
Pagi ini, suasana terlihat cerah. Setelah malam yang mengharu biru. Sedikit kabut masih tertinggal, bersama tetesan hujan yang masih membasahi dedaunan. Riuh kicau burung, membuat hati menjadi tenang, adem, dan enggan untuk beranjak. Budi duduk termenung di tepi tebing. Bertemankan secangkir kopi yang hampir habis. Di belakangnya, tampak sebuah rumah dari papan. Lebih cocok disebut vila dibanding tempat tinggal menetap. Karena, tak ada orang lagi selain dirinya.
Angannya melayang, memutar kembali drama demi drama yang sudah dia lewati. Dari sekian kali perkelahian yang telah dia lakoni. Dan juga tujuan dari setiap perkelahian itu. dalam hati dia bertanya-tanya. Harus berapa kali lagi dia berkelahi sepanjang hidupnya? Dan drama apa lagi yang akan dia lakoni dimasa mendatang?
Budi menoleh ke belakang, saat mendengar suara langkah kaki mendekat. Dia beranjak dari duduknya. Dia berdiri, bersiap menyambut mereka yang datang. Di urutan terdepan, adalah tujuannya, untuk apa dia harus bertarung melawan sepuluh orang, sendirian. Dia tersenyum manis.
“Udah lama, Bram?” sapanya sambil salim dan cium tangan.
“Udah abis secangkir kopi, Ta” jawab Budi. Adel tersenyum.
Bergantian, ada Putri, Zulfikar,Sephia, Sandi, dan beberapa orang berseragam tempur serba hitam. Tapi dengan dengan tanda pengenal, dari kepolisian. Mereka mengambil posisi melingkar.
“Bram, ini sandi. Orang yang diaku-aku sebagai kakaknya Dino. Dan mas Sandi, ini mas Budi, cowok Adel sekarang” kata Adel memperkenalkan keduanya.
“Hempf. Ha ha ha ha ha” keduanya malah tertawa.
“Kok malah ketawa?” tanya Adel bingung.
“Apa kabar, Bud?” tanya sandi, tanpa menghiraukan pertanyaan Adel.
“Alhamdulillah, baik. Kamu sendiri, nggak bosen ketemu pak Daud?” jawab Budi.
“Ha ha ha ha” Sandi tertawa, mendengar pertanyaan Budi.
“Jangan bilang kalian, ?”
“Ya, Budi adalah suksesorku” jawab Sandi. Adel mendelik.
“Dari jaman SMK, dia orang yang paling bisa ngewujudin apa yang jadi visi aku. Buat aku, Budi nggak ubahnya kaya patih gajah Mada. Yang nyatuin Nusantara. Bedanya dia nyatuin seluruh geng di kota ini, menjadi di bawah komandoku. Sayangnya, saking sayangnya dia sama sang ibu, Budi memilih buat mundur, dan merantau. Hilang Budi, muncullah kamu” jawab Sandi panjang lebar.
“Adow”
Budi terkejut mendapat cubitan Adel di perutnya. Semua orang tertawa, kecuali Adel. Dia merasa kikuk, ternyata dia memacari dua orang sahabat. Satu di masa lalu, satu di masa sekarang.
“Dino itu, siapa, sih?” tanya Budi.
“Iya, sejak kapan punya adek?” timpal Adel.
“Cie, yang masih hafal” goda salah satu dari polisi itu.
“Apaan sih, pak Daud? Nyamber aja, kaya bensin” gerutu Adel. Semua yang mendengar tertawa. Tak terkecuali dengan Sandi.
“Dino itu anak bawaannya ibu tiri aku. Bapakku kan kawin lagi. Jadi ya, diakui atau enggak, statusnya dia tetep adikku” jawab Sandi.
“Oh” kata Budi dan Adel kompakan.
