
Ekspo kabupaten sudah di depan mata. Sudah beberapa hari ini Budi jadi sering bolak-balik ke luar pabrik. Persiapan di alun-alun sudah tidak cukup lagi dia koordinasikan dari dalam pabrik. Dia harus ikut terjun ke lapangan.
Meski begtu, dia tetap harus meluangkan waktunya untuk menyelesaikan pekerjaan hariannya. Memonitor pekerjaan yang dia delegasikan kepada Aldo, maupun kepada Riki.
Seperti siang menjelang jam istirahat ini. Dia terlihat fokus memeriksa data yang dimasukkan Riki untuknya. Bukan di kantornya, tapi langsung di lapangan. Lahan extenshion di depan ruang welding itulah yang dia pakai untuk menjadi kantor darurat. Sembari mengawasi jalannya produksi.
Sedang fokus-fokusnya memeriksa data, mendadak ponselnya berbunyi. Sebuah pesan singkat menyita perhatiannya. Pesan singkat itu berasal dari Sephia. Satu dari dua orang yang mendadak hilang setelah duel sengit tempo hari.
*Mas Budi, maaf. Aku tahu ini bukan waktu yang tepat. Mungkin juga aku bukan orang yang tepat. Tapi aku ada perlu sama mas Budi. Aku berharap banget mas Budi sudi ngeluangin waktu buat ketemu sama aku. Aku ada di warung soto di belakang pabrikmu*.
Pesan singkat itu sontak mengingatkannya pada Sandi. Terakhir sebelum sebutir peluru menyasar punggungnya, dia sempat melihat Sandi nyaris tak berdaya.
Pun saat pandangannya mulai kabur, dia masih bisa mendengar suara teriakan Sandi. Tapi masih di posisi yang sama. Artinya Sandi sudah kepayahan untuk bergerak.
*Apa dia luka dalem, ya? apa patah tulang? Ya Alloh*.
Budi menimbang-nimbang dahulu, apakah akan dia temui atau tidak. Di satu sisi, kalau mengingat para preman yang membantu Sandi, emosinya seketika meninggi. Tapi kalau mengingat kalau bengkel kayunya bisa berdiri juga karena bantuan Sandi, dia merasa tak enak hati, kalau tidak memenuhi undangan Sephia. Diapun menelepon Adel untuk meminta pendapat.
“Halo, assalamu’alaikum” sapa Adel.
Di layar ponsel Budi tampak Adel sedang berkemas bersama para karyawannya. Ada ibu dan adiknya juga.
“Wa’alaikum salam” jawab Budi.
“Bram, lagi dimana itu? Kok aneh kantornya? Berisik lagi” tanya Adel.
“Lagi di lapangan. Monitor jalur produksi” jawab Budi.
“Oh. Ada apa? Lagi sibuk gitu nyempetin telepon?”
“Oh, ini. Barusan Abram dapet pesan singkat dari Sephia"
“Sephia?”
“Sssstt! Nyingkir dulu dari ibu!” pinta Budi.
“Oh, iya”
Adel mengerti apa yang dimaksudkan Budi. Dia berpindah posisi menuju galeri. Walau bertanya-tanya, tapi Putri tidak berkomentar ataupun bertanya.
“Kenapa Sephia, Bram?” tanya Adel sesampainya di galeri.
“Dia bilang ada perlu sama Aram. Dia ngajak ketemu”
“Ada apa, ya? Ada mas Sandi, nggak?”
“Ya belum tahu. feeling Abram sih, ada hubungannya sama Sandi”
“May be. Ya udah, temuin aja, Bram! Kalo dia sih, nggak mungkin ngegodain Abram” goda Adel sambil tersenyum.
“Itu packingnya masih lama, ya?”
“Enggak, sih. Udah mau diangkut. Mobilnya juga udah siap"
“Ya udah, Tata ikut aja ke sini. Entar temenin Abram nemuin Sephia”
“Traktir makan siang, ya!” goda Adel lagi.
“Beres”
“Oke. Paling sepuluh menitan lagi loading. Menjelang bel udah nyampe sana, kayaknya”
“Ati-ati, nggak usah buru-buru!”
“Siap, bos”
“Ya udah,Abram tunggu, ya? Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikum salam”
Panggilan video itupun dia akhiri. Budi menjawab pesan singkat Sephia. Dia mengatakan kalau dia baru bisa menemuinya minimal sekali pas makan siang. Bisa jadi mundur sedikit. Jadi Sephia diminta sabar menunggunya. Sephiapun menyanggupi.
