
“Ada apa, mas?” tanya Zulfikar, setelah jauh dari kamar rawat Putri.
Budi tidak segera menjawab. Dia menyebar pandangan terlebih dahulu, memindai keadaan sekitar.
“Kamu tahu siapa Salma?” tanya Budi.
Zulfikar bingung ditanya demikian. Karena menurutnya, Budi jauh lebih mengenal polwan itu daripada dirinya. Tapi kemudian dia paham, yang dimaksud Budi adalah peran dari polwan itu.
“Salma orangnya netral. Fatoni yang agak selengehan” Jawab Zulfikar.
Budi menoleh, tapi tidak segera merespon. Dia memikirkan beberapa kemungkinan dari jawaban Zulfikar.
“Tapi dalam kaitannya sama kasusnya Sandi, mereka berdua ada di pihak yang sama. Fatoni sendiri sangat berambisi buat ngebongkar sindikat yang dulu hampir terbongkar” lanjut Zulfikar.
“Mister Bejo?” tanya Budi.
“Loh. Kok mas Budi tahu?” respon Zulfikar kaget.
“Dia bilang, pas pengambilan keteranganku tadi siang” jawab Budi.
“Oh. Tumben?” komentar Zulfikar pendek.
“Tumben kenapa?” tanya Budi.
“Dia jarang banget berbagi info selain dengan timnya. Kecuali pada orang yang sudah dia tandai” jawab Zulfikar.
“Tandai gimana?”
“Sudah tahu luar dalamnya orang itu”
“Oke. Bukan hal aneh kalo polisi tahu banyak tentang aku. Yang aku penasaran, informasi mereka itu Valid apa enggak?”
“Jujur, aku males buat bilangnya. Tapi ya, aku harus mengakui. Mereka berdua itu terbaik di satnarkoba. Bahkan di jajaran intel polisi secara umum, mereka berdua termasuk elit. Bahkan sempat direkrut densus delapan-delapan. Yang pas Salma ninggalin mas Budi dulu itu”
“Wow” komentar Budi pendek.
“Mereka tahu lebih banyak daripada intel lain. Bahkan mereka punya jaringan sendiri yang intel lain tidak tahu” kata Zulfikar lagi.
Budi tertegun. Angannya melayang pada momen dia melihat foto orang yang mereka sebut sebagai mister Bejo. Hatinya berontak, mengingkari, menolak informasi yang diberikan Zulfikar.
“Mas?” tegur Zulfikar.
Budi terkejut. Dia menatap Zulfikar dengan beribu pertanyaan di matanya.
“Kamu tahu tentang mister Bejo?” tanya Budi.
“Enggak, mas. Kita-kita juga tahunya dari mereka berdua. Tapi scoope kita cuman nanganin potensi kriminal non narkotika. Semacam premanisme. Kalopun ada temuan narkotika, ya harus kita serahkan ke sat narkoba. Mereka yang melanjutkan”
“Jadi, kalo dia ngasih liat aku sebuah foto, dan dia bilang itu mister Bejo, apakah itu valid?”
“Kita perlu sepaham dulu, mas”
“Haih. Gimana caranya?”
“Memangnya kenapa, mas? Mas Budi liat orang kaya yang di foto itu?” tanya Zulfikar.
Budi menatap mata Zulfikar. Dia masih ragu untuk mengatakannya.
“Kalo mas Budi emang liat, mending bilang ke Salma aja, mas!” saran Zulfikar.
“Tapi dia serius apa cuman ngetes aku? Dan apa dia bisa dipercaya?”
“Sekalipun aku gedek sama Fatoni, tapi aku harus ngakuin, kalo dia sama Salma itu orangnya bersih, mas. Kalo dia orangnya kotor, bapak pasti langsung ngingetin aku”
“Jadi menurutmu, info dia itu, valid?”
“Ya tergantung. Kita harus sepaham dulu. Yang mana yang mas Budi maksud? Kalo sama dengan yang dia kasih liat ke kita-kita, ya berarti valid”
“Huuufffft” Budi menghela nafas berat.
“Mending temuin Salma aja, dulu, mas!” saran Zulfikar.
