
Budi langsung memacu motornya, langsung menuju kota. Sudah sekian kali Erika menelepon. Terasa getaran ponsel di sakunya. Tapi bayang-bayang wajah Adel selalu muncul di sepanjang jalan.
Bayangan luka yang panjang itu, membuat tubuhnya merasa ngilu. Dan rasa bencinya pada Stevani membuatnya merubah haluan motornya. Dia mampir dulu ke polres. Kepada petugas jaga, dia mengatakan kalau dirinya ingin menemui Stevani. Agak janggal petugas itu mendengar orang yang ingin dia tuju. Tapi kemudian mempersilakan Budi untuk menunggu. Mata merah Budi membuat petugas itu lebih waspada.
Stevani terkesiap melihat siapa yang datang mengunjunginya. Tadinya dia berharap kalau Hendralah yang datang membawa berita baik. Tapi justru Budi yang terlihat menatapnya dengan mata memerah penuh amarah. Banyak pertanyaan dalam hatinya.
“A, ada apa, Bud?” tanya Stevani.
Tatapan itu menurut Stevani jauh lebih menakutkan daripada tatapan para penyidik.
“Puas?” Budi balik bertanya.
“Ha?” Stevani bingung.
“Puas lo bikin Adel menderita?”
“Menderita? Gimana gua bisa bikin Adel menderita? Ke depan situ aja gua nggak bisa”
“Bullshit” sentak Budi sambil meninju meja, pelan.
“Selama ini gua biarin lu pake pengacara, karena gua masih inget kebaikan lu sama gua. Ibarat kata pada akhirnya lu bebas, gua nggak ambil pusing. Tapi ternyata lo sadis, Van”
“Sadis apanya, Bud? Gua ngelakuin apa?” tanya Stevani mulai menangis. Tuduhan Budi sangat menyakiti hatinya.
“Ngelakuin apa? Ya. Lo emang nggak ngelakuin apa-apa. Tapi apa nggak bisa lo bilang sama ortu lo, buat nyerang gua aja, ha?” jawab Budi. Suaranya pelan, tapi penuh penekanan.
“Nyerang?”
“Kalo yang lo sabot itu motor gua, gua nggak bakal masalahin. Ibarat kata gua harus terkapar, kaki gua patah, gua masih bisa bisa terima itu. Gimanapun juga lo pernah baik sama gua. Dan gua tahu lo marah sama gua” jawab Budi.
Matanya melotot tajam menyeramkan. Stevani hanya bisa geleng-geleng kepala, menolak tuduhan itu.
“Tapi lo nyabot motor yang salah, Van” lanjut Budi.
“Bud, beneran deh, gua nggak ngerti sama yang lo omongin. Nyabot? Siapa yang gua perintah buat nyabot? Gua nggak pernah kasih perintah sama siapapun. Gua udah tobat, Bud. Ya Alloh”
“Nggak usah pura-pura deh lo! Tepat pada waktunya nanti, gua bakal tunjukin orang itu di depan mata lo”
“Bud?”
“Dan ini peringatan terakhir buat lo. Suruh ortu lo buat berenti neror Adel! Jangan paksa gua jadi anarkis!”
“Ya Alloh, Bud. Sumpah, “
*Huwannuru yahdil kha irina dziyau hu*...
“Mas. Handphonenya tolong dimatikan, mas!” tegur petugas jaga.
“Oh, ya. maaf” jawab Budi. Dia berdiri dan merogoh ponselnya.
*Adel*?
“Halo, assalamualaikum, Ta” sapanya.
“Braam, tolong braaam. Bengkel kayu bapak kebakaran, Braaam”
“Innalillahi. Kok bisa?”
“Ada yang lempar molotov, Bram” jawab Adel. Terdengar banyak suara jeritan dan juga teriakan.
“Oke, oke. Abram balik”
*Tuuut*
Budi langsung memutar tubuhnya kembali menghadap Stevani. Kini tak hanya matanya yang memerah, wajahnya juga ikut memerah. Dia mendekati meja, dan menyorongkan kepalanya mendekati wajah Stevani.
