
Tangan Adel bergetar saat dia disodori selembar kertas oleh pak penghulu. Sebuah kertas yang menjadi catatan akan sejarah apa yang terjadi di sore ini. Air matanya seolah tak mau berhenti mengalir. Dia sama sekali tidak bisa menyembunyikan kesedihan hatinya. Bayang-bayang kemesraan dan cita-cita tinggi bersama Budi seolah berunjuk rasa di kepalanya.
*Bram, maafin Tata! Tata nggak sanggup ngelawan takdir ini. Tata ngga tahu mesti gimana lagi. Maafin Tata, Bram! Tata udah ingkar sama janji Tata. Maafin Tata*!
Dua titik air mata menjadi pengiring tinta tanda tangan Adel pada kertas itu. Yang berarti, pernikahan mereka telah tercatat secara sah, meskipun baru secara agama.
*Ya Alloh, berilah kami jalan yang mudah, untuk bisa saling menerima dan melupakan kisah diantara kami. Berilah kekuatan buat Abram ya Alloh, untuk bisa mengiklaskan kepergian hamba ya Alloh! Begitu juga buat hamba ya Alloh, berilah hamba kekuatan hati, untuk bisa iklas mengabdi kepada suami hamba*!
Cincin warisan dari bu Susan, kini sudah berpindah tangan ke jari kelingking Adel. Untuk pertama kalinya, dia merasakan perasaan malu terhadap Luki.
Keangkuhannya dulu, harus runtuh oleh dahsyatnya terjangan gelombang takdir. Kini dia harus iklas mencium tangan Luki. Dan diapun kini harus iklas keningnya dikecup oleh Luki.
*Keeeehhh.... heeekkhh*
“Bapak?” gumam Adel.
“SUSTEEEERR” teriaknya kemudian.
Semua yang ada di seputaran ranjang rawat pak Fajar, buru-buru menyingkir. Memberikan ruang untuk suster menangani pak Fajar. Dokterpun dengan tergopoh-gopoh datang. Sambil mendekat dokter itu meminta semua tamu untuk keluar dari ruang rawat.
Semua orang patuh dengan perintah dokter itu, kecuali Adel. Dia sama sekali tidak mau beranjak. Dia masih berdiri diluar tirai pembatas.
Sekuat tenaga dia menahan perasaan pilu saat medengar suara-suara menyayat hati dari mulut bapaknya. Tekadnya kini hanya satu, menuntaskan pengabdiannya yang tidak seberapa itu. Menemani bapaknya hingga detik-detik terakhirnya.
“Mbak Adel”
Adel tersentak namanya dipanggil oleh salah satu suster itu.
“Iya” jawab Adel. Serta merta dia mendekat, walau belum diperintah.
“Mbak, tuntun bapak untuk bersyahadat!” pinta bu dokter.
“Apa?” tanya Adel tersinggung.
“Nggak ada waktu lagi, Adel” tegur salah satu suster. Dan ternyata itu adalah suster Feni.
Setelah sempat beradu pandang sejenak, Adel lantas mendekat ke telinga kanan bapaknya. Hatinya serasa diiris-iris mendengar suara-suara yang keluar dari mulut bapaknya.
“Mbak. Udah nyampe ke perut. Pahanya udah dingin” tegur dokter itu.
“Oh, iya” Adel tersentak mendengar teguran itu.
“La illah illalloh, Muhammadar rosululloh” kata Adel membimbing bapaknya bersyahadat.
Dia ulangi lagi, lagi, dan lagi. Dan dia seperti orang panik, disaat dia merasakan pundak bapaknya juga sudah mulai dingin.
“La illah illalloh, Muhammadar rosululloh”
Tidak terdengar ada kalimat yang keluar dari mulut pak Fajar, selain suara-suara memilukan. Tapi kemudian berhenti begitu saja.
“Bapak?” gumam Adel bingung.
“Pak? Bapak?” kata Adel lagi.
Dia goyang-goyang lengan kanan bapaknya. Tapi tidak ada reaksi. Adel masih belum yakin dengan apa yang dia pikirkan.
“Innalillahi wa inna ilaihi roji’un”
Para suster dan dokter itu berucap sama bersamaan. Membuat Adel mendongak melihat monitor detak jantung.
