
Budi tersenyum saat masuk ke dalam rumah. Semenjak video call dengan Adel, praktis dia tidak memperhatikan apa yang dilakukan ibu dan adiknya. Dan ternyata, mereka berdua sudah masuk ke dalam kamar masing-masing. Budi memahami, mereka pasti kelelahan setelah seharian penuh membersihkan rumah.
Pasti tidurnya pada lelap. Apalagi pakenya kasur baru. Nyaman banget pasti. Eh, aku kan belum nyoba. Boleh banget deh kayaknya, nyobain sekarang. Toh, udah hampir waktunya jam tidur.
Budi memasukkan motornya dan juga motor adiknya. Tak lupa memastikan semua pintu dan semua jendela tertutup dan terkunci dengan benar. Sambil menggeliat, dia berjalan menuju kamarnya.
“Alhamdulillah. Nggak peduli berapa harganya, tapi kasur ini nyaman banget. Pantes langsung pada lelap” komentar Budi.
Dia mencoba beberapa posisi tidur untuk mengetahui tingkat kenyamanan kasurnya. Tapi dasar hatinya selalu bersyukur, tidak ada kata tidak nyaman baginya. Baru juga beberapa kali berguling-guling, dia sendiri sudah terlelap ke alam mimpi.
Huwannuru yahdil kha irina dziyau hu...
Suara ponselnya, walau agak jauh dari telinganya, tapi cukup sukses mengganggu tidurnya. Dia terkejut awalnya, karena menyangka sudah pagi. Terlebih saat dia membaca tulisan nama pemanggil di ponselnya. Tapi di saat melihat jam digitalnya, masih pukul dua puluh satu lewat dua puluh menit.
“Assalamau’alaikum”
Terdengar suara sapaan salam, begitu panggilan video itu dia angkat.
“Wa’alaikum salam. Tumben banget, nelpon jam segini, mbk?” jawab Budi.
“Eh, kamu udah tidur ya, Bud? sori, sori. Aduh, jadi nggak enak aku, bangunin kamu”
“He he. Nggak papa. Cuman kaget aja. Aku pikir aku udah kesiangan. Perasaan baru aja baring, kok mbak Rika udah nelpon? Untung jamku digital. Coba kalo analog, alamat pontang-panting, aku”
“Hempf, kamu kira jam sembilan pagi? Ha ha ha ha” Erika tertawa mendengar ucapan Budi.
“Iya”
“Aduh, sori banget, deh. Terpaksa, Bud. Ada yang urgent”
“Hem? Apaan?” tanya Budi antusias. Kantuknya seperti hilang seketika.
“Bukan soal kesehatan, sih. Soal data absen”
“Walah, iya. Tadi kan aku mau ngerjain itu. Si Adel nelpon, malah jadi lupa” saut Budi.
Budi mengambil phone holder, lalu meletakkan ponselnya di meja belajarnya. Lalu dia menyalakan laptopnya.
“Aku kerjain dulu, ya?” pinta Budi.
“Ya udah, sambil ngerjain aja!” jawab Erika.
“Kamu udah paham kan, sama alurnya?” tanya Erika.
“Udah sih. cuman belum nyoba nginput” jawab Budi.
“Pindah zoom aja, kalo mau sambil ngobrol! Barangkali juga aku butuh nanya sama kamu. Kan bisa sekalian tunjukin posisinya” saran Budi.
“Oke. Aku bikin linknya dulu, ya?”
“Sip”
TUUUUT
“Dih, nggak pake salam dulu” komentar Budi, saat sambungan telepon diputus begitu saja.
Sesaat kemudian, dia sudah fokus lagi ke layar monitornya. Dia mencoba menarik salah satu data yang diberikan Riki, untuk dia masukkan ke summary yang harus dia laporkan ke Erika.
KLUNG
Sebuah pesan singkat masuk ke ponselnya. Karena dia menggunakan juga yang versi web, maka dia bisa membuka pesan itu di laptopnya. Dan pesan yang masuk itu adalah link zoom yang dikirimkan oleh Erika. langsung saja dia klik untuk membuka jendela zoom.
“Halo, sinyal lancar, kan?”