Tepat saat bel tanda istirahat berbunyi, marsya datang menemui Budi. dia memberitahukan kalau sample productnya baru saja sampai. Budi langsung berberes sambil mengucapkan terimakasih.
Sambil berjalan menuju kantor, Aldo sempat melaporkan beberapa insiden kecil selama produksi tadi. Meski ada insiden,ternyata pencapaian produksinya masih on target. Budi memuji kinerja Aldo.
Di sisi lain, dalam hati Marsya mengagumi sosok Budi. Anak baru yang kini sudah bertransformasi menjadi sosok penting di perusahaan ini. Dia juga mengakui, andai Budi belum punya pacar, dia mau menjadi pacarnya.
”Assalamu’alaikum” sapa Budi saat sudah berada di lobi. Ternyata Putri juga ikut mengantar sample productnya.
“Wa’alaikum salam” jawab Adel dan Putri bersamaan. Merekapun bersalaman.
“Oh iya, Put. Kamu libur apa gimana?” tanya Budi.
“Hari ini jadwalnya cuman trial, mas. Abis itu, pulang. Rapat sih, gurunya” jawab Putri.
“Oh” komentar Budi sambil mengangguk-angguk.
“Emangnya mas Budi, suka bolos” celetuk Putri. Sontak Marsya menoleh padanya.
“Suek. Nggak usah diomong, Put! Ah, kamu” sahut Budi sambil meninju pelan lengan Putri.
“Ha ha ha ha” Marsya tertawa mendengar kelakar Putri.
“Udah diturunin?” tanya Budi.
“Udah. Itu tadi sama kang bejo, kang mangil, sama kang Supri” jawab Adel.
“Ditaruh di mana?” tanya Budi lagi.
__ADS_1
“Itu, di samping” jawab Adel.
“Liat, yuk!” ajak Budi.
Mereka bertigapun keluar dari lobi menuju galeri mini di sebelahnya. Dan benar saja, ketiga karyawannya sedang sibuk menata sample productnya di lahan yang tinggal sedikit.
Mereka tampak aktif berdiskusi dengan Riki soal penempatan itu. Karena ada bagian-bagian yang rawan dan tidak boleh tertekan. Sebagai apresiasi, Budi mengajak ketiganya, termasuk juga Riki, untuk melepas dahaga di kantin. Walau hanya es teh dan gorengan, tapi tampaknya cukup sukses menjadi media mengakrabkan karyawannya dengan Riki, selaku karyawan PRAM.
“Tadi pamit bapak, nggak?” tanya Budi kepada Adel.
“Sama ibu. Bapak lagi pergi” jawab Adel.
“Dibolehin?”
“Ibu sih, dari awal emang nggak percaya kalo Abram penjahatnya. Walaupun nggak terang-terangan juga nolak tuduhan Tata. Bingung aja, gitu”
“Oh. Jadi, kalo Abram sowan sama ibu, nggak papa,dong?”
“Kalo sama ibu sih, nggak papa. Asal pas nggak ada bapak”
“Good news” komentar Budi.
“Ki, kamu nggak makan siang?” tanya Budi kepada Riki.
“Kalo udah boleh aku tinggal, ya aku mau ke warung belakang, sih” jawab Riki.
“Ya udah kalo gitu. Kita ke sana aja barengan. Kebetulan, aku juga mau ke sana” ajak Budi.
“Traktir, ya!” goda Riki.
“Hayu” jawab Budi.
Kitapun pergi dari kantin. Kita menumpang di mobil bak yang dikendarai kang Supri. Seru juga ternyata, seperti orang mau ngelabrak pelakor.
Sesampainya di warung soto, aku langsung mempersilakan kang Supri untuk memesan makanan untuk semua. Sephia terlihat duduk di pojok terjauh. Area baru di warung ini. Karena terakhir ke sini dulu, Budi belum menjumpai lesehan itu.
“Kang Supri, aku sama Adel di sana, ya? kalo perlu apa-apa, telepon aja!” kata Budi.
“Oh, iya. siap, bos” jawab kang Supri.
“Aku ditinggal nih?” tanya Putri.
“Di situ doang, Put” jawab Budi. Putri tampak cemberut.
