Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
budi susah ditebak


__ADS_3

Selepas pertemuan itu, masing-masing seperti tenggelam dalam kesibukan masing-masing. Budi semakin tidak kenal waktu. Perbedaan jam antara Indonesia dan Jerman membuat Budi harus tinggal di pabrik lebih lama. Hal yang kata Farah lumrah terjadi ketika mengurusi ekspo eropa. Bahkan sudah tidak mengenal tanggal merah. Hari sabtu bahkan minggupun mereka pakai untuk koordinasi.


Di sisi lain, Adel juga sama. Kegiatan perkuliahannya memasuki masa-masa sibuk. Ditambah jadwal manggung campursari yang kian ramai. Belum lagi periklanan yang juga grafiknya meningkat. Banyak pengusaha kreatif baru yang menggunakan jasanya untuk mendongkrak nama mereka.


Tak terasa sudah dua malam minggu mereka lewatkan tanpa sekalipun bertemu. Hanya pesan singkat yang berisi pesan penyemangat, lewat perantara Bian, pentolan band pengiring Adel saat perform di fishbed cafe.


Tapi namanya juga manusia, sekuat-kuatnya Budi menahan diri, tapi lama-lama dia kangen juga. Di malam mingu ke tiga, di hari-hari menjelang keberangkatannya ke Berlin, dia merasakan kehampaan tanpa kehadiran kekasih hatinya. Beberapa kali dia mendapat teguran karena hilang fokus.


Tapi tidak seluruhnya karena Budi teringat Adel. Ada kalanya teguran itu datang bertepatan disaat dia sedang memperhatikan berita perkembangan virus corona.


Seperti malam ini, Budi juga sedang mengamati perkembangan terkini. Tentang evakuasi WNI yang berada di wuhan, karena wuhan akan dilock down. Tentang semakin banyaknya kasus yang dilaporkan berbagai negara. Tapi pemerintah sama sekali belum mendeteksi adanya virus yang terdeteksi di negara ini.


Hal itu membuat Budi bertanya-tanya, sedekat ini masa belum masuk? Padahal di eropa saja sudah terdeteksi. Apakah mungkin sebenarnya virusnya sudah masuk, tapi tidak terdeteksi?


Tapi memang ada beberapa pesan singkat yang masuk ke dalam ponselnya malam ini, yang untuk beberapa saat membuatnya terlupa akan tugasnya. Dan ada yang risih melihat Budi tidak fokus.


“Udah, udah, udah. Kayaknya kita perlu rehat, deh. Budi udah nggak fokus”


Suara Farah menyita perhatian seluruh personel.


Otomatis Riki, Aldo, Hilda, dan Budi sendri menghentikan pekerjaan masing-masing. Ya, tinggal mereka yang ada. Deni, bayu, dan Resti sudah terlebih dahulu diberangkatkan ke Berlin, membantu Ratna di sana. Budi yang sebenarnya sedang chatting dengan Sephia, jadi bingung dibuatnya.


“Iyalah, dua minggu lebih nggak dapet jatah” seru Riki.


“Sembarangan” tukas Budi.


“Ha ha ha” semuanya tertawa mendengar kelakar Riki.


“Do, dokumen exim udah aman, kan?” tanya Farah.


“Masih verifikasi,mbak. Tapi si Deni udah stand by. Begitu clear, bisa langsung dipickup” jawab Aldo.


“Oke. Riki, dokumen kita, visa, passportnya, udah siap semua?”


“Siap, mbak. Tapi punya mbak Farah masih di pak Paul” jawab Riki.


“Oh, oke. Follow up lagi, ya!”


“Siap”


“Hilda. Tiket pesawat dan akomodasi di sana udah clear?"


“Tiket, udah. Tinggal akomodasinya. Sementara belum clear” jawab Hilda.


“Kenapa?” tanya Budi.


“Kita dapetnya kaya asrama gitu. Tiap kamar cuman ada dua ranjang. Dan itu nggak bisa dikasih ekstra bed. Sementara, kita baru dapet empat kamar. Kalau dihitung dua-dua, bakal ada satu cowok dan satu cewek yang bakal tinggal sekamar. Kalo aku sih, ogah” jawab hilda.


