
Semuanyapun keluar dari ruang kerja pak Paul. Dan Erika, yang ternyata adalah manager HRD, mulai mengenalkan Budi pada karyawan perusahaan, mulai dari karyawan kantor.
Ada divisi marketing, purchasing, finance. Ada juga bagian kantor dari divisi produksi, expedisi, maintenance, dan PPIC. Ternyata divisi PPIC hanya berisi dua orang saja. Tambah Budi, hanya ada tiga orang saja. Dan belum terbentuk struktur organisasi seperti yang lain.
Budi sempat berkelakar, kalau PPIC ini komposisinya seperti pasukan khusus. Hanya berisi beberapa orang, tapi mengatur jalannya pekerjaan satu perusahaan. Kedua seniornya tertawa. Mereka menyambut baik kedatangan Budi.
Erika mengajak Budi untuk keluar menuju lapangan. Dari depan pintu kantor itu, terlihat kardus – kardus dan mebel yang siap untuk dikemas. Tapi Budi merasa kalau penempatan barang – barangnya tidak beraturan. Budi mendapatkan satu temuan, dan itu dia simpan dalam ingatannya.
Beranjak ke ruang produksi, Budi lebih terheran – heran lagi. Produknya merambah pasar ekspor, tapi area produksinya seperti industri rumah tangga. Tidak jelas, mana jalan mana area mesin. Tidak ada penanda jelas. Juga penempatan setiap mesin seperti asal saja. Mungkin dulunya ada alasan, mengapa posisi mesinnya tidak beraturan begini. Tapi sampai saat ini, kalau tidak dirapikan, itu menjadi pertanyaan besar, mengapa?
Erika menyadari kalau Budi menemukan sesuatu. Dia tidak berbicara untuk beberapa saat lamanya. Dan memang, Budi sedang mensimulasikan penempatan mesin rolling, bending, gergaji, termasuk mesin las argon.
Budi geleng – geleng kepala. Dalam hati dia bertanya, apa mereka tidak sayang dengan mata mereka? mereka ditempatkan di tempat yang terpapar cahaya menyilaukan. Cepat atau lambat, mereka akan mengalami masalah penglihatan. Belum lagi asapnya. Seharusnya, pekerjaan las, mempunyai tempat tersendiri, yang tertutup. Alangkah lebih baik kalau mereka dibuatkan ruang khusus mengelas.
Di depan sini, bisa dibuatkan ruang persiapan, dan rak penempatan material ini juga dibuatkan ruang tersendiri. Maka sisi kiri ini, bisa sepenuhnya dijadikan jalur pejalan kaki.
“Ini ruang produksi frame. Di sana ada rak material, masih lonjoran. Material itu dipotong dulu di mesin gergaji itu. Lalu dibentuk sesuai desain. Ada yang di roll, dengan mesin rolling ini. Ada juga yang dibending, menggunakan mesin hidrolik itu” kata erika membuyarkan simulasi Budi.
“Oke” jawab Budi.
“Setelah item demi item lengkap, barulah dijoint dengan mesin las TIG. Empat orang yang paling kanan, itu bagian sub assy. Menggabungkan piece demi piece mejadi bagian dari sub unit. Empat orang yang tengah melanjutkan menjadi sub unit. Yang empat paling kiri, itu bagian assambling. Mereka yang menghasilkan unit utuh yang sudah lengkap” lanjut Erika.
Budi mengangguk – angguk. Di dalam otaknya, sudah tergambar tata letak baru yang lebih sistematis, khususnya untuk ruang persiapan ini. Mungkin ada ruangan lain di balik tembok ini yang bisa diefektifkan lagi.
Budi menyalami mereka satu per satu, sambil memperkenalkan dirinya. Ternyata beberapa orang di sana mengenal Budi. Tak lain karena mereka satu sekolahan, walaupun beda angkatan. Suasana hangatpun tercipta. Membuat Budi dengan cepat bisa mengakrabkan diri dengan mereka.
“Kita ke bagian selanjutnya, yuk” ajak Erika.
“Baik” jawab Budi singkat.
Erika membawa Budi berjalan menuju ruangan di balik tembok. Di sini, Budi tersenyum melihat tata letaknya. Ruangan seluas ini dibagi menjadi empat ruangan dengan menggunakan partisi. Hanya saja, ternyata bagian dalamnya ada yang dijebol. Sehingga ada tiga ruangan yang bergabung menjadi satu.
“Yang paling kanan, ini ruang polishing. Tempat dimana hasil weldingan tadi dihaluskan. Termasuk pembersihan semua permukaan dari kotoran atau noda asing yang menempel” kata Erika.
Budi mengangguk – angguk. Tapi bukan sepenuhnya mengangguk karena penjelasan Erika. Melainkan dia melihat ada banyak hal yang bisa dimanfaatkan di sini.
“Dua ruangan di tengah ini, adalah ruang painting. Walau nanti tertutup anyaman, standar kita adalah painted. Jadi kalau ada yang dari bawah desainnya bolong, bisa ngintip ke dalam, rangakanya juga terlihat elegan” lanjut Erika.