“Belum tentu juga, apa yang dikasih liat ke mas Budi, adalah mister Bejo yang sebenarnya” lanjut Zulfikar.
“Pancingan?”
“Ya. Buat ngeliat reaksi mas Budi”
“Jangan bilang kalo yang dia kasih liat itu fotoku” lanut Zulfikar.
Budi tergelak mendengar ucapan itu.
“Bukan. Tapi ya, aku kenal sama orang itu” jawab Budi sedikit menyamarkan jawaban.
“Udah. Nanya aja sama Salma, mas! Takut salah aku, kalo komentar banyak-banyak” saran Zulfikar.
“Ya udah. Balik ke kamar Putri, yuk!”
“Yuk”
__ADS_1
Merekapun kembali menyusuri lorong menuju kamar rawatnya Putri. Tapi Adzan maghrib menyita perhatian mereka. Dan merekapun memutuskan untuk sholat maghrib terlebih dahulu.
***
Saat mereka kembali ke kamar rawat Putri, tampak ada dokter yang sedang memeriksa kondisi Putri. Dan terlihat juga Madina telah kembali dengan membawa tas. Dia tampak berbincang serius dengan kakaknya.
Budi merasa aneh dengan raut wajah Adel yang terlihat murung. Beberapa kali Adel menelepon seseorang. Tapi Budi tidak menegurnya. Dia hanya memperhatikan dari jarak lima meteran.
“Loh, eh. Ini kan mas yang sebelumnya minta istrinya buat nambah sehari, kan?”
Sebuah seruan mengalihkan pandangan Budi. Dan tampak seorang dokter wanita beserta perawat yang tidak asing buat Budi.
“Eh, bu dokter. Masih ingat sama saya?” sahut Budi sambil menyalami dokter itu.
Di seberang sana, Adel juga tampak menoleh. Raut wajahnya menyiratkan kecemburuan dan rasa iri, mendengar kata ‘istri’ disebut dokter itu. Dan Budi tidak meralat pernyataan dokter itu.
“Istrinya sakit lagi, mas?” tanya bu dokter.
“Enggak, bu. Yang di dalem itu, adik saya” jawab Budi.
“Oh, yang saudari Putri, apa saudari Vani?”
“Putri, dok. Itu adik saya”
“Oh, ya Alloh” komentar dokter itu.
“Bagaimana kondisi adik saya, dok?” tanya Budi.
“Oh, ya. Begini, mas. Saudari Putri, memang sudah menunjukkan perkembangan signifikan. Tapi kami masih perlu melakukan penanganan dan pemantauan terhadap keluhan di kepalanya”
“Semacam gegar otakkah, dok?” tanya Budi lirih.
“Agaknya menuju ke situ, mas. Tapi masih dalam kondisi yang ringan. Semoga dalam satu atau dua hari ke depan, pasien sudah tidak mengeluhkan sakit di kepalanya. Sehingga, bisa dilanjut rawat jalan untuk pemulihan tangan dan kakinya” jawab dokter itu lirih juga.
“Baik, dok. Tolong lakukan yang terbaik!” pinta Budi.
“Pasti, mas” jawab dokter itu.
“Untuk sementara, begitu dulu ya, mas. Besok pagi kita observasi lagi” pamit dokter itu.
“Baik dok, termakasih”
“Permisi”
“Silakan”
“Put. Masih pusing?” tanya Budi tanpa basa-basi.
“Udah mendingan sih. Cuman kalo ketawa lepas, masih suka nyut-nyutan” jawab Putri.
“Buat makan?”
“Beda jalur, lah”
“Maksudnya, udah enakan apa masih berasa pahit?”
“Udah enak, sih. Makan apel juga udah berasa manis”
“Wah, maunya itu sih. Entar dikasih salak bilangnya pahit, deh” komentar Budi.
“Ngomong apa, sih? Adiknya lagi sakit, juga” sergah bu Ratih.
“Mas” panggil Putri.
“Ya?”sahut Budi.
“Tadi beneran, yang mas Budi bilang?” tanya Putri.
