
Di tempat lain, Stevani sedang berada di dapur galeri. Fitri, istrinya kang Sukron, yang sore ini datang menyambangi suaminya, sedang memasak untuk makan malam. Merasa tidak enak, Stevani berusaha membantu. Walaupun dia hanya mengerjakan yang ringan-ringan saja.
“Embak sering main ke sini, mbak?” tanya Stevani.
“Nggak juga, Van. Sesekali aja. Kalo pas ada lemburan aja. Belakangan ini kan, bu Ratih sama Putri jadi sering ngantor di sini” jawab Fitri.
“Ngantor? Ha ha ha” Stevani tergelak mendengar kata ‘ngantor’.
“He he, iya. Apalagi kalo pasar ikan lagi sepi, dan di sini lagi rame. Sampe nginep di sini, mereka”
“Emang ada kewajiban gitu mbak, buat masakin karyawan sini?”
“Enggak, Van. Seneng aja, gitu. Liat suami punya pemasukan yang bisa diandelin tiap bulan itu, rasanya sebuah kebanggan, tahu. Ya, meskipun masih ikut sama orang. Tetangga-tetangga, masih ada aja yang nggak jelas pemasukannya. Jadi, sebagai ungkapan rasa syukurku, aku udah janji sama diri aku sendiri, buat selalu bantu apa yang jadi kebutuhan kang Sukron. Kan kang Sukron juga manusia”
“Ya emang manusia, kan? Emang apaan?” seru Stevani setengah tertawa.
“Ya itu. Manusia kan butuhnya makan. Nggak kaya tikus-tikusan mainan bocah, ditarik buntutnya langsung ngacir”
“Hempf. Ha ha ha ha”
Stevani tertawa lepas, mendengar kelakar Fitri. Dia bahkan sampai guling-guling di lantai saking merasa lucu, mendengar kang Sukron dibandingkan dengan tikus-tikusan.
“Tunggu, tunggu. Kata Putri, karyawannya mas Budi itu, kang Supri, kang mangil, satu lagi kalo nggak salah, kang Bejo. Lha kang Bejo itu kemana, mbak?” tanya Stevani, menyadari ada yang janggal.
“Oh. Masih. Cuman hari ini ambil cuti. Nah, kalo kang Sukron, emang belum lama sih, direkrut. Baru semingguan. Itu karena orderannya makin berat. Udah merambah sektor bangunan. Pesenan kusen udah berapa tuh kemarin. Seminggu juga nggak berenti-berenti. Terakhir kemarin tuh, kuda-kuda rumah. Yang terakhir baru tadi pagi diambil. Dan kata bu Ratih, selama masih ada orderan, mas Budi dilarang buat mecat karyawannya. Kecuali bermasalah”
“Lagi pandemi kok malah pada bangun rumah, ya?”
“Ya siapa yang tahu bakal ada pandemi? Kalo rencana sih, mungkin udah jauh-jauh hari”
“Tapi kan banyak ya, bengkel kayu yang memproduksi kusen, daun pintu dan sejenisnya. Kok bisa ke sini, ya? Canggih, mas Budi”
“Ya kan dulu mbak Adel, yang masarin. Kemarin juga, yang mesen itu langganannya almarhum pak Fajar. Cuman karena bengkelnya mbak Adel udah kebanyakan orderan, jadi deh, diarahin ke sini, sama bu Lusi”
“Oh. Gitu. Ya bener” komentar Stevani.
“Eh mbak, kemarin sempet foto-foto nggak, sama kusen-kusen itu?”
“Foto-foto? Ya dokumentasi inernal aja, Van. Kenapa emang? Buat promosi, gitu?”
“Iya. Sayang banget kalo nggak ada dokumentasi buat pemasaran”
“Eeem. Besok pagi kayaknya bikin lagi, deh. Tadinya mau sore ini, tapi bahannya malah belum dateng. Bilangnya udah jalan, tapi jam segini belum nyampe”
“Emang beli dari mana, mbak?”
“Tulungagung”
“Oh, luar kota. Trouble kali, di jalan”
“Kayaknya”
“Mbak Fitri besok ke sini, nggak?”
