
Sandi terlihat lahap menyantap sarapannya. Ini pertama kalinya dia dimasakkan oleh seseorang. Dan dia merasa cocok dengan masakan itu. Saking lahapnya, sampai-sampai orang yang memasakkannya tergelak saat bergabung dengannya di meja makan.
“Lahap bener, mas?”
Sandi menegakkan kepalanya mendengar teguran itu.
“Iya, Nat. Enak banget masakanmu” jawab Sandi.
“Hem?”
Pertanyaan singkat itu sukses menghentikan acara mengunyah Sandi.
“Apa?” tanya Sandi bingung.
“Tadi, mas manggil aku apa?”
Ditanya begitu sandi tersenyum.
“Natasya” jawab Sandi. Sephia tersipu mendengar jawaban itu.
“Kamu emang pakai nama itu,kan?” lanjut Sandi.
“Emang mas udah nganggep aku orang spesial, gitu?”
“Udah dari kemarin-kemarin, Phia. Nggak nyadar, apa?” jawab Sandi.
“Aku nggak mau ge er aja, mas. Sakit, kalo terlalu pede tapi nyatanya zonk”
“Hempf” sandi tergelak mendengar kalimat Sephia.
“Kok ketawa, sih? Bener, kan?” rajuk Sephia sambil mencubit lengan Sandi.
“Adoow. Iya, iya. Lucu aja ekspresi kamu, tuh. Gemes, tahu” jawab Sandi.
Mereka terdiam untuk beberapa saat. Sephia juga ikut sarapan. Tak sepatah katapun keluar sampai makanan Sandi habis sepenuhnya. Diapun langsung beranjak hendak membawa piringnya ke belakang.
“Biar aku aja, mas” cegah Sephia. Sandipun mengurungkan niatnya.
“Mau kemana sih, mas? Kayaknya buru-buru amat?” tanya Sephia.
“Mau ke rumah Budi, Nat. Kemarin kan nggak sempet. Malu aku kalo nggak nongol” jawab Sandi.
“Budi?” gumam Sephia. Wajahnya terlihat berbeda.
“Hem?” Sandi merasa ada yang Aneh.
“Apa?” Sephia bingung dengan pertanyaan super singkat Sandi.
“Tumben amat kamu manggil langsung nama? Kamu harus tetep sopan sama Budi, sayang!” kata Sandi menjelaskan.
Dia pergi masuk ke dalam kamar. Mengambil jaket dan sepatunya. Lalu kembali lagi sambil mengantongi ponsel, dompet, dan kunci motornya. Sandi semakin merasa ada yang aneh dari Sephia. Kini wanita cantik itu malah melamun.
“Kamu kenapa, sayang?” tegur Sandi.
Tatapan mata Sephia menyiratkan kalau dia sedang menyembunyikan sesuatu. Sandi yakin, kalau sebenarnya Sephia ingin mengatakan sesuatu, tapi dia bingung untuk memulainya dari mana.
“Bilang aja, Nat! Apa yang mau kamu ceritain?” tanya Sandi lagi. lagi-lagi Sephia hanya menatapnya.
“Kamu nggak abis digodain kang Timin, kan?” goda Sandi.
“Ish. Enggak, lah. Dia pikir aku nggak bisa gulat, apa? awas aja kao berani” jawab Sephia heboh.
“Hempf. Ha ha ha ha. Ya terus kenapa? Tegang gitu?”
__ADS_1
“Eeeem” Sephia mempersiapkan diri.
“Aku belum yakin, mas. Aku takut aku salah. Dan aku berharap temuanku ini salah” jawab Sephia.
“Temuan? Temuan apa?” tanya Sandi dengan raut wajah serius.
“Ikut aku!” ajak Sephia.
Mereka berjalan keluar rumah lewat pintu belakang. Dan langsung masuk ke dalam sebuah rumah lagi di belakang rumah Sandi. Tanpa permisi juga, Sandi masuk dan langsung mengikuti Sephia masuk ke dalam sebuah kamar. Nuansa pink tapi berkarakter emo langsung menyergap mata. Sephia mengambil sebuah map dari sebuah lemari.
“Tolong mas jangan gegabah, ya! Aku sendiri belum yakin. Apa temuanku ini real, atau cuman jebakan” pesan Sephia saat hendak menyerahkan map itu kepada Sandi.
“Iya” jawab Sandi.
Sephia menyerahkan map hijau itu. Sandi membuka lembar demi lembar kertas yang berisi foto pesan dari sebuah ponsel.
Pesan-pesan untuk eksekusi sebuah rencana. Dan Sandi tahu, semua pesan itu telah dilaksanakan dengan baik oleh eksekutornya.
Kecelakaannya Budi dan Adel, kecelakaannya Adel, pembakaran bengkel kayu pak Fajar, dan kecelakaannya Budi karena ditabrak sebuah mobil.
Semua penerimanya, alias eksekutornya berbeda-beda. Uniknya dari rangkaian pesan itu. Orang yang disebut-sebut sebagai bodyguardnya si Stevani ini, menerima pesan dari nomor yang yang berbeda-beda pula.
“Terlalu random, Nat. Gua nggak ngerti apa maksudnya ini” komentar Sandi.
“Gini, pengirim pesan itu cerdik juga. Alih-alih pakai satu nomer buat nelepon, dia malah pakai banyak nomer buat ngirim pesan sigkat. Karena dia tahu, sekalipun diumpetin, nomornya pasti kelacak. Lebih aman kalo dibuat random” jawab Sephia.
“Ya. Randomnya itu yang aku belum nyambung. Kan susah sekarang pake nomor tanpa identitas”
“Gampang kok” jawab Sephia sambil tersenyum.
