
Selepas pertemuan tadi pagi, Budi berlagak kalau dia masih lupa ingatan. Saat berkumpul dan berbincang dengan tetangganya, di depan rumahnya, dia sempat mengutarakan keinginannya untuk bekerja. Saat Hanin mengatakan kalau sebenarnya dia sudah bekerja, Budi menunjukkan ekspresi bingung.
Salah seorang tetangganya, yang merupakan bos tenda, menawarinya pekerjaan. Sama seperti sebelumnya, bos tenda itu menawarinya pekerjaan sebagai sopir dan buruh angkut.
Budi menunjukkan ekspresi senang. Dan akan minta ijin ke bu Ratih dulu untuk ikut bekerja dengan bos tenda. Tiba-tiba terdengar bunyi ponsel berdering. Ternyata itu adalah ponsel bu Ratih. Dia yang baru bergabung, ternyata mendapat panggilan telepon.
“Halo” sapa bu Ratih.
Beberapa orang merasa janggal, karena bu Ratih tidak mengucapkan salam.
“Selamat malam bu Ratih. Bagaimana kabranya, bu?” sapa orang yang menelepon.
“Eh, ini pak Paul, bukan?”
“Betul bu. Syukurlah, kalau ibu masih ingat suara saya”
“Alhamdulillah pak, kami sekeluarga, diberkahi kesehatan. Bapak sendiri bagaimana kabarnya, sehat selalu, kan?”
“Puji Tuhan, sehat selalu, bu” jawab pak Paul.
“Oh iya, bu. Budi, gimana kabarnya, bu?’ lanjut pak Paul.
“Eeem. Ya, begitulah, pak” jawab bu Ratih.
Dia beranjak dari duduknya. Dengan bahasa isyarat dia pamit untuk menjauh. Semua yang ada, mempersilakan. mereka paham, kalau yang menelepon itu adalah bosnya Budi. Pasti akan membicarakan sesuatu yang tidak boleh di dengar oleh orang yang tidak berkepentingan.
“Baru juga aku bilang, tadi. Udah nelepon” celetuk Hanin.
“Emang itu tadi, siapa?” tanya Budi, dalam kepura-puraan.
“Itu bos kamu. Bos pabrik mebel” jawab bos tenda.
“Kok punya nomer ibu, ya? bos ikan, kali” tolak Budi.
“Eh Panjul, mana ada juragan ikan namanya Paul? Terlalu bagus, Budi” tukas bos tenda.
“Ha ha ha ha” semuanya tertawa mendengar kelakar bos tenda.
“Ada juga Pratolo, bagio, Petruk. Kaya gitu, nama-nama jawa. Nama udah bagus, Paul, masa ngubek-ngubek ikan?” lanjut bos Tenda.
Sontak kalimat itu membuat gelak tawa lagi.
Dari dalam rumah, terlihat bu Ratih keluar dengan wajah berbinar-binar. Budi sempat bingung saat menebak ekspresi wajah ibunya itu. Apakah ibunya itu sedang bersandiwara, atau memang sedang bahagia. Kalau sedang bahagia, apa kira-kira yang membuat ibunya bahagia.
“Kamu beneran mau kerja, ngger?” tanya bu Ratih.
“Mau, bu. Kenapa, bu?”
“Ini, tadi pak Paul ngasih tahu ibu, kalau kamu masih dianggap sebagai karyawan PT. PRAM. Dan, kalau memang fisik kamu udah mampu buat kerja lagi, besok kamu diminta buat datang ke pabrik” jawab bu Ratih.
“Nah, tuh. Sikat, Bud! gede gajinya di sana” sahut juragan tenda.
“Iya. Aku juga mau kalo ada yang bawa, sih. ngelamar sendiri, gagal mulu” timpal Hanin.
Sampai di sini, Budi sedikit mendapat gambaran. Apa yang dikatakan ibunya, masih menjadi bagian dari rencananya. Walaupun dia terkejut. Karena tadinya dia yang akan menelepon pak Paul, eh dianya sudah terlebih dahulu menelepon ibunya.
“Tapi kan, Budi belum inget sama pekerjaan Budi sebelumnya” keluh Budi.
“Nggak papa. Pak Paul mau ngajarin kamu lagi. Kata dia, kamu cuman ilang ingatan, bukan ilang kecerdasan. Paling entar balik lagi kaya awal kamu masuk. Belajar sebentar, langsung deh, ngacak-acak seisi pabrik” jawab bu Raih.
