
Tanpa menunggu jawaban, Erika langsung mematikan sambungan teleponnya.
“Bud. Lu ngapain sih? Buka lah, pintunya!” sapa Erika.
Dalam video call itu terlihat Budi sedang duduk di ranjangnya.
“Nggak papa. Sori ngagetin”
“Bud. Lu kan punya temen. Ngomong lah, kalo butuh sesuatu! Jangan dipendem sendiri!”
“Iya, maaf. Gua lagi butuh istirahat. Gua ijin ya, mbak. Puyeng kepala gua”
“Ya terserah, deh. Yang penting lu bukain pintu dulu, deh! Gua hawatir lu kenapa-kenapa”
“Iya, mas. Jangan nekad! Bunuh diri itu dosa” sahut Ratna.
“Hempf. Bunuh diri? Gila, apa? Urusan gua belum kelar, Na. Buat apa mati sekarang? Gua cuman mau sendiri. Gua takut kelepasan kalo deket-deket mbak Rika. Entar jatuhnya KDRT, lagi” jawab Budi.
“Dih, orang dihawatirin malah cengengesan. Cah gendeng” komentar Hilda.
“Udah, udah, udah!” lerai Erika.
“Ya udah. Kalo lagi pengen sendiri, jangan aneh-aneh, ya! Dan sejam lagi, kuncinya harus lu buka! Kalo enggak, gua dobrak lagi kaya tadi” lanjut Erika.
“Iya. Tapi sejam ini, jangan ganggu gua ya!” pinta Budi.
“Emang mau ngapain, Bud?” tanya Hilda.
“Nonton bokep” jawab Budi.
*Tuuut*
“Dih, bocah. Sableng. Urus tuh, Na! Ogah, gua” komentar Hilda heboh.
“Mbak. Yang megang kunci darurat lagi keluar. Gimaan, dong?” seru bayu yang baru keluar dari lift.
“Udah, nggak papa. Barusan kita video call sama Budi” jawab Erika.
“Terus?”
“Udah, biarin dulu! Dia lagi pengen nenangin pikiran. Kerja lagi, yuk!” jawab Erika.
Tidak ada yang menolak ajakan Erika. karena ajakan itu adalah perintah terselubung. Tapi mereka juga merasa ada yang aneh dengan Erika. Di saat mereka kembali menghadapi laptop masing-masing, Erika malah pergi ke toilet.
Memang bukan sekedar ingin ke toilet. Seperti yang dilakukan Budi tadi, Erika hendak menelepon seseorang. Dia menghubungi Madina. Dia merasa yakin kalau Madina tidak akan menolak panggilannya.
“Halo assalamu’alaikum” sapa Madina dari seberang telepon.
“Wa’alaikum salam. Din, kamu di rumah?” tanya Erika tanpa basa-basi.
“Iya, mbak”
“Mbak Adelnya ada?”
“Ada, mbak. Tapi lagi masuk angin” jawab Madina.
“Oh. Kok nggak dibawa ke puskesmas?”
“Nggak mau. Trauma, bilangnya. Tadi abis Madin kerik”
“Eem. Jadi mbak Rika nggak bisa bicara sama mbak Adel?”
“Eem, coba dulu ya, mbak” jawab Madina.
Terdengar suara Madina berjalan. Tidak jauh, dan tidak mendaki. Artinya dia satu lantai dengan kakaknya. Terdengar suara pintu di buka.
__ADS_1
“Kenapa, Din?”
Terdengar suara laki-laki. Erika yakin itu pasti suara Luki.
“Ini. Ada sahabatnya mbak Adel, ingin bicara”
“Siapa?”
Kali ini suara Adel yang menggema.
“Mbak Rika” jawab Madin.
“Rika? Ada apa?” tanya Adel lagi.
“Belum tahu” jawab Madina.
“Sayang. Jangan mikir yang berat-berat dulu, ya! Istirahat aja dulu! Biar cepet pulih” kata Luki
“Tapi itu sahabatku, mas”
“Iya. Biar aku yang nerima dulu. Kalo memang butuh Adel jawab langsung, entar aku kasihin” kata Luki.
“Iya” Jawab Adel.
Terdengar suara ponsel berpindah tangan, dan orang berjalan.
“Halo” sapa Luki.
“Luk, gua Erika. Sahabatnya Adel. Gua pengen ngobrol langsung sama Adel. Boleh?” tanya Erika.
“Maaf, belum bisa, mbak. Kalo ada pesen, biar aku sampein aja” jawab Luki.
“Gua belum sempet melayat. Apa nggak boleh gua bicara langsung sama dia?”
“Kalau sekedar ungkapan bela sungkawa, biar saya aja yang nyampein. Tapi kalo mau ngomongin soal Budi, maaf nggak bisa”
“Tolong bilang sama Budi! Biarkan Adel istirahat! Adel sudah menjadi istri saya. Jadi saya lebih tahu kondisi Adel. Dan saya juga berhak menolak tamu yang berpotensi membuat kondisi Adel drop”
“Drop dari mana?”
