Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
adel tinggal seatap dengan budi


__ADS_3

Para ibu dan ladies tampak serius membahas sesuatu. Budi tak bisa mendengar karena suara mereka teredam oleh suara mesin pasah kayu.


Sembari lewat, Budi menyempatkan untuk berbincang dengan karyawannya. Keempatnya serempak menyatakan kesiapannya menjaga keluarga Budi dan Adel dari segala ancaman. Dan Budi mengucapkan terimakasih atas kesediaan itu. Mereka berduapun melanjutkan perjalanan menuju meja makan.


“Serius amat, ngobrolnya?”


Suara Budi mengalihkan perhatian semuanya. Budi menyempatkan salim pada bu Lusi. Sedangkan Erika hanya bisa memandang dari belakang. Tatapannya sempat bertemu dengan tatapan mata Adel. Berbagai perasaan berkecamuk di dadanya.


“Duduk sini, Ngger! Mbak Rika juga”


Suara bu Ratih menyentakkan lamunan Erika. Dia segera beranjak mengikuti Budi, duduk di seberang sana, di sebelah bu Ratih.


“Ngger. Situasinya semakin ruwet. Keselamatan bulekmu Lusi sekeluarga lagi nggak baik-baik aja. Kamu ada saran, ngger?” tanya bu Ratih.


Budi tidak segera menjawab. Dia menatap bu Lusi, Adel, dan Madina secara bergantian. Dia juga sempat menoleh ke arah Stevani dan juga Erika. Walau tatapannya tampak bukan sedang meminta pendapat Erika.


“Terus terang, Budi juga minim informasi, bu” kata Budi mengawali jawabannya. Bu Ratih mengernyitkan keningnya.


“Yang jelas, memang sedang tidak baik-baik saja” lanjut Budi. Semuanya masih diam menyimak. Tak ada yang menyela.


“Kalo yang Nungki bilang tadi itu Valid, berarti ada dua kelompok yang berseteru” lanjut Budi lagi.


“Ha?” Adel berseru lirih.


“Kalo yang pertama kita anggep kelompoknya Luki, nah, yang kedua ini yang Budi belum tahu”


“Jangan bilang papanya Vani terlibat dalam masalah ini!” Stevani ikut bersuara.


Sontak semua mata tertuju padanya. Ada air mata yang meluncur membasahi pipinya.


“Jangan bilang dongle itu adalah petunjuk tempat penyimpanan uang hasil penjualan narkoba! Jangan bilang kalo papanya Vani adalah salah satu bandar yang mereka buru, mas Bud!” lanjut Stevani.


Tangisnya pecah diakhir kalimatnya. Hatinya sedih, membayangkan kalau sumber dari musibah beruntun ini adalah papanya sendiri. Madina bergeser sedikit, dan merengkuh Stevani ke dalam pelukannya.


“Belum ada info mengenai itu, Van” jawab Budi setengah berbohong.


“Kalopun benar, itukan papamu. Yang penting kamu bukan bagian dari mereka” lanjut Budi.


“Kalo nyawa Vani cukup buat jadi jaminan, ambil mas!” sahut Stevani.


“Vani juga nggak segan buat pergi dari raga ini, kalo ada yang maksa Vani buat nyakitin kalian, dan Vani nggak sanggup buat ngelawan” lanjut Stevani.


“Iya, nduk, iya. Kita percaya, kok. Jangan berkecil hati, ya!” kata bu Ratih menenangkan Stevani.


Tangis Stevani kembali pecah. Butuh beberapa saat untuknya menenangkan diri.


“Terus gimana, ngger?” tanya bu Ratih, setelah Stevani tenang.


“Penggerebekan Luki kemarin itu, sama saja dengan kegagalan Luki nganterin dongle itu” jawab Budi.


“Apa?” gantian Adel yang terkejut.


Rupanya Nungki tidak menyinggung mengenai dongle itu dengan Adel.


“Intinya, ada yang menginginkan dongle itu. Mungkin, ini baru tebakan Budi aja, mungkin orang itu merintahin Luki buat ngambil dongle yang diambil kelompoknya Sandi. Dan harusnya, Luki nganter dongle itu ke orang yang merintahin dia. Karena keburu kena grebek, dongle itu gagal dia anter”

__ADS_1


“Dan yang merintahin itulah yang membunuh Luki?” tanya Adel.


Raut wajahnya terlalu sulit untuk Budi pahami. Entah apa yang sedang dipikirkan Adel.


“Justru bukan” jawab Budi.


“Loh, kok?” Adel terkejut dengan jawaban Budi.


“Itu dia yang Budi nggak abis pikir. Makanya Budi punya asumsi lain” jawab Budi. Adel masih diam menyimak.


“Budi jadi kepikiran, kalau dalam kasus ini, ada orang lain atau kelompok lain. Kelompok itu ingin mendapatkan uang milik kelompoknya Luki. Some how, mereka tahu kalau uang itu tidak disimpan secara konvensional. Mereka hampir bisa mengakses, tapi terhalang kunci yang hanya bisa dibuka dengan dongle itu. Makanya mereka ngejar dongle itu”


Budi menjeda jawabannya untuk minum terlebih dahulu. Sedangkan yang lain masih fokus menyimak.


“Mereka memanfaatkan Sandi untuk mendapatkan dongle itu. Dan Luki, pastinya tahu. Karena dia pernah nengokin Putri, bareng Adel. Mungkin di sini dia lapor ke atasannya, dan dia diperintahkan buat merebut dongle itu. Di sini, aku asumsikan kalo Luki bukan merebut, mungkin barter atau beli. Karena tidak ada kabar perebutan sesuatu yang melibatkan Tarantula” lanjut Budi.