“BAPAAAAAKK”
***
TAAARRRR
“Astaghfirulloh”
Budi kembali dikejutkan oleh gelas yang tiba-tiba patah gagangnya dan pecah berkeping-keping karena beradu dengan lantai.
Tapi kali ini tida ada yang mencandainya. Kelima orang di hadapannya itu tahu, gelas itu sudah beberapa lama dipegang Budi di udara. Bukan baru diambil dari lantai seperti sebelumnya.
Melihat Budi tertegun, Ratna merasa wajar, kalau Budi merasa ada yang aneh. Karena dia sempat melihat, gelas itu seperti ada yang menampar. Dia berinisiatif untuk memunguti pcahan gelas itu. Budi segera tersadar dan melarang Ratna memunguti pecahan gelas itu. Kali ini dia sendiri yang membersihkan pecahan itu. Walau pastinya, di dalam kepalanya dia terus bertanya-tanya, ada apa gerangan.
Seperti sebelumnya, Budi kembali menghubungi ibu dan adiknya. Dia sangat penasaran dengan peristiwa tadi. Dia sangat menghawatirkan keadaan keluarganya. Tapi mereka berdua masih saja tidak bisa dihubungi. Perasaannya semakin hawatir, saat kekasihnya juga tidak merespon panggilannya. Semua orang yang dekat dengan Adel juga tidak merespon panggilannya.
*Huwannuru yahdil kha irina dziyau hu*...
Tiba-tiba saja ponselnya berdering. Tepat bersamaan dengan berderingnya ponsel Ratna. Ponsel yang baru diletakkan di lantai itu dia raih lagi. Tapi bukannya senang, dia malah mengernyitkan keningnya. Dia merasa aneh saat membaca nama penelepon yang terpampang di ponselnya.
“Halo assalamu’alaikum”
Suara khas yang di sudah sangat hafal. Namun aneh mengetahui orang itu menelepon dirinya. Apalagi dengan nada bicara seolah kegirangan.
“Wa’alaikum salam. Apa kabar Bude?” jawab Budi, dilanjut dengan basa-basi.
Dalam benaknya, banyak sekali pertanyaan bermunculan. Dia berdiri untuk mengambil air minum di dispenser, di pojok seberang.
“Kabar baik, Bud. Kamu di sana juga baik-baik aja, kan?”
“Alhamdulillah. Sehat selalu, bude. Pakde Kusno, gimana kabarnya, bude?” jawab Budi, setelah menuangkan air ke dalam gelas.
“Pakdemu sehat”
“Apa yang bisa Budi bantu, de?” tanya Budi langsung pada inti.
“Enggak. Bude cuman mau kasih ucapan selamat aja”
__ADS_1
Budi sempat hampir tersedak, disaat baru mulai minum. Beruntung dia dapat mengendalikan pernafasannya.
*Bude Kusno ngasih aku ucapan selamat? Astaghfirulloh. Ada apa ini? Apa dia macam-macam sama ibu? Awas kalo cuman gara-gara Adi dipenjara sampeyan nyakiti ibu sama Putri*.
“Maksud Bude?”
“Kalo soal Adi sih, ya udah, lah. Lama-lama bude juga capek ngurusin dia”
*Serius, capek? Takut kali, diusir pakde lagi. Oh, apa jangan-jangan bude dipaksa pakde buat ngebaikin aku*?
“Lalu?”
“Ya. lama-lama bude kagum juga sama kamu. Ternyata kamu jago hukum juga. Jadi, selamat ya, udah sukses menangin kasus itu. Semua yang nyakitin kamu, udah dapat hukumannya. Termasuk yang maki-maki ibu kamu”
“Yang mana, De?” tanya Budi belum paham.
“Yang ngata-ngatain ibumu di depan rumahmu dulu itu lho, yang abis banjir”
*Loh itu kan bu Lusi sama pak Fajar*.
“Oh, iya. Terus?” tanya Budi masih berusaha kalem, dan suaranya dia buat seolah-olah tidak kenal dengan orang yang dimaksud budenya.
“Udah inget belum? Itu lho ibu-ibu yang ngatain kamu, tukang ojek”
“Iya. Terus, kenapa sama mereka, De?”
“Inget kan, yang mau dikeroyok warga?”
