
Merekapun berkendara keluar pekarangan rumah. Meninggalkan Fitri sendiri melambaikan tangan. Berada di posisi paling belakang, membuat Adel tak segan untuk memeluk tubuh Budi. Dia terharu lagi. di dalam hati dia mengucap syukur atas segala nikmat yang telah dia terima. Pagi ini sudah dua kali dia diperlihatkan pada orang-orang yang tidak seberuntung dirinya.
Tiba di toko bangunan, kang Sukron langsung memesan material dengan persetujuan Budi. usut punya usut, toko itu memang toko langganan kang Sukron kalau mencari material bangunan. Karena sudah langganan, harga yang ditawarkan juga berbeda dengan orang kebanyakan,lebih murah. Dan mereka mau mengantarkan material pesanan itu kemanapun yang dimau.
Menurut Budi, kang Sukron orangnya teliti. Dia hanya mau diberikan barang sesuai spek yang dia maksudkan. Ketika karyawan toko itu bingung, kang Sukron tidak segan untuk menunjukkannya langsung ke gudangnya. Jadilah mereka berdua hunting sampai ke ujung belakang gudang toko itu.
“Ini total tagihannya, mas” kata kasir toko itu. Budi mengeluarkan dompetnya.
“Pakai ini aja, mbak” seseorang mengejutkan Budi dari belakang.
“Loh, Sandi? Kok?”
Budi tambah terkejut saat mengetahui siapa yang berbicara tadi. Orang yang setahu dia harusnya masih ada di dalam penjara, sekarang sudah berdiri di hadapannya.
“Kenapa? Bebas?” tanya Sandi memperjelas.
Budi masih terpaku, otaknya terfokus merangkai informasi yang mungkin terlewatkan dari perhatiannya. Tapi dia tidak menemukan apapun tentang rencana kebebasan sahabatnya itu. Di sisi lain, Sandi telah menyerahkan sebuah kartu debit kepada kasir toko itu.
“Lu ajaib, Ndi. Tiba-tiba bebas. Nggak ngabarin gua Lagi” komentar Budi.
“Surprise” jawab Sandi dengan entengnya.
“Kapan sidang?”
“Tadi pagi”
“What? Parah lu. Gua mau jawab apa, kalo ditanya orang? Masa lu sidang gua nggak ada”
“Masa depan lo lebih penting” jawab Sandi singkat. Budi tertegun.
“Ibu belum sepenuhnya senyum. Lu harus bikin ibu tersenyum lebar! Mumpung masih sempet. Gua udah telat” lanjut Sandi.
“Kan masih ada bapak, Ndi”
“Cih. Kalo bapak gua bisa dijadiin panutan, gua nggak bakal ikut tawuran. Apalagi berharap jadi adek lo” jawab Sandi. Budi tergelak.
“Pak Rouf almarhum tuh, idola gua. Lu harus lebih baik dari dia! Bikin dia bangga, Bud! gua support dari belakang” lanjutnya.
“Terus, status lu?”
“Bebas, lah. Kan gua emang cuman kambing item. Orang gua nggak ngapa-ngapain”
“Alhamdulillah” kata Budi mengucap syukur. Dia tersenyum lebar mendengar jawaban itu.
“Maaf, mas. Ini kartu debetnya. Dan ini struk belanjanya” kata kasir toko itu. sontak perhatian mereka teralihkan.
“Oke. Makasih, mbak” jawab Sandi sambil menerima kartu debetnya kembali.
“Entar gua balikin, ya” celetuk Budi.
“Ngapain?” tanya Sandi, merujuk pada penolakan.
“Itu gede banget, Ndi” jawab Budi. Sandi tersenyum.
“Apa luka di punggungmu udah hilang?” tanya Sandi.
“Ya nggak bakal ilang, lah” jawab Budi, masih setengah bingung.
“Berapa rupiah aku harus nebus buat nyawaku?” tanya Sandi lagi.
Budi tertegun mendengar pertanyaan itu. Dia tidak menyangka kalau Sandi akan mengungkit hal itu. Padahal dia sama sekali tidak mengharap apapun saat mengorbankan tubuhnya demi melindungi sahabatnya itu.
“Udah, yuk! Keburu siang” ajak Sandi. Budi tersentak dari lamunannya.
“Harus lapor perangkat desa sama pengelola pantai juga. Banyak yang harus dilakuin”lanjut Sandi.
“Oke” jawab Budi.
Budipun mengikuti langkah Sandi setelah mengucapkan terimakasih kepada kasir toko bangunan itu. Di dalam hati dia mengucapkan syukur atas rejeki yang datang tanpa dia duga ini.
__ADS_1
“Ndan”
Budi terkejut mendapat sapaan dari banyak orang. Tak kurang dari sepuluh orang berdiri di depan toko bangunan itu. Seperti pasukan tentara bayaran yang siap terjun ke medan tempur. Mereka bahkan memberi hormat segala kepada Budi. Budi tersenyum setelah beberapa saat tertegun. Dia membalas dengan memberi hormat kepada orang-orang itu.
