Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
mimpi yang mengerikan


__ADS_3

Mereka langsung pergi ke rumah sakit. Budi sempat memerintahkan kang Supri untuk mengambil motornya dan motor Putri, untuk selanjutnya dibawa ke bengkel, untuk diperbaiki. Sesampainya di rumah sakit, ternyata bu Lusi dan Adel sudah tidak ada di sana. Hanya tinggal Madina, yang sama sekali tidak mau meninggalkan Putri. Tapi ada tamu lain yang sedang berkunjung.


“Eh, ada tamu” komentar Budi, setelah bertukar salam.


“Ini si Budi ya, Tih?” komentar tamu itu, saat Budi menyalaminya.


Seorang ibu-ibu, dengan seorang anak perempuan, mungkin terpaut satu tahunan dari Putri.


“Iya. Yang dulu suka tawuran” jawab bu Ratih.


“Kenapa itu yang dijadiin pembuka, bu?” tanya Budi, dengan raut wajah dibuat seperti orang yang malu.


“Hempf. Ha ha ha” anak perempuan yang bersama tamu itu tertawa, mendengar komentar Budi.


“Ini istrinya Budi?” tanya ibu-ibu itu, saat Erika menyalaminya.


“Calon” jawab bu Ratih.


“Wah. Nggak jadi besanan dong, kita?” komentar ibu-ibu itu.


Sontak Erika tertegun. Budi menoleh ke arah anak perempuan yang lebih muda dari Putri itu.


“Masih dibawah umur, bu” komentar Budi, memecah kekakuan.


“Hempf” bu Ratih dan tamu itu tergelak.


“Belum tahu dia Tih, aku punya anak perawan sepantaran dia” komentar tamu itu.


“Ya udah nggak usah dibahas. Kasihan mbak Rika, jadi bingung gitu” jawab bu Ratih.


Merekapun tertawa lagi. Memang, tamu tadi hanya bercanda saja.


“Ini bu Maryati, Bud. Tetangganya simbah Putri” kata bu Ratih memperkenalkan.


“Loh. Sido Dadi?” sahut Budi.


“Iya” jawab ibu-ibu yang dipanggil bu Maryati, itu.


“Nah. Yang ini Tika, anak kedua bu Maryati” kata bu Ratih, memperkenalkan anak perempuan itu.


“Kita masih sodaraan sih, sama bu Maryati ini” lanjut bu Ratih.


“Tapi jauh ya Tih”


“Perasaan juga nggak asing, sih. Tapi ketemu dimana, ya?”


“Ya pas mas Budi ngembaliin bebeknya bapak, yang dipalak anak buahnya mas Budi” jawab si Tika.


“Hem?” sahut Budi. Dia tampak mengingat-ingat.


“Oh, iya. Si Rita” seru Budi, sambil menoleh ke arah Erika.


“Aduh. Malu-maluin banget emang itu bocah. Timbang pengen rica-rica bebek, pake malak segala. Mana malaknya nggak kira-kira, sepuluh ekor. Orang ngidam juga nggak ada yang abis sepuluh ekor” lanjut Budi.


“Kemaruk itu sih” komentar Erika, diiringi gelak tawa Stevani.


“Itu dia” sahut Budi, sambil tertawa juga.


“Makanya yang sembilan aku balikin. Yang satu aku bayarin” lanjut Budi.


“Alhamdulillah, inget” komentar Madina. Putri dan Tika tertawa lepas.


“Untungnya si ibu baik hati. Bukannya marah, malah berterimakasih, lho” komentar Budi.


“Dan untungnya nggak ada mbak Icha” sahut Tika.


“Kenapa emang?” tanya Putri.


“Ha ha ha. Pasti rame” jawab Tika.


“Bukannya kamu, yang suka ngomel?” sahut Madina.


“Tapi aku takut sama mas Budi. Kalo mbak icha tuh, nggak ada takutnya. Pasti mas Budi kena omel dia. Yakin, aku” jawab Tika.