“Iya”
“Itu kan lakinya mati”
*JEDEEERRRR*
Bagai ada petir yang menyambar tepat di telinganya, Budi terkejut mendengar kata-kata budenya.
Tapi sesaat kemudian, dia teringat, kalau Budenya memang suka mengolok-oloknya. Apapun bisa budenya jadikan bahan untuk meledeknya. Sekalipun hal-hal menyedihkan semacam kematian. Kematian bapaknya saja dijadikan bercandaan buat dia.
“Hempf. Ha ha ha ha” Budi tertawa menanggapi ucapan budenya.
“Heh, ketawamu itu, kaya nggak percaya sama bude?” tegur bu Kusno.
“Budi juga mau kasih kabar gembira buat bude. Bukan ucapan selamat sih. Ya, sekedar kabar kecil, lah. Kalo di lapas, sekarang ada bilik khususnya. Jadi, kalo bude kangen sama Adi, tinggal maen aja ke lapas. Sipirnya asyik kok, orangnya” jawab Budi.
“Maksud kamu apa? Kamu pikir budemu ini udah gila? Berhalusinasi, gitu?"
“Ya mumpung belum, bude. Mencegah kan lebih baik daripada mengobati. Jangan sampe kebablasan! Kasihan si Adi”
“Dasar keponakan nggak tahu terimakasih. Dikasih kabar bagus malah ngatain budenya stres. Huh”
*Tuuuut*
“Kamu kenapa sih Bud, girang banget? Siapa yang nelepon?” tegur Erika.
Budi yang sedang menenggak sisa minumannya, tidak langsung menjawab. Dia hanya melirik sekilas ke arah Erika.
“Budeku” jawab Budi pendek.
Erika sempat menoleh ke rekan-rekannya. Tapi Budi tidak tahu, karena dia kembali menatap ponselnya. Mereka yang dilihat Erika, tak ada yang bersuara. Wajahnya juga sendu semua.
“Masa sama bude sendiri gitu?” tanya Erika, dengan nada wajar.
“Halah, pura-pura nggak tahu. Pasti udah tahu, lah” kilah Budi.
“Iya sih. Cuman kenapa kok sampe girang banget gitu?”
“Ya abisnya, tiap ngeledekin aku nggak ada otaknya. Giliran diledek balik, ngamuk” jawab Budi sambil tergelak.
“Jadi makin kepo, aku. Berani banget kamu sama orang tua” komentar Erika.
Budi yang kembali menenggak air mineral hanya tergelak sesaat. Lalu fokus menghabiskan minumannya.
“Ya abisnya, segala ngatain bapaknya Adel mati” jawab Budi.
Tanpa Budi ketahui, Ratna dan yang lain ternganga mendengar jawaban Budi. Mereka seperti hendak memekik, tapi mereka tahan. Hingga tidak mengeluarkan suara.
“Mana gayanya ngasih selamat, lagi. Kurang ajar banget, kan?” lanjut Budi. Erika masih tidak berkomentar.
“Sampe hafal aku, gaya dia. Dan hoak kaya gitu, paling efektif dilawan sama kecuekan atau sama aibnya dia. Pasti ngamuk. Kaya barusan. Ha ha ha ha”
“Oh” komentar Erika pendek. Lalu dia pergi keluar dari kamarnya.
Budi merasa aneh dengan sikap Erika. Terlebih disaat melihat ke arah rekan-rekannya, dia melihat semuanya seperti sedang bersedih. Hanya saja seperti ditahan. Tambah aneh saat Hilda juga keluar dari kamar ini setelah menatapnya beberapa saat.
“Kalian kenapa?” tanya Budi kemudian.
Tapi tidak ada yang menjawab. Budi menebak-nebak, mungkin mereka tidak suka dengan gaya bicaranya ditelepon, tadi.
“Oh, oke. Emang aku punya sisi buruk. Aku punya bude yang perangainya buruk. Dan udah lama kita berseteru. Tapi emang nggak seharusnya aku ngeluarin kata-kata kaya tadi di sini. Aku minta maaf, ya?” lanjut Budi menjelaskan.
“Enggak kok, Bud. Bukan itu” sahut Deni.
“Terus?” tanya Budi bingung.
Deni tidak segera menjawab. Dia menoleh ke kanan. Bayu Dan Ratna menoleh ke Deni. Mereka malah saling menatap dan terlihat bingung.
