
Di depan pintu ruang tunggu, Adel menghentikan langkahnya. Pandangan matanya bertemu dengan pandangan mata Luki. Kini dia menatap lekat-lekat, wajah lelaki yang sebentar lagi akan menjadi suaminya. Bu Lusi meminta Luki untuk mendekat ke Adel.
Luki mendekat dengan perasaan canggung. Dia tahu bagaimana prinsip Adel. Dia juga tahu bagaimana teguhnya pendirian hati wanita itu. keteguhan itulah yang membuatnya cangung saat menghadapi situasi seperti ini.
“Apa mas Luki beneran siap, buat nikah sama Adel?” tanya Adel, setelah Luki hanya berjarak satu langkah di depannya.
Luki tidak segera menjawab. lidahnya mendadak kelu. Pertanyaan yang keluar di saat yang sangat tidak ideal.
“Andaikan Adel tanyakan itu ke semua cowok, pasti nggak ada yang bilang nggak siap. Pasti semuanya akan bilang siap. Apalagi aku” jawab Luki diplomatis. Adel sempat tersenyum sesaat, mendengar jawaban itu.
“Boleh Adel minta sesuatu?” tanya Adel lagi.
“Apa?” sahut Luki.
“Air dalam baskom” jawab Adel.
“Satu menit” jawab Luki.
Dia berjalan cepat menuju kamar mandi umum, tempat dimana dia mandi tadi pagi. Tak lama kemudian Luki telah kembali dengan sebuah baskom berisi air.
“Silakan” kata Luki saat memberikan baskom berisi air itu kepada Adel.
“Terimakasih” kata Adel.
Semua orang bertanya-tanya, untuk apa air dalam baskom itu. Terlebih Adel berjalan menuju bu Ratih. Bu Ratih mengernyitkan dahinya. Seketika dia teringat dengan perbuatan anak sulungnya, yang mencuci kakinya, lalu meminum air bekas cucian kakinya itu.
“Enggak” kata bu Ratih, begitu Adel sampai padanya.
“Bu?” Adel sedih mendapat penolakan itu. Bahkan disaat dai belum berbicara.
“Ibumu lebih berhak mendapat kehormatan itu. Dia yang melahirkanmu” kata bu Ratih.
“Ijinkan Adel sungkem, bu” pinta Adel. Tangisnya pecah seketika.
Bu Ratih jadi merasa serba salah. Dia merasa tidak enak dengan bu Susan juga. Akhirnya dia masukkan kedua telapak tangannya ke dalam air itu. Dia gunakan untuk mencuci tangan.
“Jangan!” cegah bu Ratih, saat Adel akan meminum air itu. Adel menatap bu Ratih dengan penuh tanya.
“Hanya ibumu yang pantas kamu berikan penghormatan setinggi itu” kata bu Ratih.
Bu Ratih memasukkan lagi kedua telapak tangannya ke dalam air itu, lalu dia usapkan tangannya ke wajah Adel. Dia seka air mata yang masih terus mengalir itu. Bu Ratih juga mengusapkan air itu ke kepala Adel. rambutnya mengkilat karena basah.
“Restu ibu bersamamu, nduk” kata bu Ratih. Adel menatap wajah bu Ratih lekat-lekat.
“Kita akan selalu bersaudara, sekalipun tidak dalam bentuk menantu dan mertua” lanjut bu Ratih.
Adel menangis lagi. Sedih sekali hatinya. Dia juga merasa malu kalau ingat bagaimana sebelumnya dia pernah berkonflik dengan ibu yang sangat baik ini.
“Sudah, mintalah restu sama calon mertuamu!” pinta bu Ratih.
Dia tersenyum saat Adel menatapnya. Masih dengan berderai air mata, Adel menghampiri calon ibu mertuanya.
“Bu. Jangan marah ya, bu! Adel cuman pamit” kata Adel lirih.
“Justru ibu bangga sama kamu, nduk. Kamu melakukan hal yang memang seharusnya dilakukan” jawab bu Susan.