Dia megambil ponsel Sandi dari kantong celana Sandi. Dia buka aplikasi SMS. Dia kirimkan sebuah pesan ke nomor sekundernya. Dia perlihatkan ponselnya sendiri kepada Sandi. Ada sebuah pesan SMS masuk dengan nomor yang tidak terdaftar.
“Nggak perlu punya kartu, bahkan nggak perlu punya hape. Cukup hafalin nomernya aja. Pinjem hape temen, apa hape siapa gitu, jambret juga boleh. Terus, kirim SMS deh. Abis itu, hapus. Balikin hapenya, beres”
“Coba lihat huruf kapitalnya, mas!” saran Sephia. Budi mengamati lagi.
Memang aneh. Setelah titik, hurufnya kecil semua. Tapi ada beberapa huruf yang berada di tengah-tengah kata, malah dibuat kapital.
“I K C C?” tanya Sandi mengeja huruf kapital itu.
“Kode itu juga muncul dalam bentuk lain” kata Sephia.
Dia menunjukkan foto tangkapan layar lain. Dimana ada sebuah jam tangan yang bagian belakangnya terukir deretan angka.
“Bentuknya seperti tanggal. Kosong sembilan, sebelas, tiga tiga. Kaya sembilan november tahun tiga puluh tiga” lanjut Sephia.
“Tapi ini kan jam baru?” tanya Sandi.
“Ya. sayang nggak ada informasi, pesanan siapa, atau mau di kirim ke mana” jawab Sephia.
“Mas punya referensi kode itu?” tanya Sephia.
“Lah, harusnya kamu udah nebak, dong” sahut Sandi.
“Aku terpaku sama huruf K. Kode kamu kan juga ada huruf K. Aku takut itu jebakan buat kamu, mas” jawab Sephia. Sandi kembai membaca deretan huruf itu.
I K C C?
Sembilan, sebelas, tiga tiga?
9 K 7 2 0
I K C C
__ADS_1
“OSA?” gumam Sandi.
“Apa?” tanya Sephia.
“Nggak. Nggak. Nggak mungkin” gumam Sandi lagi.
Tangannya bergetar. Dadanya bergemuruh. Jantungnya berdegup kencang. Keringat dingin langsung mengucur. Wajahnya memerah seperti sedang marah.
“Mas, kamu kenapa? Apanya yang enggak?” tanya Sephia. Raut wajahnya terlihat panik.
“OSA? Nggak. Nggak mungkin” gumam Sandi lagi.
“Mas, duduk dulu, mas!” saran Sephia.
Sandipun menuruti saran Sephia. Dia duduk di tepi ranjang dikamar itu.
“Mas, apapun yang kamu temuin, itu belum tentu bener. Bisa jadi ini jebakan” kata Sephia mengingatkan.
“Ya. ya. ini pasti jebakan” komentar Sandi.
Suaranya seperti orang berbisik. Matanya masih mengawang, tak tentu fokusnya. Tapi ikutan memerah.
“Siapapun OSA itu, jangan kamu hakimi dulu ya, mas! Kita cuman punya foto-foto ini”
“Budi” gumam Sandi.
“Apa?” Sephia terkejut, Sandi menyebut nama itu.
“9K33-OSA. Itu kodenya Budi” jawab Sandi.
“Nggak. Nggak mungkin. Mas Budi bukan tipe seperti itu. Dia orang yang hormat sama orang tua” sahut Sephia.
Tiba-tiba saja Sandi beranjak dari ranjang itu.
“Mas?”
Sephia memekik kaget melihat Sandi berjalan cepat, keluar dari kamar itu. Dia bergegas mengejarnya.
“Mas, jangan gegabah! Kalian kan juga pernah kena fitnah, sebelumya. Aku yakin itu pasti jebakan” seru Sephia, menghalangi jalan Sandi.
“Aku juga berpikiran begitu. Tapi lebih dari setahun aku nggak kontek sama dia. Sejak sayap timur bikin ulah”
“Hubungannya?”
“Ya aku nggak tahu agenda dia apa. Orang di sana aja dia masih nakal. Sekalipun nggak tawuran, nggak geng-gengan, bukan berarti udah tobat sepenuhnya, kan? Kalo dia latihan klandestein, gimana?”
“Astaga. Mas, kejauhan kamu mikirnya. Kalian kan sodara. Masa nggak ada kemistri? Mas pasti bisa ngerasain lah, gelagatnya mas Budi”
“Ya, aku tahu. Tapi apa kamu nggak inget Onyx? Kaya apa deketnya aku sama dia? Sampe orang-orang bilang kalo Onyx itu gantinya Budi. Tapi nyatanya?”
“Mas. Apapun yang kamu pikir itu, taruh dulu, mas! Aku tahu, kamu marah karena ada Adel dalam pusaran itu” kata Sephia. Sandi terkesiap.
“Aku nggak ada masalah kalo mas Sandi mau marah sama mas Budi. Asal data kita udah terkonfirmasi bener. Kalo ternyata itu jebakan? Dunia akherat kamu rugi, mas” lanjut Sephia.
“Ini aku juga mau nanya sama Budi” jawab Sandi.
“Jangan anarkis ya, mas! Taruh dulu kecemburuanmu!” pinta Sephia.
“Iya” jawab Sandi singkat.
Tatapan tajam itu sudah cukup bagi Sephia untuk mengerti, kalau Sandi tidak ingin dihalangi lebih lama lagi. Diapun menyingkir. Memandangi punggung Sandi yang berlalu. Sambil berdoa, semoga tidak terjadi kekacauan di sana.
***
__ADS_1