
Pagi ini, Budi beraktivitas seperti biasa, tidak terlambat seperti kemarin. Bahkan lebih bersemangat dibanding biasanya. Lagi-lagi bu Ratih hanya bisa bertatap-tatapan dengan Putri, tanpa tahu jawabannya,mengapa Budi bisa sangat bersemangat begitu. Semua yang dibutuhkan bu Ratih, sudah disiapkan semua oleh Budi. Bahkan saat bu Ratih belum selesai mandi.
*Huwannuru yahdil kha irina dziyau hu*...
Terdengar ponselnya berdering. Budi masuk kamar dan mengambil ponselnya. Ternyata Adel yang menelpon, dengan panggilan video.
“Wuih, abram udah ganteng. Keren” komentar Adel, begitu panggilannya diterima Budi.
“Hai, ta” kata Budi balik menyapa.
Tampak Budi terpesona melihat Adel memakai daster korea berbahan satin, berwarna ungu. Bahan satin ini seolah menambah daya tarik. Sekalipun potongan dasternya masih sopan, selayaknya daster pada umummnya.
“Semalem gimana, nyenyak nggak, tidurnya?” tanya Adel.
“Pules. Mimpi indah” jawab Budi.
“Mimpi apa?”
“Tahu, lupa”
“Lah, kok bisa? Ha ha ha ha”
“Ya biasa, lah. Namanya juga ngimpi. Kadang inget, kadang lupa”
“Alhamdulillah, kalo udah bisa bobok nyenyak. Berarti, seger dong, sekarang?”
“Seger dong. Apalagi disuguhin yang seger begini”
“Hem?”
Adel tersentak mendengar jawaban itu. Dia menunduk, memeriksa pakaiannya. Mungkin ada yang terbuka. Tapi tidak ada, semuanya tertutup. Dalam artian, tidak ada yang terkoyak.
“Ha ha ha ha. Enggak kebuka juga udah bikin seger, kali, ta” kata Budi, menyadari maksud dari sikap Adel.
“Ini kan baju tidur, bram. Tata aja belum mandi. Apanya yang bikin seger?”kilah Adel.
“Ya seger, lah. Kan emang dasarnya tata, cantik, seksi. Pake baju apa aja, rasanya cocok. Dan bikin seger” jawab Budi.
“Gombal” komentar Adel.
“Kok gombal? Beneran. Sampai saat ini, nih, abram selalu terpesona liat penampilan tata. Kayaknya, em, apa ya?” Budi kesulitan mencari kata yang tepat.
“Apa?” goda Adel sambil tersenyum
“Kayaknya emang Abram terlalu ngagumin tata” jawab Budi.
“Itu juga masih gombal, bram. Ha ha ha ha”
Adel tertawa lepas, sedangkan budi garuk-garuk kepala. Dia tidak tahu apa kata yang tepat untuk mengungkapkan kekagumannya pada sosok Adelia Fitri ini.
“Bram, pake seragamnya, dong!” pinta Adel.
“Buat apa? kan abram masih mau bantu ibu bukain lapak”
“Sebentar aja. Tata pengen liat”
Budi tersenyum mendengar suara manja Adel. Dia langsung bangun dari duduknya. Dia biarkan ponselnya tetap berada di meja belajarnya. Dia melepas kaos oblongnya, dan menggantinya dengan seragam putih kebanggaannya.
“Celananya dong, sekalian, bram!” pinta Adel. Dia menyatukan kedua telapak tangannya di depan bibirnya, sebagai ungkapan permohonan.
Budi hanya tersenyum dan menuruti. Saat dia hendak melepas celananya, dia berhenti sebentar dan menoleh ke arah Adel. Adel tergelak. Dia menempelkan telapak tangannya di depan matanya. Sebagai isyarat bahwa dia tidak mengintip. Budi masih menunggu beberapa detik. Dia tertawa, karena ternyata Adel mengintip.
Adel menutupi mulutnya dengan telapak tangan satunya. Dengan geleng-geleng kepala, budi mengganti celana kolornya dengan celana seragamnya. Dia cuek saja, kalaupun Adel mau mengintipnya.