“Mohon doa restu, bu. Juga bimbingannya” pinta Adel.
Bu Susan mencelupkan tangannya ke dalam air itu. lalu membasuh wajah dan rambut Adel. Dia lakukan itu tiga kali, seperti yang bu Ratih lakukan.
__ADS_1
“Restu ibu bersamamu, nduk” kata bu Susan. Adel masih saja menangis.
“Sekarang, minta restu sama ibumu!” pinta bu Susan.
Adel memutar tubuhnya. Kini dia menuju ibu kandungnya sendiri. Tanpa bicara, Adel langsung merendahkan tubuhnya. Mengerti apa yang dimaksud putri sulungnya, bu Lusi mengangkat kaki kanannya. Dia membiarkan Adel membasuh telapak kakinya. Begitu juga dengan kaki kirinya.
*Glek, glek, glek*.
Adel meminum air bekas basuhan kaki ibunya. Tiga teguk dia minum. Tepat bersamaan dengan datangnya pak penghulu. Adel terkejut saat menghadap ke penghulu itu. Bukan pak penghulu yang membuatnya terkejut, melainkan Putri, yang juga hadir di tempat ini.
Walau matanya berkaca-kaca, tapi Putri memberikan senyum dan anggukan kepalanya. Sebagai isyarat kalau dia memberikan ijinya. Madina mendekat dan menggamit tangan Putri. Membuat perhatian Putri teralihkan.
Tanpa membuang waktu lagi, setelah ijin dari dokter didapatkan, beberapa orang yang berkepentingan dalam ijab qobul itu langsung masuk ke ruang dimana pak Fajar berada. Sisanya menyaksikan dari ruang tunggu.
Kata-kata pembuka dan perkenalan mempelai dimulai oleh pak penghulu. Dia sebutkan juga wali nikah, mas kawin, dan juga saksi-saksi. Setelah semua hal yang harus ada di saat ijab qobul terpenuhi, pak penghulu segera melangsungkan ijab qobul itu.
Dengan keadaan yang sangat sederhana, tanpa persiapan, bahkan kedua mempelai juga tidak berganti pakaian, akad nikah dilangsungkan. Tepat di sisi ranjang pak Fajar
Adel tak henti-hentinya menangis. Hatinya hancur, mendapati kenyataan kalau dia harus menikah di samping tubuh bapaknya, yang tergolek tak berdaya.
Tangan pak penghulu dan tangan Luki bersalaman, bertemu di tengah-tengah tubuh pak Fajar. Dan pak penghulu mengucapkan ijab, mewakili sang wali, yang tidak mampu lagi menikahkan putrinya sendiri.
“Saya terima nikah dan kawinnya Adelia Fitri, binti bapak Eka Fajar, dengan mas kawin cincin emas seberat sepuluh gram dibayar tunai” kata Luki menyahut ucapan pak penghulu.
“Bagaimana saksi, sah?” tanya pak penghulu.
“Saaaah”
***
*TAAARRRR*
Di tempat lain, Budi terkejut bukan main, di saat tiba-tiba gelas yang dia angkat, gagangnya patah. Teh panas yang hendak dia minum, tumpah, bersamaan dengan pecahnya gelas yang pecah terbentur lantai. Acara makan siang lesehanpun terhenti karenanya.
Kelima temannya tak kalah terkejutnya. Mereka menyingkir karena air teh itu mulai mengalir ke posisi mereka.
“Bud. Lu nggak papa?”
Sapaan Erika untuk kedua kalinya, sukses menyentakkan Budi dari keterkejutannya. Sudah beberapa detik lamanya dia tertegun bagai membeku.
“Bud. Mundur dikit, deh! Aku pel dulu”
Bayu menegur sambil mengacungkan alat pel. Dengan masih tampak terkejut, Budi mundur beberapa kesotan. Hilda tergelak melihat Budi ngesot.
“Kamu kenapa sih, kok aneh gitu?” tanya Erika lagi.
