
Selepas makan siang, Erika mengajak ketiga anggota barunya untuk meeting. Erika sudah menyiapkan job description untuk masing-masing anggota barunya.
“Langsung aja, ya? Aku tahu, waktu kalian sangat berharga” kata Erika memulai meeting mereka. mereka bertiga kasak-kusuk dan tertawa lagi, seperti saat Erika memuji mereka di lorong tadi.
“Seperti yang udah kalian lihat di papan, aku memberikan job desc sejalan dengan tugas kalian di PPIC” lanjut Erika. perhatian ketiga anggota barunya langsung terfokus pada diagram yang sudah tergambar di white board.
“Aldo, aku tugasi untuk membina vendor general affair. Seperti cleaning service, tukang AC, kantin, dan mungkin juga vendor-vendor lain yang ada hubungannya dengan general affair. Jelas sampai di sini?”
“Jelas, mbak” jawab Aldo.
“Good. Buat Riki, tugas kamu adalah mencatat atau menginput data absensi harian. Di sini pastinya kamu juga memilah antara yang tepat waktu, yang telat, yang ijin, alfa, termasuk juga yang cuti. Sistemnya sudah ada, tinggal mengikuti aja”
“Baik, mbak” jawab Riki
“Tiap hari kamu harus update! Nanti teknisnya aku kasih tahu”
“Siap”
“Nah. Alurnya, data yang kamu input itu, akan masuk ke Budi”
“Oh, nggak langsung ke mbak Rika?” tanya Riki.
“Kalo kemarin, emang iya. Tapi dengan adanya Budi, aku pengen ada pengembangan” jawab Erika.
“Oh” respon Riki singkat.
“Budi, tugasnya melakukan penilaian kinerja setiap karyawan. Sumbernya, kalau sebelum ini, hanya berasal dari piramida kepemimpinan. Dari departemen Head, division head, masuk ke HRD. Tapi sekarang, aku pengen ada jalur baru. Jalur yang langsung dari pengamatan Budi”
“Baik, mbak” jawab Budi.
“Sembari mengkondisikan jalannya produksi, kamu bisa melakukan penilaian berdasarkan target achievement. Selain untuk perhitungan bonus, penilaian kamu juga bisa kita gunakan untuk pertimbangan kontrak dari tiap karyawan”
“Siap”
“Dan hasil penilaianmu itu, juga bisa menjadi dasar kita untuk melakukan development"
"Ada satu tugas, yang ini khasnya kamu banget, Bud” lanjut Erika.
“Apa, mbak?” tanya Budi.
“Pengembangan doktrin” jawab Erika.
“Maksudnya, mbak?”
“Kamu kan punya mimpi, membuat pabrik ini seperti pabrik sukhoi. Sedangkan pabrik sukhoipun, sekarang sudah jauh lebih besar dan maju lagi” jawab Erika.
“Emm” budi loading.
“Ya, memang nggak nyambung. Tapi menjadi induk dari holding company, merupakan prestasi tersendiri, kan? Pasti sudah banyak yang mereka kerjakan untuk perbaikan dan pengembangan”
“Iya juga, sih” gumam Budi.
“Kita sudah mempunyai satu bentuk yang bisa kita pamerkan. Tapi kita masih muter-muter di lokalan aja. Tugas kamu adalah mengembangkan doktrin, yang bisa membuat semua karyawan punya pemikiran bahwa perusahaan ini harus bisa dikenal sebagai pemain global”
“Wuih, berat, Bud” celetuk Aldo.
“Kamu siap?” tanya Erika.
“Siap, mbak” jawab Budi mantap.
Sontak kedua temannya menoleh dan menatapnya dengan raut wajah bingung. Secepat itu dia menjawab tanpa jeda waktu untuk berpikir barang sejenak.
“Aku sendiri, sering disibukin sama urusannya pak Paul. Kalian tau sendiri kan, pak Paul nggak berhasrat punya sekretaris lagi, semenjak Haryanti. Kasus keteledoran waktu itu bikin pak Paul kapok. Dan lebih milih aku buat gantiin posisi Haryanti. Jadi, aku berharap banget, kalian bisa mengolah data sebaik dan serapi mungkin. Sehingga aku bisa langsung mengolah data itu menjadi data akhir yang siap dilaporkan ke pak Paul”
“Siap, mbak” jawab mereka bertiga kompak.
