
Bu Lusi terlihat mondar-mandir di ruang tamu. Untuk kesekian kalinya, teleponnya tidak mendapat jawaban. Sedangkan Madina dan pak Fajar sudah siap dengan pakaian serba hitam. Dan pak Fajar sudah bertanya dan bertanya lagi.
“Halo, Del. Lagi di mana, sih?” seru bu Lusi, begitu panggilannya mendapat sambutan.
“Ini, baru nyampe galeri lagi. Abis nganter samplenya Abram” Adel, yang baru sampai di galeri menjawab dengan terengah-engah. Bu Ratih sampai tertarik melihat padanya.
“Buruan pulang! Ditunggu bapak” kata bu lusi.
“Ada apa, bu? kok cemas banget gitu? Bapak sakit?” tanya Adel. Kini bukan hanya bu Ratih yang tertarik perhatiannya, Putri yang baru masuk galeri juga ikutan tertarik.
“Bukan. Mau diajak melayat”
“Siapa yang meninggal, bu?” tanya Adel. Bu Ratih mengernyitkan keningnya.
“Pak Imam”
“Hem? Imam yang mana, ya?” tanya Adel bingung. Putri memandang ibunya.
“Pak Imam Pratama, lah. Bapaknya mas Luki” jawab bu Lusi setengah berteriak.
“Innalillahi wa inna ilaihi roji’un. Kok bisa?” seru Adel kaget.
“Kecelakaan” jawab bu Lusi.
“Udah, buruan pulang! Bapak udah mondar-mandir aja tuh” lanjut bu Lusi.
“Seriusan, bu? ibu nggak ngeprank Adel, kan?”
“Ngapain pake ngeprank segala? Keterlaluan banget ngeprank pake cara kaya gitu” jawab bu Lusi setengah sewot.
“Ya abisnya. Bapak kan kemarin gedek banget. Ngapain sekarang buru-buru?”
“Kita menghormati mas Luki, sayang. Bagaimanapun juga, dia masih baik sama kita. Kamu nggak boleh ngelupain jasa-jasa orang, sayang!” jawab bu Lusi.
“Buruan, nggak usah nanya-nanya lagi!” perintah bu Lusi.
“Iya, bu” jawab Adel mengambang.
Beberapa saat lamanya setelah sambungan telepon terputus, Adel masih tertegun. Ingatannya malah kembali ke kasus yang belum lama terjadi. Banyak sekali yang dia pertimbangkan. Termasuk memikirkan perasaan kekasihnya. Juga perasaan keluarga kekasihnya.
“Mbak, ada apa?” tegur bu Ratih.
“Eh. Eee. Ini, bu. Barusan ibu Adel ngasih tahu, kalo Adel disuruh pulang, mau diajak melayat” jawab Adel agak tergagap.
“Melayat kemana, mbak?” tanya Putri.
Adel tak segera menjawab. Dia sedikit takut untuk menyebutkan nama orang yang meninggal itu. Walaupun dia yakin, Putri sudah mendengar nama itu.
“Pak Imam Pratama” jawab Adel.
“Imam Pratama? Kaya pernah denger, ya? Tapi di mana?” gumam Putri.
“Eem. Bapaknya mas Luki” kata Adel, beberapa saat kemudian.
*Oh iya. Madina yang dulu bilang. Astaghfirulloh. Ternyata bapaknya mbak Adel masih pro sama si Luki itu*.
“Nduk?” tegur bu Ratih.
__ADS_1
Putri yang sedang melamun, tersentak mendengar terguran itu. Adel bisa membaca, kalau Putri tidak suka mendengar nama itu dia sebut.
“Bu, Adel minta ijin dulu. Boleh, kan?” tanya Adel kepada bu Ratih.
“Oh, pasti. Panggilan orang tua, harus segera ditanggapi. Biar galeri, ibu yang jaga” jawab bu Ratih.
“Makasih, bu” kata Adel sambil salim pada bu Ratih.
“Put, mbak ijin dulu, ya?” tanya Adel ke Putri.
“Ya” jawab Putri singkat.
Namun dia tetap salim dan mencium tangan Adel. Saat cium tangan itu, Adel menyempatkan menoleh ke bu Ratih. Dan bu Ratih tersenyum sambil mengangguk.
“Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikum salam” jawab bu Ratih dan Putri kompak.
Adelpun keluar lagi dari galeri. Dengan sigap dia menuruni anak tangga. Sambil turun, Adel menyempatkan diri mengirimkan pesan suara kepada Budi.
*Assalamu’alaikum, Bram. Tata minta ijin pulang dulu. Bapak sama ibu ngajakin Tata melayat. Ya, melayatnya sih ke rumah mas Luki. Bapaknya meninggal. Sebenarnya Tata juga nggak enak hati buat ke sana. Tapi ibu maksa. Maafin Tata ya, Bram. Tata pastiin, Tata cuman melayat aja, nggak lebih*.
