Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
budi diperkarakan


__ADS_3

Budi kembali merasakan tubuhnya sakit, setelah sekian lama tidak merasakan apa-apa. Dirasakannya ada aliran udara dingin dari sebelah kanannya. Dan ada yang hangat di telapak tangan kanannya. Perlahan dia mencoba membuka matanya. Rasa sakit dikepalanya membuatnya ingin menyentuh kepalanya. Tapi tangan kanannya terganjal sesuatu yang hangat itu.


*KLIIING*


Saat Budi mengangkat tangan kirinya, terasa ada yang juga menahannya. Sekuat tenaga dia mengumpulkan kesadarannya. Mencoba mengamati, benda apa yang ada di tangannya itu.


*Borgol*?


Ya. Ada benda metal berantai bernama borgol yang melilit di tangan kirinya. Terhubung dengan rangka ranjang yang ditempatinya. Sejenak kebingungan menghinggapi hatinya. Ada apa kiranya dia mendapatkan benda tak wajar ini?


*Huuufftt*


Lama-lama dia teringat akan kejadian yang terakhir dialaminya. Dia teringat rumah Adel, dia teringat preman-preman itu, dia teringat Sandi. Terakhir yang dia ingat adalah sebuah benda panas tiba-tiba menusuknya dari belakang, di area punggung kirinya. Teriakan makian Sandi juga lamat-lamat terngiang kembali di telinganya. Sandi menyebut kata Polisi.


*fix. Pak Fajar udah ngelaporin aku ke polisi. Aku beneran harus berhadapan sama hukum. Apa Adel masih nggak percaya juga sama aku? ya Alloh, beri hamba petunjuk*!


Dia menoleh ke kanan. Tampak satu bidadari manis sedang duduk dan tertidur di pinggir ranjangnya. Tampak nafasnya tenang dan teratur.


*Ya udah, lah. Kalo emang Adel udah nggak mau lagi sama aku. Mungkin ini udah takdirku. Aku nggak mungkin terus-terusan bikin bidadari kecilku gelisah. Bidadari paling cerewet, tapi paling perhatian*.


Di antara segala rasa sakit yang dirasakannya saat ini, budi masih merasakan kebahagiaan. Masih ada orang yang sangat sayang pada dirinya.


Budi menyentuhkan telunjuk dan jempolnya pada dagu Putri. Untuk beberapa saat, Putri tidak merespon. Masih terlelap dalam tidurnya. Tapi beberapa saat kemudian, dia mulai terusik. Dia mulai kembali tertarik kealam sadarnya. Dia tampak bingung, saat mendongakkan kepalanya, ada seulas senyum tersungging untuknya.


“Mas?” sapa Putri. Ternyata dia belum sepenuhnya sadar.


“Allohu Akbar. Mas Budi siuman?” kata Putri kaget. Budi tersenyum lagi.


Segera saja Putri beranjak dari kursinya. Dia pergi ke depan, dan seperti berbicara kepada seseorang. Budi menebak, kalau yang diajak Putri berbicara adalah petugas jaga dari kepolisian. Dan benar saja, seorang polisi datang menghampirinya. Tapi hanya melihat saja.


Seorang dokter masuk memeriksa Budi. Polisi tadi duduk di pojok ruangan. Memperhatikan setiap gerak-gerik dokter yang memeriksa Budi.


Budi mendapatkan penanganan lanjutan, sehubungan dengan sudah sadarnya dia. Kepada polisi itu, dokter tadi bilang kalau Budi belum bisa diinterogasi. Menunggu kondisi Budi pulih, baru bisa diambil keterangannya.


“Mas. Mas Budi ngerasain apa?’ tanya Putri setelah mendapat ijin mendekat kembali.


“Ibu kemana?” Budi malah ganti bertanya.


“Ibu masih tidur, mas. Dari kemarin ibu nggak tidur” jawab Putri.


“Kemarin?” tanya Budi heran.


“Iya. Mas Budi udah dua hari nggak sadar. Hampir aja, “


Putri tak kuasa meneruskan kata-katanya. Air matanya meluncur begitu saja mengingat saat-saat kritis kang masnya.