“Ngilang kemana, mas? Lama banget nggak keliatan. Adel sampek mikir, kalo kabar burung itu bener”
“Aku udah almarhum? Ha ha ha ha” sahut Sandi sambil tertawa.
“Ada. Banyak yang mesti aku urus” lanjut Sandi.
“Sekalinya pulang, diajak ngopi bareng sama pak Daud” sahut Budi.
“Iya. Ha ha ha ha. Tajem banget emang, hidungnya pak Daud” jawab sandi.
“Eh, ngomong-ngomong, Dino sama Stevani, gimana?” tanya Adel.
“Ada, sama kita. Mereka udah kita amanin di polres. Stevani udah ditanganin sama polwan kita. Dia sehat, kok. Nggak kurang suatu apa. Paling si Dino, bakal kita satuin sama Sandi. Ha ha ha” jawab pak Daud. Sandi tertawa mendengar jawaban itu. Adel manggut-manggut tanda mengerti.
“Sejak kapan kamu pro sama pak Daud?” tanya Sandi.
“Sejak anak dia macarin adekku” jawab Budi sambil tergelak. semua orang tertawa. Dan semua mata tertuju pada Zulfikar dan Putri.
“Jaga Adel baik-baik, ya! aku akan back up kalian dari jauh. Jangan ragu buat kasih pesan, kalo emergency! Pesan Sandi.
“Thanks, Ndi. Sehat selalu, ya!” jawab Budi.
“Amin”
“Gua cabut dulu, ya?” pamit Sandi, sambil menyalami Budi.
“Oke” jawab Budi.
“Aku juga harus pamit, kalo gitu” kata pak Daud.
“Terimakasih banyak, ndan” jawab Budi.
__ADS_1
Prajurit kepolisian yang lain juga berpamitan satu per satu dengan Budi, dan juga dengan Adel, pastinya. Tinggallah, Zulfikar dan Putri di posisi paling akhir.
“Jangan pernah lagi bawa Putri ke kontrakan!” kata Budi, saat Zulfikar hendak berpamitan.
“Siap, mas” jawab Zulfikar, seperti berbicara kepada komandannya.
Budipun tersenyum dan melepaskannya, setelah menepuk pundak Zulfikar dua kali. Tanpa bicara, Putri tiba-tiba memeluknya. Tanginya pecah dipuncaknya. Meski awalnya kaget, tapi Budi bisa memahami perasaan Adiknya. Putri dan Madina, adalah dua sosok yang juga sangat berjasa, bagi pengungkapan skandal Stevani ini. Terlebih, Putri adalah orang yang setiap hari membantunya, dikala dia sakit. Pasti rasa haru, puas, dan sebagainya, berebut ingin keluar dari dalam hatinya.
“Putri pikir, semakin tinggi sebuah pohon, akan semakin kencang juga angin meniupnya” kata Putri, beberapa saat kemudian. Budi sempat menoleh ke arah Adel.
“Kamu emang udah dewasa, Put. Tapi kamu harus kuliah dulu, kaya mbak Adel. Terus kerja, nyenengin ibu, baru kawin” komentar Budi.
“Apaan, sih? malah ngomongin Putri” kilah Putri.
“Ha ha ha ha” Budi dan Adel tertawa dibuatnya.
Putripun segera pergi, bergabung dengan yang lain. Tinggallah Budi, berdua dengan Adel. Yang memang sengaja, akan tinggal untuk beberapa saat lebih lama.
Saat Putri dan yang lain sudah tidak terlihat, Adel langsung memeluk tubuh Budi. Seperti Putri, tangis Adel pecah di pundak Budi. Setelah menahan diri sekian lama, akhirnya dia bisa bersatu lagi dengan lelaki yang sangat dicintainya.
Budi juga tak kalah terharunya. Dia juga memeluk erat tubuh langsing Adel dengan eratnya. Bibir mereka menyatu sebagai ungkapan kasih sayang yang tak akan terpisahkan. Mereka saling *******. Melampiaskan setiap keharuan yang membuncah bagai gelombang dari dalam hati.
