
Sambungan telepon diputus dari seberang. Beberapa orang datang menanyakan ada apa kepada Budi. Jawaban Budi masih sama. Dan mereka menjadikan kejadian itu sebagai bahan perbincangan.
Budi tidak menghiraukan keberadaan mereka yang malah merumpi. Dia ambil pengki dan whipper kecil yang biasa untuk membersihkan kaca meja. Sedikit demi sedikit dia serok itu kotoran padat dan dia pindahkan ke sebuah kantong plastik.
“Astagaa. Setan dari mana sih, ini?”
Sebuah suara berseru dari arah depan. Budi yang sedang memasukkan kotoran itu sampai menoleh.
“Ada lagi nggak, Bud?” tanya orang itu.
“Mbak Rika ambil air aja tuh, dari belakang! Pinjem ember gih, dari warung situ!” jawab Budi.
“Oke”
Erika langsung menghilang di balik terpal penutup belakang stand. Budi melanjutkan pekerjaannya memindahkan kotoran-kotoran itu.
“Haih. Sebanyak itu orang, nggak ada yang bantuin?”
Seseorang lagi berkomentar dari belakang Budi. suara tenor itu, Budi juga hafal. Saat dia menoleh, orang itu menyodorkan kantong kresek baru untuk menampung kotoran yang baru saja dia serok.
“Biar Budi aja, pak. Pak Paul liat aja!” kata Budi, kemudian.
“Udah, masukin!” perintah pak Paul.
Budi hanya bisa menurut. Dalam hati dia salut sama bosnya ini. Dia masih mau berkotor-kotor membantu bawahannya. Membuat pekerjaan pembersihan ini beberapa detik lebih cepat.
“Anj***. Kalo aja tadi nggak dicover mobil double cabin, udah aku mampusin itu orang”
Suara khas Aldo menggema dari arah depan ternyata dia dan yan lainnya telah kembali. Tapi dari sungutannya, Budi bisa menebak, kalau mereka gagal menangkap pelaku itu.
“Lah, gimana sih, masa banyakan gitu nggak ada yang bisa nangkep satupun?” suara Erika ikut menggema.
“Aih, udah hampir, mbak. Tapi aku disodok mobil. Ampek mental nih, aku” jawab Aldo.
“Astaghfirulloh. Do, ke klinik dulu gih! Obatin dulu lukanya!” kata Budi menyarankan.
“Anterin gih, Ki!” lanjut Budi meminta Riki.
“Apaan sih, Bud? lecet doang, kok. Kaya apa aja” kilah Aldo.
“Tapi pegel semua tu besok, kalo nggak diobatin” kata pak Paul.
“Nggak papa, pak. Tenang aja. ini lebih penting buat diduluin” jawab Aldo sambil menunjuk kotoran-kotoran yang masih tersisa. Pak Paul terdiam. Dia hanya tersenyum sambil menepuk pundak Aldo.
“Ini airnya, mau gimana?” tanya Erika.
“Ki, itu bekasnya kamu guyur gih! Bayu, Deni, cari sabun gih, sama sikat!” jawab Budi memberikan perintah.
“Oke” jawab Riki”
“Aku aja yang cari sabun sama sikat” kata Bayu.
“Aku pinjem ember lagi deh” sahut Deni.
“Biar saya yang buang, pak” kata Aldo. Dia meminta kresek hitam yang dipegang pak Paul. Pak Paulpun memberikan kresek itu.
“Awas lu setan! Kalo ketemu, beneran gua matiin, lu” Gumam Aldo geram.
Sesekali Budi menahan mual yang yang mulai mendera perutnya. Aroma kotoran ini seperti campuran berbagai macam kotoran. Terlebih yang mendarat di sofanya.
Erika berinisiatif memberikan blazernya untuk dijadikan masker. Tapi Budi menolaknya dengan halus. Wajah Adel yang tiba-tiba muncul di benaknya, mengingatkannya pada apa yang belum lama dia katakan. Menerima blazer itu, dia takut diartikan berbeda oleh Erika.
Bersama dengan Aldo, dia berusaha membersihkan sofanya. Tapi bahan yang menyerap air begini, akan susah hilang aromanya. Budi berpikir keras, bagaimana caranya menghilangkan bau ini, sebelum pagi. Sampai semua lantai dan meja yang terkena kotoran selesai dibersihkan, Budi belum menemukan ide. Dia menghela nafas berat.