Sesampainya di motornya, dia langsung mengirimkan pesan suara itu. lalu balik kanan sambil membunyikan klaksonnya.
Budi sempat terpaku saat membaca pesan itu. Ada rasa cemburu yang seketika menyeruak. Ada sekian pertanyaan yang hendak dia sampaikan, tapi dia gagalkan sendiri. Dia menimbang dan menimbang lagi.
“Kenapa sih, Bud?” tegur Erika.
“Ah? Oh, eng, enggak. Nggak papa” jawab Budi tergagap.
“si Adel bikin ulah lagi?” tanya Erika menyindir. Budi menoleh dan mengernyitkan keningnya.
“Enggak” jawab Budi kemudian.
“Oh, oke. Farah mau laporan tuh” kata Erika. Seketika pandangan Budi berpindah ke Farah.
“Kenapa, mbak?” tanya Budi.
“Ini, mau dipasang di samping apa belakang?” tanya Farah.
“Samping, dong. Kan belakang nanti ada layar LED” jawab Budi.
“Oh, iya. Lupa aku. Oke, makasih” kata Farah sambil menepuk jidatnya.
Budi tersenyum melihat ekspresi Farah. Dia jadi sedikit mereda cemburunya. Dengan berpikir lagi beberapa saat, dia lantas membalas pesan singkat Adel. Tak peduli mata Erika terus mengawasinya.
*Ati-ati, Ta! Sampaikan bela sungkawaku ke Luki. Sampein juga maafku, nggak bisa melayat*.
Di kendaraan yang melaju ke arah solo, Adel menghela nafas berat. Kalimat Budi terasa ambigu buatnya. Dia merasa kalau kalimat itu hanyalah formalitas saja. Agar kekasihnya itu terlihat baik-baik saja, agar dia tenang selama perjalanan. Padahal, ada sekian banyak rasa cemburu yang sedang dia tahan.
“Udah jangan dipikirin! Mas Budi udah ada yang jagain. Kan ada mbak Erika, di sana” bisik Madina. Sontak Adel melotot.
“Kok adek malah godain embak, sih?” sahut Adel.
“Hi hi hi hi”
Madina tertawa lirih melihat kakaknya termakan godaannya. Tawanya malah menjadi lebih kencang saat telinganya mendapat jeweran dari kakaknya.
__ADS_1
“Udah bisa godain embak, sekarang, ya?”
“Tenang mbak. Kalo mas Budi cemburu, itu justru bagus. Berarti, di pikirannya, cuman ada mbak Adel” bisik Madina lagi.
“Sok tahu”
“Dih, dibilangin. Cowok sih gitu, mbak. Dan emang harus dibikin cemburu sih, secara berkala”
“Wuidih. Calon psikolog, nih” komentar Adel.
“Teori dari mana itu? bikin cemburunya pake apa, coba? Kalo berkala, ya alamat dicap cewek nggak bener, lah” tanya Adel.
“Bukan cemburu sih, penasaran” kilah Madina.
“Kaya ibu” bisik Madina di telinga Adel.
“Maksudnya?”
“Kalo bapak ada yang godain, ibu suka pura-pura cuek. Suka pura-pura sibuk sama hape. Abis itu, bapak penasaran dong. Pernah sampe direbut, hape ibu” jawab Madina masih dengan berbisik.
“Sumpah lu?” tanya Adel, berbisik juga.
“Bener. Madin liat sendiri”
“Terus, ada apa di hape ibu?”
“Nggak ada apa-apa sih, kayaknya. Orang ibu juga langsung pergi ke dapur”
“Terus?”
“Debat, lah”
“Heboh?”
“Banget”
“Terus, endingnya?”
“Nah, itu yang Madin nyesel, liatnya”
“Kok nyesel?”
“Nggak bisa niruin, mbak. Belum boleh”
“Hempf. Sumpeh lu?”
“Beneran”
“Adek nonton sampe kelar?”
“Ya enggak, lah. Kurang kerjaan. Orang nggak bisa niru”
“Ha ha ha ha”
Bu Lusi hanya bisa geleng-geleng kepala. Walau tidak mendengar apa yang dibicarakan kedua putrinya, tapi dengan berbisik-bisik begitu, dia bisa menebak kalau keduanya sedang membicarakannya.
Dan dengan cerita adeiknya itu, Adel jadi lebih tenang. Dia jadi bisa berpikiran positif. Dia jadi punya satu keyakinan, kalaupun cemburu, paling Budi hanya sebentar. Dan seperti kata adiknya, cemburunya Budi adalah satu tanda jelas kalau Budi sangat menyayangiya. Lebih tepatnya, sangat mencintainya.
__ADS_1
***