“Ha ha ha ha” mereka bertigapun tertawa.


Perbincangan hangat mereka terhenti karena ada sebuah ponsel yang berdering. Ternyata itu adalah ponsel bu Maryati. Budi beringsut mendekati Erika, di tepi ranjangnya Stevani, karena bu Maryati sedang menerima sebuah panggilan video.


“Ini nduk, ibu lagi nengokin anaknya bu Ratih, yang jualan ikan” kata bu Maryati, menjawab pertanyaan anaknya.


“Bu Ratih yang mana ya, Bu?” terdengar pertanyaan dari telepon.


“Ini” jawab bu Maryati, sambil mengarahkan pnselnya pada bu Ratih.


“Belum pernah ketemu, ya?” tanya bu Maryati.


“He he. Iya, belum?” terdengar jawaban dari telepon.


“Ini Icha. Anak sulungku. Inget, kan?” tanya bu Maryati, pada bu Ratih.


“Aduh”


Budi kelepasan suara, karena terkejut, mendapat cubitan di pinggangnya. Erika berlagak tidak melakukan sesuatu. Membuat Stevani tergelak.


“Udah kerja, ya? Iya sih, sepantaran Budi sih, ya?” komentar bu Ratih.


“Aduh. Kenapa, sih?”

__ADS_1


Lagi-lagi Budi mendapat cubitan. Tapi Erika masih berlagak tidak berbuat apa-apa. Kali ini Putri ikut tergelak.


“Lagi dimana itu?” tanya bu Ratih.


“Lagi di pengeboran minyak, bu. Lagi ngecek pipa, ada yang bocor apa enggak” terdengar jawaban dari telepon itu.


“Wah. Keren, ya. Ati-ati, item” goda bu Ratih.


“He he” si Icha tergelak.


“Siapa yang sakit, bu?” terdengar pertanyaan dari telepon.


“Ini Cha, dek Putri” jawab bu Maryati. Dia mengarahkan ponselnya pada Putri.


“Halo, mbak” sapa Putri.


“Allohu Akbar”


Terdengar respon seperti orang terkejut. Budi jadi bertanya-tanya d dalam hati.


“Kenapa, nduk?” tanya bu Maryati.


“Ya Alloh” respon si Icha, masih membingungkan.


“A’ Farhan” si Icha memanggil seseorang. Dan terdengar seseorang mendekat.


“Ya Alloh a’, orangnya beneran ada, a’. Apa dong namanya?”


Semuanya masih kebingungan dengan maksud si Icha.


“Oh. Iya, bener” komentar laki-laki yang dipanggil si Icha, tadi.


“Mbak Icha kenapa, sih? Jangan bikin bingung orang, deh!” protes si Tika.


“Dek Putri, menurut kamu, ini mirip kamu, nggak?” tanya Icha. Dia menunjukkan sebuah lukisan sketsa.


“Eh, iya. Siapa yang nggambar, mbak?” respon Putri.


“Kalo ini, kamu kenal?” tanya Icha lagi. Dia menunjukkan sketsa lain.


“Loh. Itu mbak Vani. Itu orangnya di sebelah” jawab Putri.


Stevani mengernyitkan keningnya, mendengar namanya di sebut.


“Loh, kok bisa barengan? Jangan bilang kamu kecelakaan?” tanya Icha.


“Iya, mbak. Bener” jawab Putri.


“Kalian abis dikejar-kejar orang?”


“Ya Alloh”


Si Icha mengeluh sambil menutupi wajahnya. Terlihat dia seperti mempunyai beban yang cukup berat. Sedangkan Putri dan yang lain masih kebingungan.


“Satu lagi, dek. Aku berharap bisa mendengar jawaban yang berbeda” pinta Icha.


“Apa kamu kena tembak di legan kiri?” tanya Icha.