“Aku posisikan Budi sebagai asistenku. Riki udah jelas, alur laporannya harus lewat Budi. Dan Aldo, kamu juga harus bikin laporan berkala mengenai target achievement tiap-tiap vendor. Dan laporkan ke Budi. Tugas Budi adalah membuat summary, Lalu dilaporkan ke aku. Jelas sampai di sini?"
“Jelas, mbak”
“Ini bukan tentang senioritas, posisi-posisi ini aku susun berdasarkan spesialisasi kalian masing-masing. Jadi Aldo, jangan iri sama Budi, ya!” pinta Erika.
“Baik, mbak. Saya akui, memang saya belum selevel Budi” jawab Aldo.
“Bukan belum selevel. Tapi kamu keliatan berwibawa kalo pegang inventory. Aku suka cara kamu nanganin supplier. Kamu harus belajar sama Aldo, Bud! Itu juga bagian dari pengembangan doktrin”
“Baik, mbak” jawab Budi.
“Oke. Aku udah bikinin tiga akun email buat kalian. Silakan buka hape masing-masing! Dan klik link yang aku bagikan! Di sana kita akan bekerja. Silakan pelajari sistemnya, dan silakan bertanya kalo belum paham!”
“Siap” jawab mereka bertiga.
Tanpa disuruh dua kali mereka langsung membuka ponsel masing-masing. Menit selanjutnya mereka sudah fokus mempelajari apa yang ada di layar komputer mereka. sistem baru yang belum pernah mereka pakai selama ini. Berkali-kali mereka bertanya secara bergantian, mengenai alur kerja mereka, sehubungan dengan penggunaan sistem itu. Dan Erika, dengan telaten menjawab semua pertanyaan mereka.
***
Semenjak kasus konspirasi Stevani terungkap, Adel semakin mantap dan berani, untuk menyatakan hubungannya dengan Budi. Dia juga sudah mantap untuk menjawab iya, saat ada yang menanyakan, apakah Budi adalah kekasihnya.
Saat Budi mengantarkan Putri maupun bu Ratih memenuhi panggilan penyidik, Adel selalu ada untuk menemani. Memberikan semangat agar tidak takut saat berhadapan dengan penyidik. Tentu saja, kedekatan Adel dengan keluarga Budi menjadi berita hangat yang menghiasi media sosial.
Pak Fajar, meski tidak secara gamblang menolak hubungan itu, tapi dia selalu mengingatkan, bahwa Luki masih menunggu kepastian darinya. Berbeda dengan bu Lusi. Dia suka lebih keras kalau memberikan teguran. Alih-alih mengingat jasanya, bu Lusi lebih sering mengungkit profesi Budi, yang masih dia kira sebagai tukang ojek.
Terlebih, semenjak tragedi itu, reputasi tukang ojek daring, menurun di matanya. Walau begitu, Adel selalu berusaha menanggapinya dengan kalem. Dia selalu berusaha tersenyum, walau terkadang, teguran ibunya itu lebih terdengar seperti menghina status sosial Budi.
Adel sudah berjanji pada dirinya sendiri, untuk tidak melawan setiap penolakan yang ditunjukkan orang tuanya. Dia selalu mencari cara untuk mengalihkan pembicaraan.
Baik dengan tersenyum, berbisik pada Madina, ataupun cara-cara lain. Yang pasti, dia sangat menghindari konfrontasi langsung. Dia lebih suka berada di daerah abu-abu. Tidak menurut, tapi juga tidak melawan. Seperti malam ini.
__ADS_1
“Del, kamu ini, ya. Dibilangin orang tua, susah banget”
Adel yang baru saja mau menuang air minum dari dispenser, terkejut dan reflek memutar badan. Madina, yang tadinya hendak menyapa kakaknya, juga ikut memutar badan. Dia juga terkejut, tiba-tiba mendengar teriakan ibunya, tepat di belakangnya.
“Kamu itu, dicariin jodoh orang kaya, malah deket-deket sama cowok blangsak. Bisa kasih apa dia sama hasil ngojeknya, ha? Makin hari makin ngelunjak aja. Kalo dibilangin, cengar-cengir, cengar-cengir. Tapi nggak pernah dengerin” lanjut ibunya.
“Bu, bisa nggak sih, ngomongnya pelan aja? Kaya di hutan aja, teriaknya sampe bikin deg-degan” protes Madina.
“Iya ih, bisa bikin orang balik kanan” sahut Adel.
