Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
kabar duka


__ADS_3

Duaarrr


Suara senapan menyalak.


“AAAAHHH”


“ERIKAA”


Erika urung menyerang Respati. Dia jatuh terkapar.


“BANGS***”


Ternyata Moreno yang melepaskan tembakan.


“HYAAAAT”


Budi melempar pisaunya.


Jlebb


“Akhh”


Pisau itu menancap tepat di leher Moreno. Tak hanya sekedar menancap. Hampir seluruh panjang pisau itu menancap di tenggorokan Moreno.


“HYAAAAT”


Respati melayang ke arah Erika, seperti katak melompat.


“ERIKAAAA”


Pisau di tangan Respati membuat Budi panik. Diapun melompat ke arah Respati, berniat menghalau serangan pisau yang di arahkan ke badan Erika.


Jleebbb


“HEEKK”


BUAAKK


DUARR


Budi berhasil meninju Respati hingga terpental dan membentur dinding gerbong.


“ERIKAA”


Tapi sayang, pisau Respati telah lebih dahulu menancap di dada Erika, tepat di jantungnya.


“Eekkkhh”


“Erika, Erika”


Budi buru-buru menghampiri kekasihnya itu. Dia duduk bersimpuh dan membawa tubuh Erika ke pangkuannya.


“Bertahanlah sayang! Aku akan bawa kamu ke rumah sakit” kata Budi.


Darah segar mengucur dari dada dan juga mulut Erika.


“MEDIIIIC”


Budi berteriak kencang, berharap ada yang mendengarnya.


“Eekkh uhuk”


Erika semakin kepayahan. Budi celingukan, mencari akal.


“Bertahanlah sayang! Please!”


Erika menatap Budi sambil mengelus wajahnya. Namun dia tidak bisa berbicara. Nafasnya sudah kian tersengal.


Budi berencana menjalankan kembali kereta ini hingga ke ujungnya. Dia yakin Hind masih ada di depan sana.

__ADS_1


“Eekkkhh”


Erika mencegah Budi untuk beranjak. Dia seperti sudah yakin, kalau usaha Budi akan sia-sia. kondisi Erika memang sudah tidak memungkinkan.


Di sisa tenaganya, Erika mengambil sesuatu dari dalam kantong rompinya. Secarik kertas berwarna putih. Warna putih itu kini ternoda merah oleh darahnya.


“Bertahanlah sayang. Kita pergi dari sini oke?” hibur Budi.


Erika menggelengkan kepalanya. Dia mengacungkan kertas itu pada Budi. Dia ingin Budi menerima kertas itu. Paham dengan maksud kekasihnya, Budi menerima kertas itu.


“Eekkkhh”


“Erika?”


Nafas Erika semakin tersengal dan matanya membeliak.


“Eekkkhh”


“Erika?”


Kini warna hitam matanya hampir hilang karena berputar ke atas.


“Eekkkhh”


Tangan Erika terkulai tak berdaya, seiring dengan matanya yang terpejam.


"Ka?"


"Sayang jangan bercanda sayang!" Budi menepuk-nepuk pipi Erika.


"Erika, jangan bercanda sayang! Bangun sayang!" Budi menepuk-nepuk pipi Erika sekali lagi.


"Erika?"


Berapa kali Budi mengguncang-guncangkan tubuh Erika, berharap ada respon.


"Erika?"


“ERIKAAAAAAA"


Budi berteriak sekuat tenaganya. Dia menangis sejadi-jadinya.


“Erikaaaa”


Ratapan Budi sampai tanpa suara. Dunianya seolah hancur, mendapati orang paling dicintainya kini gugur dipelukannya.


“ERIKAAAAAA”


Dia terus berteriak meratapi kematian itu. Sampai tidak sadar bahwa Respati telah siuman, setelah sempat pingsan.


Dan Respati menggunakan kesempatan itu untuk menghabisi Budi. Dia mengambil pisau Budi yang tertancap di tenggorokan Moreno. Bos yang telah mati itu dia biarkan begtu saja.


Dia menghampiri Budi. Dia berlutut di belakang Budi. Pisau komando itu, siap dia hujamkan ke jantung Budi. Dan Budi masih tidak menyadarinya.


Daaarrr


“Aaaah”


“Ha?”


Budi terkejut mendengar suara tembakan di belakangnya. Saat dia menoleh ke belakang, terlihat Respati terkepar dengan sebuah lubang di dada kananya.


“ERIKA?”


Terdengar suara perempuan berteriak sambil mendekat.


“Innalillahi wa inna ilaihi roji’un”


Isma, yang telah tiga tahun lebih sekantor dengan Erika, merasa syok melihat rekan kerjanya itu gugur. Tampak Alligator dan Cobra menangani Respati.

__ADS_1


“Lo juga harus mati, setan” teriak Budi.


Dia meletakkan jasad Erika lalu mendekati Respati.


Buaakk


“Ahh”


Dia meninju wajah Respati dengan sekuat tenaganya. Tapi Respati hanya bisa mengeluh. Dia sedang dipegangi Aligator dan si Cobra.


Bakk bukk baakk buukk


Budi terus menghujani wajah dan sekujur tubuh Respati dengan tinju penuh amarah.


“Bud. Udah! Jangan dimatiin dulu!” cegah si Cobra. Tampak Respati sudah tak sadarkan diri.


“Biar dia membusuk di nusa kambangan dulu. Mati itu hukuman paling enteng buat dia” lanjut si Cobra.


“HAAAAAAAH”


Budi berteriak sekuat tenaga. Tubuhnya melunglai hingga berlitut di lantai gerbong. Tak ada yang bisa dilakukannya kecuali menuruti perkataan si Cobra. Karena benar, mati adalah hukuman paling enteng untuk si Bejo ini.