“Loh, iya. Kok mbak Icha tahu?” respon Putri.


“Ya Alloh. Kok mimpi Icha jadi nyata sih, mas?” kata Icha, tanpa menjawab pertanyaan Putri.


“Semalam tuh aku mimpi, dek. Aku ngeliat ada dua cewek naik motor matic, dikejar-kejar dua orang. Terus di ujung jalan, dua cewek ini jatuh dari motor karena yang nyetir, kena tembak di lengan kirinya” kata Icha menjelaskan maksud pertanyaannya.


“Loh. Kok bisa tepat, mbak? Embak punya indera ke enam, ya?” respon Putri.


“Ya Alloh” keluh Icha lagi.


“Kalo yang itu jadi kenyataan, yang selanjutnya gimana, a’?” tanya Icha pada temannya itu.


“Kasih tahu aja, Cha! Barangkali bisa di antisipasi” jawab temannya.


“Ada apa kak?” tanya Putri.


“Dek. Apa mbak yang ini punya hape kaya gini?”


Icha bertanya merujuk pada Stevani. Dia menunjukkan sketsa sebuah ponsel.


“Eh?”


Putri merasa kurang yakin dengan ingatannya. Reflek dia menoleh ke arah Stevani.


“Sebentar ya, nduk?” kata bu Maryati.


Bu Maryati beranjak dari tepi ranjang Putri menuju ranjang Stevani. Budi dan Erika beranjak, memberikan ruang untuk bu Maryati.


“Halo” sapa Stevani, saat bu Maryati meminjamkan ponselnya.


“Ya Alloh, beneran cewek yang ini, a’” terdengar Icha berkomentar.


“Mbak. Apa ponsel embak kaya gini?” tanya Icha. Dia menunjukan sketsa ponsel yang dia buat.


“Eh. Iya, bener. Persis kaya gitu. Nih” jawab Stevani. Dia menunjukkan fotonya.


“Ya Alloh. Beneran ada, a’. Gimana, dong?” suara Icha terdengar seperti sangat khawatir.


“Nduk. Mimpi itu nggak semuanya akan menjadi nyata” kata bu Maryati menghibur Icha.

__ADS_1


“Kalau aja yang Icha tanyain tadi sama sekali nggak ada kebenarannya, Icha nggak akan sekhawatir ini, bu” jawab Icha.


“Tapi dua orang yang Icha liat dalam mimpi, beneran ada. Kasusnya juga sama. Sampe ponsel yang Icha liat di mimpi juga, beneran ada, bu. Apa nggak ngeri, coba” lanjut Icha.


“Lalu, apa yang mbak Icha liat setelah ini?” tanya Stevani.


Icha tidak segera menjawab. Dia menatap Stevani beberapa saaat. Membuat Budi dan Erika saling menatap, bertanya-tanya.


“Akan ada yang datang lagi, mbak” jawab Icha.


“Kenal orang ini?” tanya Icha. Dia menunjukkan sketsa dua orang laki-laki.


“Eh. Itu yang ngejar-ngejar kita. Mereka berdua yang dateng ke kontrakan aku, terus minta sesuatu yang mereka sendiri nggak tahu bentuknya berupa apa. Aku suruh geledah kamar aku, malah merekanya mau mukulin aku. Ya aku kabur, lah”


“Kalo yang ini?”


Icah menunjukkan sebuah foto lagi.


“Aku nggak tahu” jawab Stevani.


“Huuuffft”


Terdengar Icha menghela nafas berat.


“Orang ini yang akan dateng, mbak. Nggak tahu entar malem, besok, atau lusa. Tapi yang aku liat di mimpi, kalian masih bersama” kata Icha.


“Dia nyari apa?” tanya Stevani.


“Nyari ponsel itu” jawab Icha.


“Astaghfirulloh. Ponsel ini?” seru Stevani.