“Kalo di Indonesia ada wajib militer, pasti ibu jadi komandan peleton” lanjut Adel. Madina tergelak dibuatnya.
“Nylimur. Selalu aja, ngalihin topik. Mending kalo didenger” komentar ibunya.
“Ya udah, kamu mau nanya apa sama kakakmu?” tanya bu Lusi kepada Madina.
“Ini, bu. Madin dapet tugas bikin aplikasi toko sederhana pakai g-sheet. Madin nggak ngerti, beda banget sama excel” jawab Madina.
“Mbak Adel bisa nggak?” tanyanya pada Adel.
“Kalo embak bisa, udah dari kemarin-kemarin embak ajarin” jawab Adel.
“Yaa” keluh Madina.
“Ke mas Budi aja! di jakarta, dia juga pakeknya g-sheet” kata Adel.
“Masa? Serius, mbak? Udah mahir, dong?”
“Ya, harusnya gitu”
“Bilangin dong, mbak! Madin pengen belajar sama dia”
“Nggak usah!” teriak bu Lusi.
Madin ketakutan mendengar teriakan ibunya. Dia melompat ke arah Adel, dan bersembunyi di balik tubuhnya.
“Ibu, ih. Gitu amat ngomongnya. Sampe Madin ketakutan” protes Adel pelan.
“Nggak usah manfaatin Madin buat deket-deket sama si Budi kere itu!” bantah ibunya. Adel tersenyum saja.
“Ya udah, ibu aja yang ajarin” jawab Adel.
“Ya tugas kamu, lah. Udah ibu sekolahin tinggi-tinggi, masa pelajaran anak SMA aja nggak bisa?”
“Oke. Buat kapan, emang?” tanya Adel.
“Ngumpulin totalnya sih, masih sebulan lagi”
“Mendingan ke bimbel aja sono, Din!” sahut ibunya. Adel tersenyum lagi.
“Gimana, mbak?” tanya Madina. Dia ketakutan, melihat ibunya marah.
“Ya udah, kamu daftarin, gih, ke yang itu!” perintah bu Lusi.
“Boleh. Registrasinya, sejuta ya, bu. Terus, kontraknya, sebulan dua juta. Sebulan terhitung empat periode, atau empat minggu. Seminggunya, dua kali pertemuan. Jadi, kalo sekolah biasa, sebulannya ada dua puluh empat kali pertemuan, bimbel ini hanya ngadain delapan kali pertemuan. Itu juga, setiap pertemuannya, cuman dua jam doang”
“Halah. Itu sih akal-akalan kamu doang” komentar bu Lusi.
“Itu, brosurnya di atas meja makan” jawab Adel.
Bu Lusi melihat ke arah meja makan. Dan memang benar, ada selembar brosur di sana. Apa yang dikatakan Adel, memang sesuai dengan apa yang tertulis di brosur itu. Tampak dia bimbang. Walau ada tulisan, dijamin bisa. Tapi dia tidak langsung percaya begitu saja.
“Sama mas Budi, gratis. Diajarin sampe bisa. Contoh modelnya, juga yang biasa dia kerjakan sewaktu di jakarta. Jauh lebih kompleks dari sekedar aplikasi toko. Mirip banget sama aplikasi jadi yang dipakai di pabriknya”
“Tahu dari mana?” tanya ibunya.
“Adel pernah dikasih lihat. Bahkan ada yang udah pakai script editor. Udah bisa jalanin tugas kaya kasir minimarket gitu”
“Serius, mbak?”
“Beneran. Tapi kata mas Budi, lebih penting buat kamu mahamin cara kerja dari rumus-rumusnya. Editor sih, belakangan aja!”
“Nggak usah! Udah, masukin bimbel aja!” tolak ibunya.
“Hemm” keluh Madina.
“Kenapa, dek?” tanya Adel.
“Bingung, mbak”
“Bingung kenapa?”
“Di mata pelajaran komputer, Madin dipisah dari Putri. Kalo sekelompok sama Putri sih enak. Madin nggak ngerti, Putri bisa back up. Lah ini, satu kelompok oon semua, ngandelin Madin. Excel aja Madin belum paham, pake g-sheet. Mana besok harus ada progressnya, lagi. Kalo nggak ada progress sama sekali, alamat masuk remidi lagi deh”
“Emang guru kamu nggak nerangin, apa?” tanya ibunya.
“Aduh, kalo dia mau nerangin sampe paham sih, Madin nggak kepusingan, bu”
“Masa, guru kayak gitu?”
