Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
Beberapa waktu sebelumnya


__ADS_3

Pagi itu, setelah pertemuan dengan Sephia, adel sudah menikmati secangkir kopi buatan Shinta. Bersamanya, ada Tati dan Erika. Mereka berdua ikut menginap di rumah Shinta bersamanya.


Awalnya, saat Adel menyatakan keinginannya untuk menginap di rumah Shinta, bapaknya berniat untuk mengantarkannya. Tapi Adel menolak, dengan alasan sudah ingat jalan. Hanya tentang Shintanya yang belum ingat. Kalau mau memang mau memastikan tidak tersasar, Adel minta ditemani Madina. Tapi permintaan itu ditolak. Akhirnya Adel merajuk, dan Pergi tanpa pamit. Bapaknya tertawa dan geleng-geleng kepala. Kata pak Fajar, itu memang Adel anaknya. Kalau tidak mau, ya tidak mau.


Tapi ternyata pak Fajar tidak membiarkan begitu saja, Adel pergi tanpa pengawalan. Dia meminta Tati untuk mengawasi dari jauh. Dan Tati menyanggupi permintaan itu. dia menunggu di tempat yang sekiranya tidak terlihat oleh Adel. Lalu dia menelepon Erika untuk ikut membantunya mengawal Adel. Erika juga menyanggupi. Di kota, Erika sudah bersiap mengawal Adel. Malam itu dia memakai motor saja.


Tapi ternyata, Adel memang selangkah lebih di depan. Berkat ilmu yang pernah dikasih oleh mantannya, dia jadi bisa menebak apa yang akan dilakukan bapaknya, setelah dia merajuk. Dan benar saja. Saat berada di rooftop, Adel melihat keduanya sedang berputar-putar mengelilingi jalan pantai, sambil menunggunya keluar.


Saat sudah di rumah shinta, langsung saja Adel menelepon mereka bersamaan. Mengundang mereka untuk ikut menginap. Undangan Adel kali itu, berarti pemaksaan bagi mereka. Mau tidak mau, mereka akhirnya mau. Untuk kesekian kalinya, Sinta cekikikan, mengingat cerita Adel semalam.


“Udah kenapa, ketawanya? Gitu amat sih?” protes Tati.


“Ha ha ha ha. Abisnya, konyol” jawa Shinta sambil tertawa.


“Tapi ini fakta baru, loh” lanjut Shinta.


“Fakta apa? Fakta kalo kita oon jadi intel?” sahut Tati.


“Ha ha ha bukan” jawab Shinta sambil tertawa. Tawa lepasnya sukses membuat Adel dan Erika juga ikut terawa.


“Fakta kalo orang yang menderita lupa ingatan, ternyata nggak berkurang kecerdikannya” lanjutnya.


“Bukan cerdik, kalo Adel sih. Jahil” tolak Tati.


“Kok jahil, sih?” tanya Adel dalam tawanya.


“Gimana nggak jahil? Lantai ruang tamu gua, lu tempelin stiker ular kobra. Gua buka pintu, itu ular kobra udah berdiri gini, nih” jawab Tati. Tangannya dia buat menyerupai ular kobra siap menyerang.


“Ha ha ha ha” mereka semua tertawa.


“Masa sih?’ tanya Adel. Hanya dia sendiri yang tidak lepas tertawanya, melihat wajah Tati seperti jengkel.


“Lu tanya orang kampung gua, semuanya tahu, Del “ jawab Tati.


“Ha ha ha ha” Erika dan Shinta semakin kencang tertawanya.


“Jungkir balik, gua lari ketakutan, Del” lanjut Tati.


“Hmpf. Ha ha ha ha” Adelpun tidak sanggup menahan tawanya lagi.


“Tuhkan, jahil. Temennya jungkir balik dia malah ketawa”


Bang – bang wes rahino. Bang –bang wes rahino


Ponsel Adel berbunyi. Membuat tawanya perlahan mereda. Dia tampak agak kesal, melihat nomor yang muncul di ponselnya.


