Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
cobaan apa lagi ini ya Alloh?


__ADS_3

Pagi ini Adel libur dari aktivitas perkuliahan. Dia memanfaatkan waktu paginya untuk mengkalkulasi cash flow di bengkel kayu bapaknya. Keningnya berkerut. Dia sedang berpikir keras, bagaimana caranya lebih berhemat lagi.


Tanpa dia sadari, dari arah depan, ada tamu yang datang. Adel sama sekali tidak mendengar suara tegur sapa antara tamu itu dengan ibunya. Bahkan disaat beberapa tukangnya kasak-kusuk tentang tamu itu, Adel masih fokus melihat mesin-mesin produksinya. Bertemankan stop watch yang terus berdetak. Perlahan dia mulai menyadari keberadaan orang lain di sekitarnya. Tapi dia enggan mengalihkan pandangannya.


“Assalamu’alaikum” sapa tamu itu.


“Wa’alaikum salam” jawab Adel.


Tapi matanya masih saja fokus menatap mesin dan stop watchnya. Bu Lusi sampai berkacak pinggang karena sikap Adel. Sambil tergelak, tamu itu meminta bu Lusi untuk membiarkan Adel dengan kesibukannya.


“Eh, loh. Mbak Farah?” Seru Adel, beberapa saat kemudian.


Dia terkejut, saat menoleh, ternyata tamu yang ada di belakangnya tidak seperti yang dia bayangkan.


“Nah, kan. Udah mama bilangin kan, kalo ada yang nyapa, noleh! Untung, mbak Farah” sahut bu Lusi.


“Ya kan lagi ngitung waktu, bu” kilah Adel.


“Haih. Sifat kok ngikut bapak semua. Padahal kamu tuh dilahirin loh, bukan di print” gumam bu Lusi.


“Apa?” tanya Adel kurang mendengar.


“Nggak” jawab bu Lusi sambil berlalu pergi. Jawaban yang sambil tergelak itu, membuat Farah tertawa.


“Masya Alloh. Emang serasi, berpasangan sama Budi. visioner” komentar Farah.


“Amiin. Ya Alloh, dapet komentar bagus dari orang hebat. Terbang nih, saya” sahut Adel sambil menyalami Farah.


“Tumben, mbak Farah yang ke sini? Si Aldo kemana?” lanjut Adel.


“Ada. Dia kan satu bagian sama Budi. Jadi tugasnya nggak jauh-jauh dari tugas Budi” jawab Farah.


“Oh. Berarti kedatangan mbak Farah ini, buat urusan lain, gitu?” tanya Adel penasaran.


“Iya. Sesuai sama bagian aku”


“Oh. Kalo gitu kita ke rumah aja, biar lebih nyaman” ajak Adel.


“Bapak ada?” tanya Farah, sambil mengikuti Adel berjalan.


“Yah. Bapak belum pulang, mbak” jawab Adel.


“Lama, nggak? Kita tungguin aja sekalian”


“Eem, kurang tahu, mbak. Bilangnya sih udah on the way pulang”


“Oh. Nyari bahan baku?”


“Bukan, sih” jawab Adel.


“Silakan duduk, mbak!” lanjut Adel mempersilakan.


“Terimakasih” jawab Farah.


“Bapak sih perginya dari kemarin, ngurusin mesin-mesin itu, mbak. Di jakarta” kata Adel menjelaskan jawabannya tadi.


“Jakarta? Kok dibolehin? Kenapa nggak via telepon aja?” tanya Farah dengan ekspresi terkejut. Pertanyaan ekspresif itu membuat Adel bingung.


“Ya, karena udah dibantuin sebegitu rupa, kalo cuman lewat telepon, kata bapak kurang sopan” jawab Adel.


“Mbak. Jakarta itu lagi gawat. Bocah sekolah aja diliburin. Sekarang jum’atan nggak dibolehin, lho. Kok malah ke sana?”


“Kan cuman ketemu satu orang, mbak. Orang lokal, kok. InsyaAlloh, bapak nggak ketularan”jawab Adel sambil tersenyum.


“Ya. Semoga aja pak Fajar sehat selalu” komentar Farah.


“Maaf ya, mbak. Aku cuman hawatir aja. Soalnya, kerabatku kalo cerita, serem” lanjut Farah.


