
"Mbak. Sate tiga" pesan Budi.
“Sate apa, mas?” tanya penjualnya.
“Satu kambing, dua T-Rex” jawab Budi.
“Mas, ih” seru Madina sambil menepuk punggung Budi.
“Ha ha ha ha” Budi tertawa, mendapati kelakarnya mengena.
“Kambing juga apa ayam?” lanjut Budi.
“Kambing aja” jawab Madina. Adel mengangguk setuju.
Budi memilih tempat lesehan di pojokan ruangan. Dan meminta Madina untuk memesan minuman sesuai selera mereka.
“Alhamdulillah” ucap Budi. Adel dan Madina bingung dengan ucapan itu.
“Kenapa, mas. belum juga makan?” tanya Madina.
“Udah bisa senyum” jawab Budi sambil melirik ke arah Adel.
“Ha ha ha. Mas Budi, sih. Segala mesen sate T-Rex. Embak penjualnya sampe bengong” jawab Madina sambil tertawa.
“Alhamdulillah. Lebih baik, kan? Daripada cemberut, kaya kucing mau dimandiin” sahut Budi.
Adelpun tertawa lagi, membayangkan ekspresi kucing mau dimandikan. Kan memang kodratnya kucing itu takut air.
“Madin mau pulang juga, apa mau nginep lagi?” tanya Budi.
“Mau nginep, lah. Kali aja macannya lagi tidur. Kan bisa ngekepin lagi” jawab Madina.
Sontak Adel melotot mendengar jawaban adiknya itu. Madina tertawa melihat ekspresi terkejut kakaknya. Terlebih saat Adel menatap Budi, seolah meminta penjelasan tentang apa yang diucapkan Madina.
“Udah pinter sekarang, ya? Mbak Adel senewen tuh” komentar Budi.
“Ha ha ha ha”
Madina malah tertawa lepas, kedua tangannya memberikan tanda damai ke udara.
“Mas. Adel ijin ke toilet bentar, ya?” kata Adel.
“Mau ditemenin?” sahut Budi.
“Hayo, modus? Madin gimana, dong?” sergah Madina. Adel jadi salah tingkah serta bingung.
“Hi hi hi” madina tertawa melihat ekspresi bingung kakaknya.
“Ha ha ha ha” dia tertawa setelah mendapatkan cuitan di pahanya.
Adel pergi diiringi tawa dari Madina dan Budi.
“Luki belum pulang, Din?” tanya Budi, setelah Adel menghilang di balik tembok.
Madina tidak langsung menjawab. Dia tampak menganalisa arti dari pertanyaan itu.
“Belum, mas. Kata bu Susan, masih di kantornya. Tapi Madin kok nggak yakin, ya?” jawab Madina.
“Nggak yakin gimana?”
__ADS_1
“I don’t know. Just feeling”
Budi manggut-manggut mengerti. Ingatannya melayang pada beberapa momen sebelumnya.
“Kok malah nanyain mas Luki, mas?” tanya Madina.
“Ya, apa lagi yang bikin Adel cemberut?” jawab Budi dengan pertanyaan.
“Emang. Dari kemarin itu mas Luki aneh banget, mas. Abis nganterin mbak Adel berobat, dia keluar. Alesannya isi bensin. Tapi pulangnya abis maghrib. Alasnnya juga dibuat-buat. Segala dibilang di punung kehabisan stok, sampe harus nyari ke ploso situ. Padahal enggak. Dan mbak Adel masih percaya gitu aja” kata Madina bercerita. Budi mendengarkan dengan serius.
“Lagian kalo emang bener harus ke ploso, dari jam dua siang mas, baru nyampe rumah jam setengah tujuh malem. Segala bilang bannya bocorlah, mesinnya mogoklah. Masa orang kaya mobilnya nggak kerawat gitu? Mencurigakan tahu nggak, sih?” lanjut Madina.
“Oke. Minuman udah dateng” kata Budi.
Perhatian Madina tersita pada minuman yang dihidangkan oleh penjual sate itu. Dan dia langsung menyeruput es teh pesanannya.
“Terus. Jam sembilan malem pergi lagi. Bilangnya truk ekspedisinya ditahan polisi” kata Madina, setelah menyeruput beberapa kali.
“Emang orang sekaya dia nggak punya anak buah?” lanjut Madina.
