
**** 21+ *****
mohon bijak dalam membaca. jika tidak berkenan, silakan tunggu update selanjutnya. terimakasih.
Kebali ke Budi. Kini dia telah menurunkan Stevani di kasur springbed. Tapi tidak langsung dalam posisi tidur, melainkan dalam posisi duduk.
Kakinya yang menekuk, membuat rok yang dipakai Stevani meluncur ke pangkal pahanya. Menyajikan pemandangan yang sanggup membuat darah muda Budi berdesir.
Secara postur tubuh, dan kecerahan kulit, Budi harus mengakui kalau Stevani lebih menggairahkan daripada Adel. Stevani tampak cuek, sekalipun secarik kain yang berwarna pink itu sudah mulai terlihat dari sudut mata Budi. Karena matanya masih terpaku pada wajah Budi.
“Van” tegur Budi.
“Eh, ee. Iya. Jadi” kata Stevani tergagap.
“Hmpf, apanya?” tanya Budi tergelak.
“Loh, emang kamu nanya apa?” Stevani bingung.
“Aku belum ngomong” jawab Budi
“Aduh” Stevani menepuk keningnya, malu. Sedangkan Budi tertawa kecil.
“Aku ambil minyaknya dulu, ya?” pamit Budi.
Dia beranjak mengambil minyak angin dan uang koin yang dia tinggal di depan saat membopong Stevani tadi.
Astaga, Van?
Mata Budi terbelalak. Saat dia hendak kembali ke kamar dalam, tanpa sengaja dia melihat Stevani sedang melepaskan tanktopnya.
Entah bagaimana caranya, saat dia menarik tanktopnya ke atas, kutangnya juga ikut tertarik ke atas. Praktis, terpampanglah apa yang sedari tadi tertutupi oleh tanktop dan kutang itu.
Gila, punya Armita aja masih kalah gede, ini. Mana bulet gitu. Oh my God.
Menyadari tanktop itu sudah terbebas dari kepala Stevani, Budi merasa harus segera bersembunyi. Tapi telat, gerakan Stevani jauh lebih cepat dari dugaannya.
Dia tidak sempat mengelak, saat Stevani memergokinya sedang melotot memandangi buah dadanya. Tapi dia tidak marah. Dia hanya terkejut saja. Lantas dia tengkurap di atas kasur. Mendapati Stevani sudah tengkurap, itu artinya, dia siap untuk dikerik. Budi mendekat.
Krik... krik... krik
Budi mulai mengerik. Perlahan, dan tanpa tekanan kuat. Stevani, pastinya berbeda dengan bapaknya. Kalau bapaknya, dikerik pelan begini, pasti protes.
Tapi kulit ini, sangat halus, mulus, seperti tidak pernah terkena goresan. Pasti akan merasa kesakitan kalau dikerik seperti biasanya dia mengerik bapaknya.
“Sakit, Van?” tanya Budi.
“Ya sakit, lah. Namanya juga dikerik” jawab Stevani.
“Tapi lanjut aja!” tambahnya.
Budi menumpahkan minyak angin itu lagi, lalu menegerik lagi. Tubuh Stevani menggeliat-geliat kesakitan. Walaupun Budi sudah mengurangi tekanan tangannya.
Dia tersenyum. Dia maklum kalau Stevani merasa kesakitan. Pasti kulitnya sensitif. Sebisanya dia berusaha selembut mungkin. Tapi tetap saja, lama kelamaan, akan menimbulkan rasa sakit juga.
Karena sudah kebiasaan sejak lama, setelah selesai mengerik, Budi membalurkan minyak angin itu ke seluruh punggung Stevani. Setengah tidak sadar Budi melakukan itu.
Sebagian angannya melayang mengenang almarhum bapaknya. Yang selalu meminta dipijat setelah dikerik. Maka dari itu, Budi juga melakukan hal yang sama terhadap Stevani.
Stevani terkejut merasakan pijatan nikmat di punggungnya. Dia tidak menyangka kalo Budi akan seberani ini memijat punggungnya tanpa permisi.
Tapi dia tersenyum. Dia malah senang mendapat perlakuan itu. Dia bakan tidak menolak, saat Budi juga memijat kedua kakinya. Dia juga tidak mempedulikan bagaimana posisi rok yang dia pakai. Dia hanya diam, menikmati pijatan Budi sambil memejamkan mata.
