Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
akhirnya lolos juga


__ADS_3

Di stand ekspo, ternyata ketiga tukangnya telah selesai merakit kembali sofanya. Sama sekali tidak terlihat kalau sofa itu habis dibongkar. Rekan-rekannya juga mengomentari hal senada. Setelah ketiga tukangnya pulang, satu orang yang menjadi perhatian Budi, Erika. Dia tidak ada di Stand ini.


“Erika jadi nginep sini, nggak?” tanya Budi.


“Jadi. Tapi tadi menjelang subuh dia pergi” jawab Riki.


“Pulang?”


“Ke polres, bilangnya. Sama pak Paul”


“Ngapain?”


“Nimpukin cecunguk-cecunguk itu kali” sahut Aldo. Dia sudah ada di sini juga ternyata.


“Emang sudah ketangkep?”


“Udah, bilangnya”


“Selamat pagi”


Seseorang menyapa dari arah belakang Budi. Sontak Budi memutar badannya.


“Pagi” jawab mereka serempak.


Ternyata orang itu adalah salah satu dari scuritynya pak Paul.


“Saya mau melaporkan ini” kata orang itu. Dia memberikan sebuah tablet.


Budi menerima tablet itu. Ternyata layar tablet itu memutar sebuah video. Video operasi yang dilakukan scurity itu. Budi tercengang melihat langkah demi langkah yang terekam dalam kamera helm itu. Benar-benar senyap dan terukur.


Mungkin ini sebabnya mengapa pasukan khusus Indonesia sangat ditakuti pasukan negara lain. Desertirannya saja masih sebegini menakutkannya. Dia juga terkejut melihat siapa saja yang ditangkap. Walau dia sudah bisa menebak sejak sebelumnya. Sama seperti tebakan Putri.


*Anak itu kaya nggak ada kapoknya. Kasihan pak de Kusno. Makin ke sini bukannya makin bener, anaknya malah makin badung. Kalo emang niat jadi penguasa, ngapain ngelakuin hal-hal konyol kaya gini? Dibayar berapa, coba? Itu kalo ada yang bayar. Kalo cuman iseng, pengen ngejahilin aku, dapet apa coba*?


“Kami berdua di BKO kan ke mas Budi” kata scurity itu. Membuat perhatian Budi teralihkan padanya.


“Kalau ada yang usil sama karyawan, atau properti perusahaan, silakan perintahkan kami untuk bertindak. Pak Paul melarang mas Budi bertindak langsung” lanjut scurity itu.


“Wow. Apa nggak berlebihan?” tanya Budi.


“Saya hanya menjalankan perintah” jawab scurity itu.


“Oke. saya bisa panggil anda, siapa?”


“Panggil saya Brandon. Dan teman saya kemarin, Mike”


“Oke, Brandon. Terimakasih atas laporannya. Sementara waktu, kamu stand by aja!” kata Budi memberikan instruksi.


“Baik” jawab Brandon.


Brandon langsung pergi setelah menerima kembali tabletnya. Teman-temannya tertegun mendengar percakapan tadi. Ada yang melihat Budi semakin berwibawa, ada juga yang merasa takut. Takut kalau membuat kesalahan, scurity tadi yang bertindak. Tapi Budi meyakinkan mereka, kalau dia hanya akan memberikan perintah kepada Brandon kalau itu menyangkut ancaman nyata. Bukan sekedar urusan pribadi antar karyawan.


“Mana floor markingnya?” tanya Budi.


“Nggak liat apa udah dipasang gitu?” sahut Bayu.


“Eh, iya. Nggah ngeh, aku” komentar Budi sambil cengengesan.


“Kayaknya semalem Adel nginep di galerinya Budi deh” komentar Riki ke Aldo.


“Sok tahu. Kenapa, emang?” tanya Aldo.


“Budi jadi bego. Mbak kunti marah, Budinya dikekepin Adel. Ha ha ha ha” jawab Riki.


“Sembarangan” sahut Budi sambil melemparkan sendalnya.


“Ha ha ha ha ha” semuanya ikut tertawa karena kelakar Riki dan Budi.


Satu per satu, karyawan yang bertugas jaga stand mulai berdatangan. Yang dari semalam menginap juga mulai bersiap. Seperti sebelumnya, Budi memberikan arahan untuk sehari ini. Belum juga genap pukul delapan, pengunjung sudah ada yang berkunjung ke standnya.


Gara-gara kejadian semalam yang ternyata juga viral di media sosial, membuat pengunjung kembali membeludak. Banyak yang penasaran dengan kejadian semalam itu. Tapi banyak juga yang berkomentar kalau stand ini sudah tidak bau sama sekali.


Termasuk juga sofa Budi yang semalam disorot dengan sangat jelasnya oleh kamera ponsel seseorang. Beberapa orang sengaja datang untuk mereview bahkan mewawancarai Budi mengenai sofanya yang kini sudah wangi lagi. Budi menjawab apa adanya. Jawaban jujur itu justru mendapat apresiasi, tentang betapa cepatnya kinerja bengkel kayunya Budi.


