Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
gengsi dan perut kembali berseteru


__ADS_3

Pagi ini Adel sudah siap untuk pergi. Hanya dengan setelan kaos panjang dan celana jeans panjang. Sengaja hanya begitu karena dia menduga kalau galery akan lebih ramai dari biasanya. Trendingnya sofa milik kekasihnya itu, pasti akan mendongkrak jumlah kunjungan. Sehingga dia merasa perlu menggunakan pakaian yang simpel dan mudah untuk bergerak.


“Aduh, dia lagi”


Adel mengeluh saat akan menuruni tangga. Terdengar suara bapaknya sedang berbincang-bincang dengan seseorang di halaman depan. Dia sempat berhenti dan tampak berpikir.


“Ada apa, mbak?”


Suara Madina sedikit mengejutkannya. Tapi sesaat kemudian dia memberikan isyarat dengan tangannya.


“Itu. Mas Luki. Jam segini udah ada di rumah aja. Nggak ada kegiatan lain, apa?” jawab Adel kesal.


“Kok kesel gitu?” goda Madina.


“Ya gedek lah, jadinya. Keitungnya udah keseringan dia ke sini. Seminggu sampe empat kali, dua minggu delapan kali. Gedeklah, embak. Untung seringnya cuman nganter ke sanggar. Dan untung juga nggak ada yang usil bikin gosip” jawab Adel. Madina menghela nafas berat.


“Semalam kesini, sekarang udah di sini lagi. Kalo dia udah di sini, rasanya tuh kaya di todong tahu nggak, sih. Bapak selalu maksa embak buat pergi sama dia” lanjut Adel semakin kesal.


“Terus, apa rencana embak?” tanya Madina.


“Ya pamit. Apa lagi?’ jawab Adel enteng.


“Dih, gimana sih, mbak? Mana mungkin diijinin?”


“Bodo amat, lah” jawab Adel sambil berlalu.


“Hadeh. Gini nih, kalo sarapan kue. Merugul kaya bule” komentar Madina.


Adel tergelak mendengar celoteh adiknya. Dia menuruni tangga sambil memainkan ponselnya. Mata Luki teralihkan saat Adel muncul dari balik pintu depan.


Bukannya tidak tahu, tapi pak Fajar memberikan kesempatan kepada Luki untuk melihat putri sulungnya.


Adel cuek saja dipandang begitu. Dia asyik memakai sepatu ketsnya. Melihat sepatu itu, sontak Luki menatap pak Fajar. Tapi karena pak Fajar sedang melihat ponselnya, Luki tidak jadi bertanya. Dia melihat lagi ke arah Adel yang sedang memainkan ponselnya.


“Eh, nduk?” seru pak Fajar.


Dia tersenyum saat melihat putrinya sudah di sofa tamu teras. Adelpun tersenyum pada bapaknya.


“Tuh. Udah kelar mandinya. Mas Luki samperin gih! Bapak mau nelpon dulu” saran pak Fajar.


“Oh, iya” jawab Luki.


Pak Fajar pergi ke arah bengkel kayunya, setelah menepuk pundak Luki. Sedangkan Luki segera menghampiri Adel.


“Del”


Luki menyapa Adel lirih, setelah duduk di depan Adel. Adel hanya menanggapinya dengan lirikan.


“Aku ke sini mau minta maaf. Semalem aku nggak bisa nganterin Adel pulang” lanjut Luki.


“Iya. Nggak papa kok, mas. Ada mas Budi” jawab Adel tanpa senyum. Membuat Luki bingung harus bicara apa lagi.


“Adel juga minta maaf, semalem nggak bisa nemenin mas Luki lagi” gantian Adel yang meminta maaf.


“Ya. Semalem emang nggak terduga banget” jawab Luki.


Adel tergelak mendengar kalimat itu. Luki bingung, mengapa Adel tertawa.


“Biasa aja, mas. Kalopun mas Budi nggak dateng, Adel juga nggak bakal duduk semeja sama mas Luki”


“Hem?”


Adel tersenyum mendengar respon singkat dari Luki. Raut wajah Luki menyiratkan ketidaksukaan.


“Adel ini bukan jomblo, mas. Adel udah punya komitmen. Komitmen itu adalah sebuah harga diri buat Adel” kata Adel memecah kekakuan.


“Tapi sebelum janur kuning melengkung, aku masih punya kesempatan, kan?” sahut Luki. Adel tersenyum.


“Apa sih yang mas lihat dari Adel? Sofia jauh lebih sempurna dari Adel” Adel malah balik bertanya.


“Kamu yang sempurna, tuh” jawab Luki cepat.


“Hem?”


“Kamu sangat sempurna di mataku, Del. Kepribadianmu terlalu memikat buat aku pandang sebelah mata. Karaktermu yang tegas tapi dinamis, itu yang aku cari” lanjut Luki. Adel tersenyum lagi.


