
Setengah berlari Budi menuju pintu lobi. Marsya mencegatnya agar tidak langsung masuk ke kantor melewati pintu tembus.
“Ada mbak Erika di depan pintu. Lagi ngobrol sama mbak Farah” kata Marsya. Budi tersenyum.
“Paling juga marah” jawab Budi sambil berlalu pergi.
“Dih, nyari penyakit, mas” komentar Marsya.
Tapi Budi tak menghiraukan walaupun dia mendengar komentar itu. dia langsung masuk ke dalam kantor. Memang benar, Erika sedang berada di tengah-tengah kantor itu, berbincang dengan Farah.
“Kamu tahu ini jam berapa?” tanya Erika dengan nada tinggi.
Satu kantor menoleh ke arah Erika. suasana kantor berubah menjadi tegang. Tapi Budi tenang saja mendapat sentakan itu.
“Sembilan” jawabnya singkat.
“Kamu nggak punya kuota? Nggak punya pulsa?” tanya Erika lagi. Kali ini Budi tidak langsung menjawab.
“Mbak, Budi kan baru sembuh” tegur Farah.
“Emang yang abis sakit cuman dia? Anak buahnya pak Teguh juga ada. Tepat waktu noh, dia” potong Erika.
“Ya kan beda” kilah Farah membela Budi.
“Kamu nyadar nggak sih, kamu punya tanggung jawab?” tanya Erika kepada Budi.
“Siap. Sadar, mbak” jawab Budi.
“Ya terus kamu dari mana? Kenapa semua jalur komunikasi ke kamu nggak bisa dihubungi?”
“Maaf, mbak. Ada sesuatu di rumah yang mengharuskan saya telat berangkat” jawab Budi.
“Apa?” cecar Erika.
Budi tidak segera menjawab. Dia berpikir dulu, jawaban apa yang paling tepat.
“Maaf mbak, ini urusan internal keluarga saya. Saya nggak bisa bilang” jawab Budi.
“Budi, Budi. Kamu nyadar nggak sih, kamu dimana?”
“Siap. Di kantor”
“Kantor ini punya siapa?”
“Siap. Perusahaan”
“Nah, itu. Perusahaan punya aturan, Bud. Perusahaan berhak tahu, kenapa kamu telat. Semua yang telat juga dapet pertanyaan yang sama. Apa susahnya ngejawab pertanyaan itu?” Erika semakin sewot.
“Bud, jawab aja lah! Di dalem sono gih, berdua!” saran Farah sambil menunjuk ruangan PPIC & HRD-GA.
“Bud. Pak Paul paling nggak suka, orang yang dia kasih kepercayaan, mangkir dari tugasnya” kata Erika.
“Lah, saya nggak mangkir. Cuman telat” elak Budi.
“Ya telat itu ada alasannya. Kalo nggak ada alasannya, namanya mangkir” sahut Erika.
Budi tertegun mendengar kalimat itu. dia menghela nafas berat. Dia tidak tahu lagi bagaimana caranya memberikan pengertian kepada Erika.
“Ya Sudahlah, mbak. Kalo emang mau ditulis mangkir. Memang saya yang salah” jawab Budi pasrah. Erika terkejut mendengar jawaban itu.
“Ijin bekerja, mbak” lanjut Budi.
Dia memberi hormat seperti seorang prajurit. Lalu pergi masuk ke dalam ruangannya. Meninggalkan Erika yang masih kebingungan. Bahkan saat Budi kembali untuk pergi ke lapangan, Erika masih belum bergeming. Tapi tidak menegur sama sekali. Dia hanya mengikuti langkah kaki Budi dengan tatapan matanya.
Di sanggar seni, semua personil sudah datang, terkecuali satu orang. Beberapa orang bertanya-tanya dengan gelisah. Yang ditanya juga lebih gelisah. Dia mondar-mandir di depan mobil ELF yang akan membawa mereka. beberapa kali juga dia tampak menelepon, tapi tidak mendapatkan sambutan.
