Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
pengacara stevani mulai beraksi


__ADS_3

Siang ini, lingkungan di sekitar kontrakan Stevani tampak lengang. Karena memang masih waktunya orang bekerja. Seorang laki-laki sedang berjalan seorang ibu-ibu. Mereka berjalan menuju kontrakan yang berada di barisan kanan, menghadap kiri. Kamar yang paling depan.


“Nah mas Hendra, ini kamarnya” kata ibu-ibu itu.


Yang dipanggil Hendra itu masuk ke dalam kamar kontrakan tiga ruang ini. Dia menebar pandangan ke seantero ruangan, sambil mengangguk-angguk.


“Namanya kontrakan, pastinya kosongan, mas” kata ibu-ibu itu, menanggapi pandangan Hendra, yang menyebar kemana-mana.


“Pastinyalah, bu” sahut Hendra.


“Saya cuman mastiin aja, nggak ada yang bocor” lanjutnya.


“Dijamin anti bocor, mas. Kalo emang nanti nemuin ada yang bocor, langsung bilang aja ke ibu! Pasti langsung kita perbaiki” kata ibu-ibu itu.


“Baik, bu. Saya ambil” kata Hendra. Dia membuka dompetnya dan mengeluarkan sejumlah uang untuk pembayaran kontrakan itu.


“Alhamdulillah. Ya udah, ini kuncinya mas” jawab ibu-ibu itu. rupanya dia pemilik kontrakan itu.


“Kapan pindahan?” tanya ibu kontrakan itu.


“Pindahan? Kaya udah berkeluarga aja, bu” sahut Hendra sambil tergelak.


“Barang-barang saya cuman dikit, bu. Cuman kasur sama lemari doang, sama laptop paling” lanjutnya.


“Oh, masih single, to? Pantesan sendirian. He he”


“Iya, bu. masih single saya”


“Ya udah. Saya tinggal dulu, ya. Kalo parkir, atur aja sama tetangga yang lain. Jangan sampe ngalangin jaan motor!”


“Oh. Iya, bu. Abis ini, saya mau kenalan sama tetangga-tetangga kontrakan”


“Oke. Ibu tinggal, ya?” pamit ibu kontrakan.


“Silakan, bu” jawab Hendra.


Selepas kepergian pemilik kontrakan itu, Hendra langsung mengambil kasur busanya dari dalam mobil. Beberapa tetangga kontrakan yang sedang jadwal masuk malam, datang menyapanya.


Sambil menyelam minum air, Hendra memanfaatkan momen itu untuk memperkenalkan dirinya.


Tak dia duga, ternyata tetangga sebelah kontrakannya itu orangnya ringan tangan. Tanpa diminta, dia membantu menurunkan barang-barang bawaannya.


Hendra merasa tidak enak untuk menolak, sekalipun sebenarnya hanya tinggal lemari plastik yang dia bongkar, dan beberapa stel pakaiannya saja, yang tersisa. Praktis, hanya dalam sekali angkut, selesai sudah acara bongkar muatnya.


Hendra berinisiatif untuk membelikan minuman dingin dan cemilan untuk tetangganya itu. Sekalian untuk media mengorek informasi mengenai Stevani. Melihat Hendra kembali dengan banyak makanan ringan, praktis tetangganya menyambut dengan gembira. Mereka berkumpul seolah merayakan kedatangan tetangga baru mereka.


“Kalo boleh tahu, itu kamar yang sana, kenapa ada garis polisinya, pak?” tanya Hendra, di sela-sela perbincangan mereka.


“Oh, disegel sama polisi. Lagi ada penyelidikan” jawab tetangganya.


“Loh, emang kenapa, mas Yusuf?” tanya Hendra.


“Aku sih nggak tahu cerita awalnya” jawab Yusuf.


“Tapi denger-denger, si Stevani itu lagi ditahan polisi. Dia dituduh jadi otak pengeroyokan artis campursari” lanjutnya.


“Artis?”


“Iya, Adelia Fitri” jawab tetangga yang satunya.


“Pacarnya yang sekarang, dulunya premannya preman kota ini” lanjutnya.


“Eem. Bentar mas Burhan. Adelia Fitri, bukannya dibegal, ya?”


