Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
isi pesan rahasia


__ADS_3

Sepulang dari sekolah, Putri langsung membantu ibunya berkemas. Ini hari pertama ibunya kembali berjualan, dan bu Ratih ingin pulang lebih awal. Dia merasa tidak nyaman, membiarkan putranya hanya tinggal berdua dengan Stevani.


Ya, Stevani. Belum lama tadi, tetangganya melaporkan, kalau Stevani datang. Dia bilang kalau dia ingin menemani Budi. Putri tidak berkomentar apapun. Dia mendukung saja, apapun yang diputuskan ibunya.


Sesampainya di rumah, terlihat Stevani sedang berbincang ria dengan Budi di teras. Bertemankan seorang tetangga yang bermukim di sebelah rumah. Memang, tidak tampak sesuatu yang mencurigakan.


“Eh, ibu. Sudah pulang?” seru Stevani melihat bu Ratih dan Putri datang. Dia langsung menyambut, dan salim.


“Iya, nduk. Kan Budi masih dalam masa perawatan. Ibu nggak tega, ninggalin dia sendirian seharian” jawab bu Ratih.


“Kan ibu bisa minta Vani, kalo mas Budi butuh sesuatu. Toh Vani kerjanya sering diluaran. Bisa lah, kalau hanya mampir, sih”


“Iya. makasih banyak, ya. Udah nemenin Budi”


“Sama-sama, bu” jawab Stevani.


“Lek, ini titipannya” kata bu ratih kepada tetangganya.


“Hai, Put. Gimana sekolahnya?” tanya Stevani berbasa-basi.


“Alhamdulillah, lancar. Embak masih kerja apa sudah pulang?” sahut Putri.


“Masih kerja sih, tadi mampir doang” jawab Stevani.


“Ya udah, dilanjut dulu, ngobrolnya. Putri mau ganti baju dulu”


“Oke”


Putripun meninggalkan Stevani bersama kakaknya. Dia masuk rumah setelah salim dengan Budi, dan tetangganya. Terlihat bu Ratih sedang membuatkan minum untuk kedua tamunya. Putri mendekat, dan membantu.


“Udah, kamu ganti baju dulu aja, nduk!” pinta bu Ratih.


“Bu, ada titipan dari Madina” kata Putri lirih.


“Titipan apa?”


“Entar ibu ke kamar Putri aja, ya! Ibu bawa buku! Seolah pengen nyatet sesuatu, tapi pulpennya abis” jawab Putri.


“Hem?”


Bu Ratih bertanya sambil tergelak.


Bukan kali pertama, Putri berlagak seperti detektif atau agen rahasia. Tapi seringnya, kalau sedang ada teman-temannya. Tapi sekarang hanya ada keluarganya sendiri. orang luar juga hanya tetangganya, dan juga,


*Stevani*?


Bu Ratih sempat memperhatikan kepergian Putri. Selepas menyampaian informasi tadi, Putri langsung masuk ke dalam kamarnya. Raut wajahnya sempat terlihat oleh bu Ratih. Dan terlihat serius.


“Silakan diminum!”


Bu ratih menyuguhkan teh hangat untuk ketiga orang yang berada di teras itu.


“Ya ampun, kok repot-repot segala sih, bu?” seru Stevani basa-basi.


“Cuman air, nduk. Silakan!” jawab bu Ratih.


Merekapun menerima suguhan itu. Walau hanya seteguk, mereka meminumnya.


“Ini berapa, mbak Ratih?’ tanya tetangganya. Dia menunjukkan bungkusan yang diberikannya tadi.


“Gampang itu sih, lek. Dibahas entar aja” jawab bu Ratih.


“Eh, laah” seru bu ratih kemudian.


“Kenapa mbak Ratih?’ tanya tetangganya.


“Dengar sampeyan nanyain harga, saya jadi keinget, ada yang belum saya catet” jawab bu Ratih.


“Catet dulu, mbak! Berabe kalo lupa. Untung nggak seberapa, juga” saran tetangganya.


“Iya, bu. bener itu” sahut Stevani.


“Ya sudah, saya ijin masuk dulu, ya?” pamit bu Ratih.

__ADS_1


“Silakan!” jawab mereka.


Budi hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


Bu Ratihpun kembali masuk ke dalam rumah. Dia lantas mengambil buku di dalam tas di dalam kamarnya.