“Horoh, Budi ngacak-acak pabrik? Udah kaya kucing garong aja” komentar Budi.
ibunya tertawa mendengar pertanyaan kocak itu. Tetangganya juga ikut tertawa.
“Maksudnya, ngacak-acak gimana, bu?” lanjut Budi.
“Ya kamu rubah adat kebiasaan di pabrik itu. Kata pak Paul, kamu bikin jadi kaya pabrik pesawat” jawab bu ratih.
“Wuih. Tendaku dong, Bud. jadiin parasut! Biar kalo kena angin gede, nggak buyar. Terbang sama tamu-tamunya. Ha ha ha ha” celetuk bos tenda.
“Ha ha ha ha”
Mereka semua tertawa mendengar kelakar bos tenda.
“Baiklah, bu. Besok saya ke sana. Mohon doanya ya, bu” jawab Budi.
“Nggak usah minta, ngger! Udah pasti ibu kasih”
Suasana ceria itu, sesaat berubah menjadi syahdu. Masing-masing menjadi teringat dengan anak maupun orang tua masing-masing.
“Baru tahu, kucing garong minta doa. Biasanya minta ikan” celetuk bos tenda.
“Hmpf. ha ha ha ha”
Kelakar itu sukses mengembalikan suasana syahdu dan haru itu menjadi ceria. Dan selanjutnya, mereka lebih banyak bercanda, daripada membicarakan sesuatu yang serius.
***
Budi berangkat kerja. Sengaja dia mengambil waktu agak siang, karena memang diminta begitu oleh pak Paul. Saat dia sampai di pos scurity, Budi mendapatkan sambutan luar biasa dari anggota yang berjaga.
Mereka terkejut melihat kedatangannya. Sekaligus senang, karena menurut mereka, akan ada yang membantu mereka mengatasi Dino. Tapi saat Budi bertanya tentang siapa Dino, scurity itu menghela nafas berat. Mereka baru menyadari kalau Budi masih belum ingat siapa dirinya.
Saat selesai memarkirkan motor Putri yang dia pakai, Budi bertemu pak Paul. Dia berlagak mengenalinya dari foto yang diberikan ibunya.
Saat sudah dekat, Budi langsung menyalaminya, sembari mencium tangannya. Hal yang belum pernah dia lakukan sebelumnya. Hal itu pula yang membuat pak Paul menghela nafas berat.
Untuk beberapa saat, dia memandangi wajah Budi. Seakan masih tidak percaya, kalau Budi yang sekarang berdiri di hadapannya, bukanlah Budi yang sehari-hari membantunya mengurusi jalur produksi. Tapi kemudian dia tersenyum sambil mengacak-acak rambut budi. Lalu mengajaknya masuk ke dalam kantor.
Marsya yang sedang bersih-bersih mejanya, terkejut melihat Budi berdiri di depannya. Seperti tadi, budi menyalaminya sambil mencium tangan. Marsya tertegun. Terlihat juga raut kesedihan di wajahnya, saat melihat senyum getir di wajah pak Paul.
Memasuki ruang kantor, seisi kantor teralihkan perhatiannya, karena pak Paul megucapkan selamat pagi, dengan suara yang cukup keras.
__ADS_1
Dan betapa hebohnya para penghuni kantor, saat mengetahui, siapa yang berdiri di sebelah atasan mereka itu. Semua orang menghambur ke arah Budi.
Mereka menyalami Budi dengan sangat antusias. Banyak pertanyaan mereka lontarkan. Tapi reaksi yang mereka dapatkan, justru sama sekali tidak mereka duga.
Mereka berpikir, kalau datangnya Budi hari ini, itu karena dia sudah sembuh benar. Tapi ternyata, baru fisiknya saja yang sembuh. Sedangkan ingatannya masih belum kembali.
Keadaan yang disampaikan pak Paul, nyatanya tidak mengurangi antusias para karyawan kantor ini. Terutama para atasan, yang merasa sangat terbantu di masa sebelumnya. Mereka tetap menanamkan optimisme kepada Budi. mereka juga menyatakan siap, disaat pak Paul meminta mereka untuk membantu Budi mengenal kembali pekerajaannya.
“Hai, Bud” sapa seseorang, setelah para karyawan kantor kembali ke tempat masing-masing.
“Hai, van. Cantik banget kamu, pake seragam itu” jawab Budi.
“Ah, bisa aja, kamu” kata Stevani tersipu, mendapatkan pujian dari Budi.
Mendapati Budi langsung mengenali Stevani, seseorang yang tadinya masih ingin berbicang dengannya, pergi begitu saja tanpa pamit. Tinggal satu orang lagi selain Stevani.