“Eh, kalian itu kurang ajar banget, sih? Kita ini lagi berkabung. Kok situ maksa-maksa banget? Kalo sampe Adel drop lagi, siapa yang tanggung jawab? Budi? Mana orangnya?”
“Luki. Ini gua masih hormat sama lu. Gua bilangin, ya. Gua kenal Adel jauh sebelum lu kenal sama dia. Gua tahu banget soal dia. Dia nggak secemen itu, Luk. Lu jangan ngada-ada!”
“Dengan segala hormat juga. Saya ini suaminya Adel. Jadi saya punya hak buat melindungi istri saya. Sekecil apapun potensinya, harus saya eliminasi”
“Emangnya Budi mau ngomong apa sih, sampe lu segitu takutnya? Lu kata si Adel bego, apa, gampang dirayu-rayu? Setahu gua, Budi cuman minta penjelasan Dari Adel. Kalo memang confirm sama yang dia denger dari orang lain, ya udah. Di lepas, gitu, lho”
“Nggak bisa. Semua yang berbau Budi, nggak saya kasih ijin. Kesehatan Adel jauh lebih penting dari perasaannya Budi”
“Waduh, waduh, waduh. Lu kenal Budi nggak, sih? Apa cuman tahu nama doang?”
“Emangnya kenapa?”
“Gua cuman mau ngasih tahu aja. Lu kan nggak tahu gimana pertumpahan darah yang pernah terjadi di rumah itu. Saran gua, kasih kesempatan Budi buat ngobrol sama Adel. Semenit juga nggak papa. Atau, lu siapain peti mati sama batu nisan atas nama lu sendiri”
“Lu ngancam gua?”
“Haduh. Bego banget jadi orang”
Tuuuut
Erika memutuskan sambungan teleponnya. Dia menghela nafas berat. Dia mencoba meredam emosinya.
*Kenapa gua jadi kasihan sama mereka? Kenapa gua malah benci lelaki itu? Kenapa gua bantuin Budi*?
__ADS_1
Erika memainkan ponselnya lagi. Dia menelepon nomor yang sama. Tapi panggilan video
“Halo, mbak” sapa Madina.
“Din, Luki dimana?”
“Di kamar mbak Adel. Kenapa, mbak?” tanya Madina.
“Nanti malam jangan tidur, ya!” pinta Erika.
“Astaghfirulloh. Kenapa, mbak?”
“Kangmasmu Budi, murka. Iparmu songong banget”
“Ya Alloh. Kok bisa, mbak?”
“Ya, orang dia pengen ngomong sama embakmu, nggak dikasih kesempatan. Timbang ngasih kata-kata perpisahan aja, apa beratnya, sih? Dia cuman pengen denger langsung dari embakmu. Kalo emang pernikahan itu pilihan dia, bukan paksaan, ya udah. Budi rela gitu, ngelepasinnya. Emang mbak Adel selemah itu, apa?”
“Ya masih syok, sih. Nggak tahu deh, kalo VC sama mas Budi, bisa ngomong apa enggak”
“Aku pikir nangis doang juga udah jauh lebih baik daripada enggak sama sekali”
“Terus gimana, mbak?” tanya Madina khawatir.
Erika tidak segera menjawab. Dia berusaha mengatur emosinya.
“Din. Kamu jangan panik, ya! Aku ngebilangin kamu, karena aku tahu kamu yang paling tenang, orangnya”
“Iya. Iya, mbak” jawab Madina.
“Pintu ke balkon belakang, masih ada, kan?”
“Tinggal pintu doang, lah. Kan balkonnya runtuh, dulu”
“Nggak penting balkonnya, sih. Yang penting pintunya masih bisa dipakai”
“Bisa. Tapi jarang banget dibuka”
“Kalo ada kesempatan, cobain! Pastiin bisa dibuka. Terus, nanti jangan dikunci!” pinta Erika.
“Kalo ada yang nyerang dari depan, kalian bisa pergi lewat belakang” lanjut Erika
“Tinggi banget, mbak”
“Aku cariin bantuan. Tapi jangan bilang-bilang sebelum kejadian!”
“Oke. Bantuannya stand by di belakang apa gimana, mbak?”
“Iya. Rencananya gitu. Entar kalo beneran kejadian, kamu kasih lampu flash aja ke belakang. Mereka bakal ngedeket”
“Mereka siapa, mbak?”
“Entar aku kasih tahu. Sekarang, gitu aja dulu. Aku urus bantuannya dulu”
“Eh, kalo mbak Adel mau bicara sama mas Budi, gimana, mbak?”
“Ya bagus. Sebisa mungkin itu terjadi sebelum orang-orangnya Budi dateng”
“Oke. Madin usahain, mbak. Semoga mbak Adel mau”
“Bagus. Aku yakin kamu pasti bisa, Din. Gitu aja dulu, ya?”
“Oh. Iya. Makasih, mbak”
“Ya. Sama-sama”
__ADS_1
*Tuuuut*
***