“Put, pinjem pulpen, dong”


Suara bu Ratih terdengar sampai ke teras. Walau masih terdengar wajar. Ketiganya masih asyik berbincang, tanpa memperhatikan suara dari dalam rumah.


“Titipan apa?” tanya bu Ratih dengan suara pelan.


“Ini, bu”jawab Putri.


Putri mengacungkan sebuah amplop Putih yang berisi selembar kertas. Bu Ratih menerima amplop itu, lalu membukanya. Isinya adalah sepucuk surat.


24 x 4 \= 96


Begitulah yang pertama terlihat saat bu ratih membuka lipatan kertas surat itu.


“Hmpf” Putri tergelak membaca tulisan itu.


“Kenapa?” tanya bu Ratih.


“Kirain madina doang yang gokil. Ternyata mbak Adel juga konyol” jawab Putri. Bu Ratih ikut tergelak.


“Orang sih, kalo nulis surat, paling atas itu tanggal. Ngapain nulis perkalian?” lanjut Putri. Bu Ratih tak kuasa menahan tawanya. Tapi tidak berkomentar.


*Assalamu’alaikum*,


Teriring salam dan doa. T-14 sudah siap patroli. Cek M2A4


Begitulah seluruh isi dari surat yang dititipkan oleh Madina untuk bu Ratih. Putri tampak menggaruk-garuk kepalanya. Dia tidak paham dengan isi surat itu.


Dari sekian banyak pesan terenkripsi dari Madina, baru ini yang sama sekali dia tidak bisa membacanya. Pertanda, surat ini memang bukan rekaan Madina semata.


Bu Ratih meraih pulpen yang dipegang Putri. Lalu mulai menulis. Putri berlagak ingin mengambil air minum. Dia keluar untuk memastikan tidak ada yang menguping pembicaraan mereka. Dan, aman. Stevani dan tetangganya masih berbincang-bincang di teras.


“Ini. Tolong sampaikan sama Madina, ya!” pinta bu ratih.


“Terigu sekilo, telur seperempat, gulanya setengah, sama baking soda” jawab bu ratih.


“Ha? Bikin apaan tuh?” tanya Putri bingung.


*Ada surat isinya begitu*?


Tapi bu ratih tidak menghiraukannya. Dia merogoh sakunya, lalu memberikan sejumlah uang pada Putri.


“Hafal nggak?”


“Ish, ibu”


Putri putar badan, balik kanan, hendak menyimpan bukunya. Ternyata ada Stevani yang sudah berdiri di depan kamarnya.


“Ada apa, nduk?” tanya bu Ratih.


“Aduh bu, maaf nih, ganggu ngobrolnya sama Putri”


“Oh, nggak papa” jawab bu Ratih.


“Vani mau pamit, bu. Mesti bikin laporan”


“Oh. Yaaah. Nggak disuguhin apa-apa, nih” komentar bu Ratih.


“Waduh ibu, udah nyuguhin teh, masih bilang belum nyuguhin” sahut Stevani.


“Makan dulu, Yuk!” ajak bu Ratih.


“Terimakasih, bu. Mungkin lain waktu saja. Vani sudah ditunggu” jawab Stevani.


“Oh, ya sudah kalau begitu. Ati-ati, ya!”


“Baik, bu. Assalamu’alaikum”

__ADS_1


“Wa’alaikum salam”


Putri menghela nafas lega, setelah mengetahui Stevani sudah pergi meninggalkan rumah mereka. kini Budi yang kebingungan, melihat adiknya tertawa-tawa. Dia bertanya kenapa, Putri malah masuk ke dalam rumah.


***


Pagi ini, terjadi kehebohan di parkiran PT. PRAM. Tak lain dan tak bukan, karena Dino dan kawan-kawannya motor yang mereka tunggangi, mereka pasangi kenalpot berisik. Suaranya sudah seperti orang mau demonstrasi saja.


Terlebih, pagi itu, scurity baru yang desertiran pasukan katak diajak pak Paul untuk bertemu tamu penting. Praktis, tidak ada lagi yang berani menegur mereka.


Ada Erika yang mencak-mencak di depan kantor. Tapi malah dijawab oleh dino dengan geberan mesin motornya. Membuat suara Erika tenggelam dalam berisiknya suara kenalpot. Mereka benar-benar merasa seperti penguasa pabrik itu. Tindakan mereka membuat sewot banyak orang. Bahkan yang tidak suka dengan mereka juga ikut terkena sewotnya.