Dari telapak kaki, pijatan itu menjalar ke betis. Sekujur betis dia pijat dengan tekanan agak kuat. Seperti biasa dia memijat bapaknya. Kemudian menjalar ke paha.
Stevani tidak protes, saat Budi memasukan tangannya menerobos roknya. Sekujur pahanya mendapat pijatan lembut. Dari batas lutut, sampai nyaris mengenai pangkalnya.
“Emm”
__ADS_1
Stevani memekik tertahan. Dia kaget, bagian tubuh paling sensitifnya tersentuh oleh jemari Budi.
Astaga. Aku lagi ngapain ini?
Budi ikutan terkejut. Dia sempat tertegun dan tidak bergerak, saat menyadari kedua tangannya berada di balik roknya Stevani. Dan perlahan dia mulai merasakan halus dan mulusnya kulit paha Stevani. Seketika dia tarik kedua tangannya dari dalam sana.
“Astaga. Ma, ma, maaf Van. Aku, aku, aku, aku hilaf. Aku, aku, aku, “
“Iya, nggak papa, kok”
Budi masih tertegun. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Dia takut kalau karirnya akan segera berhenti, karena perbuatan tak senonohnya ini.
“Udah, nggak usah tegang gitu! Kaya apa aja” tegur Stevani.
Dia membalikkan tubuhnya, menjadi terlentang. Tapi tidak buru-buru mengambil tanktopnya. Membuat Budi terpana lagi, karena yang tadi dia lihat, kini terpampang lagi dengan gamblangnya.
“Ya, tap, tap, tapi, tapi, “
“Baru aku mau bilang, kamu udah kasih duluan”
“Maksudnya?” tanya Budi bingung. Stevani dengan santainya malah tersenyum.
“Yang aku butuhin, sebenernya bukan obat” jawab Stevani.
“Tapi sentuhan” lanjutnya.
“Sentuhan?”
“Ya, kaya yang kamu kasih barusan”
Budi masih terdiam. Dia masih menimbang-nimbang lagi, kemana arah pembicaraan Stevani.
Apa mungkin ini akal-akalan dia saja?Tapi badannya panas banget tadi. Nggak mungkin akal-akalan doang. Tapi kenapa dia malah pengen digerayangi? Enak bener kawin sama dia. Kalo dia sakit, nggak perlu keluar duit. Cukup digerayangi, sembuh. Tapi apa mungkin begitu?
“Bud” tegur Stevani.
Tatapan mata itu, mengapa sayu begitu?
Cupp
Belum juga sempat bereaksi, sebuah kecupan sudah mendarat di bibirnya. Tebal dan lembut. Begitulah yang pertama tergambar dalam otaknya.
Oh, dada itu
Lagi-lagi, belum juga Budi memberikan reaksi, Stevani sudah melacarkan aksi selanjutnya. Dia melingkarkan kedua tangannya ke tengkuk Budi. gerakan itu, praktis membuat jarak mereka semakin dekat, bahkan tak berjarak lagi. Membuat dada Stevani, bersentuhan dengan lengan kiri Budi. lebih dari itu, lengan itu melesak masuk ke sela-selanya.
Lenganku? Kejepit?
Membayangkan itu, tak pelak membuat libido Budi beranjak naik. Dengan kecupan demi kecupan yang semakin gencar dia rasakan, perlahan tapi pasti, kesadarannya terenggut. Tergantikan oleh hawa nafsu yang perlahan bertahta.
Sedikit, baru sedikit, tapi Budi mulai merespon kecupan itu. Stevani tersenyum senang. Dia mulai menyemangati Budi. kepalanya dia miringkan ke kiri dan ke kanan bergantian. Menciptakan gerakan memijat yang empuk tapi padat.
Budi semakin tenggelam dalam hawa nafsunya, dan hati nuraninya hampir sepenuhnya tenggelam di dasar danau bira**
.
“Emh”
Stevani tersentak kaget. Tapi dia senang. Kini Budi sudah mulai merespon. Karena sedari tadi tangan kirinya tertawan oleh dadanya, Stevani maklum kalau Budi memerintahkan tangan kanannya untuk bergerilya.
