
Terjadi keheningan beberapa saat, karena keduanya tidak tahu harus menjawab apa.
“Oh iya, bu. Motor mas Budi kok sudah tidak ada ya, bu? Apa sudah ke watu karung?” tanya Ratna mencoba memecah kekakuan.
“Loh. Emang mbak Ratna belum dikasih tahu?” sahut bu Ratih.
“Kasih tahu apa, bu?”
“Mas Budi lagi di rumah sakit, mbak” sahut Putri.
“Loh. Sakit apa?” tanya Liza.
“Bukan Budinya, mbak Liza” sahut bu Ratih.
“Oh”
“Siapa yang sakit, bu?” potong Ratna.
“Mbak Erika” jawab bu Ratih.
“Mbak Rika?”
“Iya. kata mas Budi, mbak Rika pingsan di kantor. Terus dibawa scurity sama mas Aldo ke UGD. Cuman karena mas Aldo nggak pegang duit, dia nelpon mas Budi. Makanya semalem mas Budi ke sana” jawab Putri.
“Ya Alloh. Mbak Rika sakit apa, ya? Perasaan pas aku pamitan nggak kenapa-kenapa”
*Tin*
Bunyi klakson mobil mengalihkan perhatian mereka.
“Loh?"
Ratna terkejut melihat mobil yang sangat dia kenal parkir di belakang mobil yang dia kendarai. Lalu si empunya mobil keluar dan berjalan memasuki halaman rumah ini.
“Assalamu’alaikum”
Terdengar sapaan dari tamu yang baru datang itu.
“Wa’alaikum salam”
“Eh, loh?”
Ratna bingung saat mendengar bu Ratih dan Putri menjawab salam itu secara penuh.
“Ada angin apa pak Paul, datang pagi-pagi?” tanya bu Ratih basa-basi. Karena tampak senyum bahagia di wajahnya.
“Mau ke kantor, bu. Terus keinget, Erika bilang kalau bu Ratih mau selamatan. Makanya saya mampir buat kasih ini” jawab pak Paul.
“Ya Alloh pak, segala dibela-belain datang. Terimakasih ya, pak. Silakan duduk dulu, pak!”
“Terimakasih, bu Ratih. Tapi hari ini saya tidak mau keduluan Ratna sampai ke kantor” jawab pak Paul. Sontak jawaban itu memancing gelak tawa semuanya.
“Oh iya pak. Mbak Rika gimana kondisinya sekarang, pak?” tanya Ratna.
“Alhamdulillah, kata Budi sih, udah mendingan. Tapi masih perlu istirahat. Kecapekan, dia” jawab pak Paul.
Ratna tidak segera menjawab. Dia merasa aneh dengan jawaban pak Paul kali ini. Dia bertanya-tanya, apa tujuannya mengucapkan hamdalah?
“Kalau begitu, saya pamit dulu, bu Ratih” kata pak Paul kemudian.
“Lagi dibikinin minum, pak” sahut Putri.
“Waduh. Sebenarnya susah ditolak, sih. Tapi mohon maaf, saya sudah terlanjur ada janji sama klien. Dan berhubung Erika tidak bisa hadir, saya perlu nyiapin berkas dulu di kantor” jawab pak Paul.
“Ada yang bisa saya bantu, pak?” tawar Ratna.
“Nggak usah, Na. Ada yang nggak boleh kamu lihat, soalnya” jawab pak Paul lugas.
“Oh. Bapak nyimpen fotonya bu Ratih, ya?” goda Ratna.
“Ish. Lemes” sergah Liza.
“Justru foto kamu, lagi godain Budi” jawab pak Paul.
Liza melotot ke arah Ratna.
“Ih, nggak pernah” kata Ratna membela diri. Dia merasa dituduh denan tatapan mata Liza.
“Bapak jangan bikin gosip, deh! Alamat pulang jalan kaki, bisa-bisa” protes Ratna.
__ADS_1
“Hempf. Ha ha ha ha” pak Paul tertawa melihat ekspresi wajah Ratna.
“Ya sudah, saya pamit ya, bu?”
“Ya Alloh, beneran nggak mau ngeteh dulu” sahut bu Ratih.
“He he. Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikum salam”
Lagi-lagi Ratna merasa aneh dengan jawaban bu Ratih dan Putri. Tapi mau bertanya, dia juga belum berani.