Budi mengangguk – angguk lagi. Dia berpikiran, kalau dua ruang ini terlalu besar untuk digunakan sebagai ruang painting. Kecepatan kerja mereka sudah bagus. Tiga orang bekerja sekaligus, berdampingan, tidak lantas menghabiskan tempat. Masih ada jeda cukup lebar untuk mereka bernanuver.
“Dan yang paling kiri, adalah tempat penyimpanan sementara. Tempat meletakkan frame yang sudah di cat, sebelum dinyatakan siap untuk diberi anyaman” kata Erika.
Menurut Budi, jarak antara pintu ruang painting dengan tembok tengah, lumayan lebar. Masih bisa digunakan untuk menyimpan rangka – rangka itu, daripada menempati sebuah ruangan tersendiri. Tinggal diberi garis penanda di lantai, dan pagar pembatas, jika perlu. Jadi, ruang di pojok kanan bisa untuk ruang sub assy dan sub unit sekaligus. Di selebahnya, bisa digunakan untuk ruang welding assembling. Sebelahnya lagi bisa untuk ruangan polishing. Pojok kiri, bisa untuk ruang painting. Bagian depan pintu, bisa menjadi lahan extension bagi masing – masing ruangan.
“Yuk, kita lanjut” ajak Erika
“Monggo” jawab Budi.
Erika mengajak Budi ke bagian sebelah dari ruang produksi. Ada toliet yang menempel di tembok belakang. Berjajar dengan beberapa ruangan lain. Kata Erika, itu ruang maintenance elektronik dan elektrik. Semua perangkat elektronik, maupuk kelistrikan, yang dimensinya kecil, akan dibawa ke ruangan itu.
__ADS_1
Ada satu ruangan di ujung sana, yang pintunya tertutup, dan Erika tidak menjelaskan. Di depan pintu ruang paling pojok itu, ada sebuah pintu juga, yang menghubungkan lorong ini dengan ruang anyam. Tetapi sepertinya tidak difungsikan. Akses keluar dan masuk, melewati pintu di tengah ini.
Sebenarnya masih ada ruangan lagi di belakang sana. Erika mengatakan kalau di belakang sana adalah garasi khusus expedisi dan maintenance. Jadi segala peralatan maintenance, termasuk juga truk, mobil vip, ada di sana semua. Ada akses pintu kecil untuk lalu – lalang orang. Kalau mobil dan truk, aksesnya ada samping kanan. Tapi kata Erika, lebih penting untuk Budi berkenalan dulu dengan bagian produksi secara keseluruhan. Budi mengangguk tanda setuju.
“Ini ruang untuk menganyam rotan. Ini gudang bahan bakunya, rotan. Di sebelah, ada ruang anyamnya. Terus di paling depan, yang kamu lihat tadi, itu penempatan finish goods” kata Erika.
Budi manggut – manggut. Rotan adalah sesuatu yang baru baginya. Rotan itu, sudah dikemas dalam bentuk ikat, seperti kacang panjang. Tapi sekilas, dia melihat adanya perbedaan diameter dari tiap – tiap ikatnya. Warna dan coraknya juga seperti menggambarkan perbedaan jenis. Sepertinya ada perbedaan fungsi atau mungkin karakter dari tiap – tiap jenis itu.
Kalau itu benar, akan menjadi kesulitan tersendiri kalau harus mengambil jenis rotan yang berada di bagian bawah. Sedangkan rotan itu tertumpuk sekian banyak rotan yang lain. Akan membutuhkan waktu lama untuk sekedar menyiapkan rotan itu.
“Apa yang kamu temuin, Bud?”
Sebuah suara menyita perhatian Budi. Suara berat, yang pastinya bukan suara perempuan.
“Pak Paul” sapa Budi. Pak paul tersenyum.
“Ada beberapa hal yang menurut saya bisa lebih dimaksimalkan. Tapi saya perlu tahu dulu, sejarahnya” jawab Budi.
“Good, bisa katakan sekilas, apa yang urgent untuk dimaksimalkan?” tanya pak paul lagi.
“Minimal, kita naikkan kelas kita. Kan produk kita sudah merambah pasar ekspor. Jangan seperti mikoyan gurevich, yang menurunkan rasa percaya konsumen terhadap produknya, hanya karena tampilan pabriknya, lebih seperti bengkel mobil daripada pabrik pesawat. Minimal seperti sukhoi, dimasa yang sama” jawab Budi.
“Hem? Hi hi hi Ha ha ha ha ha”
Pak paul tertawa dengan kerasnya, sambil menunjuk – nunjuk Budi. Dia juga melihat ke arah Erika, seperti ingin memamerkan Budi padanya.
“Berani?”
“Kamu siap, mengupgrade pabrik ini menjadi ‘sukhoi’ ?”
“Insya Alloh, siap, pak” jawab Budi mantap.
