
“Astaghfirulloh. Rika kecelakaan dimana?”
“Bukan kecelakaan, Bud. Dia pingsan di kantor”
“Di kantor? Kan dia pulang bareng aku?”
“Mana aku tahu? Orang tadi aku tadi balik ke kantor buat ngambil charger. Eh, aku ngeliat mbak Rika masih di kantor. Aku pikir dia ketiduran. Aku bangunin, lah. Tapi aku goyang-goyang pundaknya sampe kenceng, dia nggak respon. Mana dingin lagi badannya. Ya udah, aku minta scurity bawa mobil buat nganter mbak Rika ke UGD”
“Terus kamu dimana sekarang?”
“Ya masih di UGD, Bud. Buruan ke sini! Penanganannya terkendala administrasi, Bud. Aku lagi nggak pegang duit sebanyak itu”
“Oh. Oke. tunggu, ya? OTW nih”
“Oke. assalamu’alaikum”
“Wa’alaikum salam”
*Tuuut*
Budi langsung bergegas seketika setelah sambungan telepon terputus. Dia membawa bebrapa perlengkapan, berjaga-jaga jika Erika harus dirawat inap. Saat melintasi Fitri, dia mendapatkan sebuah tatapan penuh tanda tanya, tapi yang menatapnya tidak berani bertanya.
“Mau kemana, mas?”
Suara Putri membuat semua orang yang ada di teras menoleh padanya. Di sini dia bingung harus menjawab bagaimana. Ada Adel yang sepertinya sudah baikan dengan Madina. Termasuk dengan Putri.
“Mau kemana, ngger? kok bawa tas segala?”
Kalau sudah begini, mau tak mau Budi harus menjawab.
“Rika masuk UGD, bu” jawab Budi.
“Apa?” Putri memekik tanpa sadar.
“Loh. Emang kenapa mbak Rika, kok sampe masuk UGD?” tanya bu Ratih.
Di sini Budi bisa melihat, ada seraut kecemburuan di wajah Adel. Tapi dia diam, karena merasa sudah tidak berhak untuk protes padanya, terlebih pada ibunya.
“Budi juga belum tahu, bu. Barusan Aldo nelpon. Dia yang liat Rika pingsan di kantor” jawab Budi.
“Ya sudah. Ati-ati, ya! Apa udah jelas mau rawat inap?”
“Belum tahu sih. Jaga-jaga aja”
“Ya udah. Ati-ati!” pesen bu Ratih.
Budipun pergi setelah mengucapkan salam. Sempat terjadi kekakuan suasana di teras itu. Karena Madina juga sempat merasakan cemburu mendapati Putri dan bu Ratih perhatian dengan Erika, yang notabene adalah rival dari kakaknya.
Tapi dia juga sadar, kalau sudah tidak ada kewajiban lagi buat bu Ratih dan Putri untuk menjaga perasaannya. Dia geleng-geleng kepala, berusaha mengenyahkan perasaan cemburu yang sudah tidak pada waktunya lagi itu.
Budi mengendarai motornya dengan kecepatan sedang. Pikirannya setengah mengembara. Senyum sinisnya keluar. Di dalam hatinya muncul perasaan lega. Seperti perasaan seseorang yang habis dianiaya, dan bisa membalaskan dendam atas penganiayaan itu. Seolah dia ingin berkata, kamu bisa menghancurkan hatiku, aku juga bisa menghancurkan hatimu.
Tapi kemudian dia menggeleng-gelengkan kepalanya. Hati nuraninya berontak. Nuraninya seolah berkata, kalau perasaan seperti itu tidak pantas dialamatkan kepada Adel. Karena rasa cinta dan rasa ingin memiliki itu masih belum hilang. Dan Adel bukan bermaksud ingin menghancurkannya, melainkan terpaksa oleh keadaan.
Sesampainya di rumah sakit, Budi langsung menuju UGD. Dimana sudah terlihat Aldo mondar-mandir di depan ruang UGD itu.
“Do. Gimana Erika?” tanya Budi.
“Alhamdulillah, kamu datang. Udah dilakukan tindakan. Tapi kamu harus segera urus administrasinya” jawab Aldo.
“Dia dimana?”
“Di dalem” jawab Aldo.
Budipun langsung masuk ke ruang UGD. Dan terlihat Erika sedang diperiksa oleh dokter. Budipun mendekat.
“Maaf. Anda mencari siapa?”
Seorang perawat mengejutkannya.
“Oh. Saya keluarga Erika, sus” jawab Budi.
“Oh, baik. Pasien atas nama Erika Tungga Dewi sedang dilakukan penanganan. Sebaiknya bapak ikut kami mengurus administrasi”
“Kalau boleh tahu, pasien kenapa ya, sus?”
