Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
dukungan moral dari adel


__ADS_3

Sebulan telah berlalu semenjak meeting di watu karung. Dan Budi semakin sibuk mengurusi banyak hal. Bahkan urusan Erika sekalipun, beberapa ada yang dilimpahkan kepadanya. Seperti laporan absensi semua karyawan yang akan diajukan ke pak Paul, sudah sekian hari dibebankan padanya. Sedangkan Erika, dia lebih fokus untuk menangani urusan-urusan besar dengan pelanggan bersama pak Paul. Termasuk juga menangani banyak hal tentang pameran di Eropa.


Mengenai mebel kayu yang akan diikutsertakan, dari purchasing, Isma mengatakan kalau kesempatan untuk calon peserta seleksi lain masih terbuka. Proposal baru akan ditolak kalau ekspo kabupaten telah dimulai. Artinya masih hitungan bulan lagi. Mendengar jawaban Isma, Budi tersenyum lebar. Isma sempat bertanya mengapa, tapi Budi tidak menjawab.


*Huwannuru yahdil kha irina dziyau hu*...


Baru saja Budi berkeinginan untuk menelepon Adel, ternyata Adel sudah menelepon terlebih dahulu, dengan panggilan Video. Dengan senyum yang semakin lebar, dia memisahkan diri dari teman-teman kerjanya yang sedang berbincang itu.


“Assalamu’alaikum, Tata” sapanya.


“Walaikum salam, Abram” jawab Adel.


“Kok lemes gitu, kenapa sayang?” tanya Budi.


“Hufft. Biasalah Bram, ada yang usil. Maksa-maksa buat goyang heboh” jawab Adel.


“Waduh. Terus?”


“Ya, Tata tolak. Secara halus, sih”


“Oke, oke, oke. I know what you feeled”


“Betenya kebawa ampe sekarang” kata Adel.


“Eh. Entar ke fishbed cafe nggak?”


“Iya, dong. Kan kontraknya masih”


“Mau dianter?” tawar Budi.


“Pengennya. Tapi keburu, nggak? Akhir-akhir ini kan abram harus gantiin Erika segala”


“Emm. Kalo dipikirin terus sih, ya nggak ada abisnya, Ta” komentar Budi.


“Bisa, lah”lanjut Budi.


“Amiin” sahut Adel mengaminkan ucapan Budi.


“Jangan cemberut, dong! Entar luntur lho, make up nya”goda Budi. Senyum Budi sukses menular ke Adel.


“Kalo emang entar malem nggak sempet, jangan maksa ya, Bram. Tata nggak pengen Abram kenapa-kenapa di jalan”


“Iya. Abram usahain bisa”


“Tata sih lebih berharapnya di hari minggunya”


“Kenapa?”


“Jalan Yuk, kemana gitu!” jawab Adel.

__ADS_1


“Cocok banget. Abram juga pengen ke watu karung lagi”


“Nyindir” sahut Adel.


“Kok nyindir?”


“Kan pas Tata bikin salah sama Abram, Abramnya pas lagi meeting di watu karung, kan?”


“Ya Alloh, masih diinget aja. Enggak, sumpah deh. Abram aja lupa”


“Alhamdulillah”


“Abram pengen jalan aja sama Tata ke sana. Kayaknya, bakal asik banget deh” kata Budi sambil tersenyum lebar.


“Happy banget, kayaknya. Ada apa sih, Bram?” tanya Adel penasaran. Tapi dia ketularan senyum juga.


“Enggak ada. Abram cuman pengen nunjukin keindahan pantai watu karung saat ini. Pasti Tata suka” jawab Budi sedikit berbohong.


“Udah tahu, keles”


“Oh, ya?”


“Kan sebelum Abram pulang kampung, Tata udah sering dapet undangan ke sana. Dan udah gitu dari dulu juga”


“Waduh. Ha ha ha ha. Aku yang katrok dong? Aduh. Ya Alloh” sahut Budi sambil menertawai dirinya sendiri. Adelpun ikut tertawa.


“Ya udah Bram. Disambung entar, ya? Bentar lagi giliran Tata lagi” pamit Adel.


“Iya, Ta. Semangat, ya!”


“Assalamu’alaikum”


“Walaikum salam”


Apa yang menjadi kehawatiran Adel, hampir saja terjadi. Budi hampir saja tidak bisa meninggalkan pekerjaannya. Padahal sudah dikejar dari siang hari. Untungnya pak Paul datang dan memberikan kebijakan, yang membuat Budi bisa pulang. Dan lebih beruntung lagi, dia sudah menyempatkan diri untuk mandi menjelang sholat maghrib tadi. Jadi, sekalipun masih memakai seragam, tubuhnya sudah segar.