“Ada apa, sih? Ngomong, dong!” tanya Budi semakin bingung.
__ADS_1
“Mas. Mbak Farah mau bicara” kata Ratna.
Dia menghampiri Budi dan memberikan ponselnya.
“Halo, assalamu’alaikum” sapa Budi.
“Wa’alaikum salam” jawab Farah dengan terisak.
Suara Farah terdengar jelas, karena budi mengaktifkan pelantang suara ponsel itu.
“Kamu kenapa, mbak?” tanya Budi bingung.
“Bud. Maafin aku ya!” pinta Farah.
“Maafin buat apa?” tanya Budi semakin bingung.
Tapi Farah tak segera menjawab. Dia masih terisak sampai beberapa saat lamanya.
“Kalo mengenai kontrak sama Mr. Isaac, aku nggak nyalahin kamu kok, mbak. Aku tahu kamu udah ngusahain yang terbaik” lanjut Budi, mendapati Farah tak kunjung menjawab.
“Ya tapi Endingnya, Bud” sahut Farah, kemudian.
“Sakit itu ujian, mbak. Kita doakan aja, semoga pak Fajar cepat diberikan kesembuhan”
“Tapi pak Fajar, Bud”
“Pak Fajar kenapa? Pak Fajar dioperasi?” tanya Budi mulai panik.
Farah malah menangis semakin tersedu-sedu.
“Mbak. Jawab, dong!” pinta Budi dengan suara mulai meninggi.
“Pak Fajar meninggal, Bud” jawab Farah.
*Daaarrr*
“Apa?”
Budi terkejut mendengar Farah berkata demikian. Rasionalitasnya masih menolak pernyataan itu. Terlebih baru saja ada yang mengolok-olok dirinya.
“Mbak. Jangan aneh-aneh deh! Nggak lucu tahu”
“Siapa yang ngelucu, Bud?”
“Kalo emang bener pak Fajar udah nggak ada, pasti Adel ngabarin aku, lah”
“Adel pingsan, Bud. Madina sama bu Lusi juga pingsan. Keos di sini, Bud”
“Apa?”
“Mbak, mohon minggir sebentar, ya! Jenazah mau lewat”
Terdengar suara seorang perempuan seperti menegur Farah.
“Sus, ini pak Fajar? Mbak Adelnya mana? Saya temennya” tanya Farah.
“Iya, betul. Mbak Adelnya masih dirawat” jawab orang yang menegur tadi.
“Terus, ini perintah siapa?”
“Ini permintaan suaminya, mbak”
*Jedeeeeeerrrr*
“Beliau minta supaya jenazah pak Fajar segera dipulangkan untuk dikebumikan” jawab orang itu.
Bagai ditimpuk bom atom, pandangan mata Budi gelap seketika. Tubuhnya sempat limbung, namun tertahan dispenser.
“Oh. Baik. Terimakasih, sus” kata Farah.
“Sama-sama”
Walaupun Ratna sudah tahu lebih dulu tentang meninggalnya pak Fajar, tapi dia juga ikut terkejut mendengar kata suami yang diucapkan suster tadi. Terdengar suara ranjang beroda berjalan.
“Siapa suami yang dibilang suster tadi, mbak?” tanya Budi. Suaranya terdengar berat.
“Bukan, bukan suami. Suster tadi salah ucap, Bud” jawab Farah tergagap.
“Mbak. Jangan main-main!”
“Bener, Bud. Suster tadi salah sangka. Aslinya nggak gitu” jawab Farah.
“Pak, pak”
Terdengar seseorang memanggil. Terdengar suara langkah kaki yang berjalan tergesa-gesa. Di tempat yang agak jauh sedikit, terdengar suara langkah kaki orang yang berlari.
“Ya?"
Suara seorang laki-laki terdengar sangat dekat dengan Farah. Farah jadi terdiam.
“Tolong mintakan tanda-tangan penggunaan ambulance jenazah ke bapak Luki Pratama, suaminya saudari Adelia Fitri, anaknya almarhum”
*DAARRRR*
“MAS BUUDD”
Ratna memekik kencang, saat ponsel yang dipegang Budi terjatuh, dan Budi limbung ke depan.
__ADS_1
“TOLOOONG”