
Seorang wanita, sesuai dengan identitas yang ditemukan oleh ahli hacking Budi, mengakui apa yang dituduhkan pengacara Budi dan juga tim penyidik.
Tapi wanita itu juga mengatakan kalau dia melakukan itu karena terpaksa. Dia diancam seseorang yang tidak jelas itu siapa dan dimana tempatnya.
Tapi orang itu mengetahui semua hal tentang dirinya. Dan mengancam akan menghabisi satu per satu keluarganya. suaminya telah menjadi korban saat dia menolak. Beruntung suaminya tidak sampai meninggal.
Dan dia juga mengatakan kalau dia hanya mengikuti petunjuk yang dia terima dari orang tak dikenal itu. semua langkah-langkahnya, dia hanya menuruti perintah saja. sama sekali dia tidak mengerti apa yang telah dia lakukan itu.
Ketika wanita itu disodorkan foto-foto layar ponsel yang berisi perintah eksekusi beberapa misi, wanita itu mengiyakan. Dia yang membuat kata-kata itu. tapi dia tidak tahu untuk apa dan bagiamana alurnya. Dia mengatakan kalau dia tidak paham dengan tampilan di monitor laptopnya. Dia bilang hanya ada huruf dan angka, hampir tidak ada simbol seperti di windows.
Ketika dia disodorkan foto tangkapan layar yang berisi perintah pembuatan kode pada sebuah jam tangan, wanita itu juga mengiyakan. Dia mengakui kalau dirinyalah yang mengubah tanggal pada percakapan pesan singkat itu.
Tim penyidik juga menanyakan tentang Stevani Larasati. Mendengar nama itu disebut, wanita itu terkejut. Dia mengaku tidak kenal dengan wanita itu, namun pernah mendengar nama itu disebut oleh orang yang mengancamnya. Dia juga ingat deretan angka yang berkaitan dengan nama Stevani Larasati. Penyidik itu mencatat deretan angka yang disebut wanita itu. Dan ternyata adalah alamat IP komputer Stevani.
Kalau mengenai pesan singkat yang berasal dari nomor Stevani, penyidik mempertanyakan apakah itu juga perbuatannya? Atau orang itu mempunyai antek-antek di kepolisian? Wanita itu mengatakan kalau pesan itu dia juga yang membuat. Dia menceritakan waktu dan kronologinya. Tapi bagaimana caranya, dia mengaku tidak tahu. Hanya menuruti perintah.
Dari sini, penyidik mulai berubah pikirannya. Mereka mulai berpikir, kalau Budi hanya terkena jebakan pelaku misterius ini.
Berjam-jam kemudian, tim penyidik terus menginterogasi wanita itu secara intensif.
Termasuk mencari tahu, apakah keterangannya yang mengatakan dia hanya menuruti perintah, bisa dipercaya.
Apakah benar kalau wanita itu memang tidak bisa mengoperasikan software untuk hacking. Lalu, bagaimana cara mereka berkomunikasi.
Beberapa hari kemudian, disaat Liza telah pulang, Budi harus berpindah tempat. Keterangan dokter yang menyatakan kalau Budi sudah bisa keluar dari rumah sakit membuatnya harus segera merasakan dinginnya sel tahanan. Dan dua orang petugas dari kepolisian telah bersiap untuk membawanya pergi.
Bu Ratih sudah pasrah dengan nasib yang menimpa putranya. Dia hanya bisa berdoa, semoga Gusti Alloh menurunkan pertolongannya. Erika yang sedang menjenguk, merangkul bu Ratih. Dia usap-usap pundak bu ratih sebagai isyarat dukungannya.
“Ibuuuu... ibu”
Terdengar suara teriakan dari luar kamar rawat ini. Sesaat kemudian, seseorang membuka pintu kamar itu dengan agak kasar. Dan muncullah sesosok gadis berhijab dengan nafas terengah-engah.
“Kenapa, Put?” tanya Bu Ratih bingung.
__ADS_1
“Lihat TV, Bu!”
Erika langsung reflek mengambil remot TV. Lalu memindahkan channelnya ke channel yang diminta Putri.
*Kami telah menetapkan satu tersangka baru dalam kasus pembakaran bengkel kayu sodara Eka Fajar*.