“Dulu kabarnya begitu. Dia ngojek, dibegal sama geng motor. Dia jatuh, pingsan. Sampe lupa ingatan” jawab Burhan.


“Terus, kok bisa nyasar ke penghuni kontrakan itu?” tanya Hendra.


“Oh, cewek itu, anggota geng motor itu ya, mas?” lanjut Hendra sok menebak.

__ADS_1


“Enggak, lah. Dia orang kantoran. Naek motor aja nyusruk, gimana mau jadi anggota geng motor?” jawab Yusuf.


“Iya. Hi hi hi. Istrinya mas Yusuf sampe ngamuk-ngamuk. Liat mas Yusuf ngajarin si Vani naek motor. Mana jatoh, lagi. Tekor. Ha ha ha” sahut Burhan menimpali.


“Wah, rame kayaknya tuh. Ha ha ha ha” komentar Hendra.


“Ya, gitu deh” jawab Yusuf.


“Tapi itu juga cuman bentar. Lagi pusing aja, dia” lanjut Yusuf.


“Emang kalo lagi nggak pusing, dikasih ijin, gitu?” tanya Hendra.


“Ya nggak juga. Maksud aku, kalo cuman cemburu doang sih, nggak sampe ngamuk-ngamuk gitu. Paling aku nggak dikasih jatah. Ha ha ha”


“Karena emang, kita sungkan sama dia. Kita semua ngakuin kalo Vani tuh orangnya royal. Kalo abis dari luar kota, pasti bawa oleh-olehnya semobil sendiri. kita semua kebagian, tahu” lanjut Yusuf.


“Bener tuh. Kalo tanggal tua, suka jadi penyelamat” timpal Burhan.


“Kirain aku sendiri yang suka utang sama dia. Kamu juga? Ha ha ha ha”


“Iya, mas” jawab Burhan. Merekapun tertawa bersama.


“Beneran tulus apa ada maunya?” tanya Hendra memancing.


“Dua-duanya. Ha ha ha ha” jawab Burhan sambil tertawa.


“Maksudnya?” tanya Hendra.


“Ya, biar bisa nyuruh mas Yusuf nyuciin mobilnya, beliin makan, apalah segala macem. Dia kan orangnya manja. Kalo udah ketemu kasur, bawaannya mager. Pasti ada aja yang disuruh sama dia” jawab Burhan.


“Ya nggak papa. Nyuruh juga ngasih duit. Lumayan buat beli rokok” komentar Yusuf.


“Oh. Lha kalo sama tetangga-tetangga aja akrab gitu, masa sih dia jadi otak kriminal?” tanya Hendra memancing lagi.


“Cia cia cia. Baru denger ceritanya aja udah simpati. Apalagi kalo liat orangnya. Hem, alamat kepincut, ini” goda Burhan.


“Ha ha ha ha” dia dan Yusuf tertawa melihat Hendra salah tingkah.


“Iya. Tenaganya gede juga ternyata. Dulu ada cowok segagah sampeyan, ditonjok Vani, kejengkang dia” tambah Burhan.


“Masa?” tanya Hendra tidak percaya.


“Beneran. Orang kita liat sendiri. Ya di sini, lagi nongkrong gini”


“Kenapa kok sampe tonjok-tonjokan?”


“Nggak puas kali. Ha ha ha ha” jawab Burhan selengehan.


“Hem. Kalo udah ngomongin Vani, kaya nggak ada habisnya”


Seorang berkomentar sambil berjalan mendekati mereka. Dia seorang perempuan, datang membawa sebuah nampan. Di atasnya ada beberapa mangkuk dan gelas.


“Loh, mbak Ning, siapa yang pesan soto?’ tanya Yusuf.


“Ini, masnya. Tetangga baru” jawab wanita itu.


“Iya, mas. Saya yang pesen” jawab Hendra.


“Banyak amat, mas? Siapa yang mau makan sisanya?” tanya Burhan.


“Ya ibu menteri dong” jawab Hendra.


“Wah, beneran? Alhamdulillah. Rejeki emang nggak bakal tertukar” komentar Burhan.


Wanita yang dipanggil mbak Ning itu menghidangkan mangkuk-mangkuk berisi nasi soto itu ke hadapan ketiga pria di depannya. Juga gelas-gelas berisi es jeruk.


