Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
wejangan bapak


__ADS_3

“Kamu udah pernah kehilangan, kamu tahukan apa yang bapak maksud?” tanya pak Rouf.


“Ya. Without the fight” jawab Budi.


Pak Rouf tersenyum. Untuk beberapa saat mereka saling terdiam. Budi menatap lurus ke depan. Pikirannya mengawang jauh ke angkasa.


“Terus. Kamu kenapa bisa sampe sini?” pak Rouf mengulangi pertanyaannya tadi.


“Mana Budi tahu? Orang tadi, “ Budi menggantung kalimatnya.


“Kenapa?” tanya pak Rouf.


“Enggak. Nggak papa” jawab Budi, berbohong.


Dia merasa tidak enak untuk menceritakan apa yang terjadi. Bapaknya sudah terputus dari urusan dunia. Sudah menjadi haknya untuk beristirahat dengan tenang. Tidak seharusnya dia berkeluh kesah tentang apa yang sedang dia hadapi bersama ibu dan adiknya.


“Ya ya ya. Handono, ya?” tanya pak Rouf.


“Hem?”


Budi terkejut mendapati bapaknya bisa menebak isi hatinya.


“Pasti dia yang pertama ngoceh-ngoceh, kan? Dia pasti cerita, kalo bapak ngerebut calon istri dia” tanya pak Rouf.


“Ya. Sampe Budi tendang. Ngatain bapak kok seenak jidatnya sendiri”


Pak Rouf tersenyum melihat ekspresi kesal putranya.


“Ibu juga sampe nggampar dia tahu, pak”


“Wow”


“Ngamuk ibu, denger bapak dikata-katain”


“Ha ha ha ha”


“Tapi percaya?” tanya pak Rouf.


“Ya enggak, lah. Kan buat ibu, bapak itu suami setia. Walaupun idaman para janda” jawab Budi setengah menggoda.


“Sembarangan. Perawan juga banyak kali, yang suka sama bapak” sahut pak Rouf.


“Kan kumat, sombongnya. Ha ha ha ha. Nggak mau kalah sama anaknya”


“Ha ha ha ha. Ya masa kalah sama anaknya. Gengsi, dong”


“Hempf. Ha ha ha ha ha”


Mereka terus saling menggoda untuk beberapa lama. Tawa dan canda masih menghiasi perbincangan itu. Sampai akhirnya, mereka saling terdiam kembali.


“Terus?” tanya pak Rouf kemudian.


“Apanya, pak?” Budi balik bertanya karena bingung.


“Gimana dengan ibumu? Apa ibu udah tahu?"


“Udah. Budi kasih liat apa yang dikasih Nungki. Foto si kembar Gita, akta pernikahan Bapak, nikah siri, kan? Belum ke dukcapil”


Pak Rouf tergelak mendengar jawaban Budi.


“Ada testpack sama surat keterangan hamil dari bidan, terus sama surat cerainya juga” lanjut Budi.


“Terus?”


“Syok lah, pak. Sampe oleng, tahu”


“Hempf. Ha ha ha ha. Pastinya” sahut pak Rouf.


“Secara hati, ibu itu sebelas-dua belas sama ibunya kakakmu. Nggak pernah komen, berapapun bapak ngasih nafkah. Cuman kalo udah kumat cemburunya, aduh, mending diem deh” lanjut pak Rouf.


“Hempf. Ha ha ha ha ha. Serba salah ya, pak”

__ADS_1


“Diem aja salah. Ngomong? Apa lagi”


“Ha ha ha ha. Eh tapi kalo lagi romantis, nggak ada duanya kan, pak?” goda Budi.


“Pasti, lah”


“Belum lama ini, ibu sampe mimpiin bapak, lho. Mimpi meluk bapak” kata Budi.


“Oh, ya? terus?”