Saat mobil pak Paul sudah sudah beranjak pergi, masuk satu motor dikendarai seorang wanita. Kaca helmnya yang gelap membuat wajahnya tidak terlihat. Tapi Putri langsung mengenali siapa yang datang itu.
“Din. Dicariin mbak Adel” panggil Putri.
Madina yang sedang di ruang tamu langsung keluar. Dan dia tertegun melihat motor bongsor yang serupa dengan punya Budi.
“Loh? Adel?” gumam Ratna, saat helm itu dilepas.
“Assalamu’alaikum” sapa Adel.
“Wa’alaikum salam” jawab semua yang ada di teras.
Adel langsung sungkem pada bu Ratih, seperti kebiasaannya dulu. Dia juga menyalami Liza dan juga Ratna. Dengan Ratna dia sempat menanyakan kabar.
“Bu Ratih, Adel ada perlu dengan Madina. Apa boleh saya bicara dengan Madina?” tanya Adel. bu Ratih tersenyum.
“Bicara baik-baik, ya!” jawab bu Ratih.
“Iya, bu” sahut Adel.
Diapun menghadap ke pintu, dimana sudah ada orang yang dia tuju. Terjadi kekakuan karena kehadiran Adel. Dan adel hanya memberikan ponselnya pada Madina. Madina tampak serius melihat video yang diputarkan Adel. Dan dia menghela nafas saat video itu telah usai.
“Tapi Madin mau bantu-bantu dulu di sini, mbak” kata Madina.
“Dek. Kamu nggak kasihan sama ibu? Udah dari kemarin, nangis terus” sahut Adel.
Madina tidak menjawab. Masih tergambar di wajahnya kalau kekesalannya belum sepenuhnya mereda.
“Maafin embak ya, dek! Embak belum bisa membagi waktu. Embak masih berlajar. Tapi embak janji, embak akan selalu luangkan waktu buat Madin”
“Apa itu mungkin?” tanya Madina.
“Mungkin” jawab Adel.
Adel paham apa yang dimaksud adiknya itu. Tentang keegoisan Luki.
“Embak akan buat itu menjadi mungkin” lanjut Adel.
“Resikonya berat, mbak” kata Madina.
“Tapi nggak seberat kehilangan kamu, dek” jawab Adel.
Madina tertegun. Ada senyum tipis yang menghiasi bibirnya. Tapi matanya masih tetap menunjukkan kekesalan yang belum sepenuhnya hilang.
“Madin pegang kata-kata embak”
“Ya. Pegang kata-kata embak!” sahut Adel.
“Ingetin embak, kalo embak lupa!” lanjut Adel.
Madin mengangguk. Kemudian dia menoleh ke arah bu Ratih. Seolah ingin meminta ijin.
“Pulanglah, nduk! Lain waktu bisa main lagi” kata bu Ratih.
“Baik, bu” jawab Madina.
“Udah, gua aja yang ambil” kata Putri, saat Madina mau masuk ke dalam rumah.
Tak lama kemudian, Putri telah kembali dengan membawa ranselnya Madina. Tapi dia kembali dengan geleng-geleng kepala.
“Kenapa?” tanya Madina bingung.
“Orang tuh kalo kabur bawa baju, ini malah bawa panci. Lu mau kabur apa mau demo?” jawab Putri.
“Hempf” Madina tergelak mendengar keluhan Putri.
“Udah semangat gua bawanya. Udah kaya pecinta alam, pake gaya back flip. Kirain berat, nggak tahunya enteng. Mana nyaring banget pas kena ubun-ubun. Duaang” lanjut Putri.
__ADS_1
“Ha ha ha ha”
Madina tak kuasa menahan tawanya. Begitu juga dengan yang lain yang mendengarkan ucapan Putri. Kelakar Putri sukses membuat suasana kaku menjadi cair.
“Gua pulang dulu ya, Put? Makasih atas semuanya” pamit Madina.
“Iya, sama-sama” jawab Putri.
Madinapun bergeser ke bu Ratih.
“Bu. Madin ijin pulang ya, bu? Terimakasih sudah nerima Madin nginep” pamit Madina.