“Udah banyak cowok yang ngerayu Adel dengan kata-kata. Banyak juga yang ngerayu sama harta. Semuanya ganteng, nggak ada yang jelek”


“Maksudnya?”


“Teruslah berjuang, mas! Adel belum terpikat. Adel sengaja mengunci hati Adel, kuat-kuat. Karena sudah ada seseorang yang sukses memikatnya. Mas Luki butuh lebih dari sekedar kata-kata, dan juga harta” jawab Adel sambil berdiri. Dia berikan hormat seperti seorang prajurit, lalu beranjak menuju halaman.


“Loh. Mau kemana, nduk?”


Pak Fajar yang baru selesai menelepon, bingung melihat putri sulungnya malah hendak pergi dengan motornya.


“Eh, bapak. Adel pergi dulu ya, pak?” sahut Adel. Dia mendekati bapaknya dan mengulurkan tangannya.


“Tunggu dulu! Itu mas Luki kok malah ditinggal, gimana sih kamu?” pak Fajar menarik tangannya menghindari tangan putrinya.


“Lha kenapa?”


“Mas Luki kan ke sini nyariin kamu. Bukannya ditemenin, malah ditinggal”


“Kan udah, pak”


“Ya tapi nggak pantes ada tamu malah pergi. Siapa yang ngajarin?”


“Tamu apa pak, sepagi ini? Tamu yang baik itu tahu waktu” Adel balik bertanya dengan suara lirih.

__ADS_1


“Kamu jangan kurang ajar, ya! Kita masih bisa tinggal di rumah ini karena mas Luki. Kalo nggak karena dia, kita udah jadi gelandangan, Del” kata pak Fajar dengan suara lirih tapi penuh penekanan.


“Pak, apa kalo Adel nemenin mas Luki terus utang bapak berkurang?”


“Kamu pikir kamu itu *****, apa?”


“Ya Adel ngerasanya gitu lah, pak”


“Bapak cuman nyuruh kamu nemenin mas Luki ngobrol. Bukan yang lain. Darimana ngelontenya, nduk?” tanya pak Fajar geram.


Di sini hati Adel mulai ambyar. Dia terdiam beberapa saat. Matanya mulai berkaca-kaca.


“Bapak jahat” kata Adel lirih.


“Apanya yang jahat, Del? Kamu mau kemana, sih? Kekeh banget mau perginya”


“Apa pentingnya buat bapak?”


“Ya bapak perlu tahu, lah” jawab pak Fajar.


“Ya ke galeri, pak. Kan tiap minggu Adel ke galeri” kata Adel.


“Oh. Kerja sama dia?” Tanya pak Fajar, sambil menunjuk ke pintu gerbang. Adel sontak menoleh. Ternyata ada Budi yang masuk dengan berjalan kaki.


“Abram” gumam Adel. Ada seulas senyum di bibirnya.


“Kamu udah percaya lagi sama dia? Kamu udah yakin kalo dia bukan pelaku dari semua yang menimpa kita?” tanya pak Fajar. Kali ini dia tidak meredam suaranya.


“Apa bapak masih mengira polisi itu salah mengambil keputusan?” sahut Adel.


“Oke, oke. Katakanlah polisi bener, bukan dia pelakunya. Terus kamu mbangkang sama bapak cuman buat kerja sama dia? Dibayar berapa kamu, ha? dibayar berapa?”


Air mata Adel benar-benar jatuh kali ini. Dia tidak mampu menjawab pertanyaan itu. Dia menoleh ke arah Budi. Dengan tenang Budi maju.


“SIAPA YANG NYURUH KAMU DEKET-DEKET?” bentak pak Fajar.


“Loh, bapak nanya Adel saya bayar berapa, kan? Ini” jawab Budi. Dia menyodorkan sebuah map.


BREEEETTT


“PAAAKK”


Adel memekik kencang bersamaan dengan berkas-berkas Budi yang beterbangan karena di tampar pak Fajar.


“Bapak apa-apaan, sih? sama-sama tamu kenapa sama Abram kaya gitu, pak?” tanya Adel penuh amarah.


“Apaan? Sampah kaya gitu dikasihin bapak” jawab pak Fajar.


“Bram. Jangan diambil hati, ya!” pinta Adel pada Budi.


Budi menghela nafas berat, lalu tersenyum. Dia mengambil ponselnya, lalu berbalik arah.


Adel mengernyitkan keningnya. Pak Fajarpun menaruh perhatian, mendengar kata, ditolak.


“Kasih aja yang seratus lima puluh set buat pak Fauzan! Yang lima puluh set lagi buat adiknya pak Tanto aja!” lanjut Budi. Adel terbelalak dan menutup mulutnya.