Budi hanya manggut-manggut saja. banyak yang ingin dia komentari, tapi dia memilih untuk diam saja.
“Pulangnya menjelang subuh, pagi-pagi udah pergi lagi. Bilangnya ada masalah di perusahaannya. Sampe sekarang juga belum pulang. Ngabarin aja enggak, mas. Ditelepon mbak Adel aja nggak diangkat. Cuman bu Susan yang bilang mas Luki masih di kantor. Tapi nada bicaranya kaya cuman menghibur gitu, mas. Kaya bu Susan sendiri sebenernya nggak tahu, anaknya ada di mana” lanjut Madina lagi.
“Oke. Ada baiknya, kita lanjutkan entar aja. Terlalu banyak orang di sini” usul Budi. Madina malah mendelik kepada Budi.
“Kenapa?” tanya Budi. dia bingung mengapa Madina tampak tersinggung.
“Nggak papa” jawab Madina. Tapi Budi masih menatapnya.
“Madin nggak tahu, sama siapa lagi Madin bisa minta tolong. Mbak Tati udah menghindar semenjak mbak Adel nikah sama mas Luki. Cuman mas Budi yang ngerti kita” lanjut Madina.
“Ya. Semoga emang nggak papa. Tapi kalo ternyata mas Luki itu bang***, “
“Hei, nggak boleh ngumpat! Cantik-cantik kok ngomongnya kasar?” potong Budi lirih.
“Maaf. Madin sebel aja ngeliat tingkahnya si Luki itu. Ngomong doang mau jadi baik. Malah sekarang mbak Adel dibikin pusing. Kalo sampe feeling Madin bener, dan mbak Adel diapa-apain, gimana, mas? Mas Budi mau ya, nolongin kita, ya?” pinta Madina.
“Pikiran adalah sebagian dari doa, Din. Berpikirlah yang baik, sekalipun kamu nggak suka sama iparmu itu! InsyaAlloh mbak Adel nggak akan kenapa-kenapa” jawab Budi.
“Mas” protes Madina.
“Ya?” sahut Budi.
“Apa mas Budi udah bener-bener ngubur dalem-dalem cinta mas Budi buat mbak Adel? mas Budi udah ngak mau nolongin mbak Adel?” tanya Madina.
Budi terkesiap. Pikirannya seketika melayang jauh ke dalam sanubarinya. Tak bisa dia membohongi sanubarinya sendiri, bahwa rasa cinta itu masih ada. Seperti yang dia ekspresikan siang tadi di depan Adel. Terlebih setelah mendapati kenyataan bahwa papanya Erika punya wajah yang sangat mirip dengan foto yang ditunjukkan Fatoni sebagai mister Bejo. Dia jadi bimbang untuk melanjutkan kisahnya dengan Erika.
“Maaf, mas. Madin terlalu nuntut” kata Madina membuyarkan angan-angan Budi.
“Masalah perasaan dengan masalah hukum itu dua hal yang berbeda, Din” sahut Budi. Madina tampak memperhatikan dengan seksama.
“Terlebih urusannya dengan rumah tangga. Nggak akan segampang urusan Putri sekarang ini” lanjut Budi.
“Putri?”
“Ya. Putri, sama penembaknya, itu sama-sama nggak kenal dan nggak ada ikatan perkawinan. Jangankan nembak, dia nampar aja, bisa dipidanain sama siapa aja. Siapa aja bisa ngelaporin dan nuntut si pelaku. Tapi kalo urusannya rumah tangga, itu ada batasannya, Din. Nggak bisa serta-merta orang lain masuk”
“Ya ya ya. Madin tahu kak, mas. Itu hanya alibi aja. Mas Budi masih kesel kan, sama mbak Adel? Pastinya” komentar Madina. Budi bingung dengan ucapan itu.
__ADS_1
“Semoga aja kekhawatiran Madin nggak pernah terjadi. Semoga ini hanya efek dari rasa nggak suka Madin sama si Luki aja. Jadi mas Budi nggak perlu mikirin mbak Adel, dan bisa seneng-seneng sama Erika” lanjut Madin.
“Lah. Kok jadi kemana-mana?” tanya Budi mulai kesal.
“Madin nggak suka sama Luki, mas" jawab Madina. Matanya mulai berkaca-kaca.