“Kok nggak bilang kalo mau masuk kerja?” tanya Stevani mengalihkan suasana.
“Hem? Oh, iya. lupa, Van. Abisnya, seneng banget. Akhirnya, dapet kerja juga” jawab Budi.
“Kan kamu emang masih karyawan sini, Bud” sahut Riki.
“He he. Ya, mungkin gitu” jawab Budi salah tingkah.
“Ya udah, aku cabut dulu, ya? Ada problem kayaknya di anyaman” pamit Riki.
“Oh, iya, mas Riki. Nanti, minta bantuannya, ya?” jawab Budi.
“Iya” jawab Riki. Rikipun keluar dari ruang kantor. Diiringi pandangan lekat Budi.
“Yuk, kita ke kubikmu” ajak Stevani.
Budi mengikuti kemana Stevani melangkah. Banyak mata yang sebenarnya mengawasi gerak-gerik Stevani.
“Nah, ini mejamu” kata Stevani menunjuk meja yang paling depan.
“Oh, yang senior tadi?” tanya Budi.
“Dia yang paling belakang. Yang belakangmu itu, mejanya Riki”
“kok misah gitu?”
“Tahu, lah” jawab Stevani.
“Oh ya, Van. Senior tadi, kenapa?” tanya Budi.
“Oh, jealeous” jawab Stevani. Budi mengernyitkan dahinya.
“Dia suka sama aku. Tapi aku nggak suka sama dia” lanjut Stevani.
“Oh. Emangnya, dulu aku deket banget gitu, sama kamu?”
“Ya, tergantung yang ngeliat, sih. Kalo bagi dia, kita udah deket banget. Makanya dia cemburu berat, liat kamu langsung ngenalin aku. Ha ha ha”
“Ya udah. Siapin aja buku catatan, sama alat tulis. Paling sebentar lagi ada yang ngajakin kamu tour keliling pabrik”
“Oke. Siap”
“Aku cabut dulu, ya?”
“Sip. Makasih ya”
“Sama-sama”
Stevani meninggalkan Budi dengan sebuah senyuman indah. Yang membuat Budi tertegun untuk beberapa saat.
Hem, kamu bikin aku keinget sama Armita, Van. Dia juga suka bantuin aku, sekalipun dia tahu, aku sudah punya Liza. Aku tahu, kamu suka sama aku. Bedanya sama Armita, kamu nggak berani ngungkapin isi hati kamu. Walau sambil bercanda, Armita pernah ngungkapin isi hatinya. Dan hebatnya, dia mau jadi yang nomer dua. He he. Bahagia banget aku dulu. Punya dua bidadari sekaligus.
“Hai, Bud” sapa seseorang. Membuatnya yang sedang menunduk, terdongak seketika.
“Dapet salam dari mbak Erika” lanjut orang itu.
“Bu Erika, HRD? Wa’alaikum salam. Beliaunya dimana? Tugas luar?” respon Budi.
“Ada. Dia nggak kuat aja ketemu kamu”
“Kenapa? Abis mutusin aku, ya?”
“Ge er. Kamu udah punya pacar, keles. Masa nggak inget?”
“Pacar?”
“Hem. Pantes mbak Erika sedih. Demi kita semua, kamu harus sampe kaya gini”
“Eeem. Ngak paham, aku. He he”
“Hadeh. Capek deh. Ya udah, yuk. Kita tour ulang!”
“Siap” jawab Budi.
“Eh, maaf. Mbak sendiri, namanya siapa?” lanjut Budi.
“Hem. Cewek secantik aku dilupain” keluh orang itu sambil berkacak pinggang. Pura-pura merajuk.
“Aku Ratna. Bawahannya mbak Erika”
“Oh, mbak Ratna. Siap. Makasih” kata Budi.
Ratna memperkenalkan kembali satu per satu warga kantor ini. Budi berlagak seperti menghafalkan kembali nama mereka satu per satu.
Banyak diantaranya yang mencandainya. Terutama staff wanita. Mereka menggoda Budi, dengan mengatakan kalau mereka masih jomblo. Budi menanggapi mereka dengan bercanda pula. Menciptakan suasana akrab diantara mereka. Ada juga yang berkomentar, kalau Budi yang sekarang masih sama dengan Budi yang sebelumnya. Cepat akrab dengan siapa saja.
__ADS_1
Sampai pada akhirnya, mereka sampai di ruang kantor HRD. Ada beberapa staff di sana. Ada pak Paul juga, sedang berdiskusi dengan Erika. Pak Paul mempersilakan Ratna memperkenalkan para Staff HRD kepada budi. Ratna melaksanakan perintah itu. Satu per satu dari mereka menyalami Budi. Sampai pada akhirnya, tinggal Erika saja yang tersisa.