“Nah itu dia” sorak salah satu di antara mereka. sontak perhatian semua orang tertuju pada jalan masuk menuju sanggar ini.
“Kemana aja sih, Del?”
Pertanyaan yang juga tidak berbalas. Adel berlalu begitu saja menuju parkiran.
“Tati. Kok mata dia sembab? Nangis apa, dia?” tanya seseorang dari dalam mobil.
“Nggak tahu, Ke” jawab Tati.
“Samperin, gih! Kasihan banget keliatannya”
“Iya”
Tati berjalan menuju parkiran. Melewati satu mobil lagi yang jenisnya sama. Memang, mata Adel sembab. Tati segera menghampiri Adel untuk bertanya. Tapi malah keburu Adel memeluknya.
“Kamu kenapa, Del?” tanya Tati bingung. Tapi Adel tidak menjawab. Dia malah sesenggukan di pundak Tati.
“Abis ketemu mas Budi?” tanya Tati lagi.
Adel tidak menjawab. Tapi Tati merasakan ada sebuah gerakan di pundaknya. Gerakan kecil dari anggukan kepala Adel.
“Di mana? Di jalan?” tanya Tati penasaran. Adel menggeleng.
__ADS_1
“Di cafe?” tanya Tati lagi. Adel menggeleng lagi.
“Jangan bilang kamu ke rumahnya Budi?” tembak Tati.
Beberapa saat lamanya Adel tidak memberikan isyarat. Sampai Tati mengulangi pertanyaannya. Beberapa saat kemudian, barulah Adel mengangguk.
“Cari penyakit kamu, Del” seru Tati agak kencang. Beberapa orang menoleh padanya.
“Ketemu bu Ratih, ya?” lanjut Tati. Adel mengangguk.
“Kan aku udah bilang, orang sesabar itu kalo udah sakit hatinya bisa lebih kejem dari ibu kamu. Ini malah disamperin” kata Tati. Adel masih sesenggukan tanpa berkomentar ataupun memberikan isyarat.
“Ya udah. Kita mampir sono dulu, deh” lanjut Tati. Seketika Adel melepaskan pelukannya.
“Mau ngapain?” tanya Adel dengan suara serak.
“Aku mau nanya. Ngomong apa bu Ratih sama kamu. Sama-sama korban kok gitu” jawab Tati. Adel malah tergelak.
“Lah, malah ketawa? Stres lu ya?” tanya Tati bingung.
“Aku nangis bukannya sedih, tapi terharu” kata Adel.
“Terharu?”
“Ya. Aku bersukur banget. Masih ada maaf buat aku, dari ibunya Abram” jawab Adel.
“Apa? Serius?” tanya Tati belum percaya.
“Serius” jawab Adel.
“Bu Ratih, nggak maki-maki kamu?” Tanya Tati semakin penasaran.
“Woe, ayo! Udah siang nih”
Seseorang berteriak dari dalam mobil. Mereka berdua menoleh. Terlihat om Diki yang menegur mereka.
“Aku ceritain sambil jalan” jawab Adel.
Walau masih penasaran, Tati tidak punya pilihan selain mengiyakan saja. Dia membantu membawakan tasnya Adel.
Sorak sorai dan candaan menyambut kedatangan Adel. Sama sekali dia tidak menyembunyikan keadaannya yang baru saja menangis. Lagipula, sekaan tangannya tak lantas membuat air matanya mengering begitu saja.
Walau sempat bersitegang dengan Erika, tak lantas membuat Budi kendor. Dia tetap gesit menjalankan pekerjaannya.
Di lapangan, dia tidak hanya mengawasi jalannya produksi. Dia juga menyempatkan berdiskusi dengan tim ekspo. Sebagai pimpinan, dia menanyakan banyak hal yang dia tinggalkan selama sakit.
Hal-hal yang tidak sensitif langsung dia kondisikan dari lapangan. Dia rombak timnya berdasarkan kondisi terkini guna mengejar target yang semakin dekat deadlinenya.