“Aku udah nggak pantes dapet penghormatan dari kalian. Aku udah bukan komandan kalian lagi” kata Budi.
“Sodara tetaplah sodara, Bud” sahut Budi.
“Hem?” Budi bingung.
“Yah, emang. Tugas malaikat buat nyatet amal baik kita. Kita tinggal beramal dan ngelupain” kata Sandi. Budi tergelak. Dia ingat, itu adalah kata-katanya pada Sandi dulu.
“Dulu kamu nggak bisa liat dia, dia, dia, dan dia kelaperan. Bahkan saat kamu udah di sana juga, kamu sering nanyain, siapa yang lagi kelaperan. Kamu yang ngajarin kita buat tetep jadi sodara, Bud. Ppa salah kalo mereka tetep nganggep kamu sebagai sodara?” lanjut Budi. Budi terharu mendengar ucapan Sandi.
“Makasih guys” kata Budi. Dia lantas maju dan menyalami mereka satu per satu.
Di sisi lain, Budi mendapat kejutan lagi. Ada Putri yang juga ikut serta. Dan Zulfikar yang berada di samping Putri, mengangkat kedua tangannya saat Budi mendelik padanya.
Putri dan Adel tertawa saat mereka paham maksud Zulfikar mengangkat tangannya. Itu sebagai isyarat kalau dia tidak membawa Putri ke kontrakannya. Alias langsung menuju kemari setelah menjemputnya di sekolah.
“Mas, material udah siap. Mau berangkat sekarang apa abis lebaran?” seru sopir toko material itu.
Perhatian mereka teralihkan. Dan mereka semua tertawa mendengar kelakar sopir itu. Total sampai empat truk build up untuk membawa semua material pesanan Budi.
“Yuk konvoi. Kamu berempat, di belakang truk!” perintah Sandi.
Merekapun berangkat menuju pantai watu karung. Sandi berada di baris paling depan, berboncengan dengan Sephia. Di sebelahnya, sudah pasti ada Budi dengan Adel. Total ada dua puluh motor yang berkonvoi.
Tiba di tempat tujuan, Sandi langsung memerintahkan anak buahnya untuk menurunkan material-material yang ada di dalam truk. Dan mengikuti arahan kang Sukron, dimana dan bagaimana menurunkan materialnya. Sedangkan Sandi mengajak Budi dan Adel untuk minta ijin kepada kepala desa setempat. Tanpa diperintah dua kali, mereka semua langsung bekerja. Bahkan termasuk Putri dan Zulfikar.
Bersama Sandi, Budi tidak mengalami kendala sama sekali. Termasuk ketika Sandi mengajak untuk berkeliling menyapa para pemilik home stay di sekitaran pantai.
Sengaja Sandi melakukan itu sebagai upaya untuk memperkenalkan usaha yang akan dibangun Budi. Pamor Sandi terasa semakin mantap di kota ini. Walaupun masih banyak juga yang mengenali Budi.
Dibantu Adel, yang notabene sudah dikenal luas di masyarakat, jenis usaha yang diperkenalkan Budi mendapat sambutan hangat dari para pemilik resort. Mereka juga welcome jika kedepannya nanti dari pihak Budi ingin mengajukan kerjasama. Ini juga tidak lepas dari sosok Adel, yang mereka rasa juga akan membantu menaikkan pamor dari resort mereka.
“Ini konsumsi siapa yang nyiapin?” gumam Budi.
“Zulfikar” seru kang Supri.
Rupanya dia mendengar gumaman Budi. Zulfikar yang mendengar namanya disebutpun menoleh. Dia tersenyum saat Budi menganggukkan kepala kepadanya,sebagai ucapan terimakasih.
“Warung yang deket, dimana ya?” tanya Budi.
“Di situ tadi, ada. Deket” jawab Sephia.
“Bisa bantu pengadaan konsumsi, ta? Udah siang” tanya Budi.
“Oh, iya. Bisa kok” jawab Adel.
“Ini” seru Budi saat Adel pergi begitu saja tanpa menunggu uang dari Budi.
“Gampang” jawab Adel.
“Put, ikut yuk!” ajak Adel.
“Aku nggak diajak?” tanya Sephia.
“Mau jalan kaki? Masa motoran bertiga? Cabe-cabean, dong?” goda Adel.
“Ya hayu jalan kaki. Orang deket, kok. Tuh, yang ngadep ke pantai” jawab Sephia.
“Gimana, Put?” tanya Adel ke Putri.
“Siapa takut?” jawab Putri.
“Berangkat” seru Sephia.
Merekapun berangkat menuju warung makan yang ditunjuk Sephia. Tinggallah Budi menjadi mandor bersama Sandi. Sandi melarangnya saat dia ingin membantu menggali tanah.