“Iya, mbak Farah. Nggak papa. Malah seneng saya, dapet perhatian sebegitu rupa. Berasa kaya ngobrol sama saudara. He he”


“Ngobrolin bisnisnya sambil ngeteh, ya”

__ADS_1


Tanpa mereka sadari, bu Lusi sudah berada di depan mereka. kedua tangannya memegang sebuah baki berisi dua cangkir teh hangat, dan sepiring makanan ringan.


“Masya Alloh, ibu. Kok repot-repot segala” seru Farah.


“Cuman air, mbak” jawab bu Lusi, sambil menghidangkan jamuannya.


“Monggo!” lanjut bu Lusi mempersilakan.


“Terimakasih, bu” Jawab Farah.


Bu Lusipun pergi dari hadapan mereka. Adel mempersilakan tamunya untuk minum. Untuk sejenak perbincangan mereka terhenti. Mereka berdua menikmati hidangan teh hangat dan kue kering di atas meja.


“Eem, maaf nih, mbak Farah. Saya jadi penasaran. Apa nih, yang bisa saya bantu?” tanya Adel, beberapa saat kemudian.


“Oh. Gini, mbak. Eem, ”


Kalimat Farah menggantung. Raut wajah dan sorot matanya berubah dalam sekejap. Keceriaan beberapa saat yang lalu, kini telah berganti kelesuan, kebingungan, dan ada sedikit raut ketakutan. Takut menyinggung perasaan sang tuan rumah.


“Sebenarnya saya membawa kabar kurang sedap, mbak” lanjut Farah. Adel mengernyitkan keningnya.


“Maksud mbak Farah?” tanya Adel belum mengerti.


“Eeem. Mengenai purchase order yang sudah kami terbitkan”


“Kenapa, mbak? Ada yang salah?” tanya Adel masih optimis.


“Enggak. Bukan kontrak antara kita yang bermasalah, tapi di hulunya sana” jawab Farah.


“Maksud mbak Farah?”


“Mr. Isaac mengajukan pertimbangan pasal tiga puluh kontrak kita, tentang force major”


“Apa?”


Bagai disambar petir di siang bolong, Adel sangat terkejut mendengar jawaban itu.


“Ya. Tepat setelah kita ketemu tempo hari, pas PRAM kena grebek, MR. Isaac nelpon saya. Dia bilang kalo kondisi pandemi di Jerman sangat menghawatirkan. Berbagai macam pembatasan dilakukan. Di negara eropa lainnya juga begitu. Makanya kata dia, penjualan mebel tahun ini nggak bisa sebanyak tahun kemarin. Yang kemarin aja, kata dia belum kekirim. Nggak bisa keluar perbatasan sama sekali. Yang kita kirim kemarin, juga nggak bisa masuk ke Jerman”


“Bukan diputus, mbak Adel” kata Farah berusaha sekalem mungkin.


“Lalu?”


“Mr. Isaac mengajukan penundaan pembelian. Sampai kondisi darurat ini berhasil diatasi”


“Berapa lama? Sebuan, dua bulan?”


“Itu yang kami belum bisa menjawab, mbak”


“Astaghfirulloh” keluh Adel sambil menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


“Terus kita bayar mesin pake apa, mbak? Baru depe itu” keluh Adel.


“Kami tahu, mbak. Aku dateng juga bukan semata-mata cuman nyampein apa yang kita denger” jawab Farah. Adel menatapnya dengan lesu.


“Sejak hari itu, sampai tadi malam, kita di perusahaan terus mengusahakan untuk terus dilanjut tanpa jeda. Sampe kita turunin pengacara buat bantuin. Sampai gontok-gontokan juga. Soalnya kita juga rugi, mbak. Sama”


“Terus?”


“Tapi semua kondisi yang mereka utarakan, memang tidak bisa kita bantah. Semua opsi yang kita ajukan, mental sama keadaan. Belum lagi sentimen negatif dari pasar. Kebutuhan akan bahan makanan diprediksi akan mengalahkan kebutuhan lainnya, jika pandemi ini tidak bisa segera diatasi”


“Allohu Akbar” keluh Adel.


Dia menyandarkan tubuhnya ke belakang, dan menutupi lagi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


“Cobaan apa lagi ini ya Alloh?” gumamnya.


“Kami tahu mengenai kondisi pak Fajar, ya kondisi mbak Adel. Kami juga mengusahakan kompensasi berdasar pasal tiga puluh satu” kata Farah.


Adel tak langsung bereaksi. baginya, penundaan pembelian itu seperti menghempaskannya ke dasar jurang. Dia belum terpikirkan bagaimana caranya memberi tahu bapaknya akan hal ini.