“Iya. Nanti aku aja yang bicara sama Mr. Isaac. Tebakanku sih mau. Ganti desain ukiran doang. Pake desain nagaku juga boleh” lanjut Budi sambil berlalu pergi.


Tanpa mereka sadari, Madina datang memungut lembaran-lembaran kertas yang ditampar bapaknya tadi. Dan dia membaca isinya dengan cepat.


“Pak. Satu milyar lebih, ditolak?” tanya Madina, pelan.


“Apa?”


Pak Fajar terkejut mendengar pertanyaan Madina. Diapun meraih berkas-berkas itu dan mulai membacanya.


Ternyata benar. Map itu berisi pemesanan set kursi tamu berbahan jati untuk pak Fajar, dengan kode yang sama dengan sample yang diikutsertakan di ekspo kabupaten kemarin.


Tak tanggung-tanggung, pemesanannya mencapai dua ratus set. Dengan harga per setnya mencapai lima belas juta rupiah, bersih.


Bergetar tangan pak Fajar membaca berkas itu. Dari tanda tangan dan stampelnya, pak Fajar yakin kalau berkas itu asli. Tanda tangannya asli milik pak Paul. Tapi saat melihat ke arah depan, Budi sudah tidak ada di halaman rumahnya.


“Astaghfirulloh. Abram?” gumam Adel.


“BAPAAK”


Sesaat kemudian, terdengar Madina berteriak kencang sekali. Adel sampai reflek menoleh padanya.


“BAPAAAK”


Diapun ikut berteriak. Ternyata pak Fajar limbung ke belakang, karena tak sadarkan diri. Madina dan Adel berusaha menahan tubuh bapaknya yang hendak jatuh. Seorang pekerja pak Fajar yang terdekat langsung berlari mendekat untuk menahan tubuh juragannya itu.


“Pak. Bapak kenapa?” tanya Adel panik.


Dia menepuk-nepuk pipi bapaknya. Tapi pak Fajar tidak merespon.


“BAPAAK. BAPAK KENAPAAA?” bu Lusi berteriak sambil berlari dari arah dapur.


“Kita bawa ke rumah sakit aja!”


Suara Luki ikut terdengar. Saat Adel melihanya, ada rasa muak dalam hatinya.


“Ke puskesmas aja yang deket” jawab Adel.


“Ambil kunci mobil dek!” perintah Adel.


“Pake mobilku aja!” tawar Luki.


“Nggak usah” tolak Adel keras. Luki terkesiap.

__ADS_1


“Nduk. Jangan nolak bantuan! Kita lagi darurat, ini” sahut bu Lusi.


“Ya udah yuk, bantu angkat, kang!” jawab Adel.


Para tukang pak Fajar bahu-membahu mengangkat tubuh pak Fajar. Sedangkan Luki berlari menyiapkan mobilnya. Di dalam mobil, Adel tidak mau di depan. Dia lebih memilih duduk di lantai mobil di sebelah kaki bapaknya. Dia menyuruh Madina untuk menemani Luki di depan.


Di puskesmas, pak Fajar langsung di rawat di UGD. Luki masih setia menemani keluarga Adel menunggu kabar dari dalam ruang UGD.


Sampai saat ini, Adel masih terlupakan dengan yang namanya Budi. Dia masih sangat cemas dengan keadaan bapaknya. Ada penyesalan juga karena telah berdebat keras dengan bapaknya itu. Sekalipun dia merasa posisinya benar.


“Gimana kondisi bapak saya, Dok?” tanya Adel, begitu dokter UGD tadi keluar. Sontak semuanya menghampiri dokter itu.


“Eeem. Pasien sudah stabil. Pasien hanya terlalu syok karena sesuatu” jawab dokter itu.


“Sekarang kondisinya bagaimana dok?” tanya bu Lusi.


“Tinggal menunggu siuman, bu. InsyaAlloh akan segera pulih” jawab dokter itu.


“Saya boleh masuk nggak, dok?” tanya bu Lusi.


“Satu orang saja ya, Bu” jawab dokter itu.


“Baik, dok. Terimakasih” ucap bu Lusi.


Bu Lusi langsung masuk ke dalam ruang UGD. Sedangkan Adel diajak salah satu perawat untuk melengkapi berkas yang diperlukan.


Saat hendak mengisi uraian kronologi, Adel baru teringat dengan kekasihnya. Segera saja dia selesaikan pengisian berkasnya, dan pergi menghubungi Budi.


“Halo Bram, Assalamu’alaikum” sapa Adel dengan nada masih panik.


“Wa’alaikum salam. Tata kenapa? Bapak nggak kenapa-kenapa, kan?” tanya Budi.


“Ya Alloh, Bram. Kok bapak yang ditanyain, bukannya Tata?” tanya Adel mengetes.