“Aldo”


Seseorang memanggil nama Aldo dengan suara kencang. Membuat seisi kantor menoleh kepada orang yang memanggil itu.


“Ada apa, mbak Farah?” tanya Aldo. Dia yang baru hendak memasuki kubiknya, keluar lagi.


Orang-orang yang hendak briefing pagi, teralihkan perhatiannya. Mereka sampai menunda briefing karena melihat Farah datang dengan wajah penuh emosi.


“Kamu kan paling senior. Masa nggak bisa sih, mastiin produksi buat nggak delay?” tanya Farah dengan nada marah.


“Ya kan, Budi belum pernah ngajarin aku, mbak. Dia kerja sendiri”


“Udah nanya pak Teguh?”


“Belum"


“Pak Supri?”


“Belum”


“Kenapa nggak nanya?”


“Nanya juga percuma, mbak. Masalahnya bukan di situ”


“Kan udah dibikinin back up”


“Embak liat sendiri deh, ke lapangan. Jangan ngomel aja, bisanya!”


“Eh, kalo cuman ngomong gitu, si Riki juga bisa” jawab Farah.


“Kamu kan yang paling senior di PPIC. Tiap hari kalo dikasih target sama Vani, kamu yang nerima, kamu yang ngelead temen-temen kamu. Masa Delay mulu?”


“Mbak, dari awal aku masuk sini, baru sebulanan ini, ada target segila itu. Yang bener aja,mbak!”


“Jangan sampe nih, aku banding-bandingin kamu sama orang lain! Kalo ternyata Riki bisa bikin target hari ini terpenuhi, mau kamu di-lead sama Riki?”


Aldo tidak menjawab. Sorot matanya memancarkan rasa tersinggung yang cukup berat. Tapi dia tidak bisa melawan. Karena dia juga merasa belum yakin, akan kemampuannya melawan gengnya Dino.


“Ya masa aku harus berantem? Aku ke sini buat kerja, mbak” jawab Aldo.


“Ya kalo emang harus berantem, ya berantem sono!” sahut Farah. Aldo terdiam lagi.


“Beneran, nih. Jangan sampe keluar dari mulut gua, satu nama, yang lu juga pasti marah kalo gua sebut” lanjut Farah. Aldo masih tidak menjawab.


“Apa perlu gua sendiri yang harus berantem di lapangan? Kalo gua sendiri yang turun tangan, artinya lu sama sekali nggak achieve”


“Mbak, ini over load. Aku pegang dua”


“Terserah elu”potong Farah.


“Lu mau limpahin logistik ke Riki, mau minta tambahan orang ke Erika, mau apa juga, bukan urusan gua. Yang penting, hari ini, jangan ada delay lagi!” lanjut Farah.


Farah memberikan lembaran target, yang harus tercapai hari ini. Dia sama sekali tak merubah sikap, sekalipun kertas yang dia berikan, disambar dengan keras oleh Aldo. Diapun langsung balik kanan, kembali ke kubiknya.


***>>>


Sepagi ini, Stevani sudah berdebat dengan Isma, saat dia mengajukan dana untuk bertemu calon pelanggan. Dia merasa dipersulit oleh Isma, mentang-mentang pertemuannya dilakukan di luar kota.


Tapi memang tidak ada pelanggan yang asli dari kota ini. Kebanyakan pelanggan dalam negeri, asalnya dari daerah-daerah wisata nasional,seperti bali, lombok, raja ampat, dan semacamnya. Hanya menemui customer di bilangan jawa tengah, itu masih dekat. Kalau harus ke bali langsung, kan lebih jauh.


Tapi penjelasan logis Stevani itu, tidak serta-merta diterima Isma. Sampai Erika turun langsung menengahi perdebatan mereka.

__ADS_1


Isma akhirnya menerima pengajuan dana yang diajukan Stevani, setelah mendapat tembakan kata dari Erika. Masuk akal juga, kalau terlalu dipersulit, dan malah tidak mendapatkan pangsa pasar baru, bulan depan bisa tutup perusahaan ini. Kalau itu sampai terjadi, kata Erika, bisa ditebak siapa yang menyebabkan.


__ADS_2