Saat Budi mau menyalaminya, Erika memutar tubuhnya. Sekilas mata, terlihat seperti Erika tidak mau melihat Budi. Sampai ada staff yang menanyakan tindakan Erika itu.
Tapi saat dia memutar tubuhnya kembali menghadap Budi. Barulah para staff itu tahu, apa yang sebenarnya terjadi. Mata Erika sembab. Bahkan masih sempat terlihat beberapa kali air matanya meluncur.
“Erika” katanya dengan suara parau.
Budi menerima uluran tangan Erika. Dia menyalaminya sambil tersenyum. Untuk beberapa saat lamanya, mereka saling beradu pandang. Seolah mereka mampu berbicara dari hati ke hati.
Setelah beberapa saat itu, Erika membalikkan tubuhnya kembali. Tangisnya belum juga reda. Rasa sedih di hatinya masih sangat terasa. Karena menurut dugaan dia, apa yang terjadi dengan Budi, bukanlah kecelakaan biasa.
“Lanjutkan ke lapangan ya, Na!” peerintah pak Paul.
“Baik, pak” jawab Ratna.
Ratna mengajak Budi untuk menuju lapangan. Budi pamit dengan semua yang ada di ruangan itu. Erika sempat memutar tubuhnya. Seulas senyum dia berikan untuk Budi. pastinya sambil dengan menyeka air matanya.
Ratna mengawali penjelasannya mulai dari gudang penyimpanan material. Ditemani pak teguh, Ratna juga sempat menyinggung kalau penataan area preparation ini adalah berkat ide dan usahanya.
Budi tertawa mendengarnya. Dia berlagak merasa lucu, karena yang dia ingat, dia baru masuk hari ini. Ratna terlihat hendak mempertegas ceritanya tadi.
Tapi pak teguh menegurnya. Dan meminta Ratna untuk tidak membahas hal itu dulu. Karena itu akan membuat Budi menjadi bingung. Pak Teguh meminta Ratna agar menganggap Budi selayaknya karyawan yang baru masuk. Ratna mengerti.
Perjalanan berlanjut, mengenal mesin-mesin produksi. Budi memperhatikan dengan seksama. Sesekali dia bertanya, mengenai susunan karyawan di area preparation ini. Gantian pak Teguh yang tertawa.
Dia ingin mengatakan juga, kalau itu semua adalah ide Budi. Tapi menurutnya, Budi pasti akan bingung. Akhirnya pak teguh mengatakan kalau itu semua, perintah management.
Semua yang ada di pabrik ini, dimaksimalkan potensinya. Tidak peduli dia perempuan, kalau dia bisa mengoperasikan mesin produksi, dan cekatan, ya dia akan dimasukkan ke jalur preparation. Budi mengangguk-angguk, pertanda paham.
Pak teguh tertawa lagi, saat melihat Budi memperhatikan dengan serius, apa yang sedang dikerjakan para operator mesin. Dan sia mengangguk-angguk lagi.
“Pasti ada temuan lagi.” Komentar pak teguh sambil tertawa.
Perjalanan mereka berlanjut ke departemen welding. Pak Teguh memberinya kacamata pelindung, agar tidak terpapar sinar dari proses welding secara langsung. Budi sengaja tidak mendekat kepada operator welding maupun helpernya. Karena dia tahu, gangguan sekecil apapun, akan mempengaruhi kinerja mereka.
“Enggak mau kenalan?” tanya pak Teguh.
“Hem? Ee, kayaknya nggak usah dulu, pak. Mereka kerja kaya kesetanan. Pasti targetnya tinggi banget, deh. Kalo saya ganggu, takutnya malah nggak tercapai” jawab Budi.
“Ha ha ha ha. MasyaAlloh. Emang bener-bener kamu, tuh. Ingatan boleh ilang, tapi feeling kamu, tetep sama. Nggak ada yang berubah” komentar pak Teguh. Budi hanya tersenyum menanggapi komentar itu.
Pak teguh menjelaskan alur kerja di departemen welding ini. Budi mendengarkan dengan seksama. Sampai dia tidak sadar, kalau ada orang lain yang mendekatinya. Orang itu memang tidak bersuara. Hanya tersenyum kepada Ratna. Tampaknya dia tidak mau mengganggu Budi maupun pak Teguh.
“Hei, van” seru Budi, setelah penjelasan dari pak Teguh selesai.
