
Irama musik jawa masih mengalun indah, mengajak siapapun yang mendengarnya untuk berjoget. Dan memang para sinden campursari ini ikut berjoget tipis – tipis. Tapi tidak dengan Adel. Dia tampak serius dengan ponselnya. Sambil senyum – senyum sendiri.
“Ciee, yang semalem dianter pake pajero. Makin sumringah aja nih” goda teman sindennya.
Adel tak menjawab, dia hanya tersenyum sambil meleletkan lidahnya. Tampak menggemaskan kalau sedang begitu.
“Iya ih, udah fix nih, mas Budinya buat aku” celetuk Tati
“Wuidih, kenalan juga belum. Main ‘buat aku’ aja” kilah Adel
“Budi itu, siapa?” tanya teman yang satu lagi.
“Ah, Nike. Yang malam minggu itu” jawab Tati.
“Oh, yang duduk sama dia itu?”
“Iya”
“Itu juga ganteng, Ti, orangnya”
“Makanya. Kalo Adel udah punya mas Luki, mas Budinya buat aku”
Adel tidak menjawab. Lagi – lagi dia meleletkan lidahnya. Kali ini diiringi joget – joget kecil, mengikuti irama lagu, ‘mendung tanpo udan’.
“Ah, tapi aku nggak yakin, Ti” celetuk Nike.
“Nggak yakin apa?” tanya Tati.
“Adel itu kan, nggak mata duitan. Kalo emang nyari yang kaya, lah, Luki itu yang nomer berapa coba? Bukannya udah banyak cowok tajir yang deketin dia? Nyatanya?” jawab Nike.
“Bener juga sih” komentar Tati.
“Eh, Del, cewek tuh cuman boleh pegang satu, nggak boleh lebih. Masa mau digebet dua – duanya?” lanjut Tati.
“Kan baru gebet, belum ke pelaminan. Boleh, dong? Hi hi hi” jawab Adel.
“Wah, nggak bener nih” seru Tati.
“Kumat, playgirlnya”
“Ha ha ha ha”
“Eh tapi, kok dia nggak nganter kamu, sih. Kan ini jauh banget dari rumahmu. Semalam aja yang deket dianter” tanya Nike.
“Dia kuliah, lah. Emang supirku, anter jemput mulu”
“Oh, dimana?”
__ADS_1
“Di solo”
“Oh, orang solo. Jauh banget mainnya, sampe ke pacitan”
“Ada deh. Hi hi hi”
“Wah, udah maen rahasia – rahasiaan segala sekarang”
“Iya ih” sahut Tati.
Adel tidak menyahut. Pandangannya teralihkan oleh suara pembawa acara. Setelah ini, tiba giliran dia untuk membawakan lagu. Dia bersiap untuk berdiri dan naik ke pentas.
*******.*******
Hari ini Budi terlihat sangat suntuk. Berbagai usahanya untuk mendapatkan kerja kembali, belum juga membuahkan hasil. Kalau ingin kembali ke tempat kerja sebelumnya, dia belum berani.
Belum juga membuat keputusan, suara bapaknya kembali menggema di alam mimpinya. Membuatnya ketakutan di tengah malam buta.
"Wah, udah numpuk tuh. Ya udah, lah. daripada bengong nggan jelas"
Demi menghilangkan kesuntukan, Budi berinisiatif mencuci baju kotornya. Terlihat ada dua ember lain yang juga berisi pakaian kotor. Punya siapa lagi kalau bukan punya ibu dan adeknya. Sekalian saja, pikirnya. Toh tidak banyak ini.
Ya sudah, Budi mengambil sekalian pakaian – pakaian kotor itu. Walau sempat tergelak saat melihat perbedaan pakaian dalam milik ibu dan adiknya, dia memutuskan untuk membuang jauh – jauh pikiran kotor itu.
Hanya butuh waktu satu jam, untuk menyelesaikan pekerjaan mencuci itu. Kini Budi sudah bersiap untuk menjemurnya. Perasaannya agak tidak enak saat dia melihat banyak ibu – ibu sedang berkumpul di rumah tetangga, tepat di depan rumahnya.
Seorang wanita berseru sambil menunjuk budenya. Dai adalah satu dari tiga ibu – ibu yang kemarin juga membicarakan keluarganya.
“Bener, bu RT. WC saya mampet, septik tank nya penuh. Nyari tukang sedot tinja nggak nemu – nemu” jawab budenya.
“Budi aja suruh nyedot” seru yang lain.
“Hiii, ha ha ha. Weekkk”
“Nyedot eek”
“Jijik, hiii” seru yang lainnya lagi.
“Kalo kamu mau, besok ke rumah ya. Masalah bayaran, tenang aja. Aku kasih bonus deh” kata budenya.
“Wuiiih, dikasih bonus, Bud. Apa tuh bonusnya, nyonya?” ledek Bu RT.