“Nggak tahu. Putri yang liat. Orang lagi tidur bareng sama dia, eh Putrinya dipeluk sama ibu. Kabur dia, ke depan”


“Kok kabur?”


“Meluknya aneh, katanya. Ha ha ha ha”


“Oh”


Pak Rouf tertawa mendengar jawaban Budi. Dia sudah terbayang dengan yang diceritakan putranya itu.


Memang beda, pelukan saat di depan anak-anak, dengan kalau saat hanya berdua di dalam kamar.


“Tapi ibu nggak mencak-mencak kan, sama Hening?”


“Hening?” Budi bingung dengan nama yang disebut bapaknya. Asing dan aneh.


“Haih. Pasti diganti sama si Handono. Siapa nama yang dia kasih?”


“Stevani larasati” jawab Budi.


“Emang bapak kasih nama dia, siapa?” tanya Budi.


“Mahening Suci”


“Wow. Nama yang unik”


“Mahening Suci itu air kehidupan. Ada dalam pewayangan. Tokoh utamanya, Bima. Nama lain dari Mahening Suci itu, Tirto Suci perwitosari. Sebuah falsafah hidup yang diajarkan dewa dalam pewayangan. Inti terbesarnya, ya alam ini. Alam yang sangat damai. Tapi tentu saja tergantung amal dan perbuatan kita” kata pak Rouf menjelaskan.


Pak Rouf tersenyum mendengar pujian yang dilontarkan putranya.


“Jangan bilang kamu suka sama dia!” goda pak Rouf.


“Yang ada juga, dia yang suka sama Budi, pak” kilah Budi.


“Gombal mukio. Eh, Gita Shella itu cantik banget. Sebelas-dua belas sama ibumu. Pasti si Hening juga cantik banget, sekarang. Masa tampang kaya gini aja sampe dikejar-kejar? Embel gedes” komentar pak Rouf, masih menggoda Budi.


“Lah. Ha ha ha ha. Bapak ini gimana? Masa hasil karyanya sendiri dikomen begitu? Kalo tampang Budi ini jelek, lha dulu bapak bikinnya gimana? Nggak baca doa, ya? Sambil nyanyi nih, pasti. Yen ing tawang ono batman, ”


“Ha ha ha ha. Ono lintang” seru pak Rouf mengoreksi Budi.


“Ono batman? Ha ha ha ha” lanjut pak Rouf.


Dia tertawa mengingat plesetan putranya.


Mereka berdua kembali ceng-cengan untuk beberapa lama. Seperti dua sahabat saja lagaknya.


“Ya sudah, ngger. Semuanya sudah mulai terungkap, berarti kamu harus di sana nemenin ibumu. Jaga ibu, adik dan kakakmu baik-baik! Kalau mau perang, jangan lupa buka kotak yang kamu umpetin dulu itu!”


“Ngomong-ngomong, gimana bapak bisa tahu, kotak itu Budi umpetin?” tanya Budi, terkejut.


“Hempf. Ha ha ha ha. Kamu kan kopiannya bapak. Udah ketebak, sama bapak”


“Heemmm. Iya, deh” sahut Budi, sambil memanyunkan bibirnya, menyindir bapaknya.


“Tapi kita beda jauh, pak. Bapak itu jagoan, Budi cuman sampah, pak” lanjut Budi. kini nada bicaranya berubah sendu.


“Heei. Kok gitu, ngomongnya?”


Pak Rouf bertanya sambil menggoyangkan bahu Budi.


“Ya, kapan sih pak, bapak punya kenangan, Budi jadi orang hebat? Yang ada jadi sumber masalah mulu”

__ADS_1


“Ha ha ha ha. Bisa-bisanya kamu mikir gitu, ngger?” komentar pak Rouf.


“Kamu inget tamannya ibu dulu? Udah kaya apa aja usaha ibu nyuburin tanemannya. Dikasih kimia macem-macem, nggak pernah numbuh bagus. Malah abis kamu eekin tuh, subur”


“Hempf. Ha ha ha ha. Berarti eek Budi pupuk, dong?” sahut Budi sambil tergelak.