Budi kembali kepada Erika. Dia bawa lagi jasad kekasihnya itu ke pangkuannya. Isma mencoba memundurkan kereta itu, agar tidak perlu berjalan kembali ke pabrik narkoba tadi. Selama perjalanan itu, Budi terus memeluk jasad Erika.


***


Berita tentang penggerebekan pabrik narkoba bawah tanah itu rupanya telah menyebar ke seantero negeri. Termasuk tentang gugurnya Erika dan keempat anggota densus delapan-delapan. Sontak bu Lusi syok dan menangis histeris.


Mungkin benar apa kata pepatah jawa, tego larane ora tego patine. Sebagaimanapun cemburu dan tidak sukanya Adel pada hubungan Budi dengan Erika, namun mendengar berita kematian itu, Adel jadi ikut sedih juga.


Dia merasa bersalah, pernah menghardiknya saat Erika memperkenalkan dirinya sebagai anak pertama bu Lusi tempo hari. Padahal Erika sudah sebegitu kalemnya menghadapinya.


Tak ada yang tak bersedih mendengar berita duka itu. Terlepas apapun masalah yang telah terjadi dengan Erika sebelumnya. Tangisan histeris mereka telah mengundang perhatian warga sekitar. Banyak yang datang melayat, menyampaikan ucapan bela sungkawa.


Mereka menawarkan segala bentuk bantuan yang mungkin dibutuhkan, termasuk tanah makam, jika Erika akan dikebumikan di tanah mereka.


Di tempat kejadian perkara, Budi sama sekali tidak mau berpisah dengan jasad kekasihnya. Dia tidak mau minum, makan, termasuk tidak mau diobati. Luka-luka yang dia derita seperti sudah tidak terasa lagi baginya.


Kepada petugas, dia menolak kalau Erika harus diotopsi. Dia hanya meminta ambulance untuk mengantarkan Erika kembali ke Pacitan.


Saat ditemui komandan jenderal kopassus, Budi menangis sejadi-jadinya. Tangis tanpa kata itu, sudah lebih dari cukup untuk sang komandan baret merah itu mengerti, bagaimana rasa kehilangan Budi, setelah perjuangan panjang, yang dulu bahkan diawali oleh orang tua Budi.


Komandan jederal kopassus itu hanya berpesan kepada Budi, agar Budi mau dirawat secara medis. Agar Budi bisa memakamkan jasad Erika dengan kehormatan penuh. Setelah mendengar pesan itu, barulah Budi mau dirawat luka-lukanya.


Hari itu juga, jasad Erika diterbangkan menuju jogja, untuk kemudian dilanjutkan dengan perjalanan darat.


Cobra, Hind, Apache, Alligator, duo Petir, Isma dan Nungki mengikuti perjalanan Budi. termasuk juga dengan kang Sukron.


Atas permintaan pihak kepolisian dan korps baret merah, rencananya Erika akan dimakamkan di taman makam pahlawan ‘bunga bangsa’ Pacitan.


Namun sebelumnya, bu Lusi meminta agar jenazah Erika disemayamkan dulu sejenak di rumahnya. Agar dia bisa menyolatkannya. Bakti terakhir seorang ibu kepada anaknya.


Permintaan itupun dikabulkan. Sedari pagi, bu Lusi dan yang lain sudah diperbolehkan untuk pulang. Masih dengan kawalan kepolisian, mereka kembali ke Nggulang.


Putri juga ikut ke sana sekalipun dia masih terbatas dalam pergerakan. Fitri selalu setia membantunya, di saat Madina juga terpuruk dalam kesedihan.


Budi tak henti-hentinya menangis di mobil jenazah. Sekalipun sudah dihibur dan dibujuk, rasanya terlalu cepat Erika pergi. Dan cara kepergiannyapun dia rasa sangat tidak manusiawi. Dia menurut ajakan Isma, untuk membacakan yasin selama perjalanan itu.


Kedatangan mereka di nggulang disambut dengan tangis mengharu-biru. Banyak warga yang datang melayat. Budi terjatuh saat turun dari mobil jenazah. Tubuhnya seperti lemas tak bertenaga. Padahal maksud hatinya ingin menjadi satu dari empat orang yang akan mengotong peti mati berisi jenazah kekasihnya itu.


Bu Ratih langsung berlari menyongsong putranya. Langsung dia papah menjauh dari pintu belakang mobil jenazah. Budi yang masih syok dan nanar menatap mobil jenazah itu langsung dipeluknya erat sembari terus diingatkan untuk eling sama Gusti Alloh.


Kematian itu adalah kepastian bagi tiap-tiap yang bernyawa. Yang ditinggalkan harus ikhlas menerimanya.


Putri mendekati kakaknya. Dia memaksa turun dari kursi roda dan langsung memeluknya. Sempat Budi mengaduh, karena pelukan Putri menekan luka bekas terserempet peluru. Buru-buru Putri meminta maaf.


Budi terus merasakan lemas, meskipun sholat jenazah akan segera dilangsungkan. Si Cobra dan Hind mendekat menawarkan bantuan. Tak menunggu ditawari kedua kalinya, Budi langsung menerima tawaran itu.


Dengan dipapah keduanya, Budi meminta untuk diantarkan berwudhu, dan ikut sholat jenazah. Di shaf paling belakang, Budi masih diapit si Cobra dan Hind, sedangkan Alligator bersiap di belakangnya. Dia tidak ikut sholat jenazah dan fokus mengawasi Budi.

__ADS_1


__ADS_2