Peluru tajam itu hampir saja merenggut nyawa kangmasnya. Masih beruntung, Alloh menyelamatkannya. Peluru itu seolah tertahan oleh sesuatu yang keras, saat ujung tajamnya nyaris menembus jantung Budi.


“Maafin mas ya, Put. Mas Budi selalu ngeyel. Selalu ngerepotin” kata Budi.


“Ngomong apa sih, mas?” tukas Putri semakin sedih. Dia menciumi tangan Budi. Dan dibawanya tangan itu ke pipinya. Seolah mau dipeluknya.


“Zulfikar kemana?” tanya Budi.


“Mas. Jangan banyak mikir dulu! Istirahat lagi gih, biar cepet seger!” sahut Putri mengelak.


“Huuufft”


Budi menghela nafas berat. Dia hafal sifat Putri. Dia mulai menirukan gaya ibunya kalau ingin mengelak menutupi jawaban sebenarnya. Perasaan tidak enak itu tiba-tiba hinggap. Membuatnya tidak pede beradu pandang dengan Putri.


“Udah lah, mas. Putri iklas, kok. Kalo emang jodoh pasti kembali. Dia hanya menjaga integritasnya” kata Putri, mengetahui makna dari tarikan nafas berat kang masnya.


Di luar sana, sedang heboh berita mengenai sang artis, Adelia Fitri. Walau tanpa khadirannya, tapi bapaknya telah resmi melaporkan kasus sabotase motornya dan bengkel kayu bapaknya ke kepolisian. Berbekal bukti-bukti yang di dapat dari Sandi. Dengan Budi sebagai terduga otak intelektualnya.


Sontak saja dunia maya geger dengan berita itu. ada yang percaya dan ada juga yang tidak percaya.


Termasuk di PT.PRAM. Para karyawannya terbagi menjadi tiga kubu yang saling membicarakan isu ini.


Bagi yang mengetahui masa lalu Budi, merasa kalau kedatangan Budi kembali ke kota ini saja sudah bisa diartikan sebuah misi. Terlebih buat orang-orang yang pernah melihat Budi dan Sandi pernah bersitegang. Jadi mereka merasa kalau tuduhan itu bisa saja terjadi. Mereka merasa kalau Budi memang bisa melakukan pekerjaan semacam itu.


Di sisi yang berseberangan, ada Erika yang selalu mematahkan pertanyaan maupun pernyataan orang-orang ini. Dia selalu berada di sisi Budi. Membelanya dengan mengedukasi kawan-kawannya tentang proses hukum.


Ada juga yang membandingkannya dengan kasus Stevani. Erika menjelaskan kalau kasusnya Stevani sudah terlalu berat dengan bukti-bukti. Sehingga membahayakan posisi perusahaan.


Tapi kalau kasusnya Budi, bukti-buktinya masih bisa disangkal dengan mudah. Alias tuduhannya masih cukup lemah di mata hukum. Walau Budi sendiri memang harus berjuang mematahkan tuduhan itu. Dengan memberikan bukti-bukti bahwa dia tidak bersalah.


Hari telah berganti. Dokter telah menyatakan kalau Budi telah siap untuk dimintai keterangan. Walau sebenarnya dia masih cukup lemah. Siap tidak siap, Budi tetap diinterogasi.


Banyak perTanyaan yang diajukan penyidik seputar kasus yang dilaporkan pak Fajar. Tentang bukti-bukti seperti yang diperlihatkan Sandi.


Budi menolak semua tuduhan itu. Mempertanyakan darimana tulisan-tulisan itu bisa dibilang sebuah kode? Tidak ada referensi khusus. Dan kalaupun itu benar sebuah kode, darimana juga bisa dihubungkan dengannya.


Penyidik itu bilang kalau Sandi sudah mengatakan semuanya, dan bersaksi untuk pak Fajar. Budi mempertanyakan kejujuran Sandi. Tidak ada yang bisa memastikan dia jujur atau tidak.