“Kami sudah mendapatkan kompensasi tiga ratus juga untuk pak Fajar. Tidak kami kurangi sepeserpun. Juga pembayaran untuk pengiriman kloter ke empat, yang sedang mbak Adel kerjakan” lanjut Farah.

__ADS_1


Adel masih belum bergeming dari posisinya. Dia benar-benar kacau, pikirannya. Baginya, uang segitu masih jauh dari apa yang dia harapkan. Untuk mengembalikan pinjaman saja belum cukup. Pasti pembayaran utangnya akan molor melewati tenggat waktu pelunasan.


“Eh, ada tamu”


Terdengar seruan dari arah pintu depan. Sontak Adel menegakkan badannya karena terkejut. Seketika rasa takut hinggap di hatinya.


“Bapak?” gumam Adel.


“Pantesan nggak nyambut bapak” lanjut pak Fajar.


“Sudah lama, mbak Farah?” tanya pak Fajar sambil menyalami Farah.


“Oh, belum. Belum lama, pak” jawab Farah tergagap.


“Oh” komentar pak Fajar singkat. Dia merasa ada yang aneh dengan tamunya.


“Tumben mbak Farah sendiri yang main ke sini? Gantiin Aldo apa mau ketemu Adel? Apa mau ada MOU baru? He he” tanya pak Fajar, masih dengan gaya basa-basi.


“Bapak mandi dulu, gih! Abis dari tempat rawan, harus langsung mandi. Harusnya tadi nggak nyalamin mbak Farah dulu” potong Adel.


“Astaghfirulloh, iya. Ya udah, bapak mandi dulu, ya?” pamit pak Fajar.


“Silakan, pak” jawab Farah.


“Mbak Farah juga cuci tangan gih! Apa mandi di kamar Adel! Biar nggak ketempelan virus” saran pak Fajar.


“Iya, pak. Baik” jawab Farah.


Pak Fajarpun pergi ke belakang. Sepertinya dia berniat untuk mandi di kamar mandi belakang. Kamar mandi pertama sebelum membuat kamar mandi di dalam kamar.


“Huuufft”


Adel menghela nafas lega sambil menghempaskan tubuhnya ke sofa. Tangannya memijat-mijat keningnya yang mulai terasa pening.


“Kami minta maaf, mbak. Cuman sampai sebatas itu kemampuan kami”


“Nggak tahu deh, mbak. Pusing saya” jawab Adel.


“Kalo tahu bakal begini, nggak kita bangun dulu, itu bengkel kayu” lanjut Adel.


“Iya, mbak. Maaf”


“Saya nggak nyalahin mbak Farah” kata Adel sambil memaksakan tersenyum.


“Saya cuman kepusingan aja sama keadaan ini” lanjut Adel.


Farah tidak berkomentar. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Sekalipun sebagai bagian dari perusahaan, dia tidak perlu merendah begitu, tapi pertemanannya dengan Budi, membuatnya tidak enak hati. Terlebih juga dia merasa kalau Adel itu sudah seperti teman sendiri.


“BAPAAAK”


Terdengar jeritan dari arah dapur. Mereka berdua tersentak kaget.


“TOLOOOONG”


Terdengar lagi jeritan khas perempuan.


“Bapak?”


Adel serta merta melompat dari tempat duduknya sekarang. Tanpa menghiraukan tamunya, dia berlari ke sumber suara. Farah mengikuti Adel dari belakang. Beberapa tukang juga masuk untuk mencari tahu ada apa gerangan.


“YA Alloh, ibu. Bapak kenapa?” tanya Adel sesampainya di dapur. Dia melihat bapaknya tergeletak tak sadarkan diri.


“Bapak pingsan” jawab bu Lusi.


“Kang, siapin mobil!” teriak bu Lusi.


Dengan sigap, salah satu tukangnya pak Fajar berlari keluar. Dan yang lain dengan sigap mengangkat tubuh pak Fajar. Adel sendiri telah berlari mendahului yang lain. Menyiapkan akses masuk dan tempat untuk meletakkan bapaknya.


“Buruan, kang!” pinta bu Lusi setelah pak Fajar masuk ke dalam mobil.


Adel yang sempat turun tak sempat masuk lagi. Tukang yang menyopiri mobil itu langsung tancap gas menuju rumah sakit. Farah menawarkan mobilnya untuk mengantar Adel. Tentu saja Adel tak menolak tawaran itu. Berdua mereka pergi, setelah Adel menitipkan pesan kepada para tukangnya.

__ADS_1


__ADS_2