“Siapin kafan kembar, Van! Gua akan kirim kepala ortu lo ke sini” Kata Budi penuh amarah.
“Astaghfirulloh, Bud. Adel kenapa lagi?” tanya Stevani bingung mendapat kalimat bernada ancaman itu.
“Lo emang sadis, Van” kata Budi sambil menarik diri.
“Bud, itu bukan gua. Sumpah itu bukan perbuatan gua” seru Stevani. Budi tak bergeming.
“BUDIIII” teriak Stevani. Tapi Budi terus melangkah tanpa menoleh lagi.
Petugas yang berjaga langsung sigap bergerak, begitu mendengar teriakan tadi.
“BUDIII”
Stevani masih berteriak lagi saat diamankan petugas, kembali ke selnya. Dia merasakan tubuhnya lemas, tak kuat menahan apa yang disebutnya dengan fitnah. Fitnah yang datang bertubi-tubi tanpa henti.
Budi langsung pergi dari polres. Dia memberikan pesan suara pada Erika kalau bengkel kayunya pak Fajar kebakaran. Dan dia mau kembali ke sana untuk membantu memadamkan api.
Dia juga menyempatkan diri untuk menelepon pemadam kebakaran dan menanyakan apakah sudah ada yang meminta bantuan. Ternyata sudah ada yang menelepon dari lokasi yang Budi sebutkan. Dan sudah ada unit yang meluncur ke sana. Ya sudah, Budi langsung tancap gas.
Dia ambil jalan pintas yang menanjak tajam dan berkelok-kelok. Bagai pembalap handal, dia memacu motornya menyalip banyak motor dan mobil di depannya. Dia tidak mau melewatkan barang sedetikpun.
Di depan ada sebuah truk panjang. Jenis truk dengan sasis yang sudah disambung. Budi mengambil ancang-ancang agak jauh dari ekor truk itu. Dia menunggu jalan lurus untuk menyalipnya. Tiba di jalan lurus itu, dia langsung sein kanan dan langsung menyalip. Waktunya tidak banyak. Dari arah berlawanan, sebuah bis sedang mendekat dengan kecepatan sedang.
*Sedikit lagi*.
Budi menyalakan hazardnya saat bis di depannya menyalakan lampu dim. Dia sudah bersiap untuk take over sepenuhnya.
*Toeeeeeeettt*
Tiba-tiba bis di depannya membunyikan klaksonnya. Sopir dan penumpang di kursi depannya melambai-lambaikan tangan ke arahnya. Budi belum mengerti apa maksud mereka.
*BRAAAAAKKKK*
__ADS_1
*SRAAAAAAAKKK*
*GRUDUK GRUDUK GRUDUK*
*DAAAKKKK*
Benturan keras di kepalanya langsung membuat Budi tak sadarkan diri. Dia tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya. Dia tidak merasakan saat banyak orang mengerumuninya. Membopongnya menuju rumah salah seorang warga. Dia juga tidak merasa saat ada seseorang yang memeriksa kondisi vitalnya.
“Adel”
Budi mulai siuman, walau belum membuka matanya. Dia mulai bisa merasakan perih di lengan kirinya.
“Adel” panggilnya lagi.
“Mas, kamu udah siuman?” sebuah suara memancing hatinya untuk membuka mata.
“Aaah. Ssssttt”
“Sakit, ya? sory, obatnya emang perih”
Sesosok wanita tersenyum padanya. Wajahnya ayu dan teduh. Budi merasakan ada banyak orang di atas kepalanya. Tangan kananya memegangi kepalanya. Pandangannya masih sedikit berputar-putar.
“Wah, nggak ketangkep mobilnya. Kenceng banget larinya”
Sebuah suara laki-laki menarik perhatian Budi. Dia ingin mendongak, tapi tubuhnya masih terasa sakit.
