Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
rentenir


__ADS_3

Jarum jam di dapur masih menunjukkan pukul enam lewat beberapa menit. Mentari juga masih redup sinarnya. Tapi Adel sudah terlihat bersiap dengan pakaian rapi. Kedua tangannya sedang sibuk memainkan sothel dan wajannya. Mengolah nasi putih menjadi nasi goreng sosis. Di sebelahnya, Madina juga sibuk menyiapkan teh hangat dan cemilan.


Bukannya tidak tahu kalau di depan sedang ada tamu. Tapi mengetahui siapa tamu itu, membuat Adel tidak punya keinginan untuk menyapa tamu itu. Seperti dulu saat pertama bertemu, Adel merasa momen bertamunya sangat tidak tepat.


Terlebih waktu bertamunya yang juga masih terlalu pagi. Dan Adel selalu tidak habis pikir, mengapa kepada makhluk bernama Luki itu, bapaknya selalu tidak bisa tegas. Satu dugaan klasik yang selalu muncul di benaknya, ekonomi.


“Udah siap, Dek?” tanya Adel.


“Udah. Mau embak yang antrerin?” jawab Madina.


“Nggak ah, adek aja”


“Kirain” komentar Madina sambil tergelak.


Adel juga tergelak. Tapi dia biarkan saja adiknya pergi membawa nampan berisi minuman itu. Dia meneruskan mengolah menu sejuta umatnya. Satu wadah bening sudah siap menampung satu porsi dari nasi goreng itu. Sedangkan sisanya dia hidangkan di piring untuk keluarganya.


“Beres”


Adel berjalan ke depan, setelah wadah berisi nasi goreng itu mendarat cantik di tas slempangnya. Senyumnya merekah membayangkan sarapannya akan mendapat pujian dari orang yang paling dia cintai.


“Bu, Adel pergi bentar, ya!” ijin Adel kepada ibunya. Bu Lusi yang baru keluar kamar, terkejut mendengar sapaan putri sulungnya.


“Sepagi ini, nduk?” tanya bu Lusi.


“Namanya buat sarapan, bu. Ya harus pagi, dong. Kalo kesiangan jatuhnya brunch dong” jawab Adel sambil salim dan cium tangan.


“Tapi di depan ada tamu, Del”


“Kan tamunya bapak” jawab Adel sambil berlalu.


“Ish, main ngeloyor aja”m keluh bu Lusi. Adel tergelak.


“Pamit bapak dulu!” perintah bu Lusi.


“Iya” jawab Adel tanpa menoleh.


Ternyata si tamu dan si tuan rumah itu menoleh ke samping. Menatapnya sejak dia muncul dari balik tembok.


“Pak. Adel pergi bentar, ya? pamit Adel saat mendekat.


“Mau kemana, Del?” tanya Luki.


“Ke Ekspo” jawab Adel singkat.


“Aku anterin, ya?” tawar Luki.


“Nggak usah, makasih” tolak Adel, halus.


“Nduk” tegur pak Fajar, saat Adel hendak salim.


Otomatis gerakan Adel terhenti. Dia menatap wajah bapaknya. Dia bingung awalnya, mengapa bapaknya tak menyambut uluran tangannya.


“Oke” kata Adel menarik diri. Dia balik kanan dan hendak pergi.


“Oke apa, nduk?” tanya pak Fajar.


“Nggak jadi” jawab Adel malas.


“Itu mau ke mana?” pak Fajar berdiri dan menghampiri Adel.


“Mau ke rumah Tati. Nitip sarapan buat Abram”


“Biar Madin aja yang nganterin ke rumah Tati. Kamu temein mas Luki, ya!” pinta pak Fajar.


“Nggak mau. Bapak aja! yang dicari juga bapak, kok. Lagian nggak tahu waktu banget sih, jam segini udah bertamu” jawab Adel.


“Del. Kita harus tahu terimakasih”


“Ini, Adel mau berterimakasih sama Abram”


“Kan kemarin udah, nduk. Bapak juga udah beliin dia makan siang. Cukup, kan? Mas Luki itu dateng bawain orderan banyak. Cukup buat ngisi bengkel kayu bapakmu ini dua bulan ke depan. Bisa berlanjut juga bahkan. Bisa buat makan” sanggah pak Fajar, sambil mengacungkan sebuah amplop dan lembaran pesanan resmi.


“Ngertiin bapak dong, nduk! Temenin mas Luki!”


“Ya nggak bisa gitu, pak. Adel kan udah komitmen sama Abram. Masa bapak ngajarin Adel berhianat, sih?”


“Berhianat apanya? Pacaran sih nggak ada hukumnya, nduk”


“Au ah”


Adel berlalu kembali masuk ke dalam rumah. Tapi bukannya untuk menemui Luki, dia langsung naik ke atas menuju kamarnya. pak Fajar masih mengejarnya.