“Ada yang bisa dibantu, mbak Vani?” tanya pak Teguh.
“Ada tambahan target, kah?”lanjutnya.
“Oh, enggak kok” jawab Stevani sambil tersenyum.
“Tadinya, saya mau menegur mereka. Empet banget, liat mereka nyantai-nyantai gitu” lanjut Stevani.
Kalimat itu sukses membuat Budi memutar tubuhya. Pandangannya ke arah yang ditunjuk Stevani mendapat sambutan dari mereka yang sedang duduk-duduk santai.
Budi menganggukkan kepalanya sambil tersenyum kepada ketiga orang yang sedang duduk lesehan itu. anggukannya disambut tawa yang lebih lepas lagi. Stevani maju menghampiri mereka.
“Hei. Lu pikir ini pabrik moyang lu apa? seenaknya sendiri bikin aturan. Kerja!” bentak Stevani.
Mereka malah tertawa kencang. Mereka seolah menganggap kalau Stevani itu anak kecil yang sedang merajuk kepada orang tuanya. Praktis, Stevani kemarahan Stevani bertambah besar. Sehingga membuat kehebohan di jalur finishing. Sampai Pak Teguh harus ikut campur menenangkan Stevani. Ratna mengajak Budi untuk ikut mendekat.
“Eh, ada calon kakak ipar” seru Sapta.
“Kakak ipar jidat lu. Bacot nggak pernah sekolah?” sergah Stevani. Membuat pak Teguh tertawa mendengarnya.
“Ya, anggap aja kita bersaudara. Kalo Dino kesampaian jadi adik iparnya Budi, kan berarti Budi juga kakak ipar kita” jawab Sapta.
“Kakak ipar dari mana bego?” tanya Stevani dengan nada merendahkan.
“Ya dari Putri, lah” jawab Sapta.
“Udah tiga kali mereka jalan bareng. Kayaknya, beneran ketagihan deh, sama goyangannya Dino. Hi hi hi” sahut Pujo.
“Bentar lagi bakal punya anak, tuh. Abisnya, dia nggak pernah biarin Dino nyabut, sih”timpal Sapta.
Sreett
Dukk, daaakkk
“AAAKK”
Brukk.
Tanpa mereka duga, Budi menarik kerah leher Sapta, sambil menendang perut dan ************ Sapta berurutan. Tendangan terarah itu sanggup mementalkan tubuh Sapta beberapa senti ke udara. Lalu mendarat lagi ke lantai. Baru juga menyentuh lantai, langsung ditekan kebawah oleh Budi. Jadilah sekarang, Sapta berlutut di depan Budi. Sapta meringis, merasakan sakit dan mulas di perutnya.
“HOEEE”
Erik dan Pujo hanya berani berteriak, tapi tidak berani mendekat. Apalagi sampai melawan. Budi menundukkan kepalanya. Dia menjambak rambut Sapta, dia dongakkan kepalanya. Lalu dia mendekatkan wajahnya ke wajah Sapta.
“Eh, gua emang belum inget siapa itu Putri. Gua juga belum inget siapa kalian, apalagi si Dino itu. Tapi satu hal yang harus kalian tahu. Putri sayang banget sama gua. Dia udah anggep gua kaya kakak kandung dia sendri. Dia selalu cerita apapun sama gua. Tapi nggak pernah sekalipun dia cerita tentang kalian. Ataupun si Dino, yang kalian banggain itu. Kalo lu masih pengen hidup, jangan pernah lagi ngeledek gua sambil bawa nama orang yang udah nganggep gua sebagai keluarga. Sekali lagi lu bawa nama Putri, gua musnahin lu saat itu juga” kata Budi penuh amarah. Matanya memerah.
“Bud, Bud. udah!” pinta pak Teguh.
Budi masih mencengkeram rambut Sapta, seolah-olah dia tidak mendengar suara pak Teguh.
“Bud, ini hari pertama kamu. Jangan bikin masalah dulu! Kasihan ibu” kata Stevani.
Kata-kata Stevani rupanya terdengar oleh Budi. Dia melepaskan cengkeramannya pada rambut Sapta. Masih dengan perut mulas, Sapta pergi menjauhi Budi.
“Udah yuk, kita lihat ruang finishing yang ke dua” ajak Stevani.
__ADS_1
Budi menoleh ke arah Stevani. Dia mengangguk tanda setuju. Budi juga sempat minta maaf kepada pak Teguh dan Ratna. Mereka berdua memaklumi keadaan tadi. Ratna mendahului untuk menunjukkan ruang Finishing tambahan.