“Nah, ibu bilangin, gih! Ini, Madin kasih nomernya”
“Ih, masa protes sama guru?” tolak bu Lusi sambil berlalu.
“Lah, malah pergi. Terus Madin gimana?” tanya Madina.
“Ya udah, embak anter ke rumah mas Budi. Ambil perlengkapannya!” jawab Adel.
__ADS_1
“Beneran, mbak? Ibu gimana?”
“Biarin aja. Nggak jelas ini”
“Hi hi hi. Lucu juga kadang-kadang” komentar Madina. Dia berlalu pergi dari dapur.
“Ambilin jaket sama kunci motor embak, ya!” pinta Adel setengah berteriak.
“Ya” jawab Madina, setengah berteriak juga.
Adel melanjutkan acara minumnya yang tertunda. Bu Lusi mengikuti langkah kaki Madina dengan kedua matanya. Madina tahu, ibunya memelototinya. Tapi dia acuh saja. toh ibunya juga tidak memberikan solusi. Begitu pikirnya.
“Awas, kalo Madin sampe nggak bisa!” tegur bu Lusi, saat mereka hendak pamitan.
“Hape kamu, ibu sita” ancam bu lusi.
“Kok, hape mbak Adel?” tanya Madina.
“Biarin. Biar sekalian nggak bisa hubungan sama si kere, Budi itu” jawab bu Lusi. Adel malah tergelak mendengar jawaban itu.
“Kok mbak Adel malah ketawa?” tanya Madina.
“Ya kan enak. Hape disita, artinya mbak Adel nggak perlu kerja. Duit mbak Adel, dijatah sama ibu. Makan juga tinggal makan. Nggak perlu ikut beli bahannya. Semua dicukupin sama ibu” jawab Adel sambil berjalan.
Bu Lusi melotot, mendengar jawaban Adel. Sepertinya dia mau menjawab. Tapi Adel telah lebih dulu menghilang di balik pintu. Madina tergelak melihat ibunya mau memarahi kakaknya, tapi tidak kesampaian.
Dengan mengendarai motor Adel, mereka berangkat menuju rumah Budi. Setibanya di sana, mereka disambut oleh Putri. Dia terkejut melihat sahabatnya datang tanpa memberitahu sebelumnya.
Meski begitu, Putri tampak sangat senang. Karena pada akhirnya, orang yang sangat dia harapkan untuk bisa main ke rumahnya, telah menginjakkan kaki di rumahnya.
“Kok, kayaknya ada sesuatu, mbak Adel? Sampe malam-malam begini, main ke sini tanpa ngasih kabar dulu” tanya bu Ratih saat menyambutnya.
“Iya, bu. Maaf, ganggu waktu istirahatnya” jawab Adel.
“Oh enggak” sahut bu Ratih.
“Madina, pengen belajar G-sheet, sama mas Budi. Dia kepusingan belajar sendiri. Sedangkan Adel juga belum ngerti” lanjut Adel sambil tersenyum.
“Oh, tugas komputer? Kenapa nggak nanya?” tanya Putri.
“Emang kamu bisa?” sahut Madina.
“Bisa dong, adeknya siapa dulu?” jawab Putri.
“Halah, baru bisa dikit aja, gaya banget” komentar Budi.
“Hi hi hi” Putri tertawa.
“Ya udah, sini! Bawa laptop nggak?” tanya Putri.
“Bawa” jawab Madina.
Putri mengajak Madina untuk belajar di ruang keluarga. Lebih leluasa, karena lebih luas. Budipun mengajari Madina mulai dari dasar-dasarnya.
Mulai dari tanda baca yang sering terpakai di dalam rumus, fungsi dari masing-masing tanda itu, dan cara penempatannya. Putri juga ikut menyimak, sekalipun dia sudah lebih dulu bisa.
Madina tersenyum senang, mendapatkan pelajaran yang disampaikan dengan cara yang berbeda dari yang disampaikan guru di sekolah. Lebih mudah untuk dia pahami. Sekalipun, awalnya, dia merasa seperti dianggap sama sekali belum kenal dengan dunia excel.
Budi memintanya untuk menuangkan kembali, apa yang sudah dia sampaikan lewat sebuah catatan. Tak peduli benar atau salah sekalipun, yang penting, Madina menuangkan dulu apa yang sudah dia pahami.