“Indikasi awal, pasien kelelahan. Tapi masih diobservasi lebih lanjut oleh tim dokter” jawab suster itu.
__ADS_1
“Baik, sus”
Budipun beranjak mengikuti suster tadi. Dia mengisi blangko yang diberikan suster itu untuk dia isi. Setelah selesai mengisi, seorang dokter berjalan menghampirinya. Dia menyampaikan kalau pasien sudah stabil.
Pasien menderita kelelahan fisik dan stres berlebih. Ada indikasi juga kalau pasien telat makan atau malah tidak makan seharian, sehingga tidak punya cukup tenaga untuk menjalani aktivitasnya yang tebakan dokter itu cukup membuat stres. Dan dokter itu juga mengatakan kalau pasien ini harus dirawat inap.
“Baik, dok. Lakukan yang terbaik! Saya akan ikuti saran dokter”
“Kalau begitu, saya pamit dulu”
“Silakan, dok. Silakan” jawab Budi.
Terlihat Aldo masuk ke ruang UGD menghampirinya. Tepat saat dokter itu keluar melewati pintu yang sama.
“Gimana, Bud?” tanya Aldo.
“Apanya?”
“Ya kondisi mbak Rika, lah”
“Oh. Kata dokter sih sudah stabil. Tapi aku belum liat, sih”
“Administrasi?”
“Udah” jawab Budi sambil tersenyum.
“Syukurlah. Sumpah, Bud. Aku bingung banget. Kalo punya duit segitu, aku nggak mikir panjang. Toh bakal diganti ini. Sayangnya nggak ada, Bud”
“Iya, iya. Makasih banget ya, Do. Aku nggak tahu mesti bales pake apa”
“Udah, yang penting mbak Rika selamat. Liat kondisinya, yuk!” jawab Aldo.
“Yuk”
Mereka beranjak menuju ranjang dimana Erika dirawat. Dia tampak pucat dengan mata tertutup. Dia masih belum sadarkan diri.
Budi memperhatikan selang infus dan masker oksigen yang dipasangkan di tubuh Erika. Sesaat, ingatannya melayang pada Adel. Tapi segera ditepisnya. Wanita itu telah dimiliki orang lain. Tidak ada gunanya dipikirkan.
“Bud” panggil Aldo lirih.
“Aku boleh pamit dulu, nggak? Aku sebenernya udah ada janji”
“Oh. Oke. Makasih banget nih, udah nolongin Erika” jawab Budi.
“Nggak papa ya, aku tinggal?”
“Nggak papa. Aman, kok”
“Ya udah. Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikum salam”
Aldopun pergi setelah bersalaman dengan Budi. Tinggallah Budi duduk sendiri menunggui Erika.
*Bukannya tadi dia pulang bareng aku? Apa jangan-jangan dia sebenarnya nggak jadi pulang, karena aku main ngacir aja? Terus, stres karena apa? Bukannya tiap hari juga stress mikirin kerjaan? Dan selama ini juga baik-baik aja. Dan sejak kapan seorang Erika nggak doyan makan*?
***
Adel pulang dengan tangan hampa. Dia tidak berhasil membujuk adiknya agar mau pulang. Walau telah terjadi kesepakatan antar para ibu, tapi Adel masih kurang yakin. Dia masih khawatir kalau ibunya masih akan bersedih.
“Mana Madin, yang?”
Suara Luki tak lantas membuat Adel berhenti. Dia berlalu saja dari ruang tamu, naik ke lantai atas.
“Ditanya kok malah ngeloyor. Yank”
Tapi Adel tidak menoleh, apalagi berhenti. Dia sedang kesal dengan suaminya. Luki beranjak dari duduknya dan menyusul istrinya. Beruntung pintu kamar tidak dikunci oleh Adel.
“Kamu kenapa, sih? Ditanyain kok malah nyuekin?”
“Madina nggak mau pulang. Dia baru mau pulang kalo mbok Yem udah nggak di rumah ini lagi”
“Haaah bocah. Bikin repot aja” gumam Luki.
Adel mendelik, karena dia masih bisa mendengarkan gumaman Luki. Tapi dia berusaha sabar dan pura-pura tidak mendengar gumaman itu.
“Besok, mas harus pastiin, mbok Yem balik ke solo! Aku nggak pengen liat ibu sedih lagi” perintah Adel.