Hari itu, PT.PRAM geger, karena ada petugas dari kepolisian yang menyambangi pabrik. Mereka menginterogasi banyak orang sehubungan dengan tindakan kriminal yang dilakukan Dino dan Stevani.
Mendengar nama Dino, tidak ada yang merasa aneh. Bahkan semua karyawan justru bersorak senang, karena Dino ditangkap. Dengan senang hati mereka memberikan keterangan dan kesaksian.
Tapi mendengar nama Stevani juga disebut, semua orang, bahkan Isma sekalipun, tidak menduga kalau Stevani tega melakukan hal yang sedemikian kejinya. Pada hari itu juga, Dino beserta gengnya dicoret namanya dari daftar karyawan PT.PRAM.
***
Setelah semalaman penuh tidak bergerak, pagi ini tubuh itu mulai bergerak. Kening, adalah anggota tubuh pertama yang dia sentuh. Mungkin dia merasakan sakit kepala yang cukup mengganggu.
Perlahan dia membuka matanya. Sorot mentari yang sudah benderang itu sontak menyergap indera penglihatannya itu. dia kembali menutup matanya. Rasa perih dan terkejut membuatnya mencoba untuk merubah posisi kepalanya. Dan dia coba lagi untuk membuka matanya dengan lebih perlahan.
Berhasil membuka kedua matanya dengan penuh, nyatanya tak lantas membuatnya lega. Justru ada tanda tanya besar mengenai dimana dia berada saat ini. Terlebih pakaiannya serba putih, selimutnya putih, dan tembokpun dilapisi warna putih.
Dimana ini? Apa aku udah mati, ya? apa ini di alam baka? Ya Tuhan, aku udah mati? Beneran aku udah mati?
Dia celingukan ke kiri dan ke kanan. Otaknya berusaha mengenali tempat macam apa kiranya ini. Tapi pandangan matanya sesekali kabur.
“Tunggu, tunggu, tunggu! Jangan maksa, ya!”
Dia merasakan ada benda dingin menempel di dadanya. Beberapa kali bergeser ke kanan dan ke kiri. Dia juga merasakan lengan kanannya dibalut sesuatu, yang sesaat kemudian terasa menekan, menekan, dan menekan lagi. Beberapa saat kemudian, terlepas lagi dari lengannya.
“Kamu bisa lihat saya?” tanya orang itu.
Stevani berusaha memfokuskan pandangannya kepada orang yang bertanya itu.
Butuh beberapa saat untuk dia bisa melihat dengan jelas dan fokus. Tampaklah dalam pandangan matanya seorang wanita dengan jas putih dan celana putih. Di lehernya tersampir sebuah stetoskop. Stevani tergelak, sekarang dia sadar kalau dia belum mati.
“Ini berapa?” tanya orang itu. dia acungkan telunjuknya.
“Satu” jawab Stevani.
“Kalo ini?” tanya orang itu lagi.
“Lima jawab Stevani lagi. orang itu tersenyum.
“Alhamdulillah. Kamu nggak papa” komentarnya.
“Saya dimana, dok?” tanya Stevani. Dokter itu tersenyum sesaat.
“Kamu di rumah sakit. Semalam kamu membutuhkan perawatan” jawab dokter itu. Senyum di bibirnya mengembang lagi. Stevani tertegun melihat senyum yang tampak tulus di matanya.
“Apa dokter mengenal saya?”
“Hem?” dokter itu bingung.
“Namamu Stevani Larasati” lanjutnya. Stevani terdiam.
“Apa dokter tahu siapa Stevani Larasati?” tanya Stevani lagi. Dokter itu tersenyum. Dia baru paham apa yang ingin diketahui oleh Stevani.
“Ya. Kamu orang yang dituduh ngelakuin penganiayaan terhadap seseorang” jawab dokter itu.