Selanjutnya, Budi terlihat sibuk membantu Farah mengurusi pembelian unit di tempat. Bahkan sofa miliknya sudah ada yang menanyakan harganya. Dengan usilnya Budi menjawab kalau harga sofanya itu, seratus juta. Ternyata orang itu tertarik juga.


Awalnya Budi agak ragu dengan orang ini. Harga segitu main oke saja. Orang itu bukannya tidak tahu apa yang dipikirkan Budi. Dia mengatakan kalau dirinya juga bersedia kalau harus membayar melewati leasing yang ditunjuk PT.PRAM. Usut punya usut, ternyata orang itu adalah juragan bis AKAP dari kota sebelah. Petugas leasingnya langsung mengenali bapak ini. Karena dulunya dia juga yang sering mengurusi leasing pengadaan unit-unit bus pesanan juragan ini. Budi meminta maaf karena belum kenal. Dan juragan bis itu memaafkannya. Merekapun kemudian bergurau.


Di sekitar pukul sembilan pagi, Adel beserta kedua orang tuanya sudah sampai di pelataran parkir di depan gedung gasibu. Pak Fajar meminta Adel untuk menghubungi Budi, menanyakan apakah sudah ada keputusan apa belum.


“Kan dari tadi Adel sudah bilang, pak. Lihat aja marking di lantainya. Kalau markingnya hijau, berarti lolos. Kalau markingnya kuning, berarti nggak lolos” jawab Adel.


“Hadeeh, itu anak mulai songong” komentar pak Fajar.

__ADS_1


“Hi hi hi. Abisnya, bapak main mencak-mencak aja. Nggak tahu berhadapan sama siapa”


“Malah ngetawain bapak” seru pak Fajar sambil melemparkan botol air mineral kosong ke belakang.


“Aww. Ha ha ha ha”


Mereka keluar dari mobil, dan berjalan bersama menuju stand ekspo PT.PRAM. Di dalam hati, Adel juga merasa berdebar-debar. Dia sendiri belum dikasih tahu, apakah sofa milik bapaknya lolos atau tidak. Tapi dia yakin kalau keasihnya itu akan meloloskan sofa milik bapaknya itu.


“Alhamdulillah” seru bu Lusi, setibanya di Tand PT.PRAM.


“Bu, jangan heboh!” tegur Adel.


Bu Lusi yang mendapat teguran itu, hanya bisa tertawa tanpa suara. Dia merasa senang melihat marking hijau terpasang di lantai di bawah sofa suaminya. Tandanya kalau sofa mereka lolos ke eropa.


Tapi Adel malah merasa aneh. Karena bukan hanya sofa bapaknya yang diberi marking hijau. Sofa satunya juga diberi marking hijau. Di sini mengandung dua arti. Yang pertama, ketiganya jadi berangkat semua. Yang kedua, sofanya Budi yang tidak jadi berangkat.


*Ada apa sama sofa Abram? Cacat, kah*?


Adel mendekati Budi yang masih sibuk berbincang dengan calon pembeli. Dia mencolek lengan Budi.


“Hei, Ta?” seru Budi.


Dia tersenyum melihat Adel tersenyum. Tapi kemudian dia menyebar pandangan ke arah depan stand.


“Oh”


Dia paham sekarang. Ada calon mertuanya di depan.


“Bu. Dilanjut dengan mbak Farah, ya? saya sudah ada janji” kata Budi sambil mengarahkan jempol kanannya ke arah pak Fajar.


“Oh, iya. silakan!” jawab pengunjung itu.


Budi langsung mundur dari perbincangan itu, lalu mengajak Adel menemui pak Fajar.


“Assalamu’alaikum” sapa Budi sambil mengulurkan tangannya.


“Wa’alaikum salam” jawab pak Fajar.


“Sehat, pak?’”


“Sehat, Bud” jawab pak Fajar.


“Ibu abis dapet THR, ya? Sumringah banget” goda Budi saat menyalaminya.


“Makasih ya, Bud” kata pak Fajar lirih.


“Iya. Makasih banget. Kamu ngasih harapan baru buat kami” tambah bu Lusi.


“Sama-sama, pak, bu. Alhamdulillah di ACC” jawab Budi. Merekapun tersenyum lagi.


“Oh, iya. Langsung saja, silakan isi formulir keikutsertaan ekspo di berlin!” pinta Budi.


“Sekarang? Di mana?” sahut pak Fajar.


“Di sana, pak. Silakan” jawab Budi.


Dia mengarahkan pak Fajar kepada Hilda. Di sana, Hilda sudah siap dengan berkas-berkas yang diperlukan. Tinggal diisi oleh pak Fajar.


“Bram” panggil Adel pelan.


“Ya?” sahut Budi.