*Tok tok tok*


“Del. Buka pintunya dong! Bapak masih mau bicara” panggil pak Fajar.

__ADS_1


*Tok tok tok*


“Del. Buka dong! Panggil pak Fajar lagi. tapi Adel tidak menyahut.


Di dalam, Adel sedang bersandar pada daun pintunya. Dia pusing, semakin tak habis pikir dengan perubahan sikap bapaknya yang menurutnya tidak jelas alias plin-plan. Masih pada pakem yang sama, harta.


*Tok tok tok*


“Nduk, buka dong!”


Adel masih tidak berniat membuka pintu kamarnya. Dia sebal dengan sikap bapaknya. Tapi lama-lama, tidak ada lagi ketukan pintu itu. Berganti dengan percakapan di ruang tamu. Percakapan yang semakin lama semakin santer terdengarnya.


Penasaran juga jadinya, Adel. Dia buka pintu kamarnya, dan melongok ke bawah. Ada segerombolan orang seperti sedang mengepung orang tuanya.


“TAR SOK TAR SOK. KAPAN MAU BAYARNYA FAJAR”


Adel tersentak mendengar bentakan yang dialamatkan kepada bapaknya.


“BUNGANYA AJA LU BARU BAYAR SEKALI. INI UDAH SERATUS JUTA. MAU NUNGGU SAMPE SEMILYAR, HA? SEKARANG JUGA LU BALIKIN DUIT GUA!” bentak orang itu lagi.


“Kalo duitnya ada,aku udah pasti kesana sendiri, juragan” jawab pak Fajar.


“BANYAK BACOT LU. LU PIKIR GUA NGGAK TAHU REPUTASI LU?” bentak orang itu lagi.


“GELEDAH RUMAH INI! BAWA SEMUA BARANG BERHARGANYA!” perintah laki-laki kerempeng seumuran pak Fajar itu.


“Nggak bisa gitu, dong. Itu namanya perampasan” suara luki menggema.


“NGGAK USAH IKUT CAMPUR ANJ***! LU CUMAN TAMU DI SINI. BERANI MACEM-MACEM, GUA GOROK LEHER LU” bentak laki-laki itu. Lukipun terdiam.


“GELEDAH!” perintah laki-laki kerempeng itu lagi.


Sontak anak buahnya bergerak menyebar ke semua penjuru rumah. Dua orang diantaranya naik ke lantai dua. Adel terkejut dan lari ke balkon.


Dia bersembunyi di balik pot besar di sudut kiri. Semua ruangan digeledah, termasuk semua barang-barang atau tempat-tempat yang dicurigai bisa dijadikan tempat menyembunyikan barang berharga. Sesekali terdengar suara berdebam, dari pintu lemari, ranjang, atau semacamnya.


Beberapa saat kemudian, Adel mendengar ada orang menuruni tangga. Dia merasa kalau yang menggeledah kamar di lantai dua ini sudah turun. Jadi dia memberanikan diri untuk keluar dari persembunyiannya, memantau situasi.


“Nggak ada yang berharga, Gan. Cuman telepon sama laptop” lapor anak buahnya.


“Surat tanah, BPKB mobil, motor, nggak ada?”


“Nggak ketemu, gan” jawab yang lain.


“BAJ***AN TENGIK”


“PAAAKK”


Sebuah tinju mendarat di wajah pak Fajar. Membuatnya terjatuh ke belakang. Sontak bu Lusi dan Madina berteriak saking kagetnya.


“LU UMPETIN DIMANA BANG***?” teriak laki-laki kerempeng itu.


“Semua udah saya gadein, gan” jawab pak Fajar ketakutan.


“BANG***”


Laki-laki yang dipanggil juragan itu terlihat sangat murka. Dia sudah bersiap melayangkan tendangannya mengarah ke pak Fajar.


“INI AJA GAAN”


“AWWWW”


Sebuah teriakan dari lantai dua sontak menunda tendangan itu. dari arah tangga, terlihat salah satu anak buah si kerempeng tadi turun dengan membawa Adel.


“LEPASIIN! Bentak Adel.


“Ha ha ha ha” tapi preman itu malah tertawa.


“LEPASIN BANG***!” teriak Adel lagi.


“Ha ha ha ha. Ini, ini. Ini berharga banget, Jar” kata juragan itu.


“JANGAN MACAM-MACAM SAMA ADEL, LU!” bentak Luki.


*KLAK KLAK*


Semua orang terkesiap mendengar suara pistol dikokang. Terlebih lagi Luki. Karena moncong pistol itu terarah padanya. Tapi itu hanya sesaat saja. Kemudian dia tersenyum.


“EH CURUT. UDAH BOSEN IDUP LU?” Bentak si juragan itu.


“Harga nyawa gua lebih dari seratus milyar, bos. Seratus juga sih, apa?” jawab Luki.


“BANYAK BACOT”


“Woe woe woe. Pengen dapet duit apa enggak?” seru Luki sambil mengeluarkan ponselnya.