Penyidik itu terus mencecarnya, bahkan sampai pada gambar jam tangan yang benda nyatanya memang ada. Pada titik itu, jawaban Budi terdengar tidak meyakinkan. Penyidik itu menantangnya untuk membuktikan kalau penanggalan pada sistem pesan singkat itu bisa dirubah. Sementara ini, Budi akan menyandang status tersangka. Budi hanya bisa menghela nafas sambil terus beristighfar.


Di lain tempat, pak Fajar semakin bersemangat untuk memenjarakan Budi. Didukung oleh Luki, dia bahkan bisa menyewa pengacara untuk melancarkan tuntutannya. Mereka membahas berbagai skenario tuntutan di rumah pak Fajar.


Tapi berbeda dengan Adel. Dia seperti menjadi bimbang. Perasaannya beradu, antara rasa benci yang masih bersemayam, dan tanda tanya besar, tentang kebenaran pesan singkat dulu itu.


Sungguh, kalimat terakhir Budi tempo hari, masih terus terngiang-ngiang di telinga Adel. Dan hatinya selalu bergetar saat teringat kalimat itu. Mulai muncul rasa khawatir, bagaimana jika tuduhannya ternyata salah? Bagaimana kalau Budi benar, kalau dia hanya difitnah? Adel tidak bisa membayangkan betapa dia akan menjadi orang yang paling dibenci.


“Del?” tegur bapaknya. Adel tersentak ditegur sekencang itu.

__ADS_1


“Kamu diajakin ngobrol kok bengong aja. Kenapa sih?” lanjut pak fajar.


“E, eemm. Enggak” jawab Adel.


“Kamu udah dicelakain, bapak udah dikadalin, dia masih kamu pikirin?” tanya pak Fajar. Adel terkesiap.


“Kamu anak bapak. Yang ngasih makan, bapak. Yang ngerawat dari kecil, bapak. Jadi, kamu harus ngebelain bapakmu, bukan baji**** itu” lanjut pak Fajar.


Adel masih terdiam. Dia masih belum tahu harus menjawab apa. Kemantapan hatinya seolah ambyar. Tapi dia juga bingung, mana yang bisa dia percaya. Kenyataan di depan mata memang sedang menyudutkan Budi. Benar kalau bapaknya minta dukungan darinya. Dan memang seharusnya dia mendukung bapaknya.


Tapi kalimat itu. Budi hanya akan mengucapkannya di saat dia sudah diambang batas keputus asaan. Artinya dia merasa kalau dirinya memang tidak terlibat. Tapi belum bisa membuktikan kalau dirinya tidak terlibat.


Walaupun statusnya kini menjadi tersangka, tapi Budi mendapatkan fasilitas yang layak. Dia dirawat di ruang rawat kelas dua. Tapi disterilkan jadi hanya dia tempati sendiri, dari dua pasien yang seharusnya.


Dia juga mendapat kelonggaran untuk dirawat keluarganya. Tidak terbatas dalam jumlah. Artinya tidak seperti di sel tahanan yang ada jam besuk khusus. Di sini, jam besuknya mengikuti jam besuk rumah sakit. Dan boleh sampai empat orang sekaligus di dalam ruang rawat itu.


Mengapa bisa begitu? Ternyata, tanpa Budi sadari, ada campur tangan Zulfikar dan pak Daud. Pak Daud, sebagai senior dan berpangkat, mempunyai kekuasaan untuk memberikan fasilitas itu. Dengan harapan, anaknya masih bisa diterima di keluarga Budi, sekalipun dalam kasus ini Zulfikar harus berseberangan kubu dengan Budi. Bahkan harus menjauh sementara dari Putri.


“Makan dulu, ngger! Biar ada tenaga” tegur bu Ratih. Sesendok nasi sudah mendekat ke mulut Budi.


“Maafin Budi, bu” sahut Budi.


Wajahnya terlihat frustasi. Bu ratih meletakkan kembali sendok itu kepiringnya.


“Kamu nggak salah kok, ngger. Kenapa minta maaf?” jawab bu Ratih.


“Budi nggak tahu, apakah Budi bisa ngelawan mereka”


“Nggak perlu dilawan, ngger. Pasrah aja!”


“Pasrah?”