“Kenapa, Del?” tanya Erika.


“Ini” jawab Adel sambil menunjukkan layarnya pada Erika. Sebuah nomor tak dikenal. Bahkan tidak muncul nomornya di layar.


“Aku pinjem kamarnya ya, Shin? Aku mau amuk dia” pinta Adel pada Shinta.


“Oh, iya. masuk aja, mbak!” jawab Shinta.


Adelpun masuk ke dalam kamar itu. dan langsung menerima panggilan dari nomer yang tidak muncul di layar itu.

__ADS_1


“Sori, del. Gua emang harus bikin lu emosi dulu. Lu udah misah dari mereka kan?” kata orang di balik telepon itu.


Gila, sephia bisa ngatur psikologi gua. Kapan dia ketemu gua? Kok udah tahu karakter gua? Gila ini orang.


“Sandi titip salam buat kamu. Dia prihatin atas apa yang nimpa kamu. Dan dia minta aku buat bantu kamu usut kasus ini sampe tuntas” nada bicaranya sudah merendah.


“Emangnya kamu polisi?”


“Ha ha ha ha. Sejak kapan Sandi temenan sama Polisi?”


Suara Adel masih terdengar lirih. Dia tidak menutup pintu kamar Shinta sampai rapat. Dan dia menghadap ke celah yang tersisa itu untuk mengawasi keadaan di luar. Dia buat agar gestur tubuhnya, seperti sedang konsentrasi dengan pembicaraannya, bukan sedang mengawasi keadaan.


“Usut dengan cara kita? Oke. Terus?”


“Aku harap, kamu bisa segera menyusun pertemuan, dengan cowok kamu”


“Kenapa sama dia juga?”


“Kamu bilang, dia jago bela diri. Harusnya dia juga jago strategi. Dan jago akting juga”


“Maksud kamu?”


“Ya, seperti yang kamu pikir”


“No”


“Just one chance, baby. If you dont pick up this chance, you will be just what you say. No more Adelia Fitri, like you know. Sooner or later. The threath is not stopped yet” kata Sephia.


Adel tidak segera menjawab. Dia berpikir keras untuk menentukan pilihan. Apa yang ada dalam pikirannya, cukup mengganggu hatinya. Tapi kalau dia tidak mengambilnya, benar apa kata Sephia, bisa jadi kejadian malam itu akan terulang. Dan dia malah akan kehilangan semuanya.


“Calon iparmu, dan cowoknya, pastikan ikut juga, ya!”


“Hei, calon iparku baru seumuran adikku. Mau buat apa, dia?”


“Aku nggak datang buat nyelakain siapapun. Apa kamu masih butuh bukti lain? Apa darahku masih kurang, buat nunjukin kalo aku setia sama Sandi?”


Adel menarik nafas, mendengar jawaban itu. dia sadar, kalau tetesan darah yang masih dia bawa itu, adalah bukti tertinggi yang pernah dia dapat. Bukti identitas dan kesetiaan dari setiap orang yang sandi kirimkan padanya.


“Oke. aku usahain” jawab Adel.


“Sip. Sampai nanti”


“Tuuuut”


Sambungan telepon diputus dari seberang. Adel merasa tersinggung dibuatnya. Dia merasa kalau Sephia punya rasa cemburu padanya. Tapi itu hanya sebentar. Dia langsung menghubungi Budi untuk menyampaikan berita itu. Budi menyanggupi permintaan Adel, walau sempat berdebat terlebih dahulu.


***


Back to present day


Malam ini, Budi tidak pulang ke rumah. Dia sedang main di rumah Sugondo. Ada acara bakar ikan di halaman belakang. Sejumlah orang juga ikut acara bakar ikan itu. Saat sedang asyik-asyiknya bakar ikan, mendadak listrik padam. Membuat suasana menjadi gelap gulita. Hanya di sekitaran bara arang saja yang masih terlihat oleh mata.