"Madin cocoknya sama mas Budi. Ayolah mas, perjuangin mbak Adel! Madin yakin, mas Budi masih cinta sama mbak Adel. Mbak Adel itu nggak bahagia, mas. Mbak Adel itu tertekan nurutin kemauannya si Luki” lanjut Madina lirih, tapi penuh penekanan. Air matanya juga meluncur mengiringi perasaannya.
Budi tertegun mendengar jawaban Madina. Kalau menuruti perasaan, memang dia masih ingin memperjuangkan cintanya. Tapi logikanya mengingatkannya pada ibunya, juga kepada adiknya. Belum tentu keduanya setuju kalau dia merebut Adel dari Luki. Karena pernikahan bukanlah pacaran.
“Ada yang lebih penting buat kamu pikirin selain perasaan kakakmu, Din” kata Budi lirih, beberapa saat kemudian.
“Hem?”
“Tambah CCTV rumahmu! Pasang dua untuk ngawasin jalan depan, dan dua lagi buat ngawasin belakang!”
“Astaghfirulloh. Ada apa, mas?” tanya Madina terkejut.
“Kalo mau diperjuangin, jangan banyak nanya! Lakuin dulu!” jawab Budi.
“Dan, kalo mau mbak Adel nggak kenapa-kenapa, lakukan hal yang paling ekstrim!” lanjut Budi.
“Apa?” tanya Madina penasaran.
“Perbaiki hubunganmu dengan Luki! Kamu nggak bisa cuman nuntut kalo pengen ngelindungi mbak Adel. Kamu harus jemput bola. Dapetin kepercayaannya, bikin jaringan dengan orang-orang kepercayaannya! Bukannya dia suka kalo ada yang ngebantu tapi dia nggak keluar duit?” jawab Budi lirih.
“Come on, mas. Terlalu ekstrim itu. Madin aja mulai benci sama dia” keluh Madina.
“Aku bisa aja bertindak ekstrim. Tapi cuman sampe ring tiga. Aku nggak selalu punya akses buat masuk ke ring satu. Kamu sendiri yang harus menjaga ring satu. Ada bahaya, arahkan keluar ke ring tiga! Sisanya, aku bisa bantu”
Madina terdiam. Sebenarnya dia masih kurang puas dengan jawaban Budi. Tapi dia juga takut membuat Budi marah. Dan juga, di sisi lain, dia suka pemikiran Budi yang taktis itu. Tampak sekali kalau Budi sudah dewasa dan mengayomi.
“Satenya, mas”
Mereka berdua tersentak dengan suara penjual sate itu. Budi tersenyum dan berterimakasih.
“Mbak, bungkus sate ayamnya satu ya, sama gulainya. Sama sate kambingnya tiga” pesan Budi.
“Oh, iya” jawab penjual sate itu.
Tanpa mereka sadari, sebenarnya Adel memperhatikan apa yang mereka bicarakan. Walau pada saat Madina menangis, Adel tidak mendengar apa yang mereka bicarakan. Tapi dia yakin kalau Madina sedang membicarakan masalahnya pada Budi. Dan dari gestur mereka, Adel menduga kalau Budi memberikan saran pada Madina.
Diapun keluar dari balik tembok toilet, dan kembali bergabung dengan keduanya. Selama makan, mereka kembali bercanda seolah-olah Madina tidak pernah curhat hal berat kepada Budi.
“Mas. Adel langsung pamit, ya? Ibu sendirian di rumah” kata Adel setelah selesai makan.
“Oh, gitu? Bentar, aku ambil bungkusan buat ibu” jawab Budi.
“Nggak usah, mas!” tolak Adel.
“Lah. Aku nitip buat ibu, kok” jawab Budi sambil berlalu menuju tempat pembakaran sate.
“Jangan ditolak, mbak!” saran Madina lirih. Adel menoleh.
“Itu perhatian dari mas Budi” lanjut Madina.
Adel mengangguk-angguk saja. Tak seberapa lama kemudian, Budi kembali dengan membawa dua kresek berbeda. Satu yang kecil diserahkan kepada Adel.
Merekapun beranjak keluar warung sate itu. Dan Adel pamit untuk langsung menuju parkiran. Budi masih menunggu sampai Adel lewat melintasi mereka. Barulah dia mengajak Madina kembali ke kamar rawat Putri.
__ADS_1