“Assalamu’alaikum”
Perhatian mereka teralihkan pada seseorang yang mengucapkan salam. Tak terkecuali dengan Budi.
“Tata?” gumam Budi.
__ADS_1
Di belakangnya, terlihat trio tukangnya yang ikut datang. Ada Madina juga yang ikut datang. Mereka bingung dengan keramaian di stand ini.
“Kok Tata ikut?” tanya Budi.
“Ya Abisnya Abram bikin penasaran. Tiba-tiba teriak. Ditanya ada apa, nggak jawab” jawab Adel.
“Kang, itu sofa ada yang ngelempar sama kotoran. Tadi ada kotoran cairnya juga. Gimana ngebersihinnya, ya?” tanya Budi ke kang Supri.
“Waduh, ngeresep dong, gan?” sahut kang Mangil.
“Ya gitu, kang” jawab Budi.
“Nggak ada cara lain, bos. Harus dibongkar” jawab kang Supri.
“Aduh. Harus berapakali nyuci itu, baru ilang?” keluh Budi.
“Nggak usah dicuci, bos. Ganti aja! masih sisa kok, bahannya. Cukup kayaknya buat ganti full” sahut kang Bejo”
“Aah, bener itu, bos” komentar kang Supri.
“Perlu berapa lama?”
“Nggak nyampe semalem. Subuh juga udah kelar” jawab kang Bejo.
“Ya udah, cari mobil gih, kang!” pinta Budi.
“Ambilin di pabrik aja, Ka!”
Suara pak Paul menggema, memberikan perintah pada Erika.
“Adiknya Sukron lagi cari muatan, tadi. Lagi bokek bilangnya” suara kang Bejo mengalihkan perhatian Budi.
“Ya udah, panggil kang! Deket kan?” pinta Budi.
“Deket. Pucang situ doang” jawab kang Bejo.
Sembari menunggu mobil datang, Budi mengajak ketiga tukangnya untuk membongkar sofanya. Menjadikannya bagian-bagian terpisah. Yang nantinya hanya dibawa bagian yang harus mendapatkan penggantian bahan.
“Nah itu orangnya” seru kang Bejo.
Merekapun lantas memboyong sofa itu menuju mobil pick up yang parkir di belakang stand. Budi meminta ketiga tukangnya untuk ke bengkel kayu terlebih dahulu. Budi bilang ingin membereskan yang di stand dulu. Merekapun pergi.
*Huwannuru yahdil kha irina dziyau hu*...
Ponsel Budi tiba-tiba berdering. Dia yang hendak bicara sesuatu kepada pak Paul, jadi tertunda. Dia mengernyitkan keningnya setelah membaca nama yang terpampang di layar ponselnya.
“Assalamu’alaikum. Ndi, udah sehat?” sapa Budi setengah berseru.
Sontak seruan Budi membuat beberapa orang bingung. Pak Paul dan Erika saling pandang. Mereka seperti memikirkan sesuatu.
“Mereka itu udah kaya gigi sama lidah” celetuk Adel.
Dia merasa tatapan itu seperti tuduhan kepada Budi. Mendengar celetukan itu, otomatis perhatian keduanya teralihkan ke Adel. Bahkan Madina juga ikut tertarik.
“Ya. Memang, kemarin mereka abis duel. Karena saya” lanjut Adel. Mereka masih tidak berkomentar.
“Terkadang mereka bertengkar karena berbeda pandangan. Tapi bagaimanapun juga, akhirnya mereka baikan lagi. Rasa persaudaraan mereka, membuat rasa maaf mereka selalu lebih besar daripada murka mereka” lanjut Adel lagi. Mereka masih terdiam.
“Ta. Pinjem hapenya, dong”
Sapaan Budi mengalihkan pandangannya. Dia yang tidak fokus, jadi bingung.
“Ini aja, mas” sahut Madina.
Dia mengacungkan ponsel yang sudah masuk aplikasi catatan. Ada pena stylusnya juga.
“Pinjem” kata Budi.Dia menerima ponsel uluran Madina.
