih mana diantara juara dua dan juara tiga yang akan dibawa. Aku liat keduanya sama bagusnya, sih” lanjut Ratna lagi.
“Itu sih haknya pak ketua, Na” seru Farah.
“Oh, oke” jawab Ratna.
“Mas Budi, waktu kita terbatas, mas. Mohon untuk segera diputuskan” lanjut Ratna.
“Oke. Dimensinya kan serupa. Jadi, anggep aja misteri boks! Apakah milik om kamu, apa yang satunya” jawab Budi.
“Aduh. Ha ha ha ha” respon Ratna sambil menepuk jidatnya.
Rekan-rekan yang bertugas di stand saling mengeluarkan komentarnya. Ada yang serius tapi juga banyak yang lucu-lucuan. Yang pasti, semua orang tertawa, kecuali pak Fajar.
Wajahnya tampak tegang. Orang yang baru saja dia bentak, ternyata adalah orang yang paling menentukan. Bu Lusi mengelus-elus pundak pak Fajar. Dia tahu suaminya terkejut.
“Oke. situasi untuk kita semua cuman dua itu. Hal-hal yang mengenai prinsipal dan dokumen, udah aku WA, mas. Mungkin kita bisa lanjut di grup aja” kata Ratna.
“Oke. Aku pelajari dulu, ya. Nanti aku respon” jawab Budi.
“Sip. Kalo gitu, udahan dulu, ya? Anginnya mulai kenceng, nih. Assalamu’alaikum”
__ADS_1
“Wa’alaikum salam” jawab semuanya kompak.
Selepas sambungan panggilan video diputus, pak Fajar mengajak keluarganya pamitan. Tapi Adel menolak. Dia ingin pamitan dengan Budi dulu. Pak Fajar tidak menjawab. Dia langsung pergi begitu saja. Farah tersenyum disaat Adel menghela nafas berat.