__ADS_1
Lagi-lagi Erika menyapa tanpa mengucapkan salam. Tapi Budi hanya tersenyum menanggapi hal itu. karena memang dia tahu, mengucapkan salam itu hukumnya sunnah.
“Alhamdulillah, lancar” jawab Budi.
“Nah, kamu udah bisa input, tuh. Tarik aja langsung, semua!” saran Erika.
“Oke” jawab Budi.
Budi membuat layar laptopnya penuh dengan aplikasi kotak-kotak. Dia juga mengaktifkan mode berbagi layar. Sehingga, wajahnya tidak terlihat di layar Erika.
“Menurut kamu, performance karyawan bulan ini gimana, Bud?” tanya Erika, setelah beberapa menit sama-sama terdiam.
Budi merubah setelan layarnya kembali ke mode biasa. Dan setelah jendela Erika dia perbesar, dia malah tertegun tanpa memberikan jawaban.
“Hei, kok malah bengong?” tegur Erika. Budipun tersentak.
“E eh. Sori, sori. Aku malah salah fokus” jawab Budi jujur.
“Lah, malah jelalatan” sahut Erika.
“He he, ya maaf. Mataku kan mata elang. Disuguhin yang seger-seger begitu, ya langsung melenceng fokusnya. Ha ha ha”
“Hadeeeh. Emang si Adel nggak pernah pake tank top apa, di rumah?”
“Ya beda, lah. Kalo Adel sih, wajar. Dia cewek aku. Lha kamu kan atasan aku. Masa zoom meeting malah nyuguhin yang bulet begitu” jawab Budi.
“Untung zoom meeting” lanjut Budi.
“Kalo meeting beneran, kenapa?” potong Erika.
“Hadeeeh. Nggak cuman salfok, Ka. Bisa hilaf juga”
“Bilangin Adel ah, si Budi jelalatan”
“Ha ha ha ha. Bercanda, Bud. Ya kali, aku bilang-bilang”
Erika masih terus tertawa untuk beberapa saat. Dan selama tertawa itu, busungan dadanya terlihat bergoyang seiring gerakan tawanya. Memberikan pemandangan yang membuat Budi menjadi semakin salah fokus.
Belum lagi, tanktop yang dipakai Erika, terlihat kekecilan. Hanya mampu menutupi setengah dari bulatan itu. setengah ke atasnya, terbuka sama sekali, tanpa sehelai penutuppun. Ditambah lagi, tak ada apapun lagi di balik tank top itu.
“Tadi kamu nanyain apa, mbak? Performance?” tanya Budi.
“Tuh, kan. Jelalatan sih” komentar Erika. dan dia tertawa lagi.
“Kamu ambil baju dulu, gih! Salfok terus bisa-bisa, nih” pinta Budi.
“Ha ha ha ha. Bercanda, Budi” kata Erika. Budi bingung dengan ucapan itu.
“Ya udah, ya udah. Kita lanjutin pembahasannya, yuk! Aku sengaja pake tank top doang tuh, soalnya AC ku mati. Gerah banget di sini” lanjut Erika.
“Hadeeh. Ngajak khilaf kalo kaya gini ceritanya” komentar Budi.
“Terserah, deh. Cuman kamu ini yang liat. Ha ha ha ha. Tapi jangan bilang-bilang!” sahut Erika.
Budi hanya bisa geleng-geleng kepala. Dan selanjutnya, mereka membahas pekerjaan kantor mereka dengan Erika tetap berpakaian seperti itu.
Sempat sekali Erika pamit untuk mengambil minum. Dan betapa terkejutnya Budi, saat melihat sesuatu yang sangat tidak dia duga. Entah apa namanya yang dipakai Erika itu. Tapi yang jelas, sangat tidak mampu menutupi tubuh bagian bawahnya. Sembilan puluh persen tubuh bagian bawahnya, tidak berpenutup.
****
Peluh membasahi hampir di sekujur tubuh mbak Ning. Dinginnya AC kamar hotel itu tidak mampu meredam gejolak panas dari dalam tubuhnya.
Dia terbaling lemah di samping Hendra. Tapi walaupun lemah, senyumnya tetap mengembang indah, saat Hendra memandangnya. Hendra beringsut mendekatkan lagi tubuhnya ke tubuh mbak Ning.