“Wah, baru aku mau ngomong, Da” seru Riki.


“Idih. Ogah. Sono ajak si Marsya, aja!” jawab Hilda.


“Hempf. Ha ha ha ha” Aldo dan Budi tertawa mendengar penolakan Hilda.


“Udah, kita aja, mbak. Aku nggak ngigit, kok” celetuk Aldo.


“Ngejilat” celetuk Riki.


“Hempf. Ha ha ha ha” gantian Hilda yang tertawa lepas.


*Wuuusss*



*PLETAAAK*


“WOI. Jangan anarkis dong! Galak juga ini cewek. Bercanda mbak” seru Aldo kaget ditimpuk spidol.


“Bodo” sahut Farah.


“Ha ha ha ha ha” semuanya tertawa melihat Aldo mengusap-usap jidatnya.


“Ya udah, difollow up lagi nanti, ya! kita rehat dulu, deh” kata Farah, beberapa saat kemudian.


“Maksudnya rehat ini, kita mau nginep lagi, apa ini mau pulang?”tanya Riki.


“Anggep aja nginep lagi! kita ke fishbed cafe dulu yuk!” jawab Farah.


“Wah. Nyenengin Budi ini sih” seru Aldo. Budi tergelak melihat respon Aldo.


“Emang niatnya gitu. Biar nggak berantakan. Rese si Budi kalo kelamaan nggak dikeluarin” jawab Farah sambil tersenyum geli.


“Apanya?” sahut Budi.


“Kangennya, lah” jawab Farah setengah tertawa.


“Njendel” komentar Riki.


“Kaya ager-ager” sahut Aldo.


“Suwek” seru Budi sambil menepuk paha Aldo.


“Ha ha ha ha”


“Ya udah, yuk!” ajak Farah lagi.


Mereka semua setuju. Walaupun harus menginap lagi, tapi acara rehat ini cukup menghibur mereka. Lumayan untuk melepas penat. Toh mereka semua jomblo.


Tapi setibanya di fishbed cafe, budi tertegun melihat pemandangan tak mengenakkan baginya. Di sudut sana, di kursi yang biasa dipakai Adel, ada Luki. Dia menyebarkan pandangan ke parkiran. Tidak dia temukan kembaran motornya di sana. Semakin menyala api cemburu dalam hatinya.


Tapi dia sadar, absennya dirinya dari sisi Adel di setiap harinya, otomatis membuka ruang buat laki-laki manapun untuk ikut berkompetisi mendapatkan hatinya Adel.


Budi berpikir, andai saja dia punya waktu untuk menunjukkan eksistensinya, pasti siapapun akan berpikir ulang untuk mendekati Adel. Bahkan Luki sekalipun.


Bukannya tidak tahu, Adel yang sedang perform di atas panggung, melihat kedatangan Budi dan rekan-rekannya.


Diantara rasa senangnya bisa melihat kekasihnya, terbersit rasa tidak enak kepada Luki. Cowok itu yang mengantarkannya datang ke cafe ini. Seperti dilema, maju kena, mundur juga kena. Sambil terus membawakan lagunya, Adel terus berpikir, tindakan apa yang akan dia ambil.


Seseorang di depan Farah tampak sedang berbicara kepada seseorang yang duduk di meja di depan Farah. Sesaat kemudian orang itu pergi.


“Loh, kita duduk di kursi yang kosong aja, mbak” kata Farah kepada wanita tadi.


“Nggak papa, mbak. Dia adik saya. Tadi emang udah janjian. Kalo ada pengunjung, dia yang harus pindah” jawab wanita itu.


“Oh, ya Alloh. Makasih, mbak” kata Farah.


Farah dan yang lainpun dipersilakan duduk. Dua meja mereka pesan untuk berlima. Budi mendapatkan meja yang berhadapan langsung dengan panggung. Bertemankan Farah, dan kursi kosong di sebelah kirinya.