__ADS_1
Kata Sandi, tugas Budi adalah mengawasi dan mengarahkan. Seperti tugasnya di pabrik. Budi tersenyum mengerti. Diapun berdiskusi dengan kang Sukron, tentang bagaimana memampatkan waktu sebaik mungkin.
Dengan perpaduan ide keduanya, tepat saatnya makan siang, pekerjaan untuk menggali tanah sudah selesai dilaksanakan. Dan merekapun beristirahat, menikmati santapan makan siang yang sudah disediakan.
“Selanjutnya gimana, kang Sukron?” tanya Sandi, di tengah-tengah acara makan siang.
“Untuk awalan, kayaknya cukup, ndan” jawab kang sukron. Dia berhenti sejenak untuk minum.
“Selanjutnya, serahkan kepada ahlinya!” lanjut kang Sukron.
“Weiis. Aku suka kata-kata itu” komentar Sandi.
“Bukannya apa-apa, ndan. Kalo kebanyakan orang, takutnya saya malah kepusingan ngaturnya. Mending kita-kita aja yang udah ditunjuk Ndan Budi, yang ngerjainnya. Dijamin beres” kata kang Sukron beralasan.
“Iya, kang. Aku tahu, kok. Kadang kalo tugas yang sangat rawan, aku juga cuman percaya sama Budi” jawab Sandi.
Merekapun meneruskan acara makan siang mereka. Tak ada lagi percakapan setelah itu. mereka semua tampak menikmati walau hanya hidangan sekedarnya.
“Bud. Sory banget nih, gua nggak bisa nemenin sampe sore. Gua harus beresin sayap timur. Ini nggak bisa didiemin lama-lama” kata Sandi meminta ijin.
“Oh, iya. Ini juga udah makasih banget, Ndi” jawab Budi.
“Besok apa lusa, kalo lagi longgar, gua nengok deh ke sini, apa ke pasar, gitu. Udah lama juga nggak sungkem sama ibu”
“Iya. Selow aja! Ibu itu asli keturunan jawa, kok” kata Budi.
“Apa hubungannya?” tanya Sandi bingung.
“Kumat” celetuk Adel.
“Hempf. Ha ha ha ha. Ya maksudnya, ibu itu bukan keturunan suku pengembara. Jadi kalo di pasar nggak ada, cari aja di rumah. Dijamin ketemu” jawab Budi setelah tertawa.
“Suek. Lu kata kita hidup di jaman Joko Tingkir?” komentar Sandi.
“Nah iya. Ini yang berjuluk pendekar mbadol” sahut Adel, sambil menunjuk ke arah Budi.
“Hah? Mbadol?” tanya Sandi bingung. Terasa asing nama itu.
“Hempf. Ha ha ha ha”
Adel tertawa setelah Budi menjewer telinganya. Kang Supri, kang Bejo, kang Mangil, dan Kang Sukron juga ikut tertawa mendengar kelakar Adel.
“Siapa sih, mbadol? Gerandong?” tanya Budi lagi. Adel malah makin parah tertawanya. Sampai guling-guling di tanah.
“Tikus prematur” jawab Kang Supri.
Lagi-lagi mereka yang mengetahui sejarah kata mbadol tertawa ngakak. Sampai semuanya memegangi perut karena sakit kebanyakan tertawa. Sandipun ikutan tertawa. Dia sama sekali tidak menduga kalau arti kata mbadol itu sedemikian uniknya. Tak pernah terbersit di benaknya.
“Gua cabut dulu, ya! semoga sukses, dan langgeng” kata Sandi berpamitan.
“Iya. Makasih banget atas bantuannya. Semoga Gusti Alloh matokin kavling buat kamu di surga” jawab Budi.
“Amin” kata Sandi mengaminkan ucapan Budi.
Di belakang Budi, semua anak buahnya juga ikut berpamitan. Terkecuali kang Supri, kang Bejo, kang Mangil, dan kang Sukron. Mereka tetap tinggal untuk sementara waktu.
“Jaga Sandi ya, Nat” kata Adel kepada Sephia.
“Hei, Natasya itu cuman satu, kali” sahut Sephia. Senyumnya menyiratkan kalau dia tersipu dipanggil begitu.
“Siapa lagi yang pantas nyandang nama itu, sekarang? Hem?”
“Eemm” sephia bingung harus menjawab apa. Dia menoleh ke arah Sandi. Sandi menganggukkan kepalanya.
“Ijin menggunakan nama itu” kata Sephia.
“Ijin diberikan” jawab Adel.
Merekapun pergi sambil melambaikan tangan. Suara kenalpot motor mereka menderu memecah keheningan siang ini. Beradu dengan suara deburan ombak yang sedang tinggi. Budi mendekati Adel, lalu merengkuh pundak Adel untuk dirapatkan ke tubuhnya. Adel menyandarkan kepalanya di pundak Budi. Tidak bisa Adel pungkiri, dia kembali teringat masa-masa bersama dengan Sandi.
__ADS_1