
Sesampainya di rumah sakit, dia merasa aneh. Walau masih jauh, dia merasa kalau kamar rawat Putri itu sepi. Hanya ada seseorang yang berada di depan pintu.
Dari postur tubuhnya, Budi bisa menebak siapa yang sedang duduk memainkan ponsel itu.
“Assalamu’alaikum”
Budi memberikan salam pada wanita yang sedang duduk itu. Sontak wanita itu mendongakkan kepalanya.
“Wa’alaikum salam” jawab wanita itu.
“Bram? Udah pulang?” tanya wanita itu.
Budi tidak langsung menjawab. Dia malah menatap lekat mata wanita itu.
“Eh. Mas Budi, maksud Adel” lanjut wanita itu, menyadari kekeliruan ucapannya.
“Huuuffft” Budi menghela nafas berat.
“Belum kelar apa Del, ambil keterangannya?” tanya Budi kemudian.
“U, udah. Udah kelar” jawab Adel tergagap.
“Oh” komentar Budi pendek.
Dia berjalan menuju pintu lalu membukanya.
“Loh. Kok nggak ada?” seru Budi.
“Lagi pada di fisioterapi, mas. Mas Budi disuruh ibu jagain barang-barang” Adel ikut berseru.
“Oh” komentar Budi pendek.
“Emang Putri udah kuat napak?” tanya Budi.
“Belum, mas. Yang Adel denger sih, baru mau dilatih pelenturan dulu. Cuman selonjoran, terus dilatih pake tangan gitu” jawab Adel.
“Oh. Pake kursi roda, dong?”
“Iya”
“Ramean ke sononya?”
“Enggak sih. Kalo putri sih, cuman ditemenin ibu sama Zulfikar. Si Vani juga cuman sama Aldo”
“Bu Lusi sama Madin?”
“Tadi sih udah balik ke sini, tapi sekarang pergi lagi. Lagi baik ke rumah, masakin yang lagi kerja. Sekalian Madin ambil baju ganti. Jadi, Adel deh yang disuruh bantu di sini”
“Nggak ngomel, si kadal mesir?” tanya Budi, tanpa takut menyinggung perasaan Adel. Dia duduk di sebelah kiri Adel.
“Luki? Ha ha ha ha” si Adel malah tertawa.
“Tahu lah, mas. Jadi bingung, Adel. Semenjak pergi belum nelpon juga” lanjut Adel, menjawab pertanyaan Budi.
Budi menatap serius mata sendu Adel. Ada emosi yang bergejolak di hatinya, mengetahui permata hatinya hanya dibuat sedih begini.
__ADS_1
“Semoga dia nggak macem-macem, ya?” celetuk Budi.
Adel mengernyitkan keningnya. Dia bingung dengan ucapan Budi. Seorang Budi, malah mengharapkan sesuatu yang tidak menguntungkan dirinya.
“Demi apapun juga, gua nggak terima, kalo dia ngerebut seorang Adelia Fitri dari gua, cuman buat dimainin. Apalagi dimanfaatin. Gua nggak terima” kata Budi pelan, namun penuh penekanan.
Adel terkesiap. Kelanjutan ucapan Budi itu sangat menghujam di sanubarinya. Jauh lebih memabukkan daripada bisikan setan siang tadi.
“Mas. Apa mas sadar sama apa yang barusan mas katakan?” tanya Adel, berusaha menggunakan logikanya.
Budi tak langsung menjawab. Dia tampak memikirkan pertanyaan itu.
“Ya. Aku sadar, Del” jawab Budi, sambil membuang muka.
Gantian Adel yang terkesiap. Matanya masih lekat menatap wajah tampan yang kini menatap tembok di depannya.
“Harus aku akui, seorang Erika sekalipun belum bisa menggantikan dirimu. Seberapapun kerasnya aku berusaha ngelupain kamu, imanku selalu kacau kalo liat kamu” lanjut Budi. Dia menoleh ke arah Adel sambil tergelak kecil. Adel semakin tidak bisa berkata-kata.
“Adel juga ngerasain hal yang sama, mas” kata Adel, beberapa saat kemudian.
Budi yang sudah kembali menatap ke depan, kembali menoleh ke arah Adel.
“Seberapapun kerasnya Adel berusaha ikhlas, tetap saja hati Adel sakit kalo inget gimana Adel udah ingkar janji. Apalagi pas ketemu di PRAM itu. Jauh lebih sakit mas, ketimbang kecelakaan dulu” lanjut Adel.