“Eeknya. Iklas aku, bener” jawab budenya.
“Hiii, ha ha ha ha”
“Eeek, setangki. Ha ha ha ha. Hiii, wueeek” ledek yang lain lagi.
__ADS_1
Dalam hati, Budi mulai merasa gerah. Tapi dia berusaha menggunakan akal logikanya. Yang penting belum menyinggung nama ibunya, dia berusaha untuk kalem. Dia tetap pada aktifitasnya, menjemur cucian.
“Hem” gumamnya.
Dia menemukan satu cara untuk membalas ledekan mereka. Cara yang tidak menggunakan kekerasan, tapi sepertinya, akan menimbulkan efek besar. Saat menggantungkan hanger pada tali jemuran, dia berpura – pura melhat sesuatu di dalam rumah tetangganya itu. Dia menatap lurus dengan tubuh terdiam. Seperti layaknya orang yang melihat sesuatu yang bersifat gaib.
“Eh, kamu tu ya, diajak ngomong malah melotot. Melototin apa ha?” teriak budenya.
Tapi Budi masih terdiam. Dia berlakon seolah dia terpaku, dan tidak bisa menggerakkan sesuatu karena takut.
“Hoe, aku nanya sama kamu budek” teriak budenya lagi.
“Iya nih, si jongos. Berani sekarang ya, sama bu Kusno” tambah bu RT
“Iya, belagu banget jadi bocah. Eh bocah, harusnya kamu tuh nyadar diri, berterimakasih udah dikasih tahu Bu RT. Bukannya melototin gitu” seru yang lain.
“Emang dia nggak tahu diri. Sama ibunya aja berani. Ibunya disuruh jualan, hasilnya dia yang makan. Woe, timbang cuman bisa makan eek – makan eek, nggak usah sok deh kamu” tambah yang lain lagi.
“Mbah, mbah”
Budi seperti mau menyebut sesuatu, atau nama seseorang, sambil menunjuk ke arah pintu di belakang ibu – ibu itu. Mukanya dibuat seolah dia melihat sosok yang menyeramkan.
“Kamu liat apa sih?” tanya seorang ibu – ibu. Dia melihat ke arah pintu, dia tidak melihat apapun. Tapi dia terlihat takut.
“Iya, apaan sih?” tanya yang lain.
Satu per satu mereka mulai menengok ke belakang. Mereka seolah paham dengan apa yang dikatakan Budi. Tentang sosok gaib, yang melegenda di kampung ini.
“Mbah, mbah, mbah”
Budi masih berkata begitu dengan mimik ketakutan. Membuat ibu – ibu itu bergeser perlahan dari arah pintu. Bergesernya beberapa orang seolah memberikan pandangan yang lebih jelas buat Budi. Dia menampakkan wajah seolah tebakannya adalah benar.
“MBAH BELEEEH”
Budi berteriak sambil berlari menuju rumah. Dia bahkan berpura – pura tersandung sampai jungkir balik. Sontak semua ibu – ibu itu berlari tunggang langgang, begitu mendengar nama ‘mbah beleh’ disebut.
Beleh, dalam bahasa jawa berarti sembelih. Mbah beleh, artinya seorang kakek – kakek yang pekerjaannya sebagai tukang sembelih. Di kampung ini, ada cerita legenda yang diceritakan turun – temurun tentang sosok mbah beleh ini.
Konon, dulu ada seorang kakek – kakek yang berprofesi sebagai tukang sembelih hewan. Baik itu ayam potong, kambing, sampai sapi. Suatu ketika, dia dikerjai tetangganya saat akan menyembelih sapi. Niatnya memang hanya bercanda.
Naas, saat kakek itu terjatuh, goloknya terlepas dari sarungnya, dan saat kakek itu berguling – guling, mata goloknya menggesek lehernya sampai tenggorokannya terputus, dan meninggal.
Diceritakan, sosok itu sesekali terlihat di kampung itu. Konon, dia mencari orang yang telah mengerjainya hingga meninggal dunia. Sosok yang menyeramkan dengan golok terhunus di tangan kanannya, sontak menjadi sosok yang ditakuti di kampung ini. Terlepas apakah benar atau hanya cerita rekaan semata, tapi mayoritas warga kampung ini mempercayainya.
Termasuk ibu –ibu yang tadi meledek Budi sampai segitu jeleknya. Cerita yang sudah melekat di telinga mereka sejak kecil, benar – benar membuat mereka takut saat nama sosok itu disebut. Di dalam rumah, Budi tertawa tanpa suara.
Budenya yang terkenal judes dan galak itupun, ternyata takut sekali dengan sosok mbah beleh itu. Sukses besar kali ini dia, membalas kejahilan mereka tanpa harus menyakiti maupun membuat keributan.
__ADS_1
*****