“Masya Alloh, gagahnya abram” puji Adel.
Terlihat matanya bergerak-gerak memindai sekujur tubuh Budi. Budi bergaya bagaikan model pakaian profesional. Beberapa gaya aneh membuat Adel tertawa.
“Bram, emang kalo pagi, abram suka olah raga, ya? Bisa bagus gitu badannya?” tanya Adel.
“Iya, suka. Olahraga kecil aja. Streching, senam ringan, push up, sit ap, back up. Terus lari” jawab Budi. Sambil kembali duduk.
“Putri juga?”
“Iya. partner duet abram. Kalo lari suka ngajak balapan”
“Pantes”
“Kenapa?”
“Tata iri deh, liat body si Putri. Keliatan banget, tuh. Kenceng. Berisi gitu”
“Ha ha ha. Body tata juga bagus keles”
“Iya sih. Tapi ya, begini doang”
Adel berdiri dan berpose di depan poselnya. Dia pamerkan bagian-bagian tubuhnya yang menonjol. Membuat Budi tertegun. Bahkan Adel juga mengecilkan ukuran dasternya dengan bantuan jepitan rambut. Sehingga bisa lebih mengekspos bentuk tubuhnya.
“Cie”
“Aawww”
Adel memekik kaget. Sebuah suara dari belakang Budi mengagetkan mereka berdua.
“Ini to, yang bikin semangat? Pantesan”
Reflek, dia meraih ponselnya, dan mendorongnya hingga telungkup di meja. Tak ada yang melihat kedatangan Putri. Tahu-tahu sudah hampir di samping Budi saja.
“Ih, kok nggak bilang sih, Bram. Kalo ada Putri?” tanya, Adel setengah tertawa malu.
“Orang nggak kedengeran suaranya masuk” jawab Budi.
“Kenapa ngumpet, mbak? Hayo, abis ngapain coba? Bilangin ibu ah” goda Putri.
“Bilangin apa? orang cuman video call-an biasa, juga” kilah Budi.
“Beneran?” goda Putri.
“Ya beneran, lah. Emang ngapain?”
__ADS_1
“Itu, gitu-gitu. Ngapain hayo?” goda putri lagi. Dia menirukan gerakan Adel tadi.
“Julit baget sih?” tukas Budi.
“Kalian jadian,ya?” goda Putri lagi.
Baik Budi maupun Adel, tidak ada yang langsung menjawab. Mereka sama-sama bingung harus bilang apa.
“Tuh kan, nggak ada yang jawab. Artinya iya” kata Putri.
“Ibuu” dengan usilnya dia memanggil ibunya.
“Hisss, apaan sih. Pake panggil-panggil ibu segala?”
Budi membekap mulut Putri agar tidak memanggil ibunya lagi. Di seberang sana, Adel membenahi posisi ponselnya hingga kembali seperti semula.
“Putri, iseng banget, sih?” tegur Adel pada Putri. Terlihat raut tegang di wajahnya.
“Ha ha ha ha. Kalo belum jadian, kenapa tegang begitu?” goda Putri sambil tertawa.
“Tapi kayaknya nggak mungkin kalo belum jadian. Orang udah gini-gini segala” lanjut Putri.
Dia menirukan gerakan Adel. Tapi Adel dan Budi belum memberikan jawaban. Mereka masih terlihat tegang.
“Lagian, kalopun jadian, masalahnya apa?malah seneng, Putri” lanjut Putri lagi.
Wajah Adel berubah tenang. Senyuman mulai merekah di wajah cantiknya. Dia merasa, kalo Putri tidak akan mempermasalahkan aksinya di depan kamera tadi.
“Iya. mbak Adel sama mas Budi, udah jadian” jawab Adel.
“YEEY. Selamat ya” seru Putri heboh.
Adel yang semula hawatir Putri tidak setuju, kini bisa bernafas lega. Sepertinya pikiran buruknya terlalu jauh.
“Pantes, udah main gitu-gitu segala” goda Putri.
Dia menirukan lagi adegan Adel pamer lekuk-lekuk tubuh. Adel malu, dia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
“Mbak Adel tuh, iri sama body kamu, Put” kata Budi.
