Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
akhirnya sah


__ADS_3

Adel tertawa sambil berlari ke depan rumah. Budi tertawa saja melihat tingkah kocak calon istrinya. Dia mengikuti Adel ke depan rumah. Namun sesampainya di depan rumah, bayangan Erika kembali menggelayut di pelupuk matanya. Seketikan kesedihan kembali bertahta di hatinya.


“Mas?” tegur Adel.


“Hem?”


Budi terkejut mendapat teguran itu.


Adel tidak berbicara lagi. Dia hanya menggamit tangan Budi, lalu membawanya ke bibirnya. Dia mencium tangan Budi dengan penuh khidmad.


“Nggak usah buru-buru menghapus nama Erika, mas!” kata Adel kemudian. Budi tertegun.


“Aku juga kesulitan menghapus nama mas dari pikiranku” lanjutnya.


Mereka saling menatap untuk beberapa lama. Semilir angin malam menambah kesyahduan mereka berdua.


“Aku terima nama Erika ikut menjadi bagian dari cinta kita, mas. Sebagai pengingat, bahwa kita, juga akan menyusulnya”


Budi mengernyitkan keningnya, tanda belum mengerti arah perkataan Adel.


“Juga sebagai pengingat, agar kita tidak perlu mengejar kemewahan dunia” lanjut Adel. Budi mulai bisa menerka maksud Adel.


“Kalaupun kita sukses, biarlah nama Erika menjadi pengingat kita, agar kita tidak sombong. Karena nggak ada gunanya. Biarlah kesuksesan kita nanti, menjadi modal, untuk kita mengumpulkan bekal kematian kita”


“Ta?” gumam Budi.


Budi tidak menyangka, keikhlasan yang dimiliki bapaknya, kini dimiliki juga oleh Adel. Dia tidak habis pikir, bagaimana Adel bisa sampai di maqom itu.


“Bram?” gumam Adel juga.


“Tata yakin sama yang Tata katakan?” tanya Budi.


Adel tersenyum, Budi telah kembali menggunakan panggilan sayangnya yang dahulu.


“Yakin, Bram. Tata ikhlas, ada nama Erika di antara kita. Hidup tata sekarang, nggak lepas dari jasa Erika, ngejauhin Tata dari para pengedar itu, Bram. Itu hutang yang nggak bisa Tata bayar” jawab Adel.


“Permata, emang nggak akan kehilangan sinarnya, sekalipun jatuh ke kubangan lumpur” komentar Budi.


“Apakah permata itu masih boleh Abram miliki, Ta?” tanya Budi.


“Permata itu akan selalu menjadi milik Abram” jawab Adel.


“Makasih, Ta. Makasih” kata Budi seraya gantian mencium tangan Adel.


***


Setengah jam kemudian, ada banyak warga sekitar rumah Adel yang datang berkunjung. Termasuk pak RT, pak RW, bahkan pak kades, yang kebetulan tetangga Adel juga, ikut hadir. Mereka bertanya pada Adel tentang kabar rencana pernikahannya dengan Budi malam ini juga.


Adel mengulangi apa yang disampaikan Madina. Termasuk tentang mimpinya sendiri. Para tetangganya masih pada keheranan. Adel mengatakan kalau rencana ini adalah keputusan para ibu.


Sempat pak kades menanyakan pendapatnya sendiri tentang keputusan ibunya menikahkannya kembali. Adel mengatakan, dirinya ridho dan senang sekali dinikahkan dengan Budi. Karena memang Budi adalah kekasihnya, lelaki yang sangat dia inginkan untuk menjadi imamnya. Berbeda dengan pernikahan sebelumnya, yang memang dia hanya patuh terhadap orang tuanya.


Akhirnya pak kades dan warga yang lain memahami situasi Adel. Merekapun menyatakan mau untuk menjadi saksi mereka berdua.


Beruntung, tak lama kemudian, bu Lusi dan bu Ratih datang bersama pak penghulu. Menyusul di belakangnya, ada Putri dengan pakde Kusno dan beberapa warga tetangga Budi.


Begitu salaman, Budi langsung diberondong banyak sekali pertanyaan oleh para tetangganya yang masih belum mengerti. Meskipun pertanyaan itu setengahnya menggoda Budi, yang mereka bilang seperti orang kebelet eek.


Stevani menjadi yang terakhir datang. Dia berseru, mas kawinnya siap. Para tamu yang hadir kebingungan degan seruan Stevani. Karena kenyataannya, yang terlihat di mata mereka adalah bungkusan sate dan lontong.


Barulah, saat dia mengeluarkan kotak perhiasan dari tas slempangnya, para tamu bersorak mengerti. Mereka tertawa dan saling melempar candaan.