“Kenapa dokter nolong saya? Apa masih pantes saya ditolong?”
Dokter itu terkesiap. Dia merasakan kalau pasiennya ini sedang mengalami krisis percaya diri. Dia seperti tertekan dengan keadaan yang dihadapinya.
__ADS_1
“Sekalipun kamu benar-benar penjahat, kamu juga manusia. Nggak ada hukum yang ngelarang kamu buat dapet pertolongan medis” jawab Dokter itu. Gantian Stevani yang terdiam.
“Banyak kok yang kejebak dalam fakta yang diputer-balikkan” kata dokter itu. Membuat mata sayu Stevani seketika berbinar. Dia merasa mendapatkan satu dukungan.
“Dan banyak juga yang akhirnya bebas, karena fakta yang sebenarnya, akhirnya terkuak. Ya walaupun butuh perjuangan yang melelahkan” lanjut dokter itu. Senyum dokter itu sukses menular kepada Stevani.
“Percayalah, Tuhan itu Maha Tahu. Kalo kamu ngerasa kejebak dalam fakta yang diputer-balik, mungkin ini ujian buat kamu” kata dokter itu lagi. Stevani memperhatikan ucapan itu dengan raut wajah antusias.
“Bisa jadi, ini cara Tuhan nunjukin kasih sayangnya. Kita tahu, kita pasti punya dosa. Kita pasti punya salah. Sedangkan kita nggak tahu kapan Tuhan akan manggil kita pulang. Mungkin ini cara Tuhan menghabiskan sisa-sisa dosamu. Agar saat kamu harus pulang suatu saat nanti, kamu nggak punya utang. Kamu ngerti maksud saya?”
“Iya dok, saya ngerti. Tapi, sebaik itukah Dia? Masih sayang sama saya yang nggak pernah nyapa Dia?” sahut Stevani.
“Ampunan Tuhan itu, lebih luas daripada murkanya” jawab dokter itu. Stevani terkesiap.
“Kalo pada akhirnya, kamu yang nggak ngerasa berbuat yang mereka tuduhkan, tapi sama hakim diputus bersalah, jangan buruk sangka ya, sama Tuhan! Mungkin itu jauh lebih baik ketimbang kamu harus ngeliat murkaNya. Nggak sedikit, yang bersalah divonis bebas. Tapi kehidupannya selanjutnya, jauh lebih tragis ketimbang kalo dia menjalani hukuman di penjara. Di penjara sih paling berat jotos-jotosan. Itu juga nggak seberapa. Ada sipir ini. Ketimbang harus nginep di sini. Tubuh, isinya selang sama kabel” lanjut dokter itu.
Stevani tersenyum. Ada air mata yang meluncur membasahi pipinya. Hatinya terasa sakit, mengingat orang yang dia cintai tega berbuat kasar seperti itu.
*Aku akui Bud, aku emang salah. Aku udah punya pikiran buat misahin kamu sama Adel dengan cara nakut-nakutin kalian. Tapi bukan aku yang nyelakain kamu. Apa kamu nggak bisa bedain raut muka aku, mana aku yang boong sama aku yang jujur? Aku emang jahat, Bud. Tapi bukan aku yang nyelakain kamu. Bukan aku yang nyelakain Adel*.
“Kau yang kuat, ya! kamu harus cepet pulih. Kamu harus cepet bangkit. Kamu pasti bisa lewatin ini semua” kata dokter itu.
“Kalo ternyata saya emang penjahat, apa Tuhan masih mau mengampuni saya, dok?”
“Why not?” jawab dokter itu. Stevani mengernyitkan dahinya.
“Perasaan bersalahmu itu, jauh lebih disukai Tuhan ketimbang perasaan seorang hamba yang mengatakan kalau dirinya adalah hamba yang paling taat. Perasaan seperti itu tak ubahnya seperti kesombongan. Kalau di islam disebutnya, ujub” lanjut dokter itu menjelaskan. Air mata Stevani meluncur lagi. Beberapa saat lamanya, Stevani sesenggukan dalam tangisnya.