“Jangan bergerak dulu! Rehatin dulu! Badan kamu kaget kebentur keras tadi, ke aspal” kata wanita itu.
Budi menatap wajah wanita berhijab lebar itu. Dengan pandangan mata yang masih agak berputar, Budi seperti mengenali wanita itu.
“Suster Feni?” tebak Budi.
“Kok?” lanjut Budi menggantung.
“Ini rumah mertua aku” jawab suater Feni.
“Alhamdulillah” kata Budi mengucap syukur.
“Lah, orang abis kecelakaan kok alhamdulillah?” tanya suster Feni bingung.
“Alhamdulillah, Alloh udah berkenan nolong saya. Sama-sama bakal celaka, tapi saya diposisiin di depan rumah seorang suster. Coba kalo di depan pande besi”
“Hempf” suster Feni tergelak mendengar jawaban Budi.
“Kamu tuh, ya. Udah begini aja, masih bisa bercanda. Pantes si Adel tergila-gila sama kamu”
“Adel?” tanya Budi.
“Innalillahi” lanjut Budi.
“Bud, kamu kenapa? Kok bilang innalillahi? Adel kenapa?”tanya suster Feni.
“Bengkel, bengkel”
“Bud, jangan berdiri dulu! Kamu masih lemah” seru suster Feni.
“Astaghfirulloh, toloong!”
Dan benar,Budi terjatuh lagi.
Beberapa orang laki-laki datang membantu suster Feni mengangkat Budi. Dia diposisikan kembali tiduran di atas karpet. Tapi dasar Budi, dia tidak mau menyerah. Dia tidak mau mengalah pada ketidak berdayaannya.
“Bengkel, bengkel”
“Ya Alloh, bengkel bapaknya Adel kenapa, Bud?” tanya suster Feni.
“Keba, keba, kebakaran” jawab Budi. Dia kembali berusaha bangun.
“Innalillahiwa inna ilaihi roji’un”
“Aku harus ke sana, sus”kata Budi.
“Tapi kamu masih lemah, Bud. Istirahat dulu! Pasti udah banyak yang bantuin” kata seorang laki-laki yang menopang tubuh Budi saat berdiri.
Budi menoleh pada laki-laki itu. Dia merasa kenal. Laki-laki itu adalah orang yang mengawaki sound system milik juragan tenda.
“Enggak mas” jawab Budi.
“Bud. Mending kamu buang waktu lima menit buat pulihin tubuh kamu. Nih, minum dulu jamunya!” saran suster Feni.
Budi mengalah. Timbul rasa tidak enaknya kalau terlalu ngeyel terhadap orang-orang yang telah menolongnya. Diapun didudukkan di sofa. Dia menerima jamu yang diberikan suster Feni. Teramat pahit rasa jamu itu. Tapi Budi memaksakan diri meminum jamu itu, demi bisa segera melanjutkan perjalanan.
Menit demi menit berlalu. Budi mulai merasakan perubahan pada tubuhnya. Terasa lebih segar dan rasa pegal-pegalnya sedikit berkurang.
“Kamu yakin Bud, kuat jalan lagi?” tanya suster Feni, saat dia mecoba berjalan di ruang tamu.
“Yakin, sus. Udah lebih seger daripada tadi.” Jawab Budi.
“Mending kamu sama aku aja, Bud! tuh, ada mobilnya juragan” kata laki-laki tadi. Dia menggendong seorang balita yang masih mungil.
“Bener tuh, sama mas Tofa aja! Motormu ditinggal sini aja dulu” timpal suster Feni, sambil menerima si balita itu.
“Aduh, nggak usah, sus. Ngerepotin” jawab Budi.
“Ya terus, kamu mau motoran sendiri?”
“Iya. motor matic ini”
__ADS_1
“Mas, kawal si Budi, gih!” pinta suster Feni.