Sambil tergelak, Budi tetap pergi menuju area lesehan. Terdengar candaan dan gelak tawa kang Supri CS. suara Putri juga sesekali terdengar menimpali candaan mereka.
“Putri belum nerima Tata ya, Bram?” tanya Adel.
“Hem?” Budi terkejut mendapat pertanyaan dari Adel.
“Iya. Sifatnya emang gitu. Anti dikecewain” jawab Budi.
“Udah, nggak usah dipikirin. Dia cuman butuh dikasih tunjuk, kalo Tata udah nggak selek lagi sama Abram”
“Iya, Bram. Tata ngerti. Ini memang hukuman buat Tata”
Budi tidak menjawab lagi, dia hanya memberikan seulas senyum. Itu karena mereka sudah sampai di tempat dimana Sephia berada.
“Assalamu’alaikum” sapa Sephia.
Dia mengulurkan tangan kepada Adel. Agak canggung Adel mendapat uluran tangan itu. dia sempat menoleh kepada Budi, bermaksud meminta pendapat. Budi menganggukkan kepalanya.
“Wa’alaikum salam” jawab Adel.
Budi juga menjawab salam itu, walau dengan lirih. Merekapun bersalaman.
“Ada apa, Nat?” tanya Adel, setelah mereka duduk.
“Eeem” Sephia bingung mau menjawab bagaimana.
“Sandi mana?” tanya Budi.
“Itu dia, mas. Aku kesini mau ngomongin soal mas Sandi” jawab Sephia.
“Mas Sandi baik-baik aja kan Nat?” tanya Adel. Ada nada cemas di sana. Budi terlihat cemburu mendengar pertanyaan itu.
“Eem, maksud aku, dia fit, kan?” ulang Adel, memperbaiki kalimatnya. Tatapan Budi seolah anak panah yang menghujam jantungnya.
“Itu dia, mbak. Mas Sandi lagi dirawat. Kondisinya memburuk dua hari terakhir”
“Astaghfirulloh” Budi terkejut mendengar berita itu.
“Emang tembus ke dia, apa?” tanya Budi. Sephia sempat mengernyitkan dahinya.
“Enggak, bukan” jawab Sephia kemudian.
Dia paham, yang dimaksud Budi adalah peluru yang menjatuhkannya saat duel dengan Sandi.
“Terus?”
“Tulang rusuk mas Sandi patah dua. Ngelukain lambung sama levernya” jawab Sephia.
“Astaghfirulloh, Ndi” seru Budi kaget.
Adel sempat bingung dengan raut wajah kekasihnya itu. Dia tidak habis pikir, dan merasa tidak enak hati. Setelah kesalah pahaman yang berujung pertumpahan darah itu, Budi masih punya rasa kasihan terhadap Sandi.
“Dirawat di mana?” tanya Budi.
“Di solo, mas” jawab Sephia.
__ADS_1
“Aduh” keluh Budi. Tatapan matanya tampak menerawang. Seperti sedang memikirkan sesuatu.
“Gimana aku bisa nengok, kalo di sana tempatnya? Hari ini nggak mungkin keburu” gumam Budi.
“Mas Sandi pengen bicara, mas” kata Sephia.
Sepertinya dia mendengar gumaman Budi. Dia memberikan ponsel kepada Budi. Tampak wajah Sandi terpampang pada layar ponsel itu.
“Ndi. Gimana kondisimu?” tanya Budi. Tapi bukannya menjawab, Sandi malah terdiam. Hanya air matanya yang mewakili.
“Sakit banget apa, Ndi? Sampe nggak bisa ngomong?” tanya Budi lagi.
“Ya ampun, Bud. Lu kenapa malah mikirin gua?” sahut Sandi.
“Lah, kan yang sakit elu. Ya pastinya yang gua pikir ya lu. Masa pak Daud?” jawab Budi. Sandi tergelak. Tapi air matanya kembali meleleh.
“Ndi, lu kok nggak bilang-bilang kalo lu masih di rawat? Udah hari ke berapa, coba?” tanya Sandi.
“Lu nggak ngerasa sakit hati apa, sama gua?”
“Kenapa? Kaya baru pertama aja diadu-domba”
Sandi tertegun mendengar jawaban Budi. Dia sampai tidak tahu harus bicara apa. seperti pukulan telak yang lebih keras dari terakhir dia terima.