“Iya, nduk. Nggak usah sendu gitu ah! Masa pamitan sama budenya segala pake sendu gitu?” jawab bu Ratih.
Madina bingung mendengar kata ‘bude’ diucap bu Ratih.
“Kan ibuku lebih tua dari ibumu. Jatohnya ibu itu budenya kamu. Dan kamu manggil aku, embak. Hi hi hi” kata Putri menjelaskan.
“Embak? Nggak mau, ah. Entar aku kualat mulu. Kan nggak asik kalo deket kamu, nggak usil” tolak Madina.
“Ha ha ha. Suek” sahut Putri.
“Kami pamit ya, bu. Terimakasih, sudah berkenan menampung Madina” pamit Adel.
“Sama-sama, nduk. Ati-ati di jalan, ya! Sampaikan salamku sama ibu kalian!” jawab bu Ratih.
“Baik, bu”
Adelpun salim pada bu Ratih. Lalu menyalami lagi kedua tamu bu Ratih. Mereka lantas turun untuk menyiapkan motor masing-masing.
“Assalamu’alaikum” seru mereka.
“Wa’alaikum salam” jawab semuanya.
***
Di rumah sakit, Erika terlihat lebih segar. Dia sudah lahap menghabiskan menu sarapan pagi ini. Dia juga sudah bisa berjalan, meski Budi tak membiarkannya pergi ke toilet sendirian.
Dia masih hawatir kalau Erika akan limbung lalu terjatuh. Bahkan kehawatirannya itu sempat menimbulkan rasa geli dan mengundang tawa Erika. Karena Budi sempat ingin membantunya sampai ke kloset duduk.
Kehawatiran yang tidak dia buat-buat, dan berbuah senyum indah, saat dengan sigap dia menuntun Erika, saat Erika sudah selesai dengan hajatnya.
“Aku udah nggak kliyengan, mas. Aku udah bisa jalan sendiri. Segitunya kamu khawatir?” tanya Erika sambil tergelak.
“Eemm”
Budi yang masih berdiri seusai membantu Erika naik kembali ke ranjang rawatnya, terlihat kikuk.
“Aku, aku, aku juga nggak tahu, kenapa aku bisa sekhawatir ini” jawab Budi.
Jawaban terbata-bata itu membuat Erika terkesiap. Dia melihat sebuah ekspresi berbeda di wajah Budi. Seingatnya, baru kali ini dia melihat ekspresi itu.
“Sorry” lanjut Budi.
Erika tersenyum mendengar lanjutan kalimat Budi. Dia menatap wajah ganteng yang sedang menunduk itu. Ada kebahagiaan terpancar di matanya.
“Aku bukannya risih, mas” ujar Erika beberapa saat kemudian.
Budi menegakkan kepalanya. Sorot matanya menyiratkan kalau dia tidak mengerti dengan ucapan itu. Erika memberikan isyarat agar Budi duduk terlebih dahulu. Budipun menurutinya.
“Baru kali ini aku diperlakukan sedemikian tingginya. Ya dibantu sih dulu waktu sakit juga, tapi nggak ada greget apalagi sampe sekhawatir mas Budi tadi” lanjut Erika.
Ada seulas senyum tersungging di bibir Budi. Di antara sakit hatinya yang belum sembuh, dia merasa tersanjung dipuji Erika. Mereka sempat saling menatap beberapa saat.
“Alhamdulillah” komentar Budi, mengucap syukur.
Erika mengernyitkan keningnya. Dia belum menemukan korelasi antara jawabannya dengan ucapan syukur Budi. Yang mana yang dia syukuri?
“Maksudnya?” tanya Erika, setelah beberapa saat tidak ada kelanjutan dari Budi.
“Artinya aku masih lebih tampan dan lebih menawan ketimbang si siapa itu? Tio?” jawab Budi.
“ADOOW”
Budi memekik merasakan sebuah cubitan mendarat di pipi kirinya.
“Kok malah nyubit? Dikata kue?” protes Budi.
“Mas mau ikut-ikutan Riki, ngeledekin aku?” tanya Erika, sambil berkacak pinggang.
__ADS_1
“Hempf. Ha ha ha ha”
Budi tertawa lepas, mendapati godaannya mengena dengan telak. Erika melotot melihat Budi tertawa lepas. Tapi bibirnya tersenyum.