“Emang? Perasaan biasa aja, deh. Mbak Adel juga bagus bodynya. Mas Budi aja sampe salfok. Padahal dulu baru liat fotonya”
“Kata siapa?” kilah Budi.
“Lah, yang dulu itu. Bikin teh aja sampe nggak dikasih gula. Fokus terus liatin foto mbak Adel” jawab Putri tak mau kalah.
“Nggak usah diomongin, Putri! Bikin malu aja” kata Budi dengan nada geram.
“Ha ha ha ha. masa sih, segitunya?”
“Serius, mbak. Udah gitu, ketahuan lagi, sama ibu. Ha ha ha ha”
“Astaga. Ha ha ha”
Budi menyorongkan tangannya, hendak mencubit Putri. Tapi putri dengan gesitnya menghindar. Terjadilah kejar-kejaran di dalam kamar. Putri tertawa lepas, melihat kakaknya belum berhasil mencubitnya.
“Loh, kenapa, mbak?” tanya Putri merasa aneh.
“Gini Put, gimana bilangnya, ya?” Adel mengawali penjelasannya.
“Ortunya embak itu, orangnya matre banget, Put. Udah gitu, suka banget ngomong kasar. Mbak Adel nggak pengen, bapaknya mbak Adel tahu”
“Oke, Putri ngerti kok. kita emang orang nggak punya, mbak” sahut Putri.
Budi kaget mendengar kalimat Putri. Mendadak dia seperti tidak suka dan marah. Mengapa dia emosi? Budi sendiri belum menemukan sesuatu yang menyinggung harga diri keluarga ini.
“Put, jangan marah, dong! Embak nggak bermaksud ke situ. Embak cuman mau jelasin kondisinya” pinta Adel.
Putri tak segera menjawab. Dia balik badan, membelakangi Adel. Tanpa suara, dia menangis. Dalam pikirannya sudah terbayang, kemana arah pembicaraan Adel.
Dan kalau mengingat rentetan kejadian semenjak kakaknya pulang kampung, membuat Putri tidak rela kalau kakaknya dihina lagi.
Cerita sahabatnya sudah terlalu jelas menggambarkan seperti apa watak bapaknya Adel. Pasti kakaknya hanya bisa diam dan bersabar. Karena tidak mungkin juga akan melawan, apalagi dengan kekerasan.
Tapi dia juga sadar, kalau permata, tidak pernah muncul di permukaan. Mutiara, tidak pernah hadir di bibir pantai. Semua butuh perjuangan. Harus menggali, harus menyelam terlebih dahulu. Harus berjibaku dulu dengan segala tantangan dan rintangan.
“Maaf, mbak. Putri masih terpengaruh ceritanya Madin” jawab Putri. Dia merujuk kepada Madina, adiknya Adel.
“Astaghfirulloh. Dina cerita apa? jangan bilang, !”
“Iya, mbak. Dia cerita tentang cowoknya, yang dimaki-maki bapaknya” jawab Putri.
“Allohu Akbar”
Seketika Adel merasa pusing. Ujian pertama datang terlalu cepat dari yang dia duga. Dan itu berasal dari Putri. Kalau putri menceritakan apa yang diceritakan adiknya, kepada bu Ratih, akan terasa berat sekali, perjuangan cinta ini.
“Put, jangan benci embak, dong! Please!” pinta Adel.
Putri tidak segera menjawab. Dia menatap lekat mata kakaknya. Mata yang selalu menatap tajam saat melihat ada orang yang berkata kasar padanya, terlebih kepada ibunya.
Ibarat kata pepatah, sak dumuk bathuk, sak nyari bumi, tak belani tekane mati. Jangankan menyakiti, menyentuhnya saja bisa berakhir petaka. Terlebih kalau yang dicolek adalah ibunya. Ibarat kata ditantang duel sampai mati juga pasti dilayani. Tapi mata itu juga seolah buta, saat yang dihina adalah pemilik mata itu sendiri.
“Baru kali ini embak ngerasa bahagia. Baru sama mas Budi, embak ngerasa hidup” lanjut Adel.