“Tepuk tangan yang meriah dong, buat Adelia Fitri!”


Suara salah satu personil band pengiring itu menggema di akhir lagu. Serempak seluruh pengunjung memberikan tepuk tangannya. Tak terkecuali dengan Budi. Dia masih berusaha kalem. Ini adalah masa kritis baginya. Masa-masa dimana Adel akan memilih, kemana dia akan melangkahkan kakinya selepas turun panggung.


“YUHUUUUUU”


Sorak sorai pengunjung menggema lagi, saat Adel turun panggung melewati tangga depan. Dan berjalan terus lurus ke depan. Semakin ramai saat para pengunjung menyadari ada Budi di meja paling jauh.


“Assalamu’alaikum” sapa Adel.


Kembang kempis hidung Budi mendapat kehormatan dari Adel.


“Wa’alaikum salam” jawab Budi.


“YUHUUUUUU”

__ADS_1


Semakin riuh sorak sorai pengunjung, melihat Adel salim dan mencium tangan Budi. Terlebih saat kening Adel dicium Budi.


Keriuhan terus menggema, saat Adel menggelayut manja di dada Budi. Baru berhenti di saat pentolan band itu mengalihkan perhatian mereka.


“Mbak Farah”


Adel menyalami senior kekasihnya itu. Farah sempat mengeluarkan kelakarnya. Dia pura-pura merajuk, karena Adel sempat tak melihatnya. Padahal sedari tadi dia ada di sebelah Budi.


“Aku pindah, ya?” kata Farah.


“Loh, kok pindah?” sahut Adel.


“Aku nggak pernah kuat jadi obat nyamuk” jawab Farah sambil tertawa.


“Ya Alloh, mbak. Segitunya” komentar Adel.


Tapi Farah tetap bergeser juga. Bergabung dengan yang lain di meja sebelahnya. Tinggallah Adel dan Budi yang saling memandang.


“Apa kabar, Ta?” tanya Budi membuka percakapan. Adel tersenyum, tapi terasa lain buat Budi.


“Buruk, Bram” jawab Adel. Budi mengernyitkan dahinya.


“Luki?” tanya Budi.


Ya. Luki memang sempat menatap mereka cukup lama. Pastinya dia cemburu melihat Adel lebih memilih mendekati Budi daripada dirinya.


“Begitulah” jawab Adel singkat.


Budi merasa kalau apa yang telah dialami Adel sudah jauh dari apa yang bisa dia bayangkan. Sorot mata itu, memancarkan banyak cerita yang ingin diungkapkan. Tapi mungkin butuh seharian untuk mengungkapkan itu semua.


“Hai sayang”


Diantara suara percakapan penyanyi dan pembawa acara di atas panggung, ada suara sapaan seorang wanita. Agak jauh suara itu, tapi cukup mampu menyita perhatian Adel.


“Loh. Itukan Sofia?” gumam Adel.


Gumaman yang agak kencang itu terdengar oleh Budi. Diapun tersenyum.


“Kok dia bisa di sini, Bram?” tanya Adel.


Budi malah mengernyitkan keningnya. Dia bingung dengan maksud dari pertanyaan Adel.


“Hem. Kerjaan Abram ini, sih” tebak Adel.


Ada senyum geli tersungging di bibirnya. Budi juga ikut tersenyum. Dia tidak mengelak dari tebakan itu.


“Alhamdulillah” kata Adel lirih.


“Kok Alhamdulillah?” tanya Budi.


“Iya, lah. Ada dua hal, Bram” jawab Adel menggantung.


“Yang pertama, Tata bersyukur, Abram masih cemburu” lanjut Adel sambil tergelak.


“Ya pasti dong, Abram cemburu. Gila aja, kalo enggak” potong Budi.


“Ha ha ha ha” Adel tertawa kecil.


“Yang ke dua, Tata seneng, Tata ketolong sama Abram” lanjut Adel.


Sambil tersenyum dia mengarahkan lirikan matanya ke arah meja Luki. Di saat Budi ikut melihat ke sana, Luki juga sedang menatap mereka. Budi memberikan hormat seperti seorang prajurit.


