
Karena bel sudah berbunyi, itu tandanya, Budi maupun Stevani harus segera memulai aktivitas bekerjanya. Budi pamit masuk ke dalam kubiknya. Stavani memberikan senyum manisnya sebelum pergi, kembali ke kubiknya juga.
“Halo, Do, Ki. Sehat semua?” sapa Budi.
“Hai, Bud. Alhamdulillah, sehat” jawab Aldo.
“Aku juga, cuman jealeous aja dikit” jawab Riki.
“Jealous sama siapa lu?” tanya Aldo.
“Ya Budi, lah”
“Aku? Kok bisa?” tanya Budi.
“Udah sekian lama aku ngurus departemen anyaman, belum pernah ditawarin gadis. Eh malah kamu ditawarin. Hadeeh” jawab Riki.
“Hmpf. Ha ha ha ha. kirain apa” Budi tergelak. Aldo juga ikut tertawa.
“Udah, kamu sama Isma aja” saran Aldo.
“Ogah. Judesnya ngalahin Bu Rika” jawab Riki.
“Ha ha ha ha. Kapok ceritanya?”
“He he, males aja”
Budi hanya tertawa saja melihat ekspresi Riki. Dia tahu, Riki hanya bercanda. Dan tidak ada maksud untuk serius tentang gadis tadi.
“Ya udah, ini kita ada target double dari marketing. Harusnya kemarin kita masuk lembur, tapi diliburin. Makanya sekarang kita harus ngejar untuk dua hari ini” kata Aldo mengawali breifing pagi ini.
Budi menanggapi apa yang disampaikan Aldo. Dan terjadilah diskusi mengenai strategi dalam memenuhi target dari marketing.
Sempat diskusi itu alot, karena adanya perbedaan pandangan antara Aldo dan Budi. sampai – sampai harus mengundang Stevani dan atasannya, Farah. Budi ingin menyatukan pandangan dengan jadwal pengiriman di marketing.
Pembahasannya tidak hanya mengenai hari ini, tapi melebar ke cakupan yang lebih luas lagi. Merambah ke daftar rinci pelanggan yang memesan, jenis pesanan, dan waktu pengiriman yang disepakati.
Walau sempat dibuat bingung, tapi pada akhirnya, baik Stevani maupun Farah, akhirnya mengerti dengan apa yang dimaksud Budi. Mereka juga setuju dengan strategi yang disusun Budi.
Intinya, ada pelanggan yang jadwalnya dimajukan, karena jenis produk yang diminta seragam. Ada juga yang dimundurkan dari jadwal, karena jenis produk yang diminta berbeda dari kebanyakan yang ada dalam daftar pesanan.
__ADS_1
Farah juga menyanggupi permintaan Budi untuk melakukan komunikasi dengan pemesan, untuk penjadwalan ulang.
Di dalam hati, Aldo merasa kalau sekarang posisinya terancam oleh keberadaan Budi. belum juga reda rasa cemburunya karena melihat orang yang dia sukai, makan siang dengan Budi.
Sekarang Budi berulah lagi dengan melangkahinya sebagai senior. Mana Stevani tampak kagum lagi dengan ide yang disampaikan Budi. Semakin menarik saja si Budi, di mata Stevani.
Briefing kali ini berakhir dengan kesepakatan bersama yang dicatat oleh Stevani. Budi langsung menuju ke departemen Frame, tempat dia bertugas.
Tak ada yang perlu dibenahi sejauh ini. Hanya saja, Budi meminta kepada Pak Teguh, untuk bisa membagi jadwal break time pukul sepuluh dan pukul tiga nanti.
Karena, meskipun tadi tim marketing sudah menyetujui idenya, tapi Budi ingin memampatkan waktu sepadat mungkin.
Bahkan kalau bisa, target yang diminta Aldo tadi, bisa direalisasikan. Pak Teguh menyanggupi permintaan Budi. Dia langsung membagi timnya. Dan memberikan daftar member yang akan break duluan, dan belakangan.
“Tinggal tim finishing nih, Bud” kata Pak Teguh.
“Kenapa, pak?” tanya Budi.
“Biasa, kumat lagi”
“Oh”
Alih – alih menemui Dino, Budi justru menemui Riki di departemen anyaman. Dia menanyakan dan memeriksa sendiri kondisi stok Frame yang akan diberikan anyaman.