“Aku beli lilin dulu, ya?” pamit Sugondo.


“Emang sampeyan nggak punya lampu emergency, pak?” tanya Budi.

__ADS_1


“Enggak. Abisnya kan sekarang jarang banget mati lampu” jawab Sugondo.


“Ati-ati pak! Kata orang yang duduk di samping kiri Budi”


“Jangan kaya anak kecil!” sahut yang disebelahnya.


“Ya” jawab Sugondo.


Dia tergelak, karena dianggap seperti anak kecil. Yang lain juga tertawa mendengar kelakar kedua orang itu. langit yang mendung, menambah suasana menjadi tambah gelap.


“WOOO”


Terdengar Sugondo berteriak. Dan juga terdengar suara dia berlari kembali ke belakang. Semua orang waspada, dan beranjak pergi.


BAKK


BAKK


BAKK


Terdengar suara perkelahian di dekat Dapur. Semua orang yang ikut bakar ikan, telah pergi masuk ke dalam rumah. Budi juga ikutan. Tapi dia paling belakang.


Saat masuk ke dalam rumah, sesekali terlihat seberkas cahaya menyala menyilaukan mata. Seseorang yang hendak menghajar Sugondo limbung, terkena tembakan cahaya menyilaukan itu. langsung saja, orang itu dihajar beramai-ramai, oleh teman-teman Sugondo.


Saat penyerang yang lain ingin menolong temannya, seberkas sinar lain menyala mengarah ke matanya. Dan tak menunggu lama, dia juga ikut menjadi korban. Tiga, empat, lima. Total ada lima orang yang merangsek masuk ke dalam rumah Sugondo, dan ingin menghajarnya. Dan kesemuanya, tumbang di tangan teman-temannya Sugondo.


“Dasar cecunguk. Bocah kemarin sore aja, sok-sokan” komentar salah seorang teman Sugondo.


“Alatnya emang keren, nightvision googles. Tapi yang makenya oon” komentar yang lain.


Kelima orang penyerang itu, diringkus oleh teman-temannya Sugondo. Salah seorang dari mereka, menyiapkan sebuah mobil berjenis multy passanger vehicle. Dan kelimanya, dimasukkan ke dalam mobil, lalu dibawa pergi.


***


Tidak hanya Budi yang sedang tidak di rumah malam ini. Adel juga sedang tidak di rumah. Dia sedang bersama Sephia, di sebuah bangunan tua mirip gudang. Dia sedang asyik menikmati sepiring nasi goreng. Sedangkan Sephia, sedang menikmati rokoknya.


Di luar ruangan itu, tepatnya di tengah-tengah bangunan mirip gudang itu, seseorang tengah terduduk di sebuah kursi kayu. Tubuhnya terikat, dan kepalanya tertunduk. Tampak dia sedang tidak sadarkan diri.


Beberapa saat kemudian, orang itu tersadar. Awal mulanya, dia masih berusaha untuk mengumpulkan kesadarannya. Dia belum menyadari, dimana dia berada.


“Eh, kenapa, kenapa aku terikat? Dimana ini?” dia mulai menyadari keadaannya.


“HOEEE... KELUAR BANG***! TUNJUKIN BATANG HIDUNG LO! JANGAN BERANINYA NGEBOKONG SETAN!” teriak orang itu. beberapa saat lamanya, tidak ada satu jawabanpun.


“ANJ****. KELUAR, KURA*!” teriaknya lagi.


*Krieeet*


Perhatiannya tersita ke arah pintu yang terbuka. Penerangan yang remang-remang itu, membuat penglihatannya tidak menangkap secara jelas, siapa orang yang keluar dari dalam ruangan itu.


“Halo. Apa kabar?”


Mata orang itu membulat, saat mendengar sapaan itu.


“Adel?” tanyanya heran.

__ADS_1


__ADS_2