“Bram” panggil Adel. Sontak Budi mengalihkan pandangannya.


“Jangan terlalu lama nggak nemuin Tata! Tata ini masih haknya bapak sama ibu” kata Adel.


Budi mengernyitkan keningnya. Dia ingin bertanya, tapi dia juga belum bisa menebak kemana arah pembicaraan Adel. Buat Adel, kernyitan kening itu isyarat Budi, meminta informasi lebih lanjut.


Budi masih belum menjawab. Dia hanya mengangguk-angguk. Tapi matanya masih lekat menatap mata Adel.


“Bapak udah semakin tergantung sama Luki. Utang-utangnya diambil alih semua sama dia. Kalo bapak nggak sanggup bayar, bahaya. Abram paham kan, maksud Tata?” lanjut Adel lagi.


“Huuuuffft. Ya. Abram nggak ngira kalau ada cerita tentang utang. Tapi, oke. Abram ngerti”


“Andai empat ratus juta bisa Tata lunasin, Abram nggak perlu hawatir. Tapi pertanyaannya, kapan?”


“What? Empat ratus juta?” tanya Budi lirih.


Adel mengangguk. Budi menutup mulutnya. Ekspresi tidak percaya.


“Tata pikir, dengan kemunculan Abram di rumah, akan ngasih efek gentar buat Luki. Gimanapun juga, Abram kan susah ditebak buat dia” kata Adel. Budi tersenyum mendengar pujian Adel.


“Kaya ini aja. Dia kelabakan ngeliat Sofia tiba-tiba dateng” lanjut Adel.


“Ya. Abram akan sempetin waktu buat nemuin Tata. Tata kuliah pagi, kan?”


“Iya” jawab Adel. Dia tersenyum lebar. Dia bisa menebak arah pembicaraan kekasihnya.


“Besok ke galeri, nggak?” tanya Adel.


Budi tidak segera menjawab. Dia menoleh ke arah farah. Entah disengaja atau tidak, Farah juga menoleh ke arah Budi.


“Oke” kata Farah.


Sontak jawaban itu mengundang tanda tanya. Sampai-sampai Budi menoleh ke Adel, seolah ingin bertanya, apakah Farah dengar obrolan mereka.


“Iya, besok libur” kata Farah lagi, tepat di saat Budi menatapnya lagi. Semakin bingunglah, Budi.


“Tapi malam ini, target kita harus beres” lanjut Farah.


Budi memutar matanya. Seolah lemas dan ingin protes.


“Jangan protes!” kata Farah, seolah mengerti apa yang dipikirkan Budi.


“Hempf” Adel tergelak melihat ekspresi kekasihnya.


Tapi bagaimanapun juga, Budi menyetujui usul seniornya itu. Kesempatan emas yang tidak boleh di sia-siakan sebelum berangkat ke Berlin.


Ketika job manggung sudah selesai, Adel kembali menghampiri Budi. Karena kali ini dia yang menutup acara, otomatis setelah dia selesai, pengunjung banyak yang bubar.


Termasuk Sofia. Dengan manjanya dia mengajak Luki untuk pulang. Tampak jelas di raut wajahnya, kalau sebenarnya Luki tidak suka dengan kehadiran Sofia. Terlebih sekarang Sofia juga mengajaknya pulang bersama.


Adel memasang wajah datar. Tidak menampakkan diri kalau dia sebenarnya senang dengan kehadiran Sofia. Dia lakukan itu karena dia tidak ingin terlalu dalam melukai hati Luki.


Bagaimanapun juga dia tetap teringat jasa Luki membantu keluarganya. Budi meminta ijin untuk mengantar Adel dulu. Walau sempat dibercandai setengah berdebat, akhirnya Budi mendapatkan ijin dari rekan-rekannya.


“Bram. Tega banget sih, nelantarin Tata?” tanya Adel saat sudah dalam perjalanan.


Adel memeluk Budi, dan dagunya dia sandarkan di pundak kanan Budi.


“Nelantarin gimana?” sahut Budi balik bertanya.