“Emh”
Kening Stevani mengkerut, merasakan perasaan geli dan nikmat yang bercampur menjadi satu di ujung payu****nya. Keringatnya mulai keluar mengiringi bira**nya yang semakin meninggi.
Walau cuman dua jari, walau cuman dipilin-pilin, tapi rasanya sungguh memabukkan. Terusin sayang! Ini obat yang aku cari.
“Emh”
__ADS_1
Kali ini bukan suara Stevani, melainkan suara Budi. sekelebat saja bayangan Adel melintas di pikiran nya, ternyata cukup ampuh untuk membantu hati nuraninya mengambil alih kesadarannya.
“Bud?”
Stevani bingung. Mengapa tiba-tiba Budi melepaskan ciumannya, dan bergerak menjauh. Kini dia bahkan berdiri, dan hendak pergi.
“Bud, jangan pergi dulu, Bud!” cegah Stevani.
Tapi budi tidak menghiraukannya. Dia mengembalikan minyak angin dan koin untuk kerikan tadi ke tempatnya. Lalu bersiap untuk pulang.
“Please, Bud!” pinta Stevani lagi.
Tapi Budi tampak tidak peduli. Dia bersiap untuk berjalan keluar dari kontrakan ini.
“Bud, please!”
Terkejut juga Budi, melihat Stevani ada di sebelahnya, memegangi kaki kirinya. Sepertinya dia merangkak sampai ke depan sini. Dan dia seperti sudah tidak peduli, sekalipun pintu kontrakannya sedang dibuka Budi.
Budi jadi bimbang, antara percaya dan tidak. Karena Stevani memperlihatkan tingkah seolah-olah sedang sakit, kalau ada penghuni kontrakan yang lain melihat, pasti akan banyak pertanyaan tertuju padanya. Dia putuskan untuk menutup pintu itu kembali. Kemudian dia bersimpuh di depan Stevani.
“Oke, Bud. aku akui, aku emang jalang” kata Stevani pelan.
Matanya mengerjap-ngerjap, seperti orang sedang pening kepalanya. Tatapannya berganti seperti memelas.
“Kamu boleh ngecap aku apapun sesukamu. Tapi please, tolong aku! Kali ini, aja” pinta Stevani dengan kedua tangan disatukan di depan dada.
“Kamu nggak perlu bohong, kalo mau begituan, Van! Aku nggak munafik kok. Aku akui, kamu itu sangat menarik” respon Budi. Stevani terkesiap mendengar kalimat itu.
“Aku nggak bohong, Bud. Sumpah. Aku emang lagi nggak enak badan. Tapi sebenernya bukan tubuhku yang sakit, otakku yang sakit” kata Stevani menyanggah tuduhan bohong Budi.
“Maksudnya?”
“Aku, aku, aku kecanduan banget, Bud”
“Kamu ngedrugs?” tanya Budi kaget.
“Bukan” kilah Stevani.
“Otak? Sakit? Kecanduan? Bukan drugs? Terus?”
“Se**”
“What?”
“Ya, aku kecanduan banget, Bud. aku kecanduan banget sama kenikmatan itu”
“Oke, aku bisa ngerti. Tapi setahuku, kamu nggak punya cowok. Terus?”
“Mastur****. Biasanya cukup. Tapi seminggu ini, bener-bener bikin aku kelimpungan. Aku kaya orang sakau, Bud. Aku butuh bantuan, Bud”
“Tapi kamu beneran nggak make, kan?”
“Demi Tuhan, Bud. Kamu boleh bunuh aku kalo ternyata aku bohong”
“Oke. Buat sementara, anggap aja kamu emang bersih. Terus?”
“Please! Bantu aku buat dapet! Sekali aja”
“Bakal sembuh?”
“Iya. Itu penyakitku”
Sampai di sini, Budi masih menimbang-nimbang lagi. Tapi mengingat jasanya tempo hari, membuatnya tidak enak hati untuk tidak membalas jasa. Apalagi wajah Stevani memelas begitu.
“Yuk!” kata Budi akhirnya.
Dibopongnya lagi Stevani menuju kamar dalam. Ada air mata meleleh di pipi Stevani. Dia menggelayut manja di tengkuk Budi. Entah apa yang dia rasakan.
__ADS_1