__ADS_1
“Lah. Ya nggak bisa gitu, lah. Besok jadwalku padet. Mesti ketemu beberapa pelanggan”
“Ya udah. Kalo gitu aku yang bawa mbok Yem ke solo”
“Mbok Yem itu udah diwasiatin papa buat ikut sama aku. Sampe dia jompo”
“Ya udah. Kalo gitu kita tinggal aja di solo”
“Kok gitu?”
“Ya sekalian, lah. Kalo entar Madin bilang aku cuek, kan emang aku nggak di rumah. Mau seharian sibuk di luar sama mas, aku nggak nongol di rumah ini”
“Ya masa baru pindah ke sini udah mau balik ke sono lagi? Mau ditaruh di mana muka aku?”
Adel terbelalak mendengar ucapan itu.
“Lagian gimana dengan orderan PRAM?”
“Ya itu urusan mas, lah. Kan yang ngebet itu, mas. Aku sih udah nggak mau”
“Lah. Ya nggak bisa gitu, lah. Udah, soal Madin dipikir sambil jalan aja! Udah banyak yang mesti kita pikirin. Kamu mau bengkel ini maju apa enggak?”
“Lah. Ya nggak bisa, lah. Nggak ada hubungannya, “
“Stop! Kamu harus patuh sama perintah suami!”
“Mas. Kalo perintah suami itu bener, emang wajib buat seorang istri patuh sama perintah itu. Tapi kalo perintah itu salah. Ada hak buat seorang istri untuk tidak patuh sama perintah yang salah itu”
“Salahnya dimana?”
“Ya salah, lah. Masa mas nyepelein adik aku? Eh, mas. Ibu nangis terus dari siang. Ibu sedih liat Madin kabur dari rumah. Dari siang juga aku udah cuekin terus buat patuh sama kamu. Apa kamu pikir semua itu bener?”
“Ya bukannya nyepelein, yang. Cuman butuh pembiasaan aja antara Madin sama mbok Yem”
“Ini rumah, rumah ibu, mas. Jadi wajar kalo Madin punya kuasa atas rumah ini”
“Ya tapi aku juga nggak bisa mindahin mbok Yem gitu aja, yang. Mbok Yem itu udah ngerawat aku dari kecil. Dia paling ngerti soal aku”
“Ya udah. Kamu tinggal aja sama mbok Yem, di Solo. Aku di sini sama Madin”
“Lah, kok gitu, ngomongnya?”
“Mas. Aku dari kecil, hidup sama Madin. Dari rumah ini masih gedhek. Udah nggak keitung berapa kali Madin bantuin keperluanku. Udah nggak keitung berapa piring nasi yang masuk ke dalam perutku. Sebagian dari apa yang mas nikmatin setiap malem, itu ada karyanya Madin. Sedangkan mas? Mas itu baru kemarin dateng ke kehidupan aku. Jadi kalo mas nyuruh aku milih, ya aku pilih Madin, lah” jawab Adel.
Luki terkesiap mendengar jawaban tegas Adel.
“Dan kalau dari pilihan Adel ini, mas minta balik uang yang mas pinjemin ke bapak, Adel bakal balikin, mas. Sekalipun Adel kere, Adel masih sanggup balikin”
“Kamu iklas nggak sih, nikah sama aku?”
“Apa?” Adel tergelak mendengar pertanyaan konyol itu.
“Aku udah patuh sama mas dari pagi sampe malem, kamu nikmatin juga tiap malem, masih kamu tanyakan keikhlasanku, mas?”
“Ya abisnya kamu ngeyel aja. Besok aku ngomong lagi sama Madin, “
“No more negotiation, mas” potong Adel.
Luki terkesiap melihat sorot tajam dari tatapan mata istrinya itu.
“Pilihanmu cuman dua. Aku harap mas milih pilihan yang pertama. Aku nggak mau liat mbok Yem lagi di rumah ini” lanjut Adel. Luki masih tidak berkomentar.
“Jangan paksa aku buat nggak sopan sama mas! Jangan sampe hati ini kembali aku gembok. Mas masih inget kan siapa aku? Aku masih punya pamor buat ngusir mas dari sini” lanjut Adel lagi.
Untuk beberapa saat, Luki tidak segera menjawab perkataan Adel. Mereka masih saling menatap.
“Oke, oke. Aku bilang sama mama dulu” jawab Luki kemudian.
“Malam ini, aku tidur sama ibu”
“Loh, “
“Jangan mbantah! Pastikan besok pagi, mbok Yem angkat kaki dari rumah ini!” potong Adel.
Dia keluar dari kamar dengan perasaan yang sangat dongkol. Perasaan tidak sukanya pada Luki kembali hinggap sejak mendapat tatapan tajam dari adiknya tadi siang. Sama seperti saat dulu Luki sering main tak tahu waktu.
***
__ADS_1