Budi kembali memunggungi Adel dan yang lain. Tangannya sibuk menulis sesuatu di ponsel Madina. Hanya sepatah-sepatah saja, kata yang keluar dari mulutnya.
__ADS_1
“Oke. Makasih, Ndi. Cepet sembuh, ya! Sory, belum bisa nengokin” kata Budi mengakhiri percakapan telepon itu. Dia mengirimkan catatan itu ke nomornya.
“Makasih, Din” kata Budi saat mengembalikan ponsel itu.
“Sama-sama,mas” jawab Madina.
Tanpa bicara lagi, Budi balik kanan dan mengambil jaketnya.
“Bram. Mau kemana?” cegah Adel saat Budi hendak berlalu begitu saja.
“Mau ngasih pelajaran sama cecunguk itu” jawab Budi.
“Bram. Jangan aneh-aneh, deh! Biarin ini semua diatasin sama Natasya!”
“Natasya masih ngerawat Sandi”
“Bram, please. Kita abis masuk jebakan. Jangan sampe kita masuk jebakan lagi” kata Adel lirih. Semua mata tertuju pada mereka.
“Abram tahu apa yang abram lakuin. Tata tunggu sini aja!” jawab Budi.
“Braaaaam” seru Adel saat Budi balik kanan dan berlalu.
“Budi”
Sebuah panggilan dari orang yang suaranya sangat Budi kenal, sanggup menghentikan langkahnya. Dia balik kanan.
“Biar mereka aja”
Budi mengernyitkan dahinya. Entah kapan datangnya, tiba-tiba ada dua orang di belakang pak Paul. Salah satu diantaranya sedang berbincang dengan Madina. Saat yang satunya menurunkan masker kainnya, baru Budi mengenalinya.
“Kamu nggak boleh sakit, karena tindakan konyol. Biar mereka yang ngurus cecunguk itu” lanjut pak Paul.
Budi menghela nafas dan mengangguk. Dia berjalan menghampiri pak Paul dan kedua orang di belakangnya.
“Mereka bukan *******. Jangan dimatiin!” kata Budi.
“No problem” jawab orang yang berseragam scurity itu.
“Waktu kalian satu setengah jam. Ekstraksi, lima klik ke barat. Baron merah” kata Budi lagi.
“Oke”
Merekapun pamit untuk menjalankan tugas. Budi melihat jam tangannya, lalu menengadah ke atas. Lalu berpose seperti ada kamera drone di atas kepalanya. Semua yang melihat tergelak melihat kelakuannya. Seperti orang stres, kata Riki.
“Bud, pulang dulu, gih!” saran pak Paul. Budi seperti hendak menjawab, tapi punya banyak pertimbangan. Walhasil hanya gerakan mulutnya saja, membuka dan menutup.
“Kamu udah nunjukin dedikasi kamu seharian ini. Sekarang kamu kena musibah, sama kaya Aldo. Di sini udah ada yang ngurus, dan udah beres. Jadi sekarang, kamu pulang dulu! Kamu punya hak buat ngurus kepentingan pribadimu” lanjut pak Paul.
“Kan saya sudah janji, pak” kata Budi.
“Kamu janji sama perusahaan, kan? Dan aku yang punya perusahaan. Aku yang kasih ijin kamu buat pulang. Jadi janji mana yang kamu ingkari?” potong pak Paul. Budi tertegun beberapa saat.
“Baik, pak. Bapak bisa melepon saya jika saya diperlukan!” jawab Budi.
“Oke” sahut pak Paul.
“Aldo juga pulang, ya! jangan lupa ke klinik!” perintah pak Paul kepada Aldo.
“Baik, pak” jawab Aldo.
“Permisi, pak” pamit Budi.
“Ya” jawab pak Paul.
“Gaes. Assalamu’alaikum” pamit Budi pada yang lain.
“Wa’alaikum salam” jawab mereka.
Budi segera balik kanan, mengajak Adel dan Madina untuk segera ke parkiran. Dalam perjalanan itu, Budi menanyakan bapak dan ibunya Adel. Tentang bagaimana bisa Madina juga ikut ke tempat ini. Ternyata pak Fajar dan bu Lusi sedang pergi ke solo untuk selamatan kematian pak Imam Pratama. Budi mencoba tersenyum, walau dalam hati dia merasakan cemburu.
__ADS_1