Lewat telepon dia mengabari ibunya, kalau dia langsung ke rumah Adel. Bu Ratih hanya berpesan agar Budi hati-hati dalam berkendara. Diapun pergi dengan hati tenang. Tapi tidak dengan sepasang mata yang menatapnya dari balik kaca kantor. Tampak dia kurang suka dengan kepergian Budi. Tapi tidak punya daya untuk menahannya lebih lama.


Sesampainya di rumah Adel, Budi melihat Adel sudah siap dengan balutan pakaian formal. Setelan jas perempuan. Roknya terlihat agak ketat, walau menutupi lututnya. Seperti bukan hendak menyanyi. Lebih seperti hendak rapat dengan bos besar.


“Kenapa, Bram?” tegur Adel.


“Enggak” jawab Budi pendek. Tapi tawa kecilnya tak ayal membuat Adel berkacak pinggang.


“Nyambung, kan?” tanya Adel. Dia menunjuk kerah seragam yang menyembul dari balik jaketnya.


“Ya Alloh, ternyata gitu, konsepnya? Ha ha ha ha” komentar Budi.


“Kok tahu, abram nggak sempet pulang?” lanjut Budi.

__ADS_1


“Enggak tahu juga, sih. Cuman, perasaan pengen pake setelan cewek kantoran, gitu”


“Hem, kebanyakan drakor, ini sih” komentar Budi.


“Udah ah buru! Bawel amat tumben” pinta Adel.


“Ha ha ha ha”


Merekapun berangkat. Karena menggunakan rok, Adel tidak bisa duduk dengan semestinya. Dia duduk menyamping. Adel tersenyum setengah bingung. Seragam Budi yang sudah dipakai seharian, seperti tidak mengeluarkan bau apek ataupun asam. Justru yang tercium adalah aroma segar.


Adel memeluk Budi, dan menyandarkan kepalanya ke kanan, ke bahu Budi. Dia merasa tersanjung. Dia merasa diprioritaskan diantara sekian prioritas yang harus Budi dahulukan.


Sambutan meriah dia dapatkan, bahkan saat baru tiba di parkiran. Ternyata sudah banyak pengunjung yang datang. Adel dengan sabar melayani setiap permintaan foto bersama.


Dia tidak tahu kalau Budi telah melepas jaketnya. Tapi dia tidak protes. Dia malah kagum melihat seragam putih-putih Budi. Sama sekali tidak terlihat adanya kerutan apalagi noda.


Juga tubuh yang ditutupi seragam itu, sudah terlihat segar. Seperti tidak habis pulang kerja. Banyak kamera yang mengambil gambar tanpa permisi di saat Adel tertegun menatap Budi. Tanpa perlu berkata-kata lagi, Adel hanya tinggal mengarahkan tangannya ke arah Budi sambil tersenyum lebar, untuk menunjukkan, ini dia pacarku.


“Wuih, pengen couplean ceritanya? Tapi kok ngga nyambung, ya?” seru seseorang dari arah Belakang.


“Ini bos sama skretaris, apa bos sama sopir?” seru orang itu lagi.


“Sembarangan banget kalo ngomong” tukas Adel. Semua yang mendengarnya, tergelak.


“Bos yang humble nggak akan nampilin dirinya seperti bos, tapi membaur dengan anak buahnya” lanjut Adel.


“Ciaaaaa” seru beberapa orang.


“Aduh, kita nggak nyampe Ti, sama omongannya Adel. Tinggi banget”


“Iya, Nik. Kita yang sedeng-sedeng aja, deh!”


“Om Diki sendirian, tuh” celetuk Budi.


“Ha?”


“Hempf. Ha ha ha ha” Adel tertawa geli mendengar celetukan Budi.


“Bener-bener kompak”


“Iya, songongnya”


Kedua orang itu pergi meninggalkan Adel dan Budi. Para pengunjung yang melihat mereka tertawa lagi.


“Tati, Tati. Setel kalo sama Nike” komentar Adel.


Budi tertawa lagi mendengar komentar Adel, lalu duduk di tempat biasa dia duduk. Dengan pakaian ini, sekalipun tidak bergerak, penampilan Adel tetap memukau. Terlihat anggun dan elegan. Dia sangat menikmati seluruh penampilan kekasihnya itu.


Dia bangga, Adel tidak pakai malu-malu saat ditanya konsep pakaiannya. Malah Adel dengan bangga menjawab kalau setelan yang dia pakai adalah bentuk dukungan moralnya kepada Budi yang tengah berjibaku memperjuangkan masa depan mereka. Sontak jawaban itu mendapat sambutan meriah dari para pengunjung.

__ADS_1


__ADS_2