Tanpa menunda waktu lagi, bu Lusi selaku tuan rumah, mengajak para tamu yang hadir untuk segera masuk ke dalam rumah. Kang Supri CS menjadi tamu yang paling akhir datang, bersamaan dengan pak Paul dan Aldo.


Budi diberikan kesempatan untuk berganti pakaian. Rupanya Stevani sempat membelikannya setelan jas hitam. Semua bersorak melihat Budi diberikan setelan jas itu.

__ADS_1


Adel juga diberi kesempatan untuk bersolek. Bertempat di kamar ibunya, Adel bersolek ditemani adiknya. Setelah sebelumnya, Madina dibisiki sesuatu oleh bu Lusi.


Tak sampai setengah jam, kedua mempelai sudah siap di depan penghulu. Budi sempat terpana melihat penampilan Adel. Adel menggunakan baju pengantin model kebaya berwarna putih. Dan jarik berwarna cokelat.


Usut punya usut, baju pengantin itu ternyata milik bu Lusi. Dan masih indah dipandang mata, sekalipun sudah dua puluh tahun lebih tak pernah dipakai lagi.


Pak penghulu meminta berkas pengenal masing-masing mempelai terlebih dahulu. Budi yang sempat terkejut kini bisa bernafas lega, karena ternyata Putri membawakan kartu keluarga bahkan sampai ijazah SMKnya.


Mereka berdua juga diminta mengisi blangko pernikahan siri. Sebagai tanda bukti nanti, bahwa telah terjadi pernikahan siri atas nama mereka berdua.


Setelah berkas-berkas selesai dipersiapkan, pak penghulupun membuka acara akad nikah. Beberapa candaan seputar mendadaknya acara ini dia lontarkan. Semua tertawa termasuk kedua mempelai.


Bu Lusi diminta melakukan akad pelimpahan mandat wali kepada pak penghulu. Barulah kemudian, pak penghulu menjabat tangan Budi untuk melakukan ijab qobul.


“Saya nikahkan dan saya kawinkan ananda Budi Utomo bin almarhum Abdul Rouf, dengan anak saya Adelia Fitri binti almarhum Eka Fajar, dengan mas kawin perhiasan emas lima puluh gram dibayar tunai”


“Saya terima nikah dan kawinnya Adelia Fitri binti almarhum bapak Eka Fajar dengan mas kawin perhiasan emas seberat lima puluh gram, dibayar tunai”


“Sah?” tanya pak penghulu.


“Saaaaaahhh”


Para saksi yang hadir menjawab serempak. Langsung saja pak penghulu mendoakan kedua mempelai, diaminkan seluruh tamu yang hadir.


Budi tak kuasa menahan keharuannya selama berdoa. Ingatannya melayang pada bapaknya. Pahlawan hatinya yang kini telah tenang di alam sana. Juga pada Erika, wanita yang kini juga telah mencapai maqom keikhlasan tingkat tinggi. Wanita yang merelakannya menikah dengan adiknya sendiri.


Aku pamit ya, Ka? Aku ijin, untuk melanjutkan hidupku. Semoga Gusti Alloh selalu memberimu tempat terbaik, agar istirahatmu tenang tanpa gangguan. Aku pamit, Ka.


“Amiiin”


Pak penghulupun mengakhiri doa bersama itu.


“Nah. Silakan mbak Adel salim sama suaminya!” kata pak penghulu, setelah selesai berdoa.


Adelpun salim dan mencium tangan Budi. Tak ada yang bersorak. Itu karena Budi masih berlinang air mata.


Dengan keharuan bercampur kesedihan, juga kebahagiaan, Budi mencium kening Adel. berlabuh sudah kini hatinya, setelah perjalanan panjang nan melelahkan.


“Alhamdulillah” kata pak penghulu.


“Gimana mas Budi, sudah lega hatinya?” tanya pak penghulu.


Buru-buru Budi menyeka air matanya. Dia hanya bisa menganggukkan kepalanya.


“Mbak Adel sekarang sudah menjadi milik panjenengan. Jangan blayer-blayer lagi ya, mas!” lanjut pak penghulu.


“Ha?” Budi tidak mengerti maksud pak penghulu.


“Yang Abram ngirim orang ke sini” bisik Adel.


“Hempf. Oh. Hi hi hi. Siap, pak. Nggak akan lagi” jawab Budi setelah tergelak.


Bersamaan dengan gelak tawa para tamu, pak penghulu menutup acara akad nikah malam hari ini.


Madina, Putri dan Hanin beranjak ke dapur untuk mengambil hidangan. Sedangkan Stevani, terus menjalankan perannya menjadi seksi dokumentasi acara ini.