“Pasrahkan sama Gusti Alloh. Mintakan solusinya kepadaNya! Insya Alloh, pasti ada jalan” jawab bu Ratih.


Seulas senyum tersungging di bibir Budi. Bu Ratih ikut tersenyum jadinya. Budipun akhirnya mau makan juga.


*TOK TOK TOK*


Terdengar suara ketukan dari pintu depan. Bu Ratih menoleh ke belakang. Muncullah wajah Putri sambil tersenyum.


“Asssalamu’alaikum” sapa Putri.


“Wa’alaikum salam” jawab bu Ratih dan Budi bersamaan.


“Ada tamu, mas” kata Putri. Tapi dia masih di ambang pintu. Belum masuk.


“Siapa, Put? Suruh masuk, dong!” sahut bu Ratih.


Dan masuklah dia bersama seorang wanita berhijab. Budi sempat mengernyitkan dahinya. Dia bingung, seolah kenal, tapi kok beda.


“Kenal nggak, mas?” tanya Putri.


Budi masih mencoba mengingat-ingat. Semakin dekat, wajah itu semakin jelas. Tapi dia seperti pangling.


Dia berusaha mencocokkan wajah itu dengan semua wajah perempuan di dalam ingatannya. Tapi belum ada yang cocok. Sampai wanita itu tersenyum.


“Allohu Akbar. Liza?” seru Budi. Wanita itu tergelak.


Budi terpana melihat perubahan pada mantan kekasihnya itu. Pemandangan yang luar biasa indah buatnya. Sampai terpana dia melihat kecantikan Liza dalam balutan hijab syar’i itu.


“Udah baikan, mas?” tanya Liza.


“Allohu Akbar. Kamu cantik banget, Liz” puji Budi.


Liza tersipu mendapat pujian dari Budi. Melihat bu Ratih menatapnya, Liza berinisiatif menyalami bu Ratih. Budi masih terpesona dengan kecantikan Liza.


“Mas. Ditanya, itu lho” tegur Putri.


“Eh, iya. Eemm anu. Iya. Aku udah baikan kok” jawab Budi tergagap. Liza tergelak melihat Budi salah tingkah.


“Mbak Liza ini, temennya Budi?” tanya bu Ratih.


“Eem. Sebenarnya, iya. Tapi mungkin saya bukan temen yang baik, bu” jawab Liza. Bu Ratih tampak bingung beberapa saat.


“Oh. Oke. Nggak perlu ngerasa gitu, mbak. Ibu malah berterimakasih, karena mbak Liza udah mau ngerawat Budi selama di sana” jawab bu Ratih.


“Eem. Ibu, itu sindiran apa gimana? Kok malah terimakasih? Aturan juga ibu marah sama Liza”


“Hempf. Ha ha ha ha” putri tertawa mendengar ucapan Liza.


“Put!” tegur bu Ratih.


“Ha ha ha. Iya, iya, maaf, maaf. Abisnya, mbak Liza lucu. Bukan sindiran mbak, itu beneran. Soal nakal sih, emang mas Budinya yang badung. Mbak Liza itu korban. Pasti banyak deh, yang lainnya” jawab Putri.


“Sembarangan. Sok tahu banget” kilah Budi.


“Duduk, mbak!” pinta Putri.


“Oh, ya. Makasih” jawab Liza.


Untuk kesekian kalinya Budi terpana dengan kecantikan Liza. Terlihat lebih adem dan menentramkan jiwa. Jauh berbeda dengan selama bersamanya. Pakaiannya selalu pakaian yang mengumbar aura sensual.


“Kamu udah hijrah, Za?” tanya Budi.

__ADS_1


“Belum mas. Baru nyobain. Sebulanan” jawab Liza.


“Good choice” komentar budi.


“Aku malu mas, kalo tetep seperti dulu. Sekarang udah banyak yang kenal aku. Udah banyak opportunity yang mas tinggal dikasihkan ke aku”


“Oh, ya?”


“Ya. sampai hi level managementpun udah pada kenal sama aku”


“Hebat, dong” komentar Budi.