“He he. Ya, Tata ngerasa kaya ditelantarin, Bram. Abisnya, susah banget timbang mau ketemu aja. Aturan juga Tata yang dipingit, ini sih kebalik” jawab Adel.


“Hempf. Ha ha ha ha. Ya maaf. Bukan maunya Abram. Perbedaan waktu Indonesia-Jerman, bikin waktu yang terbatas, terasa makin mepet aja, Ta”


“Iya, deh. Yang udah jadi ketua tim ekspo. Tata doain, semoga tahun depan naik jabatan”


“Amin. Sekalian naik status” jawab Budi.


“Naik status?” tanya Adel bingung.


“Married” jawab Budi singkat.

__ADS_1


“Maksud Abram?” tanya Adel butuh penjelasan.


Tapi dia juga tersenyum. Karena dia bisa menebak maksud kalimat kekasihnya itu.


“Abis ekspo eropa ini, Abram mau ngelamar Tata” jawab Budi.


Semakin lebar saja senyum Adel. Seperti yang sudah dia duga, jawaban itu yang akan dia dengar. Adel tidak berkomentar. Dia hanya memeluk Budi lebih erat lagi.


“Beneran ya, Bram? Tata udah nggak sabar” kata Adel lirih. Budi mengangguk sambil tersenyum.


Tak terasa, perjalanan mereka telah sampai pada tujuannya. Budi langsung masuk ke halaman rumah Adel, karena pintu gerbangnya masih dibuka. Mobil pak Fajar sudah terparkir, dan sudah dibungkus mantel khusus mobil.


“Loh, kok sama dia? Mas Lukinya mana?”


Sebuah seruan dari arah bengkel kayu mengejutkan mereka. Budi sudah hafal suara siapa itu. dan benar, pak Fajar datang bersama bu Lusi di belakangnya.


“Sama Sofia” jawab Adel.


“Sofia?” tanya pak Fajar sambil tergelak. Ekspresinya meledek.


“Sejak kapan Sofia ngelayap sampai ke sini? Alesan, kamu. Pasti ulah kamu, kan? Pasti kamu tonjokin kan, mas Lukinya?” tuduh pak Fajar kepada Budi. Budi diam saja.


“Bapak ih, asal nuduh aja” sergah Adel.


“Ya mana mungkin anak seorang konglomerat mau kelayapan ke antah berantah kaya gini? Nggak mungkin, nduk”


“Makanya, kalo Adel perform tuh, ditonton, pak! Biar tahu” kilah Adel.


“Nih. Sampe trending, nih di internet” lanjut Adel, memberikan ponselnya.


Pak Fajar terdiam. Memang benar, ada sofia di kafe itu. Dan itu bukan foto dari kamera Adel, melainkan dari pemberitaan media gosip.


“Kenapa nggak ngojek aja?” tanya pak Fajar masih sewot.


“Ngojek? Emang bapak mau Adel kenapa-kenapa kaya dulu?” sahut Adel.


“Lah, sama aja. Sama dia juga bisa aja kenapa-kenapa” kilah pak Fajar. Tapi nadanya mengartikan lain.


“Ya Alloh, pak. Naik motor mau ngapain? Naik mobil tuh, bisa” jawab Adel. Pak Fajar terkesiap.


“Ya udah, pulang, gih!” usir pak Fajar.


“Dih. Bapak, bener-bener deh. Anak gadisnya udah dianter dengan selamat sampe rumah, bukannya terimakasih, malah ngusir” sergah Adel.


“Iya, ih. Bapak jangan gitu. Kalo kualat, bukan bapak yang ngerasain. Anak-anak kita” timpal bu Lusi lirih.


“Ya udah. Makasih ya, udah nganterin anak bapak. Pulang, gih!” kata pak Fajar menuruti permintaan putri sulung dan juga istrinya.


“Hempf” Budi malah tergelak.


“Kenapa ketawa?” sentak pak Fajar.


“Enggak. Itu” jawab Budi, sambil menunjuk pipi dekat bibirnya. Lalu menunjuk pak Fajar dengan jempol kanannya. Sontak pak Fajar mengusap pipinya.