Keramahan dan kebahagiaan terus berlanjut hingga larut malam. Dua keluarga kini telah bersatu dengan menikahnya Budi dan Adel.


Duo sahabat Putri dan Madina kini juga berbahagia. Tak ada lagi ganjalan di hati Putri. Hilang sudah kemarahan pada sahabatnya yang selama ini dia tahan. Akibat dari putusnya duo kakak mereka dulu itu.


Pukul sepuluh lewat, satu persatu para tamu akhirnya berpamitan. Meninggalkan dua keluarga yang sedang berbahagia.


“Do. Lamar gih! Mumpung masih pada di situ” goda Budi pada Aldo.


“Dih. Aku belum nyiapin apa-apa, Bud. besok, lah” kilah Budi. Membuat Stevani agak kecewa.

__ADS_1


“Jia ha ha ha”


“Lagian nggak bilang dari pagi. Di kantor juga diem-diem aja” keluh Aldo.


“Hi hi hi” Budi tertawa lirih, melihat Stevani berlalu ke dalam rumah dengan muka masam.


“Ngambek, kan. Kamu ih, ada-ada aja” sungut Aldo.


“Ha ha ha ha”


Aldo dan pak Paul pamitan pulang. Bu Ratih mengantarkan pak Paul sampai di gerbang depan. Budi garuk-garuk kepala, karena tidak mendengar apa yang ibunya bicarakan dengan bosnya itu.


“Udah sah nih, Bram. Mau di sini terus sampe pagi?” goda Adel sambil berlalu.


“AWW”


Adel memekik sambil berlari kecil, menghindari tangan Budi. Budipun tergelak, dan ikut masuk ke dalam rumah.


Di ruang tengah, Budi mengajak Adel untuk sungkem kepada bu Lusi. Meminta restu, untuk mengarungi bahtera rumah tangga. Adel setuju dengan ajakan Budi.


Bergantian, mereka sungkem. Mengucapkan terimakasih dan meminta doa restu. Bu Lusi tak bisa berkata-kata. Derai tangisnya seolah bercerita lebih banyak daripada semua kata yang bisa dia ungkapkan.


Kepada bu Ratih, mereka juga melakukan hal serupa. Lebih tenang dari bu Lusi, bu Ratih memberikan wejangan kepada mereka berdua. Bahwa pernikahan bukanlah akhir, namun malah awal buat mereka berdua. Awal kebahagiaan, namun juga awal dari perjuangan. Doa-doa terbaik bu Ratih tebarkan untuk mereka. Berdua.


Setelah selesai selesai sungkeman, bu Lusi menyarankan mereka berdua untuk segera pergi ke kamar. Namun Budi malah tersenyum malu-malu. Sontak senyum malu-malunya mengundang tawa semuanya, termasuk juga Adel.


“Ya udah. Kalo gitu, ibu sama bude Ratih, juga segera ke kamar aja” saran Madina.


“Kita juga, dong?” tanya Putri.


“Iya, lah” jawab Madina.


“Tapi kita di kamar bawah aja, bertiga” lanjut Madina.


“Kenapa emang?” tanya Stevani.


“Kedengeran, mbak. Entar baper, lho” jawab Madina.


“Busyet. Itu mbak Adel apa Miyabi?”


“Sssttt!” tegur Madina.


“Hayo Putri!” seru bu ratih, sambil mendelik pada Putri.


“Madin yang ngajarin”


“Hiiih. Malah dibilangin”


“Adoow” Putri memekik dicubit Madina.


“Dasar ember” sungut Madina. Dia beranjak pergi menuju kamar tamu.


“Yah, ngambek" gumam Putri


"Diiin” panggilnya.


Putri beranjak mengejar sahabatnya. Bu Lusi tergelak sambil memberi kode untuk Stevani agar ikut Madina dan Putri. Stevanipun pamit ke kamar.


“Udah, Bud. Kita ke kamar juga, nih” goda bu Lusi sambil mengajak bu Ratih beranjak. Budi tersenyum penuh arti.


“Tapi jangan di sini juga lho, ya!” seru bu Lusi


“Hempf. Ha ha ha ha” Budi tertawa mendengar ucapan mertuanya.


“Tuh, kan? Dasar anak muda” komentar bu Lusi.

__ADS_1


“Adoow”


Budi terkejut mendapat cubitan dari istrinya. Diapun tertawa lagi mendapat pelototan malu-malu dari istrinya. Bu Ratihpun tertawa mendengar bu Lusi masih bergumam saat berjalan ke kamar. Sepeninggal mereka semua, Budi kembali tertegun. Membuat Adel bingung.


__ADS_2