__ADS_1
Setali tiga uang, mbak Ning juga merapatkan tubuhnya ke tubuh Hendra. Kini dia dalam posisi memeluk Hendra dari sisi kiri, dengan tangan kiri Hendra dia jadikan sebagai bantal.
“Ngomong-ngomong, kontrakan itu boleh buat beginian nggak sih?” tanya Hendra, memecah kesunyian. Mbak Ning tersenyum.
“ Sebenernya sih bebas, mas. Asal jangan mencolok. Apalagi ketahuan sama warga yang di depan” jawab mbak Ning. Gantian Hendra yang tersenyum.
“Kenapa? Pengen begituan di kamar mas Hendra?” tanya mbak Ning.
“Ya, gitu deh. Pengen kaya pak polisi itu. He he” Hendra mulai menebar pancingnya.
“Polisi mana? Yang sebelahnya Stevani?”
“Iya. Hehe”
“Berani emang?”
“Kenapa takut?”
“Polisi itu, bawa ceweknya siang-siang”
“Oh ya? selalu siang?”
“Enggak. Kemarin itu juga baru sekali dia bawa cewek ke kontrakan. Sebelumnya sih, nggak pernah”
“Kok bisa kebetulah, ya? Double date gitu”
“Double date gimana?”
“Ya kan dia sama ceweknya, di sebelahnya ada Vani sama cowoknya. Double date, kan?”
“Itu dia yang saya masih bingung, mas” kata mbak Ning pelan. Hendra menoleh dan menatapnya penuh tanya.
“Seingatku sih, Vani itu pergi dari pagi. Nggak bawa mobil sih emang. Kalo orang nggak tahu, dikiranya Vani ada di dalam. Tapi aku inget banget mas, dia itu dijemput temennya, cowok. Mobilnya keren banget, mas”
“Lha terus, yang di dalem itu, siapa? Kok bisa kerekam?”
“Itu dia, saya juga nggak tahu, mas. Saya sih curiganya sama anak ibu kos. Tapi mas Hendra jangan bilang-bilang, ya! ini dugaan pribadi saya”
“Ya mana mungkin, mbak. Lagian, ngapain juga aku ngurusin kasus orang? Aku cuman sekedar tanya aja” jawab Hendra diplomatis.
“Beneran ya, mas. Soalnya anaknya bu kos itu, suka nekat. Kalo udah marah sama orang, bawaannya mukul mulu”
“Emang dia punya akses buat masuk ke kontrakan Vani?’
“Ya kan kunci cadangannya di rumah dia, mas. Gampang aja buat ngambilnya. Sekonyong-konyong dia bawa ceweknya masuk, kan bisa aja. Orang lagi sepi”
“Kok bisa nyebut nama Vani, ya?”
“Ya sama aja kaya mas Hendra tadi. Yang bikin enak siapa, yang disebut siapa. Hayo, ngayal kan, bisa dienakin sama cewek itu?”
“He he. Maaf, mbak. Kelepasan”
“Enggak papa sih. Aku cuman mau kasih contohnya aja. Bisa jadi kaya gitu. Emang dasar orangnya terobsesi banget sama Vani”
“Terus, vaninya nggak tahu, gitu?”
“Kayaknya nggak tahu deh. Orang pulangnya juga abis isya’ “
“Loh, salah tangkap, dong?”
“Nggak tahu deh, soal itu. Aku nggak berani komen, mas” jawab mbak Ning.
“Ha ha ha ha. Oke deh” komentar Hendra, sambil tertawa.
__ADS_1
*Bener juga sih. Aku dienakin dia, malah nyebut nama big bos. Bukan hal yang susah buat dia nnyebut nama lengkap Vani. Tiap warga baru kontrakan itu kan, pasti dimintai fotokopi KTP. Tapi yang masih menjadi pertanyaan, kenapa suara ceweknya mirip banget sama Stevani, ya? Suara cowoknya juga mirip-mirip sama suaranya Dino. Tampung dulu aja, deh. Yang pasti, info kalau Vani keluar di hari itu, bisa menjadi pijakan awal buat ngusut lebih dalem*.