
Erika berteriak memanggil sambil berlari mengejar. Sedangkan Putri kembali menangis lagi.
Bu Ratih mengajak Putri kembali ke dalam bengkel, sambil memerintahkan si Cobra untuk menemani Budi. putri masih terus menangis, sekalipun ibunya sudah melontarkan banyak pertanyaan.
“Mas Bud. tunggu!”
Erika mendahului langkah Budi, dan menghalanginya. Budi menatapnya tajam. Matanya memerah penuh amarah.
“Minggir!” perintah Budi, lirih tapi penuh penekanan.
“Jangan main gebuk aja, mas! Ada kesempatan besar. Harus kamu manfaatin” kata Erika memberikan gambaran.
Budi tampak mendengarkan. Sedangkan si Cobra, menghentikan langkahnya dan bersiaga beberapa meter dari Budi.
“Kita bisa mancing mereka keluar, bahkan bisa ngadu domba keduanya” lanjut Erika.
“Mereka, siapa?” tanya Budi.
“Ya yang mas bilang, kelompoknya Bejo sama kelompok yang berseberangan dengan Bejo” jawab Erika.
Budi masih menatap Erika dengan tatapan tajam. Emosi di hatinya masih sangat tinggi. Nafsu untuk menghajar Zulfikar masih sangat berkecamuk.
“Kita harus tahu dulu mas, Zulfikar tadi ngomong begitu, atas kemauannya sendiri, apa dipaksa orang lain. Kalo atas kemauannya sendiri, berarti dia bucin sama Putri, “
“Setan alas, lah. Nggak sudi aku punya ipar penipu kaya gitu” potong Budi.
“Itu dia, mas. Kalo emang dia itu bagian dari kelompok yang berseberangan sama si Bejo, berarti dia bukan orang sembarangan. Kok bisa dia sampe keceplosan? Nggak mungkin banget seorang anggota mafia bisa seceroboh itu”
“Menurutmu?”
“Kalo bener dia anggota mafia, yang berseberangan sama si Bejo, berarti ada yang bikin pikirannya kacau. Sampe-sampe dia kelupaan, kalo info tentang kebakaran yang dia bilang itu, bukan dari Putri. Bisa jadi yang bikin pikirannya kacau itu dari kelompoknya Bejo. Mungkin si Bejo masih mikir-mikir kalo mau nggebukin Zulfikar. Mungkin mereka masih memperhitungkan pamornya pak Daud. Ada mas Budi juga, di belakangnya. Aku pikir, lebih realistis kalo mereka bikin pikiran zulfikar kacau. Lebih realistis kalau mereka bikin Zulfikar menunjukkan jati dirinya. Kalo mas Budi udah nggak pro lagi sama Zulfikar, maka makin mudah buat si Bejo itu buat ngancurin Zulfikar”
“Emang bisa, bikin kacau pikiran orang dalam sekejap?”
“Bisa, mas. Psy war. Aku sih belum bisa. Tapi pernah baca soal itu”
“Terus?”
“Daripada mas Budi nggebukin dia, kenapa nggak kita adu aja, Zulfikar sama si Bejo?”
__ADS_1
“Gimana caranya ngadu dedemit yang kita nggak bisa liat?”
“Ya kita bikin aja, apa yang ditakuti sama Zulfikar, terjadi”
“Maksud lu?” tanya Budi tersinggung.
“Seolah-olah” jawab Erika santai.
“Kita bikin seolah-olah Putri beneran disandera oleh si Bejo”
“I’m listening”
“Tapi bakal butuh biaya banyak, mas. Bengkel ini mungkin akan jadi korban”
“Jer basuki mowo beo”
“Oke” komentar Erika singkat.
“Kalo emang bener si Bejo jadi buat balas dendam, aku nggak yakin Zulfikar bisa dapetin orang buat nahan kelompoknya si Bejo. Mereka pasti akan nyampe sini” lanjut Erika.
“Terus?”
“Nggak usah dipancing juga kali”
“Aku kok nggak yakin mereka akan bikin rusuh di sini, mas”
“Maksud kamu?”
“Eeem. Just feeling”
“Excuse me?”