“Itu. Yang itu kenapa ijo juga? Jadi berangkat semua?” tanya Adel.


“Oh, enggak. Tetep dua” jawab Budi.


“Lah, punya Abram dicancel?” tanya Adel serius, setengah tidak terima. Tapi Budi malah tersenyum.


“Udah laku, Ta. Bentar lagi juga diangkut” jawab Budi.


“What? Serius?”


“Ya serius”


“Ya bikin lagi, lah”


“Nggak keburu, Tata. Lusa udah harus packing. Trio tukang kita nggak sanggup bikin unit baru dalam dua hari. Minimal juga lima hari”


“Yah. Sayang banget, ya? Coba aja kejualnya di berlin. Pake euro tuh, bayarnya” keluh Adel. Budi tergelak. Dia acak-acak rambut Adel.


“Laku berapa, Bram?” tanya Adel lirih.


“Nih” kata Budi menyodorkan ponselnya.

__ADS_1


“Seriusan, Bram?” tanya Adel tak percaya. Dia menutupi mulutnya yang ternganga.


“Ya serius. Ini udah masuk, uangnya” jawab Budi.


“Allohu Akbar. Allohu Akbar. Tata nggak ngimpi kan, Bram?” tanya Adel.


“Enggak, lah. Ini nyata, Ta” jawab Budi lirih.


Adel tertawa tanpa suara, masih dengan menutupi mulutnya. Walau tidak ikut memiliki uangnya, tapi dia ikut merasa sangat senang atas pencapaian kekasihnya.


“Ngebakso, yuk!”


Sebuah suara mengejutkan mereka. Budi yang sedang fokus sama Adel, jadi tidak segera menyahut.


“Yuk!” tambah bu Lusi.


“Eeem. Aduh, saya nggak enak sama yang lain, pak” jawab Budi.


“WA aja, deh” lanjut Budi.


“Ada juga minta mentahannya, Abram. Sejak kapan bakso bisa di WA? Yang ada bakso itu dibungkus” sergah Adel heboh.


“Hempf. Ha ha ha ha” bu Lusi tidak kuasa menahan tawanya. Sedangkan Budi hanya garuk-garuk kepala.


“Ya udah kalo gitu. Kita atur jadwal aja, ya?” kata pak Fajar.


“Kita pamit ya, ngger?” sahut bu Lusi.


“Baik, bu. Terimakasih” jawab Budi.


“Assalamu’alaikum”


“Wa’alaikum salam” jawab Budi. bu Lusi dan pak Fajarpun beranjak pergi meninggalkan stand ini. Tapi tidak dengan Adel. Dia masih berdiri menghadap Budi.


“Awal yang baik, Bram” bisiknya. Budi tersenyum.


“Amin” jawab Budi.


Dia melepas kekasihnya dengan senyuman. Di dalam hati, dia senang dengan perubahan sikap pak Fajar, yang kembali baik padanya. Tapi dia juga menduga kalau baiknya pak Fajar hanyalah kebaikan semu. Hanya karena dia membantu meloloskan sofanya. Dia merasa masih harus waspada, kalau-kalau dugaannya ini benar.


“Tadi ngobrolin apa, Del? Kayaknya seru banget?” tanya bu Lusi, sesampainya di mobil.


“Yang mana? Oh. Tadi?”


“Iya, yang di stand”


“Itu, bu. Sofanya Abram, “


“Oh, iya. tadi kok ijo semua markingnya?” potong bu Lusi.


“Itu dia, bu. Sofanya Abram tuh, udah laku” jawab Adel.


“Alhamdulillah” seru bu Lusi.


“Bikin lagi, dong!” sahut pak Fajar.


“Nggak keburu, waktunya. Kang Supri CS nggak sangup bikin lagi cuman dalam waktu dua hari”


“Lah, lusa diberangkatin, Del?” tanya bu Lusi.


“Iya” jawab Adel singkat.


“Aduuh. Sayang banget, tuh. Kesempatan emas disia-siain” komentar pak Fajar.


*Klung*


Ponsel Adel berbunyi. Tanda sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya.


*Ta. Siapin satu unit lagi ya, punya bapak! Unit ini udah laku. As soon as possible! Uangnya udah di Hilda, bisa langsung diambil*.


“Punya kita juga laku, bu” seru Adel.


“Ha? Serius, del?” tanya bu Lusi.


“Serius. Ini Abram WA. Bapak diminta anterin unit baru. Secepetnya, pak” jawab Adel.


“Alhamdulillah” seru bu Lusi dan pak Fajar bersamaan.


“Oke. Bapak sendiri yang akan anter. Ha ha ha” kata pak Fajar dengan senyum lebar.


“Sip. Sekalian uangnya diambil, pak! Udah siap di mbak Hilda” kata Adel.


“Oke” jawab pak Fajar semakin mengembang senyumnya.

__ADS_1


***


__ADS_2