Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
kembali fokus


__ADS_3

“Orang-orangnya Zulfikar tumbang, bos” kata kang Sukron lirih.


“Tumbang?” sahut Budi.


Dia lantas duduk di sebelah Sephia, melihat ke layar monitor. Ternyata benar, tinggal Zulfikar sendiri yang tersisa. Parahnya lagi, bukan hanya terluka atau patah tulang, tampak mereka yang tumbang langsung tidak bergerak.


“Kita cuman punya waktu satu jam, mas” kata Sephia.


“Kita perlu jalankan prosedur evakuasi, bos” kata kang Sukron.


“Tapi aku nggak mau mereka tahu. Sedangkan di sekitar kita, banyak mata” tolak Budi.


“Bisa kirimkan pesan palsu?” tanya Budi pada Sephia.


“Pesan palsu?”


“Ya. Kirimkan pesan ke Bejo atau Moreno, kalo kita yang di sini, sudah bergerak ke tempat lain!”


“Mereka hanya menerima panggilan, mas. Nomornya dienkripsi”


“Satelit aja bisa kamu hack, masa cuman nomor ponsel nggak bisa nyari?” tolak Budi. Alasan Sephia, terasa mengada-ada buatnya.


*Aduh, mati aku. Maju kena, mundur kena. Aku turutin, ketahuan. Nggak aku turutin, pasti ketahuan juga*.


Sephia masih belum menjawab. Dia masih tertegun. Tapi di mata Budi, dia tampak sedang memikirkan caranya.


*Haaaih, Erika. Susah banget dibilangin. Ruwet, kan? Ya udah, lah. Masa bodoh, Ka. Kalo aku sampe ketahuan, pinter-pinternya kamu aja, ngendaliin keadaan*.


“Kenapa nggak culik orangnya aja?” celetuk Erika. Budi menoleh padanya.


“Mereka ada banyak, mas. Satu kita sabot, yang lain enggak, repot juga” lanjut Erika.


“Terus?” tanya Budi.


“Nggak harus kita bawa ke sini semua, sih. Cuman kita lumpuhkan aja. Kita amanin alat komunikasinya dulu. Jadi, kalo satu bilang ‘A’, yang lain juga bilang ‘A’ “ jawab Erika.


“Berarti kamu nggak bisa nyabot kelimanya sekaligus?” tanya Budi pada Sephia.


“Eeeem” sephia nampak berpikir.


“Dalam situasi kaya gini, jujur aku belum pernah ngalami. Aku selalu bekerja dengan waktu yang longgar”


“Haiih. Tahu gini, mending nyulik Isma aja, kang” keluh Budi pada kang Sukron.


“Cobra!” panggil Budi.


“Siap” sahut si Cobra.


“Lumpuhkan kelimanya, tanpa ada keributan! Dan bawa alat komunikasi mereka!”


“Siap”


“Hind. Ikut Cobra!”


“Siap”


Keduanya segera pergi. Budi kembali menatap layar monitor. Di otaknya sedang berkelebat sekian banyak bayangan rencana. Tapi dia masih memilah-milah, mana yang terbaik.


“Apa nggak bisa dilacak, dimana si Moreno berada?” tanya Alligator.


“Buat apa?” Budi balik bertanya.


“Buat kita ancurin sekalian” jawab Alligator. Budi terkesiap. Sebuah ide yang cukup radikal menurutnya.


“Mumpung mereka fokus buat ngancurin kita, kita susupkan orang untuk ngancurin mereka. Toh, mereka nggak tahu apa yang telah kita siapin” lanjut Alligator.


“Jumlah mereka banyak banget” seru sephia. Semua mata tertuju padanya.


“Aku tahu, kamu prajurit pasukan khusus. Tapi kamu tetep manusia, bukan robot”


“Sebagian besar mereka lagi menuju kemari”


Terdengar suara dari handy talky. Suara si Cobra. Rupanya percakapan mereka terhubung dengan si Cobra.


“Maksudnya?” tanya Sephia.


“Barusan ada telepon dari si Bejo. Dia merintahin mata-mata ini buat mancing Erika keluar. Karena galeri Bro Budi mau dibumi-hangusin. Tambahan orang sedang meluncur dari trenggalek dan ponorogo” jawab si Cobra.

__ADS_1


“Jangan ngaco kamu!” seru Erika.