Icha tampak mengangguk, membenarkan. Budi dan Erika saling menatap.


“Ya Alloh. Kalo dari awal mereka bilang nyari hape ini, kan nggak perlu ada korban. Siapa sih mereka? Dodol banget jadi preman” lanjut Stevani dongkol.


“Mbak. Kalo dia dateng, tolong kasihin aja ya! Seberapapun berharganya ponsel itu, nyawa kalian jauh lebih berharga” pinta Icha.


“Mbak. Dari awal mereka dateng, aku udah tahu mereka bawa pistol. Taruhanku, nyawa. Jangankan ponsel, mobil aja bakal aku kasih” jawab Stevani.


“Alhamdulillah” terdengar Icha berkomentar. Nada suaranya menyiratkan adanya kelegaan.


“Buat semuanya, dan tolong sampaikan pada yang akan menjaga mbak Vani, dek Putri, tolong biarkan orang ini masuk dan mengambil ponsel itu! Dan biarkan dia pergi tanpa ada perlawanan. Pura-pura tidur saja!” pinta Icha.


“Tapi kalo mengancam keduanya, boleh dong, kita bertindak?” suara Erika menggema di ruangan.


“Yang saya liat di mimpi saya, orang ini tidak ditugasi untuk menyakiti mbak Vani maupun dek Putri. Hanya mengambil ponsel itu saja” terdengar suara Icha menjawab pertanyaan Erika.


“Siapa yang menugasi?” tanya Erika.


Budi sempat menegurnya dengan injakan kaki. Tapi suasanya terlanjur berubah menjadi sedikit kaku.


“Di akhir mimpi saya, saya melihat orang itu menyerahkan ponsel itu pada orang ini”


Erika tidak bisa melihat apa yang ditunjukkan oleh Icha. Tapi Stevani bisa.


“Siapa itu?” tanya Stevani.


Dia merasa sketsanya tidak jelas, karena hanya menggambarkan dua orang yang sedang berhadapan sambil memegang sebuah benda.


“Aku cuman ngeliat ini”


Icha memberikan satu sketsa lagi. Tampak perubahan di raut muka Stevani.


“Sandi?”


Hampir semua orang tersentak mendengar nama itu disebut Stevani. Budipun reflek mendekat. Stevani memberikan ponsel bu Maryati kepada Budi.


“Loh. Iya, bener” komentar Budi.


Walau memakai buff, tapi wajah Sandi masih terbaca jelas oleh Budi.


*Lu dapet orang dari mana sih, Ndi? Bego banget kerjanya. Awas aja kalo lu kirim orang bego lagi. Sekali orang itu nyolek keluarga gua, gua bakal bikin perhitungan sama lu*.


“Mas?” tegur Erika.


“Hem?”


Budi tersentak mendengar teguran itu. Sontak dia tersenyum pada bu Maryati, sembari mengangguk, sebagai isyarat untuk mundur. Dia juga menyerahkan ponsel itu pada pemiliknya.


“Makasih atas warningnya ya, mbak Icha” kata Stevani.


Bu Maryati kembali meminjamkan ponselnya pada Stevani.


“Iya, mbak Vani. Maaf ya, Icha udah bikin suasana jadi tegang begini” sahut Icha.


“Justru bagus, mbak. Jadinya kita bisa persiapan” jawab Stevani.


“Iya, mbak. Sekali lagi Icha minta maaf. Baru kali ini Icha mimpi yang sebegini jelasnya”


“Nggak papa, mbak” jawab Stevani.


Setelah diselingi perbincangan ringan, juga iringan doa, akhirnya sambungan video call itupun diakhiri.


Budi tampak masih termenung. Dia tidak menyadari kalau semua orang menatap padanya. Beberapa saat kemudian, bu Ratih mengajak bu Maryati untuk berbincang, mengalihkan perhatian para tamunya dari memperhatikan Budi.


***

__ADS_1


__ADS_2