Putri hanya melirik sekilas. Sebelum tahu kalau Adel adalah kakaknya Madina, Putri sangat berharap suatu saat nanti, Adel akan berjodoh dengan kakaknya.
Tapi setelah Adel mengakui kalau madina adalah adiknya, semua seperti berbeda. Ya, di satu sisi dia masih cocok dengan Adel, tapi di sisi lain, dia juga tidak rela kakaknya harus merasakan apa yang dirasakan pacarnya Madina.
“Iya, mbak. Putri nggak marah, kok, sama mbak Adel. Putri hanya baper aja, keinget sama cerita Madin. Putri dukung kok, hubungan kalian” jawab Putri.
Dia menyeka air matanya. Dia berusaha iklas. Toh kakaknya yang menjalani. Seulas senyuman dia berikan.
“Beneran kan, Put? Kamu serius kan?”
“Iya mbak. Dari awal juga, sebenernya Putri udah cocok sama embak. Cuman, waktu tahu kalo embak itu kakaknya Madin, Putri jadi jadi gelisah aja”
“Embak akan pastiin, kalo mas Budi nggak akan ngalamin apa yang dialamin cowoknya Dina. Kasih embak kesempatan, ya!”
“Nggak usah janji sesuatu yang berat, mbak! Jalanin aja dulu!”
__ADS_1
“Put” tegur Budi.
“Ha ha ha, iya maaf. Putri baper “ jawab Putri. Dia menyeka air matanya lagi.
“Andai aja, kita cuman sepupuan. Putri kekepin sendiri nih, mas Budi” lanjut Putri.
“Hish, ngelantur” tukas Budi.
“Ha ha ha”
Putri tertawa lepas. Terasa hatinya sudah lebih ringan. Hanya matanya saja yang masih terlihat berkaca-kaca.
“Tapi buat mbak Adel, Putri iklas, kok. Walaupun udah kebayang, gimana perjalanan kalian nantinya. Tapi Putri bersyukur, akhirnya mas Budi nemuin seseorang yang pantas buat diperjuangin” lanjut Putri.
“Alhamdulillah, ya Alloh” Adel mengucap syukur. Air matanya mengalir tanpa bisa dia bendung.
“Embak tadi cuman mau jelasin, Put. Kalo embak nggak pengen, ...” Adel berat untuk menyelesaikan kalimatnya.
“Iya, mbak. Putri ngerti, kok. Sama-sama butuh perjuangan, sama-sama butuh pengorbanan, tapi yang udah-udah sih, Putri nggak ngeliat ada valuenya”kata Putri.
“Busyet, anak tata boga ngerti value segala” seru Budi.
“Ngerti, lah. Emang belajar cuman dari sekolah doang?” sahut Putri.
“Berarti bener, dong? Mantannya mas Budi tu, banyak?”
“Banyak”
“Heish”tukas Budi.
“Ha ha ha ha” Putri dan Adel tertawa.
“Tapi kebanyakan emang nggak dianggap serius, sama mas Budi. Ya, dulu kan emang badung, orangnya” lanjut Putri.
“Put! Kamu matiin pasaran mas Budi aja” tegur Budi.
“Ha ha ha. Kalo yang diseriusin sih, cuman tiga. Dua di sini, yang satu di perantauan”
“Weh, masih dilanjut”
“Tiga?” tanya Adel.
“Iya, tiga. Tapi Putri nggak ngeliat nilai lebih dari mereka, selain cantik, dan nurut”
“Nurut? Dalam hal apa?” tanya Adel memastikan.
“Ya, ‘nurut’ kata anak badung sih, pasti beda lah, sama ‘nurut’ kata calon kiai” jawab Putri sambil mengedipkan mata.
“Weh, malah diterusin” tegur Budi lagi.
“Ha ha ha” Putri tertawa lepas.
Adel mengangguk-angguk tanda mengerti arti kedipan itu. Tapi dia maklum. Namanya orang pasti punya masa lalu.
“Ya udah, terusin deh VC nya. Putri mau ke depan dulu”
“Mau ngapain?” tanya Budi.