“Aku nggak ada urusan sama kamu, Ka. Aku rekam suaranya”


“Cobra, balik dulu! Hind, urus sisanya!” perintah Budi.


“Siap, laksanakan” jawab Hind.


“Apa sayap timur masih bisa kita pakai, kang?” tanya Budi pada kang Sukron.


“Sori bro Budi. Sayap timur bukan milikmu lagi. Mereka juga lagi disiapin buat nyerang galeri”


Suara Cobra kembali menyita perhatian semua orang. Membuat Budi terkesiap.


Dia tidak menyangka kalau dia akan menghadapi situasi pelik seperti ini. Tak sampai lima menit, Cobra telah kembali. Dan dia memperdengarkan rekaman percakapan telepon berisi perintah dari Bejo.


“Pak Paul”


Budi memanggil pak Paul sambil berjalan menghampirinya.


“Ya?”


Pak Paul, yang sedang duduk di teras kamar Putri, menyahut. Bu Ratih, yang berada di samping pak Paul, menatap Budi dengan penuh tanda tanya.


“Apa tawaran tadi masih berlaku, pak?” tanya Budi.


“Masih” jawab pak Paul singkat.


“Apa boleh saya meminta bapak untuk memerintahkan mereka melakukan ini?” tanya Budi, sambil menulis di sebuah buku catatan.


Dia sobek kertas yang dia tulis, lalu dia berikan ke pak Paul. Pak Paul berdiri untuk menerima kertas itu. Sekaligus menjauh dari jangkauan pandangan mata bu Ratih. Dia tidak ingin, orang yang dia cintai, panik.


*Handono*?


Pak Paul terkejut membaca tulisan Budi. Dia sempat mengernyitkan keningnya beberapa saat.


*Pantesan kamu nggak peduli sama Vani. Ternyata bukan status anak tiri, yang bikin kamu nggak nyaman sama Vani. Kamu takut ketahuan, kan? Karena Vani itu orangnya cerdas dan selalu pengen tahu. Terkutuk kamu, mas*.


“Pak?” tegur Budi.


“Oh. Ya, bisa” jawab pak Paul, tergagap.


Budi menganggukkan kepalanya. Dan pak Paul, langsung berjalan keluar bengkel kayu, menelepon orang yang tadi dia tawarkan kepada Budi. Tak lama kemudian, dia kembali.


“Mereka udah bergerak, Bud” kata pak Paul.


“Seberapa cepat, pak?” tanya Budi.


“Dua jam” jawab pak Paul.


Budi terkesiap. Dua jam adalah waktu yang jauh lebih lama daripada estimasi kedatangan gerombolan anak buahnya Moreno.


“Makasih, pak” kata Budi, berterimakasih.


Diapun kembali kepada anak buahnya. Dia tatap satu per satu. Semuanya bingung ditatap begitu rupa.


“Ada tim yang lagi jemput paket. Kita sebut mereka tim Bravo” kata Budi.


Semua orang menganggukkan kepala. Tak ada yang bertanya tentang paket yang dimaksud Budi.


“Coba aja kita punya skyshield” celetuk Budi, lirih.


“Buat?” tanya Cobra.


“Buat berangus mereka. Satu peluru bisa sepuluh orang kena” jawab Budi.


“Hempf” si Cobra tergelak.


“Kenapa?” tanya Budi, tersinggung.


“Kita udah lama punya, bos” jawab Cobra. Budi bingung mendengar jawaban si Cobra.


“Bro Budi ini gimana? Itu di kotak merah, pelurunya skyshield. Punya banyak, kita. Senapannya Petir, udah competible sama amunisi itu.” lanjut Cobra.


“Seriusan?”


“Serius, lah”

__ADS_1


Budi berjalan menuju simpanan amunisi di dekat senapan mesin di gerbang kanan. Dan ternyata benar.


Kotak merah itu isinya peluru yang berisi butiran tungsten, yang akan dipanasi oleh pembakaran mesiunya.


Dan akan disebarkan ke segala arah, oleh bahan peledak yang tersimpan di tengah-tengahnya.


Dan bahan peledak itu akan aktif, setelah sensor jarak pada komputer kecil di belakangnya, mendeteksi, bahwa jarak yang ditetapkan sebelumnya lewat komputer, telah terpenuhi.


