
Malam harinya, Budi dan yang lain mempersiapkan diri untuk menjalankan rencana menyerahkan ponsel Stevani. Budi dan Aldo diplot untuk berjaga di dalam, sedangkan Madina menemani ibunya, tidur di teras. walau sedang tidak bertugas, Zulfikar juga ikut waspada. Dia setuju dengan rencana itu.
“Mas. orangku sudah siap di posisi” kata Zulfikar, sesaat menjelang pergi.
“Oke. Jangan bergerak kalau belum diperlukan!” sahut Budi.
“Ingat, tugas kalian hanya mengamati! Lanjut Budi.
“Kalo tidak berjalan sesuai rencana?” tanya Zulfikar.
“Pasti ada keributan, lah. Mendekat aja! Kalian pasti ngertilah, darurat apa enggaknya”
“Oke, mas”
“Situasi lain, kita improvisasi aja. Intinya, kita bukan mau nindak. Kita cuman pengen tahu aja. syukur-syukur, orang itu akan bawa kita ke kelompoknya. Kesempatanmu setelah itu”
“Ya udah. Aku menuju posisi dulu ya, mas” pamit Zulfikar.
“Oke. Makasih, ya?” jawab Budi.
“Sip”
Budi kembali masuk ke dalam kamar. Dia memberikan jempol kepada Aldo. Dan Aldopun membalas jempolnya. Artinya mereka sudah sepaham. Budipun menghampiri ranjang Putri.
Untuk sesaat, dia tertegun saat menatap kaki Putri. Ada gips di pergelangannya. Artinya, kaki Putri belum siap untuk dilatih berjalan. Tapi bukan itu yang mengganggu pikirannya.
“Udah mas. Jangan diinget-inget!” tegur Putri.
Budipun tersentak, lalu duduk di kursi, di sebelah ranjang Putri.
“Jangan PHPin orang yang udah ngembaliin semangat mas Budi!” lanjut Putri. Budi tersenyum.
“Kamu tahu aja sih Put, apa yang mas rasain” komentar Budi.
“Ya tahu, lah. Dislokasi aja sakit banget. Sampe sekarang masih kerasa banget nih, kalo digeser” jawab Putri. Budi mengernyitkan keningnya.
“Apalagi,” kalimat Putri menggantung.
“Aahh” Putri tidak kuasa melanjutkan kata-katanya.
“Makasih banget ya Put, kamu udah perhatian banget sama mas. Semoga kamu cepet sembuh, ya. Mas sedih kalo liat Putri sakit begini” sahut Budi.
“Makasih doanya, mas” jawab Putri.
Seperti yang telah direncanakan, Budi menggelar tikar di sebelah ranjang rawat Putri. Kursinya dia pinggirkan. Itu dia lakukan, agar dia bisa melihat siapa yang datang ke kamar itu.
Di seberangnya, Aldo sudah meletakkan ponsel Stevani di meja kecil disebelah ranjang, berdampingan dengan ponselnya. Dia diposisikan Budi untuk tidur dengan duduk.
Karena pengaruh obat, menjelang pukul sepuluh malam, Putri sudah tertidur. Stevani juga ikut tertidur beberapa saat kemudian. Aldo pura-pura tidur saat bermain ponselnya. Sedangkan Budi rebahan dengan berselimutkan sarung.
Dia memakai kaos kaki, seolah-olah merasa kedinginan. Dan sarungnya dia tarik keatas menutupi badan sampai kepalanya. Indera pendengarannya dia tajamkan. Dia memindai setiap suara yang masuk ke telinganya.
__ADS_1
Ada beberapa kali terdengar suara orang berjalan di koridor. Tapi terlalu sulit bagi Budi untuk menentukan yang mana yang sedang mereka tunggu. Sampai pada jam sebelas malam, ada suara langkah kaki yang berhenti di depan pintu kamar rawat. Budi menyiagakan matanya. Dari balik sarung, ruang rawat itu terlihat jelas.
Cklek
Terdengar suara pintu dibuka. Budi semakin bersiaga. Begitu juga dengan Aldo di seberangnya.
Tek
Tek
Tek
Terdengar suara langkah kaki pelan. Tapi bukan suara sepatu atau alas kaki khas laki-laki.
Masa preman pake pantofel?
Budi yang tidak bisa melihat ke arah pintu, hanya bisa membatin. Dia menunggu dengan penasaran.
Loh, perawat? Bukannya tadi udah diperiksa? Mau apa, dia?
Yang masuk kamar itu ternyata adalah seorang perawat wanita. Dia berjalan dengan sangat pelan. Matanya sibuk memindai setiap orang yang ada di kamar itu. Merasa sudah aman, dia melanjutkan langkahnya.
Loh loh loh. Mau apa dia ke meja Vani?
Perawat itu berhenti di depan meja di sebelah ranjang Stevani. Dia memperhatikan sebentar keadaan sekitarnya. Lalu dia mengeluarkan selembar kertas dari kantong bajunya. Tampak dia sedang mencocokkan gambar di kertas itu dengan ponsel yang ada di atas meja. Tak lama kemudian, dia mengambil salah satunya.
Loh. Kok dia ngambil hapenya Vani?
Budi terkejut dan sempat mau bereaksi. Tapi seketika dia urungkan, karena skenarionya hanyalah menyerahkan ponsel itu.