“Mau bilang ibu” jawabnya usil.
“Eh eh eh. Jangan dulu!” Cegah Budi.
“Orang ibunya juga udah di situ” jawab Putri. Sontak Budi memutar tubuh ke belakang.
“Astaga, Ibu”
Adel bergumam sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan. Dari sudut pandangnya, dia bisa melihat bu Ratih berdiri di ambang pintu kamar Budi.
Dia bertanya-tanya. Sudah berapa lama bu Ratih berdiri di situ? Kalau sudah lama, berarti dia dengar semua percakapan tadi. Artinya, sekarang bu Ratih tahu, kalau bapaknya, bukan calon besan yang baik.
“Pacaran itu, nggak seru kalo nggak ada tantangannya” celetuk Bu Ratih. Dia berjalan mendekati Budi.
“Ibu”
Adel memanggil Bu Ratih lirih. Tapi tidak mampu untuk berkata-kata lagi. Dia takut dibenci sama Bu Ratih, setelah tahu kalau orang tuanya sangat anti degan cowok miskin. Air matanya mengalir lagi. Menceritakan lebih banyak hal, dari yang bisa Adel ungkapkan.
“Kenapa nangis, nduk?” tanya Bu Ratih. Dia tersenyum penuh pengertian.
“Yang ini apa yang itu, Put?” tanya Bu Ratih pada Putri. Budi bingung.
“Yang ini lah, Bu. Kalo Putri yang jadi mas Budi, Putri nggak akan mundur satu langkahpun” jawab Putri.
“Kamu denger kan, nduk?” tanya bu Ratih pada Adel. Adel belum bisa menjawab.
“Ibu juga pernah diperjuangin. Rasanya itu, sesuatu banget, deh. Ya nggak?” lanjut bu Ratih. Adel tersenyum dalam tangisnya.
“Ibu juga udah terlanjur cocok sama mbak Adel. Seperti kata Putri, ibu juga belum melihat adanya nilai lebih dari cewek-cewek yang pacaran sama Budi. Baru mbak Adel yang nyita perhatian ibu” lanjut Bu Ratih. Adel tersenyum.
“Sama-sama bukan orang kaya aja, dulu pada belagu. Mau sama mas Budi doang, tapi nggak mau deket-deket ibu” sahut Putri.
Bu Ratih tersenyum mendengar pendapat Putri. Sedangkan Adel hanya bisa diam, menungu kalimat selanjutnya. Masih terlalu takut untuk dia berbicara.
“Tetaplah menjadi orang baik ya, mbak! Tetap rendah hati, sopan, dan pastinya, nggak beda-bedain orang!” kata bu Ratih. Adel hanya bisa mengangguk. Dia tidak mampu bersuara, karena tangisnya hampir pecah.
“Selamat berjuang, ya. Restu ibu buat kalian. Semoga Gusti Alloh meridhoi” lanjut Bu Ratih lagi.
“Amin, ya Alloh. Amiin”
Adel tak kuasa menahan tangisnya. Antara bahagia, terhau dan sedih bercampur menjadi satu di hatinya. Untuk beberapa saat lamanya, suasana menjadi hening. Hanya isak tangis Adel yang terdengar.
“Mohon ijin ya bu. Adel ingin membangun hubungan dengan mas Budi” kata Adel kemudian.
Bu Ratih tidak segera menjawab. Dia berbisik kepada Putri. Dan Putri gantian berbisik pada Bu Ratih. Bu Ratih mengangguk-angguk. Sedangkan Adel hanya bisa memandangi Budi, dan bertanya dalam bahasa isyarat. Tapi Budi juga sama tidak tahunya.
“Granted” jawab bu Ratih dengan aksen inggris amerika.
“Hem? Ha ha ha ha ha”
Baik Adel maupun Budi, tertawa karena jawaban yang tidak terduga itu. Putri dan Bu Ratih sendiri juga ikut tertawa. Usut punya usut, memang itu trik dari bu Ratih untuk mengembalikan keceriaan mereka. dan, sukses. Akhirnya mereka bercanda lagi, saling menggoda lagi
__ADS_1