“Itu. Nggak ada yang nggak berguna di dunia ini, ngger” kata pak Rouf.


Budi menatap lekat mata bapaknya. Seakan ada banyak sekali wejangan yang akan keluar untuknya.


“Sampah sekalipun, Alloh ciptakan, pasti ada manfaatnya” lanjut pak Rouf.


“Sampah apa dulu, pak?” tanya Budi.


“Itu dia. Kalo kamu masih merasa jadi sampah, kamu tinggal milih, mau jadi sampah apa? Sampah yang nyusahin, apa sampah yang dicari banyak orang”


Budi manggut-manggut mendengar wejangan dari bapaknya. Senyum bapaknya menular padanya. Pak Rouf mengguncang-guncangkan pundak Budi lagi, sebagai tanda sayang.


“Jangan lupa dibuka, ya! Kamu bakal butuh itu”


Budi tersentak. Seolah-olah, apa yang disembunyikannya waktu itu, adalah kunci dari masalah yang sedang dia hadapi saat ini.


“Iya, pak” jawab Budi.


“Kamu kaya punya sesuatu yang mau diomongin sama bapak? Lemes gitu”


Budi menatap bapaknya lekat-lekat.


“Banyak, pak. Budi ngerasa nyaman di sini. Tapi juga kepikiran sama ibu” jawab Budi.


“Ya emang kamu harus jagain ibu”


“Ibu udah ada yang jagain, pak”


“Ha ha ha ha. Ya beda. Penggantinya bapak, tetaplah orang lain. Tapi wakilnya bapak, ya kamu”


Budi merasa sedih mendengar jawaban bapaknya. Rasa tidak rela, saat posisi bapaknya akan digantikan oleh orang lain, kembali menyeruak.


“Kok kamu sedih? Adat hidup memang begitu, ngger”


“Berarti kesetiaan itu cuman omong kosong ya, pak?”


Pak Rouf mengernyitkan keningnya. Bingung dengan cara berpikir Budi.


“Ya nggak gitu juga. Yang masih hidup, masih punya hak untuk memilih jalan hidup”


Kali ini Budi benar-benar sedih. Dia sampai menangis, mengingat perjuangan bapaknya memenuhi semua kebutuhan hidup keluarga. Dan dengan cepatnya sang ibu akan mengganti posisi bapaknya dengan laki-laki lain.


“Makanya. Berulangkali bapak bilang, yang paling penting itu adalah akhlakmu. Tempat kamu di sini nanti juga, tergantung pada akhlakmu. Kalau akhlakmu terpuji maka amalmu juga akan terpuji, tempatmu nanti juga akan indah seperti tempatnya bapak ini. Nyaman, kan?”


Budi menatap lekat mata bapaknya. Ada senyum yang menular padanya. Terasa kedamaian itu kembali lagi memenuhi sanubarinya.


“Kembalilah, ngger! Jalankan kewajibanmu! Nggak usah mikirin urusannya Gusti Alloh! Nggak bakal nyampe, otakmu”


Budi tergelak mendengar akhir ucapan bapaknya. Dia juga manggut-manggut setuju. Karena memang benar, tidak akan sampai pikiran kita, memikirkan ilmunya Gusti Alloh.


“Tuh, udah dijemput”


Sontak Budi menoleh ke arah yang ditunjuk bapaknya.


*PLAK*


“AAA”


Budi terkejut mendapat tamparan di pipi kirinya. Dan seketika pandangan matanya menjadi gelap.


“AAAA”


Budi merasa seperti meluncur turun dari atas langit. Tapi tak terlihat sama sekali, dia ada dimana, meluncur kemana, di bawahnya ada apa juga tidak terlihat.


“Heeeeeekkkk”

__ADS_1


__ADS_2