“Oh. Alhamdulillah, kalo nggak papa. Abram takut aja. Abisnya, abram kepleset tadi di deket pasar. Firasat Abram nggak enak. Abram pikir ibu yang kenapa-kenapa, ternyata ibu baik-baik aja. Ya alhamdulillah, kalo bapak nggak kenapa-kenapa. Berarti emang Abram yang kurang ati-ati” jawab Budi.


“Ya Alloh, Bram. Jadi orang kok baik banget sih. Udah digituin masih aja ngekhawatirin”


“Ya abisnya Abram khawatir aja. Nggak tahu deh, kenapa” jawab Budi.


Adel malah menangis. Walau dia tahan, tapi suaranya tetap terdengar oleh Budi. Tapi Budi tidak segera menegur. Dia biarkan saja dulu Adel menumpahkan kesedihannya.


“Abram lagi dimana?” tanya Adel.


“Di galery, Ta” jawab Budi.


“Abram ke sini, dong! Tata lagi di puskesmas” pinta Adel.


“Loh. Tata kenapa?” tanya Budi setengah memekik. Membuat Putri terkejut.


“Bapak yang sakit, Bram. Firasat Abram bener” jawab Adel.


“Astaghfirulloh” respon Budi kaget.


“Oke, oke. Abram ke sana, ya? assalamu’alaikum”


“Wa’alaikum salam”


Budi langsung bergegas untuk berangkat. Saat adik dan ibunya bertanya, Budi hanya menjawab sekedarnya.


Walau sebenarnya ingin bertanya lebih banyak, tapi bu Ratih menahan diri. Banyaknya pengunjung membuatnya harus mendahulukan pengunjungnya. Begitu juga dengan Putri. Dia langsung disibukkan kembali oleh beberapa bule yang bertanya padanya.


Saat sampai di puskesmas, Adel sudah berada di depan gerbang untuk menyambutnya. Adel bilang kalau bapaknya sudah siuman dan dipindah ke ruang perawatan. Dia menunggu Budi. Adel langsung menggandeng budi untuk masuk ke dalam ruang perawatan.


Saat memasuki ruang perawatan, mata Budi malah tertuju pada seseorang yang berdiri di pojokan, tepat di depannya. Budi tersenyum geli melihat ekspresi Luki, yang tampak cemburu berat padanya. Dia menghampiri dan salim kepada pak Fajar.


“Bud” panggil pak Fajar. Suaranya lemah. Budi memperhatikan.


“Bud. Bapak mau menanyakan tentang berkas tadi” kata bu Lusi mewakili suaminya. Perhatian Budi teralihkan ke bu Lusi.


“Apa masih bisa kami dapatkan lagi?” lanjut bu Lusi. Budi mengernyitkan keningnya beberapa saat. Lalu dia tersenyum.


“Apa bapak yakin, mau ambil tawaran itu?” tanya Budi kepada pak Fajar. Pak Fajar menatap wajah istrinya. Lalu dia menganggukkan kepalanya.


“Kalau begitu, bapak harus segera sembuh. Karena kami butuh bapak di pabrik. Ada berkas yang harus ditandatangani” jawab Budi.


Pak Fajar senang mendengarnya. Tapi berbeda dengan Luki. Dia langsung keluar tanpa permisi. Suasana sempat menjadi kaku.


“Apa bisa diwakilin? Ibu mungkin, apa Adel?” tanya bu Ratih.


Sontak perhatian Budi dan Adel kembali pada bu Lusi. Termasuk juga dengan Madina.


“Bisa, bu. Tapi dengan surat kuasa”


“Oke. Ibu bisa buatin surat kuasanya” kata bu Lusi.


“Boleh ibu, atau harus Adel?” tanya bu Lusi.


“Eeem” Budi tidak segera menjawab.


“Oke. Adel aja. Biar dia juga bisa belajar” kata bu Lusi memberi keputusan. Budi tersenyum.


“Bapak tetap harus segera sembuh” kata Budi. pak Fajar mengernyitkan keningnya.


“Secanggih apapun kapal perang, tetap butuh kaptennya ada di atasnya” lanjut Budi. Pak Fajar tersenyum.


“Bud. Maafin bapak, ya! Terserah kamu mau bilang bapak ini kaya apa. Yang penting bapak tetep bisa kasih makan istri sama anak-anak bapak” kata pak Fajar lirih.


“Budi yang minta maaf, pak. Terlalu lancang sama bapak” jawab Budi.

__ADS_1


Pak Fajar tidak bisa berkata-kata lagi. Antara lega dan malu, harus dia rasakan sekaligus. Termasuk kehawatiran kelangsungan bisnisnya dengan Luki. Karena sekarang Luki sedang marah.


__ADS_2