__ADS_1


“Mana nomer rekening lu?” tanya Luki.


“Gua pengen duit cash” jawab si kerempeng itu dengan mimik wajah meledek.


“Cih. Lu pikir ini jaman majapahit, apa? Mana ada orang nenteng duit seratus juta pake kresek? Bego banget jadi rentenir”


“Kasih Jack, kasih! Kalo ngibul, kita lempar dia ke kandang buldog” perintah si kerempeng pada anak buahnya.


“Buat makan siang?” sahut si Jack


“Boleh, lah”


Orang yang dipanggil si jack itu memberikan nomer rekening. Dan Luki mentransfer sebanyak seratus juta ke nomer tersebut.


“Udah. Lepasin Adel!”


“Hi hi hi. Banyak duit juga ternyata. Bagi dikit, boleh dong? Ha ha ha ha” jawab si kerempeng itu cengengesan.


“SETAAAN”


Si Luki maju menyerang si kerempeng. Tapi bos rentenir itu dengan sigap menyambutnya dengan todongan pistol.


*PRATAK*


Hanya dengan dua gerakan cepat, Luki berhasil merebut pistol yang dipegang si kerempeng. Adel terpana melihat kebolehan Luki merebut senjata.


“Woe woe woe. Kalem bos!”


Gantian si juragan rentenis itu yang ketakutan. Dia mundur perlahan menghindari moncong pistol itu.


“Lu nggak lepasin Adel, pecah kepala lu” kata Luki pelan namun tegas.


“Oke oke oke” jawab si kerempeng itu.


“Lepasin!” perintahnya kepada anak buahnya.


Tanpa menunggu perintah kedua, anak buahnya kerempeng langsung melepaskan Adel. Dan Adel langsung berlari menghampiri keluarganya.


*DOOORRRRR*


“HUAAA”


Sebuah letusan menyalak dari moncong senapan itu. Membuat semua orang terkejut. Ya, Luki menembakkan senjata itu ke arah tembok jauh. Tapi suara tembakan itu sukses membuat semua anak buah kerempeng lari tunggang langgang. Bahkan termasuk si kerempeng itu sendiri.


“Pak. Bapak nggak papa?” tanya Adel, beberapa saat kemudian. Luki memutar badan mendengar suara Adel.


“Enggak. Bapak nggak papa, nduk”


Pak RT datang bersama warga, menanyakan apa yang terjadi. Luki menjawab semua pertanyaan itu. Dan meminta warga tetap tenang, karena tidak ada korban dalam inseden tadi. Setelah sekian lama bertanya-jawab, pak RT dan wargapun membubarkan diri.


“Pak,kita ke puskesmas, yuk! Wajah bapak harus diobatin tuh!” ajak Adel hawatir. Tapi pak Fajar malah tersenyum.


“Justru ibumu yang paling cekatan” jawab pak Fajar. Adelpun mengernyitkan keningnya, tanda dia tidak paham.


“Udah, kamu temenin mas Luki sarapan!” perintah pak Fajar.


“Ya udah, kita sarapan bareng yuk!” jawab Adel. Pak Fajar tersenyum lagi.


“Kenapa?” tanya Adel bingung.


“Kasih tunjuk mas Luki bubur ayam paling enak di kota ini!” jawab pak Fajar.


“Pak?” tegur Adel.


“Cuman makan, nduk. Kalo nggak dibantuin mas Luki ,kita udah jadi gelandangan”


“Ya Alloh bapak, kok gitu ngomongnya?”


“Nduk, jangan mbantah, ya!” pinta bu Lusi.


Adel memandang ke arah Luki. Sebenarnya dia berat menjalankan perintah orang tuanya. Tapi dia juga merasa, memang benar apa kata bapaknya.


*Seratus juta, harus sekarang juga? Dari mana dapetnya? Nggak mungkin juga aku minta Abram buat bayarin. Pinjem juga kayaknya bakal dihadang bu Ratih. Beneran jadi gelandangan kalo nggak dibantu Luki*.


“Nduk?” tegur bu Lusi.


“Hem?” Adel kaget mendapat teguran itu.


“Sana, gih! Keburu siang” pinta bu Lusi pelan.


Adel tidak segera menjawab. Dia masih menimbang-nimbang.


“Kalo nggak bisa, jangan dipaksa, Del! Nggak papa, kok. Aku iklas ngelakuin tadi” kata Luki. Adelpun menatap wajahnya lagi. Beberapa saat lamanya, mata mereka beradu pandang.


“Adel naruh tas dulu ya, mas” jawab Adel.

__ADS_1


Pak Fajar dan bu Lusi tersenyum mendengar jawaban itu. dengan langkah setengah berat, Adel kembali ke dapur untuk meletakkan tas slempangnya. Dia memberitahukan Budi kalau dia tidak jadi datang. Dia beralasan kalau ibunya memerlukannya di rumah.


***


__ADS_2