Ponselnya tiba-tiba berdering. Wajah semangatnya seketika berubah disaat dia membaca nama yang terpampang pada layar ponselnya. Saat Farah tahu siapa yang menelepon, dia mengajak yang lain untuk bubar. Merekapun janjian untuk bertemu lagi, nanti.
“Selamat pagi, pak Paul” sapa Budi.
“Pagi, Bud. Kamu kemana kok nggak masuk?” tanya pak Paul tanpa basa-basi.
“Masuk, pak” elak Budi.
“Kok sama Erika dilaporkan mangkir? Kenapa?”
“Oh. Maaf pak, saya telat”
“Lah. Gimana sih, Erika. orang telat kok ditulis mangkir” komentar pak Paul. Budi tidak segera merespon. Menunggu kalimat selanjutnya.
“Kenapa telat? Masih pusing, ya?” tanya pak Paul.
“Eem. Enggak sih, pak” jawab Budi.
“Terus? Motormu mogok?”
“Enggak”
“Lah, terus?”
“Saya pikir, bapak sudah dengar semuanya dari Erika”
“Nah, itu. Kenapa? Ada apa?” tanya pak Paul menjurus.
“Maaf pak. Apakah hal semacam aib dalam keluarga saya tidak boleh saya sembunyikan?” jawab Budi dengan pertanyaan.
“Bud. Kamu harus sadar, kamu itu abis berurusan sama hukum. Urusan hukum kamu sama Stevani juga belum kelar. Jadi nggak bisa kamu main sembunyi-sembunyi kaya gitu”
“Iya pak, maaf” kata Budi.
“Dan kamu perlu tahu, Bud. Sekalipun aku percaya sama kamu dalam hal kerjaan, tapi dalam hal ini aku lebih percaya sama Erika. Kalo Erika bilang bahaya, aku nggak segan-segan buat ngeluarin kamu dari perusahaan. Karena aku nggak mau perusahaan ini dipegang oleh orang yang otaknya kriminal”
“Eeem. Sebenarnya begini, “
“Udah, udah, udah” potong pak Paul.
“Aku lagi ada meeting. Kamu ceritain aja sama Erika! Kamu ceritain semuanya! Biar nanti dia yang laporan sama aku. Aku tahu kamu bukan kriminal. Tapi bikin kecurigaan ini hilang! Jangan sampe aku juga ikutan curiga!” lanjut pak Paul.
__ADS_1
“Siap, pak” jawab Budi.
“Selamat pagi”
“Pagi, pak”
Bel tanda coffee break berbunyi bertepatan dengan ditutupnya saluran telepon oleh pak Paul. Budi menghela nafas berat. Dengan pikiran agak kacau, dia berjalan menuju kantin. Dia berniat untuk meminum kopi untuk menenangkan pikirannya. Tapi disaat memesan kopi, dia melihat Erika sedang duduk tak jauh darinya. Erika duduk menghadap belakang, memunggunginya. Diapun mendekati Erika dengan secangkir kopi di tangannya.
“Boleh gabung, mbak?” tanya Budi.
“Eh”
Erika terkejut mendapat sapaan Budi. Dia sempat terdiam beberapa saat. Hanya matanya yang beradu pandang dengan mata Budi.
“Ya, boleh” jawab Erika, masih dengan gaya kesal.
Budipun duduk di depan Erika. Walau kursinya masih ada dua lagi, tapi tidak ada yang berani bergabung untuk duduk bersama mereka.
“Aku minta maaf, mbak” kata Budi memulai percakapan. Erika hanya menatapnya tanpa menjawab.
“Tadi, ada Adel di rumah” lanjut Budi.
“Hem? Adel?” tanya Erika terkejut.
“Iya” jawab Budi.
“Berani banget. Masih punya muka, dia?” komentar Erika.
“Kok mbak Rika ngomongnya gitu? Kan kalian sahabat?” tanya Budi.