Dan komputer kecil itu menyalakan sekering, untuk mengeluarkan bunga api, yang memicu reaksi pada bahan peledak.


Peluru canggih itu sejatinya adalah peluru untuk menjatuhkan wahana udara, seperti pesawat.


Belum ada satu pesawatpun yang sanggup melewati butiran-butiran tungsten panas, yang tersebar di udara, membentuk barikade rapat.


Tidak semua negara mau membeli peluru ini. Karena harganya yang jauh lebih tinggi dibanding peluru konvensional. Negara kita saja belum punya. Padahal sudah punya skyshieldnya.


Untuk seratus butir peluru ini saja, beserta perangkat tambahan di ujung senapan, dan komputer pengatur jaraknya, bisa dapat dua pajero.


“Apa si Petir bawa peluru ini?” tanya Budi.


“Bawa, bos”


Sebuah jawaban terdengar, tapi bukan dari Cobra, melainkan dari handy talky. Itu suara si Petir.


“Good” seru Budi.


“Petir. Bersiap untuk pindah posisi! Aku siapin koordinatnya dulu” perintah Budi.


“Siap, bos” jawab si Petir.


Budi meminta Sephia, untuk menunjukkan lokasi terakhir pasukannya Moreno. Ternyata mereka telah mencapai Punung.


Sephia mengubah posisi yang ditunjuk Budi menjadi deretan angka koordinat. Dan Budi mengatakan koordinat itu kepada Petir.


“Siap, bos. OTW” kata Petir, menyanggupi perintah Budi.


“Ingat, Jangan ada korban jiwa kalo bisa! Cukup bikin mereka sibuk selama dua jam!”


“Siap” jawab Petir singkat.


Budi kembali memikirkan, bagaimana mengatasi dua front selanjutnya.


“Phia. Yang dari Trenggalek, bawa senjata apa?” tanya Budi.


Sephia langsung mengetikkan sekian baris perintah pada komputernya. Dan terlihat citra satelit, gerombolan orang bermotor dengan membawa senjata tajam.


“Ada senjata api?” tanya Budi.


Sephia kembali memasukkan sekian baris perintah. Dan terlihat beberapa kotak berwarna hijau, bergerak-gerak dan berpindah-pindah dari satu orang ke orang lain. Dan komputer Sephia menyatakan kalau gerombolan itu tidak membawa senjata api.


“Ka”panggil Budi. Erika tersentak dari keterdiamannya.


“Seberapa dekat orangmu?” tanya Budi. Erika sempat tertegun karena terkejut ditanya begitu.


“Terlalu jauh mas, kalau untuk menghadapi sayap timur. Tapi masih cukup waktu untuk menghadang yang dari trenggalek dan ponorogo” jawab Erika.


“Berapa orang dari sayap timur?” tanya Budi pada Sephia.


“Sedikit” jawab Sephia.


Di layar monitornya, terpampang citra satelit, gerombolan orang yang Budi sebut, sayap timur. Tertera angka dua puluh tujuh, yang menyatakan jumlah pasti gerombolan itu.


“Oke. Terjunin, Ka! Bikin sibuk yang dari arah ponorogo dan trenggalek! Waktumu satu jam” perintah Budi.


“Baik” jawab Erika.


“Bikin mereka sibuk selama sejam kemudian! Jangan dihabisin! Setelah satu jam, suruh mereka pergi! Pas orang-orangnya Bejo dateng, dan rusuh, suruh mereka merangsek masuk dari arah timur! Seolah-olah nyulik Putri sama Vani. Nanti ketemu sama tim Hornet one. Mereka juga jadi backupnya hornet one. Yang lain, masuk dari selatan, pake perahu karet, nunggu hornet two! Mereka jadi backupnya hornet two. Call sign mereka, sattelite four, sattelite five” perintah Budi lagi.


“Oke” jawab Erika.


Dia beranjak pergi ke luar bengkel kayu. Dia menelepon orang yang menjadi langganannya. Tawar-menawar harga terjadi. Begitu cocok, orang suruhan Erika itu langsung bergerak. Erika langsung melapor.


“Good” komentar Budi.


“Apa yang mas rencanain?” tanya Erika, lirih.


“Nanti kamu juga tahu” jawab Budi berteka-teki.

__ADS_1


__ADS_2