“Nggak usah, sus. Makasih. Udah dirawat aja udah makasih banget”
“Ya udah, aku kawal sampe pertigaan sana ya? Sekalian mau ke batu. Beli komponen” kata mas Tofa menengahi.
“Iya. Makasih, mas Tofa. Maaf, ngerepotin”
“Kaya apa aja, Bud” sahut suster Feni.
Akhirnya Budi pamitan kepada keluarga suster Feni. Dia mengucapkan terimakasih kepada semua yang telah menolongnya. Termasuk beberapa orang yang sedang duduk-duduk di halaman rumah.
Banyak yang menyarankan Budi untuk ikut mas Tofa saja. Tapi Budi takut merepotkan banyak orang. Jadi Budi tetap memilih untuk menaiki motornya. Walau sudah ditabrak cukup keras dari belakang, tapi motor Budi masih layak untuk dikendarai. Hanya ekor dan sayap depan yang pecah dan baret-baret.
Untuk sementara ini, Budi tidak berani memacu motornya dalam kecdepatan tinggi. Dia hanya berani pelan-pelan saja. Bukannya trauma, tapi lebih karena tubuhnya masih belum bisa bergerak secepat saat dia normal.
*TIN TIIN*
Saat Budi berpindah haluan ke kanan, mas Tofa membunyikan klaksonnya sebagai tanda pamitan. Budi membalas dengan membunyikan klaksonnya juga. Dan tinggallah dia sendiri menyusuri jalan menuju rumah Adel.
Dari jauh sudah terlihat kearmaian di depan rumah Adel. Mobil pemadam kebakaran juga masih terlihat terparkir tepat di depan gerbang masuk. Budi memarkir motornya agak jauhan. Dengan terseok-seok dia memaksa kakinya untuk berjalan mendekat. Perlahan tapi pasti dia berusaha menerobos kerumunan orang yang membantu maupun yang hanya menonton.
“Dari mana aja kamu? Giliran udah kelar baru nongol” teriak pak Fajar begitu melihat Budi mendekat.
Tapi pandangan Budi sudah terpaku pada bangunan bengkel yang hangus. Walau terlihat banyak yang terbakar, tapi paling tidak rangka bangunannya masih bisa berdiri kokoh.
“Astaghfirulloh, Abram”
Adel yang melihat perban bertebaran di lengan, kaki, bahkan sampai ke kepala Budi, langsung berseru saking terkejutnya. Dia berusaha membawa kursi rodanya mendekat.
“Bram. Abram jatuh? Dimana?” tanya Adel lagi setibanya di posisi Budi berdiri. Budi menoleh. Ada Madina yang membantu Adel mendekat.
“Abram nggak papa, kok. Maaf ya, abram telat” jawab Budi.
“Nggak papa gimana? Astaghfirulloh, Bram. Abram udah ke rumah sakit, belum?”
“Buat apa? Nggak papa, kok” jawab Budi. Dia berjalan maju, sepertinya dia menemukan sesuatu.
Dia berjalan dengan tertatih-tatih. Membungkuk juga dengan agak kesulitan. Sebuah pecahan botol, khas botol minuman keras, tergeletak di antara kayu-kayu yang berserakan. Leher botolnya masih utuh, dengan sebagian kecil badan dari botol itu juga masih tersisa. Budi mencium aroma dari botol tersebut.
*Baunya sejenis bensin, tapi oktannya tinggi. Aroma gosongnya juga khas. Nggak mungkin ini oktan sembilan puluh, ini lebih. Mungkin oktan sembilan lima*.
“Emang bang*** wanita itu”
Budi terkejut mendengar umpatan di samping telinganya. Ternyata Adel yang mengumpat. Budi tidak menyadari pergerakan Adel saat mendekatinya.
“Ya Alloh, kok ada ya orang segitu sadisnya?” keluh Adel.
Dia mengambil alih pecahan botol yang dipegang Budi. Budi tidak tahu harus berkomentar apa. Dia hanya bisa mengelus kepala Adel.