“Ndi, cepet sembuh, dong! Bingung gua, nggak bisa nengok. Ke solo nggak cukup sejam. Mau pake apa, coba? Ketapel?”
Sandi tergelak sekaligus terharu. Belum juga dia mengucapkan permintaan maafnya, Budi sudah mengeluarkan pernyataan yang nadanya seperti sudah memaafkannya.
“Gua minta maaf ya, Bud. Udah kedua kalinya gua jahatin lo” kata Sandi.
Budi tertegun. Kali ini ingatannya melayang pada momen duelnya tempo hari. Sempat timbul rasa benci kala itu. Orang yang dibelanya sampai bisa menjadi penguasa, malah melawannya sampai sedemikian sengitnya. Tapi hati kecilnya mengatakan, orang baik akan selalu diuji dengan berbagai macam hal yang menyakitkan hati. Siapapun pengujinya.
“Bram?” tegur Adel.
“Hem?” Budi tersentak. Dia menghela nafas berat.
“Jangan bilang itu lagi, Ndi! Lo nggak nganggep gua sodara, apa?” jawab Budi.
“Ya ampun, Bud. Lo masih nganggep gua sodara?” tanya Sandi terkejut.
“Ya masih, lah”
“Mana ada sodara sejahat gua?”
“Ndi. Lu tahu gua, kan? Gua paling demen kalo ada orang punya masalah sama gua, dateng langsung sama gua. Pengen duel? Hayu. Daripada cuman berani di belakang. Ke sono-sini ngomongnya nggak karuan, nyebar hoak. Beraninya ngehasut orang. Kalo lo kaya gitu, bisa jadi, gua bakal benci lu seumur-umur” jawab Budi. Sandi tertegun mendengar jawaban itu.
“Makasih ya, Bud. Nggak salah kalo banyak orang yang hormat sama lu” kata Sandi.
“Udah, yang lalu nggak usah dipikir lagi! Cepet sembuh, ya!”
“Makasih, Bud. Plong banget hati gua sekarang”
“Lu boleh pake galeri gua, Ndi”
“Buat?”
“Buat nginep lah sama Sephia. Daripada di rumah sakit. Mana bisa begituan?”
“Bram?” tegur Adel.
“Aduuuh. Ha ha ha ha. Iya. Bercanda, Ta” Budi kesakitan mendapat cubitan dari Adel.
“Ya udah, Bud. makasih ya, udah ngeluangin waktu buat gua. Sekarang gua udah siap”
“Siap buat apa?”
Sandi tidak menjawab. Tapi dia merubah arah kameranya. Dan terlihatlah beberapa orang berpakaian serba hijau
“Mas Sandi mau dioperasi, mas” kata Sephia.
“Astaghfirulloh” respon Budi terkejut. Dia tertegun saat wajah Sandi terpampang lagi di layar.
“Good luck, Ndi. Semoga Gusti Alloh cepat ngangkat penyakit yang lu derita” doa Budi.
“Amin. Makasih doanya” jawab Sandi.
“Udah dulu, ya? Assalamu’alaikum” lanjut Sandi.
“Wa’alaikum salam” jawab Budi.
Budi masih tertegun, matanya masih fokus menatap layar ponsel Sephia, sekalipun sambungan telepon sudah terputus.
“Bram?” tegur Adel.
“Oh. Sorry” sahut Budi tergagap. Dia lantas mengembalikan ponsel milik Sephia.
“Oh, iya. Belum pada pesen, ya? pesen, gih!” pinta Budi.
“Makasih, mas. Aku ke sini cuman mau ketemu mas Budi” tolak Sephia.
“Jangan gitu, lah!” sahut Budi.
“Aku nggak bisa nraktir Sandi. Minimal aku nraktir kamu. Jangan ditolak, ya! Please!” lanjut Budi. Sephia tertegun untuk beberapa saat.
“Iya. Makasih, mas” jawab Sephia setuju.
Budi meminta Adel untuk memesan menu untuk mereka. Selama makan, air mata Adel beberapa kali meleleh. Namun buru-buru dia sapu dengan gaya kepedasan.
Berbagai perasaan membuncah di dadanya. Perasaan bersalah, malu, marah pada diri sendiri, tapi juga ada rasa bangga setelah semua itu. Bangga menjadi bagian dari seseorang yang menurutnya luar biasa. Tidak semua orang bisa memaafkan segampang itu.
__ADS_1
***