“Aku nggak bisa jelasin gimananya, mas. Tapi aku ngerasa, tempat ini pamornya luar biasa. Karena aku yakin, kaya yang mas bilang, mas Budi tuh dianggep asset buat mereka. Dan juga ada ibu, di sini”
“Ibu?” tanya Budi sambil tergelak.
“Emangnya ibuku mantan preman, gitu?” lanjut Budi masih dengan tergelak.
“Ibu kan lagi deket sama pak Paul. Di kota ini, siapa yang nggak kenal pak Paul? Selama ini pak Paul cuman diem waktu ngadepin si Dino, itu karena ada yang mau diraih sama dia. Pasar Eropa itu terlalu besar buat dilewatin. Kemanan dan kestabilan internal sangat perlu buat dijaga, biar calon pelanggan PRAM percaya sama performa PRAM. Kalo aja pasar eropa udah kepegang dari dulu-dulu, tinggal dial satu nomer, abis itu Dino. Beruntung ada mas Budi, nggak sampe mati itu adiknya Sandi”
__ADS_1
Budi terdiam. Dia berusaha mencerna apa yang dikatakan Erika. Di satu sisi, dia merasa dipermainkan, di sisi lain, dia juga memaklumi. Orang dia yang butuh pekerjaan. Apapun motif dibalik penerimaan dirinya, yang dia butuhkan adalah uang.
“Kalo itu bener, kenapa malah dibikin rusuh? Kalo bener mereka bawa senpi, berapa nyawa yang akan jadi korban?”
“Kalo mas mau, aku ada channel orang bayaran, yang udah biasa ikut konflik bersenjata di luar negeri. Kita bisa pakai mereka” jawab Erika.
Budi terkejut mendengar jawaban Erika. Dia tidak terpikirkan kalau Sandi akan mengajari Erika sampai punya jaringan tentara bayaran.
“Terus? Tim pengacau itu akan memulai pertempuran, ibu dan yang lain kita ungsikan, terus Putri?”
“Kita susupkan tim penculik. Kedua tim itu kita susupkan saat Zulfikar menghadang di kejauhan sana” jawab Erika.
“Terus?”
“Kalo mas setuju, aku bisa mintakan senjata berat. Empat senapan mesin berat enam laras, aku rasa cukup. Nggak perlu RPG, kalo mereka cuman bawa mobil biasa”
Budi tergelak mendengar Erika mengucapkan senapan mesin berat enam laras. Selama ini dirinya saja hanya bisa melihat saat ada tentara lewat menggunakan panser.
“Kita bikin kelompoknya si Bejo kocar-kacir, lalu di saat yang bersamaan kita ungsikan Putri ke suatu tempat, dan kita katakan ke Zulfikar, kalo Putri diculik sama Bejo. Pasti Zulikar akan mencari Putri” lanjut Erika.
“Lalu?”
“Kita harus bisa menahan salah satu dari kelompoknya si Bejo, buat kita interogasi dimana tempat mereka. Kalo berhasil, kita arahkan Zulfikar ke tempat mereka”
“Dan Zulfikar akan melabrak mereka? Apa kamu yakin, Zulfikar akan seberani itu?”
“Kita buktikan”
“Pertaruhan besar, Ka. Aku harap kamu nggak lagi nyenengin atiku. Aku nggak butuh itu”
“Aku tahu gimana nyenengin kamu, mas. Bukan dengan ide ini, pastinya”
Budi menatap lekat mata Erika. banyak sekali yang ingin dia katakan. Tapi dia malah bingung, mana yang akan dia katakan terlebih dahulu.
“Aku harap kamu juga bukan penghianat, sayang. Janjimu masih aku pegang” kata Budi.
Erika terkejut, Budi akan berkata seperti itu. Tapi kemudian dia sadar, Budi sedang mengalami krisis kepercayaan. Dia memakluminya.
“Jantungku di sebelah kiri, mas” jawab Erika.
__ADS_1
Budi menganggukkan kepalanya. Dia bisa menerima jawaban Erika. Diapun balik kanan, bermaksud mengajak Erika kembali ke dalam bengkel. Tapi saat sudah menghadap ke belakang, Budi terkejut melihat ada si Cobra di hadapannya. Erikapun bingung melihat cobra melepas headset berkabel yang tak tersambung ke alat apapun.