“Ha?”
Bu Ratih memekik tertahan, mendengar kalimat pertama yang keluar dari pengeras suara televisi itu.
Televisi itu menayangkan siaran langsung pers conference dari polres, tentang kasus sabotase dan pembakaran bengkel kayu yang dilaporkan oleh bapaknya Adel. Ada seorang wanita yang memakai baju kuning bertuliskan, tahanan.
Tak hanya bu Ratih yang terkejut, Adel juga tak kalah terkejutnya. Dia yang tadinya sedang membahas kelanjutan kasus itu bersama orang tua dan pengacaranya, sontak melompat dari duduknya, saat Madina memberitahu berita terkini di televisi.
*Tersangka ini berinisial W, seorang ibu rumah tangga, yang mempunyai usaha jual beli online. Tersangka ini telah mengakui semua perbuatannya. Bahwa semua pesan perintah eksekusi apa yang mereka sebut misi, adalah berasal darinya. Dan telah kami konfirmasi bahwa jawaban itu sesuai dengan temuan kami dari jejak digital yang tertinggal*.
“Astaghfirulloh”
Bu Ratih menutupi mulutnya. Eskpresi khas orang yang terkejut. Dia sangat tidak percaya ada wanita yang tega melakukan fitnah sedemikian kejinya. Hinga nyawa anaknya hampir saja terenggut oleh sebutir peluru.
Adel tidak serta-merta percaya dengan apa yang dikatakan polisi dalam berita itu. Terlalu canggih baginya kalau ada orang yang bisa mengendalikan gawai orang lain tanpa diketahui pemilik gawai.
*Tersangka W mempunyai satu unit perangkat komputer jinjing, yang di dalamnya terdapat perangkat lunak bernama, Son of Pegassus. Sebuah perangkat mata-mata canggih hasil jiplakan dari perangkat mata-mata pegassus, israel*.
*Astaghfirulloh. Pegassus? Israel*?
Adel merasa tidak asing dengan nama perangkat mata-mata yang disebut polisi itu. Dia pernah mendengar nama itu saat berbincang-bincang dengan anak fakultas teknologi informasi. Mereka bilang kalau perangkat mata-mata itu sangat canggih. Dan legal dipakai sebuah negara untuk melawan terorisme.
Perangkat ini sanggup mengaktifkan kamera dan juga mikrofon dari perangkat keras yang dituju, dan mengambil datanya secara real time, tanpa sepengetahuan pemilik perangkat keras tersebut. Perangkat mata-mata ini juga mampu mengendalikan perangkat keras yang dituju tanpa mengaktifkan layar perangkat keras tersebut sama sekali. Seperti mengirimkan teks pesan singkat, pesan suara, gambar, maupun Video. Perangkat ini juga mampu menyusup ke server berbagai platform penyedia layanan komunikasi, dari yang paling canggih kepunyaan apple, sampai yang paling sederhana, SMS. Perangkat mata-mata ini sanggup membuat sekian baris percakapan palsu, mengganti kata atau kalimat dari percakapan yang sudah ada, mengganti foto atau video dari percakapan yang sudah ada, bahkan mampu mengganti tanggal dari percakapan tersebut. Dan semua bukti yang diberikan pelapor, yang dialamatkan kepada tersangka BU, telah diakui tersangka W, sebagai perbuatannya.
“Alhamdulillah”
__ADS_1
Bu Ratih berseru mengucapkan syukur. Kalimat itu seolah menjadi anti klimak dari kasus yang dilaporkan pak Fajar. Serta-merta bu Ratih bersujud mengucapkan Syukur, sekalipun belum diumumkan statusnya Budi.
*Ya Alloh. Jadi, jadi, jadi abram*?
Pandangan Adel mulai kabur. Mulai terihat linangan air mata. Hatinya bergetar mendengar keterangan lanjutan itu. Dia berpikir, polisi tidak mungkin sembarangan mengumumkan sebuah perkara tanpa bukti yang meyakinkan.
Tidak mungkin pula kepolisian akan membela Budi, sekalipun ada Zulfikar di sana. Sedangkan Zulfikar sendiri pangatnya masih rendah.
*Bram*?