“Kenapa emang?”
“Jadi fotografer. Aku yang jadi modelnya”
“Waduh. Bayarannya berapa tuh, kalo kamu modelnya?” goda Fitri.
“Ya Alloh, mbak. Udah dikasih tempat aja udah makasih banget”
Fitri tersenyum mendengar jawaban Stevani. Dia hanya mengangguk-angguk saja, sambil terus menyelesaikan masaknya.
Setelah selesai, merekapun langsung makan malam. Semua karyawan Budi masih lengkap, kecuali Hanin. Tapi ada tambahan orang, yaitu si Brandon. Tapi dia tidak ikut makan di dalam, melainkan di depan galeri.
Setelah makan, kan Supri melaporkan hasil pekerjaan hari ini. Semua orang dibuat bingung dengan kalimat-kalimat kang Supri, yang tidak mengarah pada pekerjaan, tapi terlihat serius, raut wajahnya.
“Kenapa, kang?” tanya kang Sukron.
__ADS_1
“Bos Budi, lagi mau berangkat ke Tangerang” jawab kang Supri.
“Loh. Emang Putri dirujuk keluar, kang?” tanya Stevani terkejut.
“Bukan. Mbak Putri sih, nggak kenapa-kenapa. Tapi kata bos Budi, dia ke tangerang itu diperintah bu Ratih buat nemenin mbak Adel”
“Lah. Emang Adel kenapa? Kok bisa sampe tangerang?” tanya Stevani lagi. Dia semakin bingung.
“Emang tadi Aldo nggak bilang, Van?” sahut Fitri.
“Enggak” jawab Stevani.
Fitri menceritakan apa yang sedang terjadi. Dan Stevani kaget bukan main. Tapi dia tidak menceritakan mengenai dongle yang menjadi sebab kehebohan di laut, kemarin.
“Semoga selamat sampai tujuan, ya” doa Stevani.
“Kamu nggak papa kan, kita tinggal?” tanya Fitri.
“Oh. Udah pada mau pulang? Nggak papa” jawab Stevani.
“Si Aldo nggak ke sini lagi, Van? Ada Brandon noh, di luar. Nggak takut apa, dia?” goda kang Mangil.
“He he. Sebenernya sih, waspada juga, dia. Tapi mau gimana lagi. Ortu dia ngajakin nengokin simbahnya. Jadi deh, nggak bisa nemenin di sini” jawab Stevani.
“Ya udah. Kita pulang dulu, ya?” pamit kang Supri.
“Ya, kang. Makasih banget ya kang, udah nerima Vani dengan baik” sahut Stevani.
“Iya, sama-sama” jawab kang Supri.
Merekapun akhirnya beranjak meninggalkan galeri. Stevani memaksa untuk mengantar mereka ke depan. Dengan sangat berhati-hati Stevani menaiki tangga. Tongkat kruknya dibawakan kang Mangil, sedangkan dia berpegangan pada besi pengaman. Lalu dia menggunakan tongkatnya lagi untuk berjalan sendiri sampai ke depan.
Tinggallah kini Stevani berdua dengan Brandon. Sejenak, Stevani duduk di tangga galeri, sekitar dua meter di sebelah kiri Brandon. Dia termenung, memikirkan semua yang sedang terjadi padanya.
“Belum ngantuk, mbak?”
“Udah mulai, sih” jawab Stevani.
“Udah jam sembilan, mbak. Anginnya udah mulai dingin. Sebaiknya, mbak Vani istirahat di dalem. Biar cepet sehat” saran Brandon.
“Oh. Iya, ya?” seru Stevani, menyadari ternyata waktu di ponselnya telah menunjukkan pukul sembilan malam. Diapun beranjak.
“Perlu dibantu?” tanya Brandon. Diapun beranjak mendekati Stevani.
“Oh, iya” jawab Stevani.
Dia menerima uluran tangan Brandon. Tapi sekedar untuk berdiri saja. Setelahnya, dia bisa berjalan sendiri menggunakan tongkat kruknya. Tapi Brandon mengikutinya. Dia tahu, Stevani akan kesulitan menuruni tangga di belakang galeri, menuju lantai bawah.