“Yang apa?” Budi bingung dengan pertanyaan Putri.
“Yang mas Zul tepe-tepe sama mbak Nungki”
“Oh. Ha ha ha ha. Enggak” Budi menjawab sambil tergelak.
“Serius?”
“Ya Alloh, Put. Kaya kita nggak pernah bercanda aja. Lu aja sembarangan, ngatain cewek gua oneng”
“Hempf”
Dalam cemburunya, Putri masih bisa tergelak mendengar jawaban Budi.
“Alhamdulillah” kata Putri mengucap syukur.
“Bapak kalo cemburu begini ya, bu?” tanya Budi.
“Iya” jawab bu Ratih sambil tergelak.
*Tok tok tok*
__ADS_1
Terdengar pintu kamar rawat diketuk dari luar. Dan muncullah Adel bersama Madina di belakangnya.
“Bu Ratih. Adel mau pamit dulu, bu” kata Adel, sambil mendekat ke bu Ratih.
“Eh. Udah pada makan, belum?” tanya Budi.
“Belum” jawab bu Ratih.
“Tunggu dulu, Del! Aku beliin makan dulu” pinta Budi.
“Nggak usah, mas. ibu masak, kok” tolak Adel.
“Syukurlah” komentar Budi.
“Kok syukurlah?” protes Putri.
“Nggak jago boong” jawab Budi.
“Ajak aja ke depan! Sama Aldo sama Zul juga!”
“Ibu dibungkusin?” tanya Budi.
“Boleh” jawab bu Ratih.
“Sate ya bu?”
“Iya”
“Banteng apa T-Rex?”
“Hempf. Ha ha ha ha”
Terdengar tawa dari seberang sana.
“Wah. Songong, bu” seru Putri mengiringi tawa Stevani.
“Biar galak. Kan si Zul mau nginep sini. Kalo ketahuan modus, biar dikremus” jawab Budi.
Bu Ratih hanya berkacak pinggang sambil geleng-geleng kepala. Matanya malotot seolah marah pada budi.
“Astaghfirulloh” gumam Budi.
Dia berlagak seolah kaget melihat ibunya melotot. Lalu dia beranjak ke sudut ruangan sambil menjewer kedua telinganya.
Sontak semua orang yang melihat tertawa lepas. Sampai-sampai Zulfikar masuk karena penasaran.
“Ya udah yuk, makan dulu, baru pulang” ajak Budi.
“Aku bungkus aja, Bud. Makan di sini aja” seru Aldo.
“Kenapa?”
“Riki OTW ke sini, sama si gilang”
“Gilang?”
“Anak QC, yang debat sama lu”
“O o. Iya iya iya” komentar Budi sambil tersenyum menggoda.
Gilang adalah orang yang juga naksir sama Stevani. Tapi dulu sama-sama takut dengan Budi.
“Yuk!” ajak Budi pada yang lain.
“Aku entar aja, mas” tolak Zulfikar.
“Kenapa, lu?” tanya Budi heran.
“Tugasku suka nggak ketebak, mas. Mumpung ada waktu” jawab Zulfikar.
“Eem. Gimana, bu?” tanya Budi pada ibunya.
“Ya udah, bungkusin aja! Ibu mau sholat dulu” jawab bu Ratih.
“Adel di rumah aja, mas” celetuk Adel.
“Kamu mau nolak juga?” tanya Budi agak meninggi.
“Oke. Yuk!” lanjut Budi.
Dia menggamit tangan Madina, dan berjalan menuju pintu. Madina terkejut dan sempat menoleh ke arah Putri. Putri juga sama terkejutnya.
Sesaat kemudian tubuhnya tertarik oleh Budi. Dan reflek dia menarik tangan kakaknya.
“Dek?”
Adel terkejut dan reflek berseru. Budi awalnya terkejut mendengar Adel memekik. Tapi dia tidak peduli dan terus melangkah. Dia malah tersenyum. Dia senang, Adel akhirnya mau ikut juga.
Dia tergelak, saat Adel geleng-geleng kepala. Budi memutuskan mengajak mereka berdua untuk makan sate.
__ADS_1