Air mata itu mulai jatuh. Hati Adel penuh sesak dengan ingatan dimana dia menghardik Budi habis-habisan. Teringat juga bagaimana dia memaki-maki Budi tanpa alat bukti yang valid. Termasuk juga ingatan tentang bagaimana Budi dua kali masuk rumah sakit karena ucapannya.
*Namun begitu, sampai saat ini tersangka W masih bersikukuh bahwa dia melakukan ini semua bukan atas dasar kepentingan pribadinya. Dia mengatakan kalau dia melakukan ini semua karena dirinya diancam oleh seseorang yang tidak dia ketahui siapa dan dimana. Orang itu dia katakan selalu menghubunginya melalui telepon, yang tidak muncul nomornya, dan selalu menggunakan editor suara. Sehingga dia sendiri kesulitan mengidentifikasi apakah orang tersebut laki-laki atau perempuan. Nah ini yang sedang kita kembangkan. Dari jejak digital yang sudah kami kantongi, semoga dalam waktu dekat kita bisa mendapatkan identitas pelaku pengancaman yang juga kami duga sebagai otak intelektual dari kasus sabotase kepada saudari Adelia Fitri, pembakaran bengkel kayu pak Fajar, dan juga kasus sebelumnya yang terkait dengan tersangka SL. Dan terakhir, di konferensi pers ini juga, kami dari polres, menyatakan bahwa status tersangka, yang sebelumnya melekat pada saudara BU, saat ini telah resmi kami cabut. Dan saudara BU telah kami nyatakan bebas dari penahanan*.
“Alhamdulillah”
Serta merta Budi merendahkan tubuhnya dan bersujud. Putri juga melakukan hal serupa. Berdua, mereka mengucapkan syukur atas pertolongan yang luar biasa berharganya ini dari Gusti Alloh. Isak tangispun tak terelakkan.
*Ya Alloh. Abram nggak bersalah? Jadi pesan yang kemarin masuk ke hapenya abram bukan dari Stevani? Pesan itu perbuatan wanita ini? Astaghfirullohal’adzim. Aku harus bilang apa ke bu Ratih, ya Alloh*?
Air mata Adel semakin banyak yang mengalir jatuh ke pipinya. Dia masih belum bisa membayangkan, betapa kecewanya bu Ratih akan sikapnya.
Dia sudah membayangkan betapa marahnya bu Ratih jika bertemu dengannya. Dia juga sudah terbayangkan, pasti bu Ratih akan membenci dirinya.
Selepas sujud syukur, Budi langsung sungkem kepada bu Ratih, memohon maaf atas segala kenakalan yang telah dia perbuat. Dan memohon maaf karena telah berkali-kali membuat bu Ratih pusing. Dengan senang hati, bu Ratih memaafkan segala kesalahan Budi. Saat itu juga, mereka keluar dari rumah sakit.
Di lorong, mereka bertemu pengacara dan si ahli hacking. Pengacara itu membawakan surat keterangan kebebasan Budi. Bu Ratih mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan dari keduanya. Pengacara itu mengatakan kalau mereka hanya bekerja sesuai perintah.
Budi berinisiatif menelepon Liza. Dia mengabarkan tentang kebebasannya. Di seberang sana, terdengar suara Liza mengucap syukur dan menangis, lalu suara seseorang menegur Liza.
Saat Liza mengatakan apa yang terjadi. Orang itu malah ikut menangis. Ternyata orang itu adalah Armita. Dia terdengar sangat bahagia mendengar berita kebebasan Budi. Mereka sempat bertegur sapa, dan menanyakan kabar. Kedua wanita itu terdengar kompak mengekspresikan kebahagiaan mereka, tanpa rasa iri dari salah satunya. Sampai-sampai Erika cemburu dibuatnya.
Walaupun cemburu, Erika berusaha untuk tetap tenang. Dia tetap mengantarkan Budi pulang. Sambil sesekali dia meminta maaf, tidak bisa membantunya sampai sejauh itu.
__ADS_1
Budi tersenyum dan maklum. Budi mengatakan kalau semua itu sudah diatur oleh Gusti Alloh. Budi juga mengatakan kalau bantuan Erika ini juga tidak kalah pentingnya