“Mas”
Dan benar tebakan Brandon. Seperti saat naik, kini Stevani butuh bantuan untuk menuruni tangga. Dan Brandon dengan sigap membantunya membawakan tongkat kruknya.
“Makasih”
Stevani menerima kembali tongkat kruknya. Dia berjalan menuju bagian belakang bengkel kayu Budi. Brandon masih bersiaga, barangkali Stevani kesulitan untuk masuk ke dalam kamarnya.
Ya, memang bukan kamar Budi yang dia tempati. Semua orang tahu, dia akan kesulitan kalau hendak ke toilet. Karena kamar atas belum ada toiletnya. Jadi, untuk mempermudah Stevani, bu Ratih meminta kang Sukron untuk memodifikasi saung yang berada tepat di bawah kamar Budi untuk dijadikan kamar.
Walaupun hanya berdindingkan gedhek. Tapi gedhek yang dipilih bukan yang biasa-biasa saja. kang Sukron mencarikan gedhek yang bermotif. Dan bahannya full dari kulitnya bambu. Jadi tampak seragam dan artistik. Belum lagi kulit bambu yang dipakai ada dua warna yang berbeda, cokelat muda dan cokelat tua kehitaman. Terasa seperti penginapan.
Karena memang awalnya itu saung, maka sudah pasti ada lantai lesehan dari kayu yang dari lantai bengkel ada jarak sekitar satu meter. Jadi, untuk bisa masuk ke dalam kamar, Stevani harus duduk dulu di lantainya. Dia harus mengangkat kakinya perlahan, baru dia bangun secara perlahan.
Brandon masih bersiaga, dan baru pergi saat Stevani memberikan acungan jempol. Tanda dia sudah tidak memerlukan bantuan lagi.
Saat sudah terlelap, Stevani merasakan tidurnya terusik. Suara-suara keras dari luar terlalu memekakkan telinganya. Diapun terbangun.
“Emh. Aduuh”
Stevani mengeluh saat membuka matanya. Kepalanya terasa pusing dan pandangan matanya sedikit kabur. Sedangkan suara-suara keras di luar kamar masih terus memekakkan telinganya. Seperti suara kayu besar yang dijatuhkan begitu saja, beradu dengan lantai atau kayu-kayu lain.
__ADS_1
“Bau apa, nih?”
Butuh beberapa saat untuk bisa memfokuskan pandangannya. Dan belum juga sempurna fokusnya, dia mencium aroma aneh di dalam kamar ini.
“Kok bau cucian bisa sampe sini, sih?”
Stevani memegangi kepalanya. Terasa pening kepalanya. Dia memejamkan matanya beberapa saat.
*Cesst*
Terdengar suara asing lagi. Sontak Stevani membuka matanya. Dia mendongak ke arah kanan atas. Dia berusaha menajamkan pandangannya. Lampu kamar yang dia matikan, membuat kamar ini remang-remang.
“Aduh. Kenapa pengharum ruangannya pake yang aroma cucian, sih? Nggak ada aroma lain, apa?”
Stevani berusaha berdiri. Tapi dia merasa kesulitan. Bukan karena kakinya yang belum sembuh, melainkan kepalanya yang terasa berputar-putar. Dan niatnya untuk mematikan mesin penyemprot otomatis itu harus dia tunda.
*Ya Alloh. Kenapa baru sekarang kerasanya? Kenapa nggak pas di rumah sakit? Masa aku harus rawat inap lagi, ya Alloh*?
Mata Stevani masih lekat menatap mesin penyemprot pengharum ruangan itu. Tapi pandangan matanya masih saja kabur. Sekalinya jelas, tidak fokus. Benda-benda di sekitarnya terlihat ganda di penglihatannya.
Mendengar suara berisik dari luar membuat perhatian Stevani teralihkan. Secercah cahaya menerobos masuk melalui celah kecil dari gehek yang tidak rapat. Karena penasaran dengan suara berisik itu, Stevani memutuskan untuk mendekat ke dinding gedhek itu.