Beberapa hal yang keliru itulah, yang kemudian memberitahukan Budi, bahkan Putri, mengenai apa yang Madina belum mengerti. Dan itu yang diulang kembali.
Naik ke level selanjutnya, adalah pengenalan rumus. Dengan bantuan papan tulis kecil milik Putri, Budi membuat perbandingan sederhana.
Perbandingan antara rumus g-sheet, dengan ucapan verbal, yang dipakai sehari-hati. Seperti operasi sederhana, tambah, kurang, kali, bagi, dengan menggunakan lambang matematika. Penggunaannya pada tabel. Dan cara lain perhitungan, jika tidak bisa menggunakan lambang tambah, kurang, kali, dan bagi, dalam suatu rumus atau formula.
Madina tergelak sambil geleng-geleng kepala. Kali ini dia mengakui kalau dia benar-benar baru tahu, kalau operasi sederhana ini, punya bentuk lain, yang dia belum mengenalnya.
Seperti sebelumnya, madina mengulang kembali apa yang disampaikan Budi. Budi dan Putri bersorak dan bertepuk tangan, memberikan apresiasi untuk Madina, karena dia berhasil menjelaskan kembali apa yang sudah disampaikan Budi.
Karena suara mereka terdengar heboh, Adel dan bu Ratih sampai melongok ke ruang tengah. Ketiganya tertawa saat bu Ratih bertanya ada apa.
Ya, disaat ketiganya sedang belajar-mengajar, Adel berinisiatif membantu bu Ratih masak di dapur. Bu Ratih sedang meracik bumbu untuk ikan goreng, di saat Adel dan Madina datang. Bu ratih baru sempat masak untuk sendiri, karena sejak sore, ada beberapa orang yang mengantri ikan untuk membeli ikan gorengnya. Dan baru pas maghrib tadi, selesai. Sholat maghribpun, sempat terlambat.
“Hubungan kalian, bagaimana, mbak Adel?” tanya bu Ratih. Adel menatap sebentar ke wajah bu Ratih.
“Kalau dari kita berdua, ya alhamdulillah bu, adem-ayem, tenteram” jawab Adel.
“Kalau dari kalian? Berarti ada dari yang lain, dong?” tanya bu Ratih.
“Ya. Orang tua Adel, masih belum bisa menerima, bu. Yang ada di pikiran mereka cuman harta, harta, harta, harta, dan harta lagi” jawab Adel.
Untuk beberapa saat, bu Ratih belum berkomentar. Beliau memandang wajah Adel dengan tatapan setengah kosong. Beliau terlihat sedang memikirkan apa yang dikatakan Adel.
“Tapi mbak Adel harus ingat, ya! Ridhonya Gusti Alloh, tergantung dengan ridhonya orang tua. Bagaimanapun karakternya, beliau berdua, tetaplah orang tua mbak Adel” saran bu Ratih.
“Iya, bu. Terkadang Adel juga bingung. Di satu sisi, Adel udah nggak ragu lagi, sama kasih sayang dan cintanya mereka sama Adel. Tapi di sisi lain, karakter bapak sama ibu Adel itu, terlalu keras” jawab Adel.
“Bagaimanapun juga, orang tua tetep harus dijunjung tinggi marwahnya ya, mbak. Di dunia ini, nggak ada yang nggak mungkin. Mbak Adel doakan terus setiap sholat! insyaAlloh, doa yang baik dan tulus dari seorang anak, pasti di ijabah oleh Gusti Alloh”
“Amin” jawab Adel. Keduanya tersenyum.
“Coba aja, ibu Adel sebaik ibu. Betapa bahagianya Adel, bu” lanjut Adel.
“Mbak Adel belum tahu aja, galaknya ibu” jawab bu Ratih sambil tergelak. Adelpun ikut tertawa.
Selesai menggoreng ikan, bu Ratih mengajak semuanya makan. Awalnya Adel menolak dengan halus, karena sungkan. Seharusnya dia yang membawa buah tangan, untuk tuan rumah. Ini justru dia ditawari makan sama sang tuan rumah. Tapi bu Ratih memaksa, taruhannya adalah restu.
__ADS_1
Mendengar kata restu disebut, Adel tak berani lagi untuk menolak. Dia hanya mengangguk-angguk tanda setuju. Putri tertawa, melihat Adel takut tidak mendapat restu dari ibunya, kalau menolak ikut makan. Dan yang lainpun ikut tertawa, mendengar kelakar Putri.