Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
RC 100 vs tivi jadul


__ADS_3

Di dalam ICU, Putri masih diobservasi. Beberapa tes dilakukan dokter itu, untuk memastikan kondisi terkini dari pasien. Dan dokter itu bilang kalau kondisi Putri sudah membaik. Dokter itu memberikan beberapa nasihat kepada Putri, agar kondisinya segera sembuh.


Di luar, dokter yang memeriksa tadi mengabarkan kalau Putri sudah bisa dipindahkan ke ruang perawatan. Bu Ratih sontak melakukan sujud syukur. Dia mengucapkan terimakasih kepada dokter itu, setelah bangkit dari sujudnya. Budipun diminta ke apotek, untuk mengambil obat-obatan, seperti yang dia lakukan saat menunggui Erika.


“Kamu nggak pulang dulu?” tanya Budi pada Erika, sekembalinya dari apotek.


Sontak semua mata tertuju padanya. Erika tidak menjawab. Dia mencolek tangan Budi, lalu pergi ke luar kamar kamar rawat. Setelah meletakkan obat-obatan yang dia ambil, Budi lantas mengikuti Erika.


“Kamu belum makan, kan?” tanya Budi lagi.


“Makan dulu, gih! Apa mau aku beliin?” lanjut Budi.


“Aku udah makan kok, mas. Belum lama tadi, bareng ibu” jawab Erika. Budi tergelak.


“Kok ketawa?” protes Erika.


“Semoga emang kamu aslinya nggak bisa boong” jawab Budi.


“Serius, mas” sahut Erika.


“Mana bisa ibu makan, kalo Putri belum siuman?”


“Makan, mas. Tapi emang dikit” jawab Erika dengan wajah serius.


“Itu tadi yang plastik item, kan sisa makannya ibu. Diliat sekilas, kaya masih utuh. Ayamnya aja nggak disentuh. Cuman sama kangkung sama oreknya” lanjut Erika.


“Nah. Emang kamu bisa, makan banyak, sedangkan camernya nggak doyan makan?” tanya Budi.


“Eeem” Erika bingung, harus menjawab bagaimana.


“Udah yuk, kita makan dulu!” ajak Budi. Tapi Erika malah menunduk.


“Kenapa?” tanya Budi.


“Maaf, mas. Kayaknya aku emang masih perlu banyak belajar soal empati” jawab Erika.


“Maksudnya?”


“Eeem. Aku, udah, makan, mas. Sampe abis” jawab Erika, terbata-bata.


Budi mengernyitkan keningnya. Jawaban yang aneh menurutnya.


“Tadi siang kan, aku belum sempet makan. Dan aku, kesini buat membantu kalian. Aku nggak mau, keberadaanku di sini, malah jadi beban. Jadi pas kepalaku udah kerasa kliyengan, itu tandanya aku udah nggak bisa lagi nunda makan. Aku nggak peduli apa kata orang, yang penting aku nggak pingsan” lanjut Erika. cara bicaranya sangat hati-hati. Sangat terbalik dibanding dulu yang ceplas-ceplos.


“Allohu Akbar. Aku pikir apaan” komentar Budi sambi tergelak.


“Aku minta maaf ya, udah biarin kamu sampe kelaperan” lanjut Budi.


“Perut sih nggak berasa laper, mas. kalo kepala nggak kliyengan, aku juga nggak ada rasa pengen makan” jawab Erika. Budi tersenyum sambil manggut-manggut.


“Ya udah. Kamu udah nunjukin baktimu sama ibu seharian ini. Aku pikir, sebaiknya kamu pulang dan beristirahat. Bisa jadi besok aku butuh bantuan lagi” saran Budi.


“Nggak mau” jawab Erika cepat.


“Loh. Emang nggak capek?”


“Kan ngampar di situ juga bisa. Dibawain tiker tadi sama lek Puji”


“Serius?”


“Iya, mas. Entar aku tinggal, Adel ke sini. Kacau, deh”


“Hempf. Apa hubungannya? Paling juga rame-rame, sama bu Lusi, Madina, sama Luki juga”

__ADS_1


“Luki? Aku kok nggak yakin dia mau ke sini”


“Ya terus? Aku mau ngapain?”


“Come on, mas. Bibirmu bisa bicara begitu, tapi hatimu itu udah kaya tivi jadul. Adel kaya RC cepek. Tiap dia lewat, teng teng teng teng, pasti kemresek, ilang gambarnya”


“Hempf. Ha ha ha ha”


“Heh!”


“Ups”


Budi kelepasan tertawa, mendengar analogi tivi jadul dengan motor RC seratus. Sambil masih tertawa, dia mengangguk-angguk sendiri.


Dalam hati dia membenarkan analogi Erika. Gelombang elektromagnetik yang bocor dari CDI motor jadul, memang suka mengganggu penerimaan siaran televisi. Anak sembilan puluhan pasti pernah mengalami hal ini.


“Apalagi Stevani dibikin sekamar sama Putri” kata Erika, setelah beberapa saat.


“Emang kenapa? Kan emang masih dalam penjagaan polisi. Tuh, di situ orangnya”


“Come on, mas. Emang kamu masih marah sama dia? Tadi aja kamu bukannya nolongin Putri, malah mau nolongi si Vani” sahut Erika. Budi tersenyum.


“Oke, oke. Soal itu, murni reflek. Karena dia ada di depan kita, kan?” jawab budi.