“Ya abisnya aku gemes aja, Bud. Nggak diusir apa, sama ibumu?”
“Itu dia, mbak. Sempet heboh di rumah. Ada yang liat drama antara Adel sama ibu. Dia rekam tuh dari jauh. Terus di posting di status”
“Lah, terus?” tanya Erika penasaran.
“Captionnya yang bikin geger”
“Caption?”
“Dibilangnya, ibu minta disembah buat kasih maaf sama Adel. Padahal, aslinya Adel yang bersimpuh di kaki ibu, buat minta maaf”
“Astaga. Ya, ya, ya, aku nangkep. Ibu pasti marah-marah dulu, kan? Jadinya Adel lama bersimpuhnya”
“Iya, gitu”
“Terus?”
“Ya, tahu-tahu pak RT dateng sama sesepuh desa. Kita kena interogasi”
“Ya ampun” komentar Erika.
“Lah. Bukannya terakhir mereka sudah akur sama keluarga kamu? Kaya udah nggak ada yang benci sama kalian?” tanya Erika.
“Pak RT kan emang dari dulu nggak pernah pro sama keluarga aku, mbak. Dia CS an sama orang-orang yang sama-sama nggak pro sama keluarga aku. Terakhir itu yang dateng ke rumah cuman mereka yang udah tobat. Yang masih nggak suka sama kita, beda lagi. Masih ada beberapa” jawab Budi.
“Macem-macem deh, omongannya. Nanya juga belum udah bilang ibu gila hormat, musryik, sesat, kere pengen munggah bale” lanjutnya.
“Nggak kamu tonjok aja, Bud? udah masuk tuduhan, itu”
“Kalo aja yang ngomong begitu laki-laki yang seumuran sama aku, udah aku sikat, mbak. Tapi kebanyakan yang ngomong gitu tuh, ibu-ibu. Pak RT sendiri juga sepantaran bapak”
“Laporin aja, Bud!”
“Yah, mbak. Yang dihina aja sabar. Aku bisa apa?” jawab Budi. Erika tertegun. Dia menghela nafas panjang.
“Terus, Adel gimana? Dapet maaf dari bu Ratih?” tanya Erika beberapa saat kemudian.
“Iya” jawab Budi sambil tersenyum.
“Kamu tuh, ya. Udah dimaki-maki kaya gitu, masih aja mau nerima. Kalo aku sih, jangan harap” komentar Erika kesal, melihat senyuman Budi. Senyum Budi semakin mengembang. Geli dia mendengar komentar itu.
“Apa lagi, dia udah bikin kamu berantem sama sahabatmu sendiri. Masuk rumah sakit, dipolisiin pula. Aduh, aku sih nggak bakal mau nerima lagi orang kaya gitu” lanjut Erika. Wajahnya terlihat kesal.
“He he” Budi tergelak. Untuk beberapa saat mereka terdiam kembali.
“Apa sudah cukup penjelasannya, mbak?” tanya Budi. Erika menatap mata Budi.
“Kalo aja kamu langsung jawab, kan aku nggak perlu capek-capek ngomel kan, Bud” jawab Erika. Budi tersenyum.
“Tolong ngertiin aku, Bud! jangan bikin aku senewen! Cuman kamu yang aku punya” lanjut Erika.
“Maksud mbak Rika?” tanya Budi bingung.
“Eh eem. Ya. Cuman kamu yang aku percaya” jawab Erika agak gelagapan.
“Aku ngerasa nggak tenang ngebiarin tim ekspo tanpa kamu. Aku juga nggak tenang ngebiarain Aldo kerja sendiri, mutusin sendiri tanpa kamu. Aku baru ngerasa tenang setelah ada kamu” lanjut Erika menjelaskan. Tapi nadanya terdengar seperti alasan yang dibuat-buat, di telinga Budi.
“Aduh, aku terbang nih, mbak” kelakar Budi.
__ADS_1
“Ha ha ha”