“Oh. Kayu? Malam amat baru dateng?”
Stevani mengamati proses bongkar-muat kayu-kayu seukuran badannya. Dia berusaha fokus, karena semua yang dia lihat di luar kamar itu juga terlihat ganda. Beberapa saat mengamati, Stevani merasakan kepalanya malah semakin pusing.
*Aku kenapa, ya Alloh*?
Sesekali pandangan mata Stevani berubah gelap. Ketika kembali bisa melihatpun, dia sudah tidak bisa fokus. Seperti orang yang terkena microsleep, beberapa kali dia tidak sadar dengan sekitarnya.
*Allohu Akbar*.
Semakin pusing, semakin pening, semakin sering Stevani tidak sadar dengan sekitarnya. Dan pada akhirnya, dia roboh ke samping. Kali ini dia benar-benar black out.
Di luar sana, proses bongkar muat masih terus berlanjut. Sampai kira-kira satu jam kemudian, suara berisik itu masih terus ada. Tapi tak lagi mengusik telinga Stevani.
Selepas itu, truk beserta punggawanya keluar dari area bongkar muat. Meninggalkan kesunyian. Lampu bengkelpun sudah dimatikan. Tinggal lampu di depan kamar Stevani yang masih tetap dinyalakan.
“Emh”
Setelah sekian lama tak sadarkan diri, Stevani mulai kembali terjaga. Dia merubah posisinya. Dia terlentang sambil memegangi kepalanya. Masih terasa berdenyut-denyut. Tapi dia merasa aneh kali ini. Suara-suara berisik itu sudah tidak dia dengar lagi. Tinggal suara semprotan pengharum ruangan saja.
*Udah kelar ya? Berarti brandon di depan, dong? Duh, pake lupa nggak minta nomornya lagi. Sakit banget kepalaku, ya Alloh*.
Stevani memaksakan tubuhnya untuk duduk. Dia ingin pergi ke teras kamar. Dia ingin berteriak memanggil Brandon. Lama-lama dia tidak tahan dengan denyutan di kepalanya. Dia ingin diantar ke rumah sakit. Sorot lampu dari luar masih ada satu yang menerobos masuk, tapi tidak seterang sebelumnya.
*Eh, loh. Itu siapa yang lewat*?
Stevani terkejut melihat sorot lampu itu tiba-tiba hilang sesaat, lalu ada lagi. Seperti tertutup sesuatu yang lewat di depan kamarnya. Walau pening, Stevani tetap memaksa tubuhnya untuk bergeser mendekat ke dinding gedhek.
*Itu siapa*?
Stevani melihat ada seseorang yang berjalan menuju tumpukan kayu yang tadi dibongkar.
*Kalo dari posturnya, dia bukan Brandon. Terus siapa dong? Sopir truk*?
Stevani bingung dengan siapa orang itu. Yang pasti, orang itu laki-laki. Dia seperti sedang merogoh ke dalam celah diantara tumpukan kayu gelondongan itu. Beberapa saat kemudian, laki-laki itu menarik kembali tangannya.
Dia seperti mendapatkan sesuatu. Ya, sebuah kresek berwarna hitam tampak mengkilat diterpa sinar lampu. Laki-laki itu tampak mengeluarkan isi kresek itu. Dan terlihat seperti plastik klip. Stevani tidak bisa mengenali, apa yang ada di dalam plastik itu. Seperti kertas lembaran berwarna putih kecoklatan.
Lelaki itu manggut-manggut. Tak lama kemudian dia beranjak pergi menuju bagian belakang bengkel, melewati sebelah kamarnya.
*Kan di sana nggak ada pintu. Ngapain dia ke sana*?
Stevani memasang sikap waspada. Di sana tidak ada penerangan, jadi dia tidak tahu, apakah orang itu berada di dekat kamarnya atau tidak.
Cukup lama Stevani menunggu apa yang akan terjadi. Tapi lagi-lagi, dia seperti terkena microsleep. Dan roboh kembali, setelah beberapa kali dia tidak sadar dengan sekitarnya.
***
__ADS_1