Budi tak langsung menyahut. Dia menghela nafas berat, sembari menghindari tatapan mata Adel.
“Ya sudah, Del! Makin dibahas makin bikin nyesek. Entar aja dibahas lagi, kalo takdir berkata lain” kata Budi.
“Maaf, mas. Adel kelepasan baper” jawab Adel.
“Aku yang minta maaf. Nggak seharusnya aku nyentil urusan rumah tangga Adel”
“Put. Gimana, udah bisa napak?” tanya Budi serta-merta.
“Maaf mas, biarkan pasien sampai ke ranjangnya dulu” tegur suster yang mengantarnya.
“Vani gimana, Do?” tanya Budi kepada Aldo.
“Alhamdulillah. Udah bisa napak. Tapi masih pegangan” jawab Aldo.
“Pegangan apa?”
“Ha?” Aldo sempat bingung.
“Ya pegangan besi tracknya, lah” lanjut Aldo menjawab pertanyaan Budi.
“Oh” komentar Budi pendek, sambil tergelak.
“Otaknya” seru bu Ratih, sambil mencubit perut Budi.
“Ha ha ha”
Budi malah tertawa lepas, mendapati ibunya mengerti apa yang dia maksudkan.
“Mbak Rika pernah ya, mas?” goda Zulfikar. Sontak Budi menoleh padanya.
__ADS_1
“Kepo, deh” seru Budi berkilah.
“Awas lu, modusin Putri!” lanjut Budi.
“Nah, kan. Udah fix ini. Udah pernah. Ha ha ha” sahut Zulfikar.
“Sok tahu”
“Ha ha ha”
Zulfikar tertawa merasakan tepukan di punggungnya. Sontak semua yang mendengar candaan mereka ikut tertawa.
Terlihat sekali kalau Putri masih kesulitan untuk menggerakkan kaki kanannya. Budi jadi berpikir, apanya Putri yang tadi dilatih, kalau gipsnya saja belum dilepas?
“Tadi kita menguji sendi-sendi bagian atas, mas”
Dan suster itu tampaknya mengerti arti dari kerutan di kening Budi.
“Kalau butuh penjelasan, keluarga pasien bisa bertanya lebih lanjut ke dokternya langsung” lanjut suster itu.
Budi hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja. Dia paham, suster itu seperti hendak mengatakan kalau dia juga kurang paham mengenai fisioterapi. Dia hanya menjalankan tugasnya saja sebagai perawat di blok ini.
“Permisi”
Suster itupun pamit undur diri. Budi hanya mengangguk tanpa beranjak dari posisinya berdiri.
Emosinya kembali bergejolak, saat menatap gips di pergelangan kaki putri. Di kepalanya sedang berkelebat bayangan tentang Sandi, sahabatnya yang telah salah jalan.
Dan otaknya juga sedang berpikir, bagaimana caranya memberikan peringatan keras pada Sandi, sedangkan orangnya sendiri sudah berada di dalam tahanan.
“Ngger. Udah! Jangan dituruti bisikan setan itu!” tegur bu Ratih.
Budi menoleh. Dia tidak bisa menolak kalau ibunya yang memerintahkan. Dia hanya bisa menghela nafas berat. Diapun beranjak mendekati Putri.
“Udah, mas! Nggak usah diperpanjang! Putri ikhlas, kok. Putri malah nggak rela kalo mas Budi sampe baku hantam cuman buat ngebales perbuatan mas Sandi” kata Putri, setelah Budi duduk di sebelahnya.
Mereka berdua sempat saling menatap beberapa saat. Tampak di wajah Budi, ada banyak kata yang ingin dia ungkapkan. Tapi sama sekali tidak ada yang akan membenarkan niatannya.
“Huufffttt”
Budi menghela nafas berat, berusaha meredam emosinya.
“Lu ngapain di sini?”
Terdengar sebuah suara berseru dari luar ruang rawat. Semua yang berada di dalam menoleh ke arah pintu. Terlebih Budi. Dia terkejut sekaligus bingung.
“Nunggu Madin. Lagi pulang ambil baju ganti, dia”
Kali ini suara Adel yang terdengar.
“Kenapa nggak ibu aja yang di sini?”
“Eem”
Budi tergelak mendengar pertanyaan itu. Dia geleng-geleng kepala, mengetahui siapa yang bertanya itu.
__ADS_1
“Ka!”
Sebuah suara lain ikut menggema. Suara itu sukses membuat tawa Budi menghilang. Karena suara itu adalah suara laki-laki, dan terdengar berwibawa.