Erika tidak menjawab. Dia masih menatap mata Budi. Seolah dia belum terima dengan jawaban Budi. Karena jawaban itu, terdengar seperti tidak serius di telinganya.


“Assalamu’alaikum”


Sebuah sapaan salam mengejutkan mereka. Sontak mereka menoleh ke sumber suara.


“Wa’alaikum salam” jawab mereka berdua.


“Bud. lu kok nggak bilang, kalo Vani abis kecelakaan?” tanya orang yang baru datang.


“Oh, iya. Lu cowoknya Vani, ya? Astaghfirulloh. Kenapa nggak keinget sama sekali, ya? Suer Do, lupa” sahut Budi.


“Ya udah, nggak papa. Sekarang Vani dimana?”


“Itu di dalem, sama Putri juga” jawab Budi.


“Tapi ijin dulu, sama petugas yang jaga!” lanjut Budi, sambil menunjuk polisi yang sedang berjaga, beberapa meter dari mereka.


“Oke. makasih, Bud”


“Mas” tegur Erika.


“Hem?”


Budi yang sedang mengikuti kepergian orang itu, sontak menoleh.


“Emang Aldo sama Vani jadian? Sejak kapan?” tanya Erika.


“Iya” jawab Budi.


Dia mengacungkan jempolnya, saat Aldo meminta ijin untuk memasuki ruang rawat.


“Tepatnya kapan sih, aku nggak tahu. Tapi pertama kali denger sih, pas abis ekspo kabupaten. Pas kita nginep abis bongkaran. Mbak Farah yang bilang” lanjut Budi.


“Loh. Pas masih di tahan, dong?”


“Yap”


Erika masih mengernyitkan keningnya. Tapi dia menggelengkan kepalanya, saat Budi bertanya dalam bahasa isyarat.

__ADS_1


Tak lama kemudian, senyumnya mengembang. Budi tergelak, karena dia mengetahui arti dari senyuman itu. Satu orang yang dianggap rival, telah mempunyai pasangan.


“Assalamu’alaikum”


Ada lagi yang mengucapkan salam. Dan agak ramai suaranya.


“Wa’alaikum salam”


Ternyata ada si zulfikar. Raut letih tampak di wajahnya. Di belakangnya, ada Deni, Bayu, Ratna dan Farah mengiringi.


“Kok bisa barengan?” tanya Budi, saat bersalaman dengan Zulfikar.


“Ketemu di parkiran” jawab Zulfikar.


“Aldo titip salam, Bud. Ada urusan, bilangnya. Gerabak-gerubuk aja dari sore” kata Farah.


“Hempf. Nambah lagi, orang yang nggak jago boong” komentar Budi, saat menyalami Farah.


“Orangnya juga udah di dalem” sahut Erika.


“Ha? Di dalem? Lah. Gimana sih, si Aldo? Bilang ama aku, ada urusan”


“Iya. Urusannya kan sama Vani” sahut Erika lagi.


“Emang gitu sih tadi, bilangnya. Tapi kok ngacirnya kesini? Harusnya kan jagain si Vani. Orang bilangnya, si Vani kecelakaan. Kok malah nengokin Putri?”


“Ya kan si Vani kecelakaannya bareng sama Putri” sahut Budi.


“Apa?” pekik Farah dan Ratna bersamaan.


“Kok bisa?” tanya Farah.


Budi menceritakan kronologi kejadian kecelakaan yang menimpa adiknya.


“Ya Alloh. Sadis banget sih?” komentar Ratna.


“Bud. Aku boleh ketemu Putri?”


Tiba-tiba Deni menyela. Sontak semua mata tertuju padanya.


“Hempf. Berani kamu, sama cowoknya?” tanya Erika, sambil melirik ke arah Zulfikar.


“Ha ha ha. Bercanda mas, biar nggak tegang” jawab Deni.


“Huu. Bilang aja ngeper, lu! Badan doang, gede. Ketemu yang punya langsung mengkeret” seru Ratna menyoraki Deni.


Tanpa mereka tahu, ternyata Putri mendengar percakapan mereka. Dan dia tertawa mendengar Deni disoraki Ratna. Bu Ratih ikut tertawa. Tapi pandangannya, lekat menatap wajah Putri.


*Ya Alloh. Terimakasih Engkau telah meringankan rasa sakit yang diderita putri hamba, dengan mengirimkan orang-orang lucu. Ya Alloh, Engkaulah sebaik-baiknya penyembuh. Hamba mohon padaMu, tolong angkat rasa sakit pada tubuh putri hamba, ya Alloh! Sembuhkanlah dia segera! Hamba tidak kuasa melihatnya tergolek tak berdaya seperti ini. Hamba saja yang merasakan sakit itu ya Alloh*


“Bud. Kita boleh masuk, kan?” tanya Farah.


“Boleh. Tapi jangan ribut, ya! Aldo udah sama Stevani” jawab Budi.


“Dih. Maksud loh?” sahut Farah.


“Ha ha ha” Budi tergelak.


“Tenang, Bud. Nggak bakalan. Orang Farah sukanya sama elu. Cuman takut sama Rika” sela Deni.


“Dih?” protes Farah.


“Kompor wooe. Ketahuan ngeper, nyari temen, wooe” seru Ratna menyoraki.

__ADS_1


“Hempf. Ha ha ha ha”


Erika tidak kuasa menahan tawanya, melihat Deni kembali menjadi bahan sorakan Ratna. Sambil masih ceng-cengan, merekapun masuk ke dalam ruang perawatan.


__ADS_2