“Berarti komplotan yang nyewa Sandi itu marah dan ngejar Luki sampe ke Tangerang, gitu?” tanya bu Lusi.


“Kemungkinan besar begitu, bu” jawab Budi.


“Apa Luki itu bandar besar, sampe diikuti pergerakannya?” Erika ikut bicara. Sontak Budi menoleh padanya.


“Itu dia, Ka” sahut Budi.


“Mereka punya akses ke kepolisian. Pre emptive strikenya pinjam tangan polisi, finishingnya pakai asasin” lanjut Budi.


“Kalo pengeroyokan tadi, ulah siapa, mas?”


“Aku nggak sempet nanya” jawab Budi lemas.


“Ya Alloh. Kita gimana, Bud?” tanya bu Lusi mulai panik.


“Terus, kita harus gimana, mas?” tanya Adel.


“Apa bengkel masih boleh jalan?” Budi ganti bertanya.


“Enggak, Bud” jawab bu Lusi.


“Di kasih garis polisi. Rumah juga sama” lanjut bu Lusi.


“Loh. Kok rumah juga? Buat apa?” tanya Budi terkeut.


“Nggak tahu, Bud”


“Terus, barang-barang berharga sama surat-surat dan semacamnya, gimana, bu?”


“Itu” jawab bu Lusi. Dia menunjuk ke arah tiga koper besar di sebelah meja makan.


“Udah kaya diusir dari rumah, kita” lanut bu Lusi.


Budi tidak segera menyahut. Pikirannya melayang mensimulasikan berbagai kemungkinan, mengapa rumah bu Lusi ikut diberi garis polisi.


“Aku nggak nanya soal tempat tinggal, Bud. Aku nanya soal keselamatan Adel” kata bu Lusi, menaggapi keterdiaman Budi.


“Kalau sudah begini keadaannya, ya sekalian saja. Nanti Budi carikan tempat yang dekat dari sini” jawab Budi.

__ADS_1


“Kenapa nggak di sini aja?”


Pertanyaan bu Ratih sontak membuat Erika terbelalak. Rasa cemburunya seketika membuncah.


Sudah sejak kemarin Budi pergi untuk menemui Adel, sekarang malah bu Ratih menawari keluarga Adel untuk tinggal di galery. Itu artinya Adel akan seatap dengan Budi.


“Ada Kang Supri, bejo, Mangil. Ada Sukron juga. Mantan anak buah kamu semua, kan? Lebih aman, pastinya” lanjut bu Ratih.


“Memangnya bu Lusi berkenan, tinggal di bengkel?” tanya Budi.


“Jangan merendah, Bud! Emangnya rumah ibu bagus?” sahut bu Lusi.


Budi mengangguk-angguk mengerti. Jawaban tersirat dari kata ‘tidak apa-apa’.


“Ibu, tidur dimana?” tanya Budi.


“Kan bisa sama Putri. Masih lega banget itu” jawab bu Ratih.


“Ya. Memang itu yang Budi pikir semenjak di Tangerang. Kamar atas juga lega” kata Budi memberi keputusan.


“Mas?”


Erika menegur Budi lirih. Dia hendak protes, tapi tidak berani lantang. Budipun menoleh.


“Mas tidur dimana? Di Arjosari?” tanya Erika, lirih juga.


“Sebelah Putri masih lega” jawab Budi, sambil menggerakkan kepalanya untuk menunjuk ke arah kamar Stevani.


“Aduh. Iya, iya, iya, bercanda” keluh Budi lirih. Cubitan di pahanya cukup terasa baginya.


Bu Ratih hanya geleng-geleng kepala dan tersenyum pada Stevani, melihat polah putranya dan kekasihnya. Stevani juga hanya tergelak, melihat bu Ratih geleng-geleng kepala.


Tiba-tiba ponsel Erika berdering. Ternyata dia mendapat panggilan dari papanya. Sore ini, papanya mau pergi lagi untuk urusan bisnis. Mendengar cerita Erika, Budi jadi termenung. Dia mencoba menganalisa, apakah ada hubungannya dengan kematian Luki atau tidak.


“Mas” tegur Erika.


“Aku nganter papa dulu, ya?” pamit Erika.


“Ikut” sahut Budi.


“Eh. Mobilnya muat, nggak?” lanjutnya.


“Eeem. Mobilku bukan MPV, mas”


“Yaah. Sayang” komentar Budi.


“Lagian mau ke bandara, mas”


“Mau say good by doang, sih”


“Ya bareng aja! Kan motor mas Budi masih di rumah sakit” suara Stevani mengalihkan perhatian mereka.


“Oh iya, bener. Tinggal ngojek bentar ke rumah sakit. Bener, tuh” sahut Budi.


Erika tergelak melihat ekspresi Budi. Dia tahu, Budi pasti cemburu, mengingat dia pernah menghilang tanpa kabar, saat menjemput papanya.

__ADS_1


“Ya udah, yuk!”


Merekapun pamitan dengan semua yang ada di meja makan. Bu Lusi memandang Erika dengan tatapan kurang suka, namun dia berusaha tersenyum. Terlebih dengan Adel. Tak lama kemudian, terdengar suara mobil Erika melaju keluar dari halaman depan galeri.


__ADS_2