“Good, hari ini kamu pulang saja dulu. Kasih tahu ibumu, kalau kamu sudah menjadi bagian dari keluarga besar PT. PRAM. Dan besok, kamu sudah harus memulai mempelajari sejarah pabrik ini. Kamu kenalan sama semua karyawan di sini, tanya mereka apapun yang kamu ingin tanyakan. Siangnya kita ketemu, ya. Kasih ide, apa yang bisa kita upgrade secepatnya”
“Baik, pak”
“Er, udah kasih dia seragam?”
“Belum pak”
“Nah, kasih seragamnya. Pakai sekalian. Biar ibumu bangga” perintah pak Paul.
“Baik, pak” jawab Erika. Budi hanya tersenyum. Dia merasa terharu dan ingin menangis.
Saat akan kembali ke office, Budi melihat ada enam orang yang belum memakai seragam. Mereka orang – orang yang Budi lihat di depan, saat , menunggu tes wawancara dimulai. Ternyata mereka adalah enam orang yang sukses diterima di PT. PRAM.
Sejenak Erika membiarkan Budi berbagi kebahagiaan dengan rekan – rekan seperjuangannya. Dari orang – orang itu juga, Budi mendapatkan informasi, kalau ada tiga orang lagi yang lolos. Mereka ditempatkan di departemen frame. Budi tesenyum, dia ikut merasa senang. Tak lama kemudian, dia berpamitan untuk mengikuti Erika kembali ke office.
“Ini seragammu, ini sepatumu” kata erika.
__ADS_1
Budi menerima seragam itu dengan perasaan haru. Sejenak ingatannya memutar kembali kejadian sebulan terakhir. Berbagai drama telah dia lalui. Walau pastinya tidak seheboh sinetron, tapi cukup menguras emosinya.
Dan kini, di tangannya, sepaket kunci telah dia terima. Sepaket kunci yang bisa membuatnya kembali terbang mengangkasa. Mengangkat kembali derajat keluarganya.
“Hei, segitunya, terharu” tegur Erika.
Tanpa dia sadari, air matanya jatuh menimbulkan dua titik air di kain seragamnya. Dia tersentak, dan buru – buru menghapus air matanya, sambil tertawa malu.
“Sesuai perintah pak Paul, kamu pakai sekalian, ya. Termasuk sepatunya” lanjut Erika.
“Siap” jawab Budi.
Dia lalu berjalan menuju toilet office yang ditunjuk Erika. Saat mau masuk, tak sengaja dia berpapasan dengan salah satu karyawan office. Seorang wanita yang cantik jelita. Bisa dibilang, wanita ini lebih cantik daripada Erika. Dia terkejut karena mau menabrak Budi.
“Maaf, saya nggak tahu” kata Budi.
“Oh, nggak papa. Saya yang nggak liat – liat” jawab wanita itu.
“Kamu karyawan baru ya, PPIC?” lanjut wanita itu.
“Oh, iya. Saya Budi” jawab Budi sambil mengulurkan tangannya.
“Aku Stevani. Staf marketing” jawab wanita itu sambil menjabat uluran tangan Budi.
“Salam kenal, bu Stevani” kata Budi.
“Hmpf. Ha ha ha ha. Apaan sih, pake panggil bu segala. Paling kita juga sebayaan. Panggil nama aja kali” Stevani menolak dipanggil ibu.
“Oh, he he. Sudah kebiasaan. Sopan santun di kantor. Sekalipun pacar sendiri, kalau di tempat kerja, ya panggilnya, ibu atau bapak”
“Ha ha ha ha. Khusus buat aku, nggak usah pake embel – embel ibu! Jangan!”
“Oh, ha ha, okelah, siap. Aku ganti baju dulu, ya” ijin Budi.
“Oke. Congratulation ya” Stevani mengulurkan tangannya.
“Makasih” jawab Budi, menerima uluran tangan itu.
Stavani kembali ke mejanya, dan Budi segera masuk ke toilet untuk ganti baju. Di cermin kecil yang tergantung di dinding, Budi merasa bahagia, melihat tubuhnya kembali dibalut seragam sebuah perusahaan.
Seragam putih, khas PPIC, berbeda dari seragam karyawan produksi. Mereka mengenakan seragam berwarna biru telur asin. Dia merasa seperti kembali ke perusahaan sebelumnya, yang juga mengenakan seragam berwarna putih – putih.
Erika tersenyum saat melihat Budi sudah mengenakan seragam putih itu. Stevani, yang sedang berbincang dengan Erika, sampai harus memutar badan, mengetaui yang diajak bicara malah tertegun. Dia ikutan tersenyum saat melihat Budi sudah ada di dekatnya.
Tampan, keren, berwibawa. Itulah kesan yang Erika dapat dari sosok Budi. Stevani juga merasakan hal serupa. Macho, itulah komentar yang keluar dari dalam hatinya.
“Good. You look great, Bud”
Mereka tersentak mendengar seruan dari kantor besar itu.
__ADS_1