Perlahan tapi pasti, rasa pegal kembali menjalar di kaki kirinya. Tak lama kemudian, kaki kanannya juga ikut merasakan pegal.
Tanpa permisi, dia meninggalkan Adel menuju tembok samping tumah Adel. Dia merogoh ponsel di kantongnya.
Sambil bersandar pada tembok samping rumah Adel, dia menelepon Zulfikar. Tak kuat menahan pegal, Budi menurunkan tubuhnya perlahan-lahan, hingga terduduk di tanah.
“Bram, kamu nggak papa?” seru Adel. Dia meminta Madina untuk membantunya mendekati Budi.
“Nggak papa kok” jawab Budi sambil melempar seulas senyum. Adel masih terlihat khawatir melihat kondisi Budi. Dia menelepon suster Feni.
Merasa panggilannya tak mendapatkan jawaban. Budi kirimkan pesan singkat, yang intinya menanyakan apakah ada orang yang menemui Stevani hari ini. Tapi pesan itu juga tidak kunjung mendapatkan jawaban.
Tim pemadam kebakaran yang masih parkir tadipun akhirnya pamitan. Meninggalkan keluarga ini dan juga para warga yang masih berkerumun.
Sayup-sayup Budi bisa mendengar percakapan pra warga itu. Ada yang bilang kalau pelaku pelemparan bom molotov itu ada empat orang dalam dua motor. Mereka juga mebicarakan ciri-ciri orang dan motor yang orang-orang itu pakai.
“Bud”
Sebuah seruan menyita perhatian. Mereka bertiga menoleh ke sumber suara.
“Lo nggak papa?”
Ternyata Sandi yang memanggil. Setengah berlari dia mendekati Budi.
“Nggak papa” jawab Budi singkat.
Ada Sephia di belakang Sandi, sedang menyalami pak Fajar dan Bu Lusi. Dia tampak mengungkapkan keprihatinannya atas musibah kebakaran ini. Beberapa anak buah Sandi juga menyalami pak Fajar dan bu Lusi, mengikuti sopan-santun pimpinan mereka.
“Bud, kita ke rumah sakit dulu yuk! Pasti baru kerasa itu pegelnya” ajak Sandi.
“Iya, Bram. Berobat dulu, gih!”timpal Adel.
“Ron sembilan lima, dimana nyarinya?” tanya Budi, tanpa menghiraukan saran Sandi dan Adel.
“Bram, please! Tata lagi nggak bisa ngerawat Abram” sahut Adel. Tatapan mereka bertemu beberapa saat.
“Nat, bisa teleponin suster Feni, nggak? Aku pengen abram dirawat dulu” tanya Adel kepada Sephia.
“Suster Feni?” Sephia balik bertanya.
Dia yang baru mendekat, masih kurang fokus karena pandangannya terpaku pada kumpulan perban di tubuh Budi. Sedangkan Budi masih berusaha menghubungi Zulfikar.
“Udah kok. Tadi udah dirawat sama suster Feni” jawab Sephia, kemudian.
“Udah?” tanya Adel bingung.
“Ya. Tadi suster Feni yang ngabarin kita. Dia bilang, Budi ditabrak mobil tepat di depan rumah mertuanya” jawab Sandi.
“Innalillahi. Serius, bram? Kamu ditabrak mobil?” seru Adel kaget mendengar kabar dari Sandi. Budi tidak menjawab.
“Astaghfirulloh. Ya Alloh, beri hamba petunjuk, ya Alloh! Apa yang hamba durhakai dari engkau ya Alloh, sampai engkau datangkan manusia sadis itu pada kami, ya Alloh?” lanjut Adel.
__ADS_1
Sejenak suasana menjadi hening. Bahkan orang-orang yan sedang rumpipun terdiam mendengar keluhan Adel. Budi berusaha berdiri. Dibantu Sandi, dia mendekat ke arah Adel. Dia usap-usap kepalanya.
“Ndi, masih punya akses ke eagle eyes?” tanya Budi.