“Baik, dok” ujarnya kemudian.
“Saya memang orang jahat. Pikiran saya yang jahat. Kalau memang Alloh mau maafin saya, dan mau menerima saya kembali, saya akan jalani semua skenario yang udah dibuatkan untuk saya” jawab Stevani.
Dokter itu tersenyum. Dia baru mengerti, kalau Stevani ternyata adalah muslim. Dan jarang sekali yang mengatakan kalau dirinya adalah penjahat.
“Kamu pasti bisa” kata dokter itu menyemangati.
“Terimakasih, dok” jawab Stevani.dokter itupun beranjak pergi.
“Dokter, satu lagi” kata Stevani sambil menahan tangan dokter itu.
“Ya?” dokter itu menghentikan langkahnya dan menghadap kembali ke Stevani.
“Siapa yang bawa saya ke sini?” tanya Stevani.
Dokter itu tidak menjawab. Tapi dia mengarahkan telunjuknya ke sudut kamar. Di sebelah kanan Stevani, sejajar dengan kepalanya, terlihat seorang polisi sedang duduk memperhatikan mereka. dia melambaikan tangannya kepada Stevani. Tapi lambaian tangan itu tidak mendapat sambutan.
“Makasih, dok” kata Stevani.
“Aku pergi, ya?” pamit dokter itu.
Stevani mengangguk, menjawab kata pamit dari dokter itu. Melihat polisi itu, dia jadi teringat tentang pengeroyokan malam itu. Tentang dirinya yang dibius, tentang dirinya yang diikat di sebuah kursi.
Dia bertanya dalam hati, tentang siapa mereka, dan bagaimana nasib mereka sekarang. Apakah ditahan juga, atau malah masih bebas di luaran sana. Dia tidak menyadari saat polisi itu datang menghampirinya. Tahu-tahu sudah duduk di kursi di sebelah ranjangnya.
“Apa Budi juga ditahan?” tanya Stevani tiba-tiba.
“Kenapa harus ditahan?”
“Apa anda pikir, bikin orang pingsan dengan gas bukan termasuk kejahatan?” polisi itu tersenyum.
“Kamu boleh marah. Tapi saran aku, kamu cepet pulih dulu! Dan sampein ke penyidik tentang hal itu!” jawab polisi itu.
“Apa semua polisi seperti ini?” tanya Stevani. Masih dengan nada ketus.
Polisi itu mengernyitkan dahinya. Tapi kemudian dia tersenyum lagi. Dia mengerti, Stevani sedang mengomentari sikap polisi yang menurutnya pilih kasih.
“Nggak juga” jawab polisi itu.
“Aku temasuk yang percaya sama dokter Dian. Dia paling bisa nebak, mana yang penjahat beneran mana yang bukan” lanjutnya.
Stevani terkesiap mendengar jawaban itu. Tapi menurutnya, itu hanya opini, yang tidak mengandung kekuatan hukum.
“Kalo dokter Dian nunjukin sikap cuek, apalagi sinis, aku nggak akan bicara sama orang itu. Aku cuman bereaksi dengan tindakan. Orang itu kooperatif, aku diem. Orang itu nggak mau kooperatif, ya aku bakal nanggepin dia sama kekuatan” lanjutnya. Gantian Stevani yang mengernyitkan dahinya.
*Berarti dokter Dian sudah tahu kalau aku terjebak dalam fakta yang diputer balik*?
“Istirahatlah!” saran polisi itu.
__ADS_1
Stevani tidak menjawab. Dia hanya mengikuti kepergian polisi itu dengan tatapan matanya.
*Awas kamu Din, kalo kebukti kamu fitnah aku. Nggak akan aku biarin kamu bebas dari penjara*.