Budi menanti beberapa saat. Kemudian dia berlagak bangun dan ingin sesuatu. Dia keluar, berlagak mencari keluarganya. Dia juga berlagak menggerutu sendiri, agar tidak terlihat kalau dia sedang mengawasi perawat tadi.
Mau kemana lo? Kalo lo bukan suruhan Sandi, gua nggak bakal ngelepasin lo.
Budi berjalan sambil pura-pura menelepon. Dia berlagak seolah-olah telah ditinggal seseorang, dan kini sedang mencarinya. Dia membuntuti perawat tadi.
Kok lo mau keluar rumah sakit? Lo mau kemana?
Perawat tadi berjalan menuju parkiran, lalu bersiap pergi dengan motornya.
“Eh Dudung, lu pergi kemana sih? Disuruh beli nasi padang malah ngilang”
Budi berbicara di telepon sambil celingak-celinguk melihat ke arah depan rumah sakit. Kebetulan parkirannya ada di depan gedung ruang rawat Putri.
“Ini udah jam sebelas malem, jenderal. Gila lu”
Zulfikar yang ada di seberang telepon bingung ditanya begitu. Perawat tadi tampak tidak curiga dengan Budi. Mungkin dia maklum, karena parkirannya terpisah jalan raya dengan gedung utama rumah sakit.
“Ya kesiniin dulu nasi padangnya, Dudung! Mentang-mentang tutupnya tengah malem, nganteriannya entar-entaran. Laper bego”
Budi kembali berbicara sendiri, seperti benar-benar memarahi temannya.
__ADS_1
“Buru! Gua tunggu di depan parkiran” lanjut Budi, lalu dia memutus sambungan teleponnya, seketika.
Budi tidak memasang mata saat perawat itu melintas di depannya. Dia berkacak pinggang sambil geleng-geleng kepala. Dia berlagak seperti sedang benar-benar kesal. Tak lama kemudian, Zulfikar datang.
“Ikuti perawat di depan!”
Budi langsung naik ke atas motor Zulfikar, setelah memberi perintah.
“Kok perawat, mas?” tanya Zulfikar bingung.
“Udah, buru!” sergah Budi.
Zulfikarpun lagsung melajukan motornya. Budi memberitahu yang mana yang menjadi targetnya. Zulfikar manggut-manggut mengerti. Dia mengambil jarak agar tidak ketahuan.
Perawat itu menuju sebuah kampung padat penduduk. Dari jauh tampak dia berbelok menuju salah satu rumah. Dari gelagatnya, dia seperti layaknya orang yang baru pulang kerja.
“Beneran mas, dia yang ngambil hapenya?” tanya Zulfikar.
“Beneran” jawab Budi pendek.
“Dia beneran cewek lho, mas”
“Itu dia, Zul. Aku jadi bingung. Dia itu suruhan siapa?”
“Gimana kalo kita muter dari sana?” tanya Zulfikar, sambil menunjuk sebuah arah.
“Rumah itukan produksi kelong goreng. Di belakangnya, ada bangunan semi permanen buat produksinya” lanjut Zulfikar.
“Kamu dari depan! pura-pura nanya kelong goreng. Aku yang dari jalan sana. Gimana?” sahut Budi.
“Calon wali adalah atasan. Siap komandan” jawab Zulfikar.
Budi sempat tergelak mendengar jawaban Zulfikar. Diapun turun dari motor Zulfikar, lalu berjalan menuju ke gang kecil tak jauh dari jalan itu. Walaupun letaknya masih di bilangan kota, tapi kampung ini sudah sepi di jam menjelang tengah malam.
Budi berjalan biasa namun tetap waspada. Dan seperti yang dikatakan Zulfikar, ada sebuah bangunan semi permanen yang ada spanduk bertuliskan ‘jual kelong goreng’. Budi mencari posisi yang aman untuk mengintip ke arah dalam.
Nah, loh. Siapa mereka?
Saat mengintip dari lubang kecil bekas paku di salah satu seng dinding bangunan itu, Budi melihat perawat tadi bertemu dengan tiga orang laki-laki. Pembicaraan mereka tidak terdengar oleh Budi. Tapi yang jelas, ponsel Stevani tampak jelas diserahkan oleh perawat tadi. Dan salah satu dari mereka, cocok dengan apa yang digambarkan oleh Icha.
Tak lama kemudian, ketiga laki-laki itu tampak balik kanan dan hendak keluar melalui pintu bangunan ini. Budi merendahkan tubuhnya, bersembunyi diantara dinding bangunan itu denan tembok rumah sebelahnya, yang menghasilkan kegelapan.
Ketiga orang itu pergi menggunakan motor. Budipun beranjak dari persembunyiannya. Dia melihat kemana perginya ketiga orang itu.
“Ada temuan, mas?”
Tanpa Budi sadari, Zulfikar telah ada di dekatnya.
“Ikuti tiga motor yang ada di depan!” jawab Budi.
“Kelongnya?” goda Zulfikar.
__ADS_1
“Buat sarapan” jawab Budi gemas.
Zulfikar melajukan motornya, setelah Budi membonceng. Budi memberitahu ciri-ciri ketiga orang tadi. Dan Zulfikar mengenali ketiga orang itu. Karena tidak ada motor lain di depan selain ketiga orang itu.