“Kamu yang hebat, mas. Aku bisa dikenal, itu juga karena orang tahunya aku pernah deket sama mas. Tiap ada yang nyebut nama mas Budi, orang lain jadi penasaran sama pemikiranku”


“Terus?” tanya Budi penasaran.


“Ya aku bilang aja, aku ini orang goblok. Yang pinter itu mas Budi. Yang aku jelasin itu, buah pemikirannya mas Budi”


“Yah. Kenapa dibilangin. Nggak usah!”


“Udah aku bilang gitu aja, masih pada penasaran. Minta aku buat bikin rancangannya sampe jadi. Sampe diaplikasiin ke jalur”


“Wow. Serius?”


“Serius. Bahkan sekarang aku dipegangi jabatan yang mas Budi tinggal”


“Alhamdulillah. Prestasi bagus itu, Za”


“Iya. Alhamdulillah. Makanya aku malu kalo bawa nama mas Budi, tapi penampilanku masih dengan pakaian apa adanya. Aku memutuskan buat berhijab. Ya, walau masih belum nyaman. Masih belum sehati sama badan” sahut Liza.


Budi tersenyum. Baginya, itu adalah langkah awal yang bagus. Tinggal konsistensinya saja.


“Witing tresno jalaran soko kulino” komentar Budi.


“Apa tuh?” tanya Liza bingung.


“Awalnya cinta, bermula dari biasa” jawab Budi. Lisa tersenyum.


“Diminum dulu, mbak” celetuk bu Ratih. Dia menyodorkan air mineral dalam kemasan gelas.


“Oh, ya. makasih, bu” jawab Liza, menerima emberian itu.


“Ngomong-ngomong, kok bisa tahu aku lagi dirawat?” tanya Budi. Liza yang sedang menyedot minumannya, tersenyum.


“Ratna yang ngasih tahu” jawab Liza.


“Ratna?”


“Iya. Ratna Salsabila. Dia sepupuku, mas” jawab Liza sambil tersenyum.


“What? Serius?”


“Ya serius lah, mas. Nyatanya mbak Liza nyampe sini” sahut Putri.


“Aku pengen bantuin kamu, mas” kata Liza. Wajahnya mendadak serius.


“Hem?”


“Sekarang emang aku dateng sendiri. Mungkin besok, aku akan datang sama ahli hacking. Kalo waktunya ngejar, mbak Armita juga mau kasih pengacara buat mas Budi”


“Armita?”


“Nah, loh. Mampus lo, mbak Adel. Lo pikir yang sayang sama mas Budi cuman lo doang?” komentar Putri.


“Put!” tegur Budi.


“Iya, mas. Maaf. Putri kesel. Cantik-cantik kok otaknya nggak dipake”


“Hei. Jangan ngelupain kebaikan orang, sekalipun udah nggak sejalan!” saran Budi. Putri mengangguk.


Untuk beberapa saat, keheningan menyelimuti mereka. Liza, sudah barang tentu tidak berani membuka percakapan yang menjadi kaku karena tuan rumah sendiri.


“Sebelumnya, ibu ucapin terimakasih, mbak Liza. Jujur kita memang butuh bantuan semacam itu” kata bu Ratih.


“Sama-sama, bu” jawab Liza. Mereka saling melempar senyum.


“Besok, mas Budi bisa ceritain kronologinya. Biar ditelusuri jejak digitalnya. Insya Alloh, secanggih apapun teknologi yang dipake tukang fitnah ini, orangku bisa ngebobolnya” kata Liza kepada Budi.


“Makasih ya Za. Kayaknya doa ibu dikabul lewat kamu” jawab Budi.


“Mbak liza nginep dimana?” tanya bu Ratih.


“Di belakang sini, bu. Rumahnya Ratna kan deket dari sini” jawab Liza.


“Oh, ya? Yah, tadinya ibu mau nawarin buat nginep di rumah ibu”


“Aduh, tawaran yang susah ditolak itu, bu. Tapi Liza takut baper” jawab Liza.


“Wah, kalo urusan baper, berat mbak, saingannya” celetuk Putri.


“Siapa?” tanya Budi.


“Ada, deh” jawab Putri sambil tertawa.

__ADS_1


__ADS_2