“Nggak ngerti. Perasaanku nggak enak” jawab Budi.
“Halah. Gitu aja di bawa perasaan, Bud. Emang udah fatigue ini sih” sahut Deni. Dia menunjuk gagang gelas yang masih dipegang Budi.
Tapi Budi tidak menanggapi candaan Deni. Dia kembali tertegun, pikirannya sibuk memikirkan tentang perasaan was-was yang tiba-tiba datang tanpa ada penyebabnya.
Tanpa menghiraukan Deni yang memunguti kaca pecahan gelasnya, Budi pergi mengambil ponselnya. Dia lantas menelepon ibunya, namun tidak tersambung.
Berkali-kali dia menelepon kembali, tapi tak juga mendapat sambutan. Dia berganti ke Putri, adiknya. Tapi nasibnya sama. Tak mendapat respon sama sekali.
*Jangan-jangan ada apa-apa sama pak Fajar*.
Budi beralih menelepon Adel. Sampai belasan kali dia coba, tetap tidak ada jawaban. Dia beralih ke Madina. Madina juga sama sekali tidak meresponnya. Perasaan Budi menjadi semakin was-was.
__ADS_1
“Mas, makan dulu, yuk!” ajak Ratna.
Semenjak mereka terjebak di Berlin, acara makan yang digelar bersama-sama seolah dijadikan adat, untuk lebih mengakrabkan satu sama lain. Budi menatap Ratna beberapa saat. Lalu pandagannya beralih ke tempat mereka makan tadi. Ternyata sudah bersih, kembali seperti sedia kala. Budi merasa bersalah, sebagai penyebab, malah tidak ikut membereskan kekacauan tadi.
“Iya” jawab Budi pendek.
Walau hatinya masih was-was, tapi dia tidak enak kalau menolak ajakan Ratna.
“Aku bukannya ngeledek firasatmu, Bud” kata Deni. Budi yang baru duduk, menoleh padanya.
“Aku juga pernah ngerasain itu” lanjut Deni.
“Terus?” tanya Budi.
“Sori ya, Bud. aku nggak bermaksud ngeledek” jawab Deni.
“Iya. Aku juga minta maaf. Udah berbuat, tapi nggak mau tanggung jawab” kata Budi.
“Tuh, mbak. Apa aku bilang” celetuk Hilda, menunjuk Erika.
“Apaan?” tanya Erika.
“Nggak usah deh, terlalu deket sama Budi. Giliran udah pecah, ditinggal pergi” jawab Hilda.
“Busyet. Elastis gitu, emang bisa pecah?” tanya Budi.
“Nah, loh. Kok bisa bilang elastis? Hayo loh” sahut Hilda heboh.
“Lu ngomongin apa, sih?” tanya Erika.
“Ha ha ha. Ya itu, mau berbuat nggak mau tanggung jawab” jawab Hilda.
“Udah kena, kayaknya” tebak Deni.
“Heeh” sahut Budi.
*PLAAAK*
“ADOOH. Kenapa nabok?” seru Budi kaget. Tiba-tiba saja pahanya ditabok Erika dengan kencangnya.
“Jangan fitnah, lu!”
“Apanya yang fitnah?”
“Ya heeh tadi, maksudnya apa?”
“Emang lu nanya apaan, den?” tanya Budi ke Deni.
“Ha ha ha ha. Ya itu, yang elastis”
“Ah. Kirain lu ngomongin pete. Kena beneran nih” seru Budi sambil menunjukkan pete yang tersangkut di giginya.
“Hempf. Ha ha ha ha”
Deni, Bayu, dan Ratna tertawa lepas melihat pete di gigi Budi.
“Kerjaan siapa nih, naruh pete di urap? Niat banget ngisengin gua” gerutu Budi.
“Ha ha ha ha”
__ADS_1
Mereka tertawa semakin kencang. Erikapun akhirnya ikut tertawa. Rasa was-was di hati Budi sempat mereda dengan candaan teman-temannya. Paling tidak sampai acara makan siang berakhir.