“Kalo urusan tonjok-tonjokan itu, emang karena cowoknya yang geblek” celetuk mbak Ning.


“Geblek gimana, mbak?” tanya Hendra.

__ADS_1


“Ya abisnya, urusan begituan pake direkam segala. Untung ketahuan sama Vaninya. Kalo enggak, dan sampe nyebar, kan ancur reputasi dia” jawab mbak Ning.


“Sekarang juga udah ancur, mbak” sahut Burhan.


“Iya. Gara-gara sebelahnya tuh, tiga satu” komentar mbak Ning.


“Emang sebelahnya itu siapa, mbak?” tanya Hendra.


“Polisi, masih muda” jawab mbak Ning.


“Ganteng sih, tapi belagu. Sok jual mahal” lanjut mbak Ning.


“Kok dia bisa nyeret Vani ke kasusnya Adelia?” tanya Hendra lagi.


“Gini, embak sih dengernya, itu gara-gara alat sadapnya dia” jawab mbak Ning.


“Alat sadap?” tanya Yusuf.


“Iya. Ada yang bilang alat itu kaya stetoskop, tapi ada baterainya. Kaya ampli mushola, ada puterannya juga”


“Oh. Alat riset?” tanya Hendra.


“Nggak tahu deh” jawab mbak Ning.


“Terus-terus?” tanya Burhan penasaran.


“Ya gitu. Katanya, ceweknya polisi itu, lagi mainin stetoskop itu. Dia tempelin tuh, di tembok kiri, yang berbagi sama si Vani. nah, dia denger tuh, Vani lagi begituan sama cowok.”


“Wow” komentar Hendra.


“Nah. Abis gituan, katanya, Vani sama cowoknya ngobrolin si Adel sama cowoknya Adel”


“Lah, gitu, ya?” komentar Burhan.


“Nah, katanya, mereka tuh ngomongin pembegalan itu. Sama suntikan-suntikan gitu”


“Maksud mbak Ning, Adelia itu lupa ingatan bukan karena jatuhnya, tapi karena disuntik?” tanya Yusuf.


“Ho oh. Embak dengernya gitu, sih” jawab mbak Ning.


“Hubungannya Adelia sama ceweknya polisi itu?” tanya Hendra.


“Cowoknya Adelia itu, kakaknya dia” jawab mbak Ning.


“Oh” komentar Hendra pendek.


“Hem. Polisi, titel doang. Sama aja gebleknya. Mentang-mentang sepi, ngajak pacarnya ke kontrakan” komentar Burhan.


“Eh, iya. Bener juga. Emangnya nggak ada yang ngawasin?” tanya Hendra.


“Ada” jawab Yusuf.


Dia tersenyum geli sambil berlalu masuk ke dalam kontrakannya. Hendra mengernyitkan dahinya. Dia masih menebak-nebak maksud jawaban dengan senyuman geli tadi.


Melihat Burhan makan dengan tersenyum geli juga, Hendra akhirnya mengerti. Itu hanya paradok saja. Dia pun tersenyum sambil mengangguk-angguk. Melihat Hendra tersenyum penuh arti, mbak Ning juga ikut tersenyum. Dia menuliskan sesuatu di selembar kertas.


“Maaf, mas. Ini notanya” kata mbak Ning,memcah keheningan.


“Oh, iya. ini mbak” jawab Hendra.


Dia menyerahkan selembar uang merah kepada mbak Ning. Dia juga menerima nota yang disodorkan kepadanya.


“Wah, kembaliannya nggak bawa, mas. Ada di warung” kata mbak Ning.


“Gampang. Entar aja, mbak. Toh aku juga nggak masak, kok” jawab Hendra diplomatis.


“Oh. Oke. makasih ya mas”


“Sama-sama”

__ADS_1


Mbak Ningpun pergi untuk kembali ke warungnya. Agak terkejut Hendra, mendapati sederet angka di bawah nominal total pesanannya. Dan itu bukan angka penjumlahan, melainkan sederet nomor ponsel. Dia kantongi kertas itu, lalu melanjutkan makannya bersama Burhan dan Yusuf, yang sudah kembali bergabung.


__ADS_2