“Ya Alloh. Bapak nggak cuci muka?” seru bu Lusi, melihat tangan pak fajar berubah merah.


“Cuci muka dulu, ih! Bikin malu aja, bapak” lanjut bu Lusi lirih.


Dia mendorong tubuh suaminya ke arah belakang rumah. Dia sendiri ikut ke belakang tanpa pamitan kepada tamunya.


“Hempf. Ha ha ha ha”


Adel tertawa lepas melihat kelakuan kedua orang tuanya. Tapi Budi malah tertegun. Dia terus menatap kedua orang tua Adel sampai menghilang di baik tembok.


“Hei. Gitu amat ngeliatnya?” tegur Adel. Budi terkejut. Dia langsung tersenyum karena malu.


“Anaknya udah mau nikah, tapi masih romantis aja. Patut ditiru” jawab Budi.


Adel tertawa lirih sambil geleng-geleng kepala. Budi kebingungan dibuatnya.


“Abram juga patut ditiru. Udah disentak kaya gitu, malah muji prestasi orang yang nyentak Abram”


“Apaan, sih? Lebay, deh” komentar Budi.


“Ya udah. Besok jadi kan, ketemu di galeri?”


“Insya Alloh” jawab Budi.


“Awas! Jangan tidur deket mbak Farah, ataupun Hilda!” kata Adel mempertingatkan Budi.


“Ha ha ha ha. Kalo di kamar Tata, boleh?” goda Budi.


“Eem. Ada bapak, Bram” jawab Adel.


“Hem? Kalo nggak ada bapak? Boleh?”


“Kalo berani. Paling digetok teflon sama Madina. Ha ha ha ha” jawab Adel.


“Yaaaah. Emang galak juga sih, adek Tata itu”


“Ha ha ha ha. Itu kenapa Tata masih terjaga kehormatannya, sampe ketemu Abram”


“Alhamdulillah” kata Budi, bersyukur.


“Nggak papa deh, digetok juga” lanjut Budi.


“What? Maksudnya?”


“Ha ha ha ha. Assalamu’alaikum”


Budi malah menjawab dengan salam. Lalu dia menjalankan motornya untuk putar arah. Praktis, Adel berkacak pinggang karena godaan itu. Tapi Adel tertawa juga saat Budi mendekatinya lagi dengan tertawa.


“Wa’alaikum salam” jawab Adel, sambil salim dan cium tangan.


“Ati-ati!” kata Adel lagi, saat Budi mulai melajukan motornya.


“Ya” jawab Budi sambil berlalu.


Sepulang dari rumah Adel, Budi langsung menuju pabrik. Setelah memasuki gerbang depan, dia merasa aneh, karena ada mobilnya pak Paul di depan lobi. Ada mobil Erika juga di sebelahnya.


Tak mau pusing dengan alasan pak Paul datang malam-malam begini, Budi langsung parkir dan masuk ke dalam kantor melewati pintu lobi.


“Nah itu orangnya” seru Farah, setibanya dia di dalam kantor.


“Eh, Bud” seru pak Paul seraya melambaikan tangannya.


“Ya pak?” sahut Budi sambil mendekat.


“Kasihin, Far! Biar semangat kawan kita satu ini” perintah pak Paul kepada Farah.


“Nih, Bud”


Farah memberikan sebuah map berisikan beberapa lembar berkas. Budi membaca lembar demi lembar dengan kening mengernyit. Sesekali dia melirik ke atas, tanda kalau dia sedang berpikir.


Lebih tepatnya berusaha menterjemahkan kalimat dalam bahasa inggris, yang dia kurang mengerti. Lama kelamaan senyumnya mengembang.


“Kok bisa?” tanya Budi dengan senyum lebar.


“Lah. Dia nanya kok bisa, Far?” goda pak Paul.


“Iya, ih. Lu ngeremehin gua?” sahut Farah, berlagak sok galak. Tapi hanya menggoda.


“He he. Alhamdulillah”

__ADS_1


__ADS_2