Menurut perhitungannya, jumlah Frame yang tersedia, masih cukup untuk memenuhi target awal kesepakatan tadi. Jadi, Budi masih memiliki kesempatan untuk memikirkan, manuver apa yang akan dia pakai untuk memaksa Dino CS untuk mau bekerja sesuai yang diperintahkan.
Sekilas Budi mengintip ke arah tim finishing. Terlihat mereka masih bekerja sesuai tugas mereka masing – masing. Budi memprediksi, kalau mereka akan mulai berulah nanti, saat break time dan setelahnya.
Budi membiarkan saja mereka. Dia malah berdiskusi mengenai kondisi aktual dari tim anyaman. Riki menceritakan pencapaian tim anyaman sejauh ini.
Secara hitungan waktu, target yang telah disepakati tadi, bisa dicapai bahkan sebelum jam pulang. Apalagi stok Framenya masih mencukupi.
Budi memberikan apresiasi. Dia berpesan agar jangan kendor dalam menjaga ritme pekerjaan. Dia juga menyarankan agar tim anyaman melakukan pergantian waktu break time. Riki bilang, itu bagus juga. Budi pergi menjauh dari Riki.
*TUUUUUT*
Dia menelepon seseorang.
”Halo, ada apa Bud?” sapa seorang wanita di seberang telepon sana.
__ADS_1
“Rat, kamu masih nyimpen data yang aku minta waktu itu, kan?” tanya Budi.
“Oh, data temen – temennya Dino? Masih. Eh kamu bilang apa ke pak Paul?”
“Nggak bilang apa – apa. emang kenapa?”
“Ih, kan kemarin data itu aku print dulu kan, sebelum aku kasih ke kamu. Nah, pak Paul lihat. Eh, diminta sama dia. Aku tanya buat apa, pak Paul bilang, buat data pengurangan karyawan. Kata dia, mereka yang paling duluan akan dibuang. Kamu serius nggak bilang apa – apa sama pak Paul?”
“Beneran, Na? Pak Paul bilang gitu?” tanya Budi belum yakin.
“Beneran. Ngapain juga aku boong?”
“Aku nggak bilang apa – apa soal data itu. Suer”
“Terus, kenapa nanyain data itu lagi?”
“Ya persiapan aja. Kata Pak Teguh, mereka berulah lagi. Aku pengen minta tolong lagi sama kamu”
“Haduh Bud, kamu tuh, bikin aku jantungan aja. bisa panjang kalo berurusan sama mereka”
“Tolong, lah. Masa aku harus lompat ke Erika, sih? Kalo aku sampai lompat ke dia, berarti kamu,”
“Jangan, jangan! Oke, aku mau. Kesel tahu, dibilang nggak bisa, padahal baru nyoba. Gimana skenario kamu?” potong Ratna. Budi tersenyum senang.
“Gini, aku emang belum ketemu mereka. Tapi aku ngerasa, Dino punya sesuatu yang bikin mas Dirman dan yang lain takut. Aku pikir, saat ini mereka hanya ikut – ikutan aja sama Dino”
“Terus?”
“Kayaknya aku akan ungkit lagi data itu, kalo mereka nggak bisa dibilangin. Entar aku nelepon kamu, nanyain rencana pemberhentian karyawan itu. Dan, seolah – olah pak Paul nyuruh kamu buat berhentiin dua diantara empat orang CS nya Dino. Aku akan awali dari mas Pujo sama mas Dirman. Pasti mereka nggak percaya. Lalu aku akan suruh mereka buat nemuin kamu di kantor HRD. Kamu atur lah, sandiwaranya gimana. Intinya, bikin mereka down!”
“Hem. Taruhannya nyawa ini sih, Bud” keluh Ratna.
“Are you in, or out?” tanya Budi langsung pada intinya. Ratna tidak langsung menjawab.
“Oke. I’m in” jawab Ratna pada akhirnya.
Pembicaraan di teleponpun selesai. Budi langsung balik kanan, dan berjalan menuju area dimana tim finishing bekerja. Tapi belum juga sampai, sebuah pesan singkat masuk ke dalam ponselnya. Dia mengira itu pesan dari Ratna.
*Adel*?
__ADS_1