Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
video call pertama setelah jadian


__ADS_3

Malam ini hujan turun lagi. Selepas isya’ Budi langsung rebahan di kamar. Dia sudah tida sabar, ingin melakukan panggilan video dengan Adel.


*Tuuuuut*


Budi melakukan panggilan video. Panggilan itu tidak segera mendapatkan jawaban. Hingga panggilan pertama sudah kehabisan waktu, tak juga kunjung mendapatkan jawaban. Tapi Budi tidak menyerah. Dia tahu, panggilan video terkadang terkendala cuaca, atau sistem yang eror. Dia lakukan lagi panggilan video itu.


“Halo, assalamu’alaikum” kali ini panggilannya terjawab.


“Wa’alaikum salam” jawab Budi.


Seketika dia bangun dari rebahannya. Dia duduk bersila di atas kasur. Rupanya mereka sama-sama di dalam kamar. Terlihat rambut Adel basah oleh air. Dan dia masih mengenakan handuk berbentuk mantel.


“Sori, barusan aku di lagi mandi. Tanggung sih, jadi aku biarin aja. He he”


“Loh, kok baru mandi? Baru pulang, ya?” tanya Budi.


“Iya. Abisnya ibu masih lama ternyata. Menjelang magrib, baru kelar”


“Oh, magriban sekalian?”


“Iya. sebenernya bukan karena mau magriban sekalian, sih. Masih kekejar, benernya. Cuman aku takut, kalo udah masuk jalan ke desa aku itu, udah hampir gelap”


“Lah,bukannya dicepetin, malah ditunggu gelapnya”


“Justru kalo startnya udah gelap sekalian, aku nggak takut”


“Hem? Kok bisa? aneh”


“Ha ha, aneh, ya? Tapi gitu aku, tuh” jawab Adel.


Budi tertegun melihat Adel duduk di sebuah kursi di samping ranjangnya. Dan Adel meletakkan ponselnya di sebuah tempat yang lebih tinggi dari kursi itu. Budi bisa menebak tempat apa itu. ya, itu adalah meja rias.


“Kok bengong?” tegur Adel. Budi tersenyum malu.


“Ini kedua kalinya lihat kamu baru abis mandi” jawab Budi.


“Emang kenapa kalo abis mandi? Jelek, ya?”


“Justru cantik banget, tahu. Pasti nggak banyak yang tahu, pas rambut kamu basah gini”


“Ya enggak, lah. Masa baru abis mandi terus manggung? Apa kata dunia?” sahut Adel sambil tertawa kecil.


“Nggak bosen aku liatnya”


“Apanya”


“Ya wajah kamu, lah”


“He he. Jangan yang lain, ya! Belum waktunya”


“Hem, apa tuh, yang lain?”


“Ha ha ha ha”


Adel tertawa senang bisa menggoda Budi. Untuk beberapa saat, perbincangan terhenti. Mereka saling memandang satu sama lain.


“Gimana, mas? Udah plong, atinya?” tanya Adel.

__ADS_1


Budi tersenyum, berbagai rasa berbaur di hatinya.


“Alhamdulillah, udah. Belum pernah aku ngerasain sebahagia ini dalam hidup aku” jawab Budi.


“Masa, sih? Bukannya, mantan kamu banyak?”


“Siapa yang bilang?”


“Ya kali. kan kamu ganteng. Pasti banyak yang mau lah, jadi pacar kamu”


“Ha ha ha. Emang sih, tapi aku belum pernah ngerasain perasaan cinta yang segede ini. Sampe nggak bisa tidur”


“Ha ha ha. Emang segitunya mas, kamu cinta sama aku?”


“Sestres-stresnya aku, belum pernah aku sampe ngeliat si A jalan, tapi di mataku, dia adalah si B. Belum pernah”


“Oh iya. Itu yang mas bilang tadi, kan? Maksudnya gimana sih?” tanya Adel penasaran.


“Ya, pas tadi di kantor. Aku kebayang-bayang terus sama wajah kamu. Terutama pas kamu pake dressnya Putri. Cantiknya kamu berasa muncak, del”


“Terus?” sahut Adel semakin penasaran. Senyumnya makin lebar.


“Iya. pas mau ambil air minum, aku kaget banget. Di mataku, kamu lagi jalan dari arah resepsionis. Pake seragam PRAM yang biru. Kan kaget banget, aku. Cuman yang aneh, kok kamu cuman senyum sama aku. Udah gitu, aku tanya ngapain ke sini, kamu bilang nganterin surat buat Hilda. Itu kan tugas resepsionis. Sejak kapan seorang Adel jadi resepsionisnya PRAM?”


“Terus?” Adel sudah mulai tertawa.


“Aku ditepok lagi sama pak Paul. Dia bilang, pengalaman pertama emang membekas. Sampe-sampe marsya ditanyain kenapa kesini”


“Ha ha ha ha. Marsya itu resepsionisnya?”


“Iya. makanya aku bingung, nama Marsya disebut”


“Pas aku noleh, kamunya ilang. Gantian Marsya yang ada di depanku. Kan aku jadi celingukan, kaya orang bego”


“Ha ha ha ha ha”


“Mana diledek lagi sama pak Paul”


“Diledek gimana?”


“Dia bilang curiga, aku udah dikelonin sama mbak kunti”


“Kuntilanak?” tebak Adel.


“Iya"


“Oh, ha ha ha ha. Berarti mas bilang kalo mas tadi telat gara-gara semalem nggak bisa tidur, karena diganggu kuntilanak?”


“Nggak spesifik kuntilanak, sih. Cuman bilang ada yang menghantui. Pak Paulnya sendiri yang bilang kuntilanak”


“Oh. Ha ha ha ha, asyem. Secara nggak langsung, ngatain aku kunti tuh. Kan aku yang menghantui mas Budi”


“Ha ha ha ha”


Mereka masih tertawa dengan pengalaman lucu yang diceritakan Budi. Sesekali Adel geleng-geleng kepala. Dia masih tidak habis pikir, dia tidak menyangka kalau pesonanya akan membuat Budi sampai tidak bisa tidur.


“Sekarang kan udah plong. Mas jangan tidur malem-malem, ya! Nggak baik buat kesehatan. Jangan sampe gantengnya ilang!” pesan Adel.

__ADS_1


“Iya, sayang. Mas nggak akan tidur malem-malem. Mas udah tenang. Makasih ya, udah mau kasih jawaban yang mas tunggu-tunggu”


“Cie, udah mulai manggil sayang” goda Adel.


“Boleh, kan?”


“Boleh banget” jawab Adel.


“Tapi kayaknya udah jamak deh, penggunaan panggilan itu. Pake yang lain yuk!” ajak Adel.


“Apa?” tanya Budi. dia tampak setuju dengan ide itu.


“Eeem. Apa ya? Adel belum ada ide, mas. Ha ha ha”


“Mas sih pernah kepikiran satu panggilan. Sayangnya dulu nggak diterima”


“Apa tuh?"


“Aku panggil kamu, Ta. Kamu panggil aku, Bram”


“Ta? Bram? Bahasa mana tuh? Artinya apa?” tanya Adel penasaran.


“Singkatan, sih. Armata sama Abram”


“Kaya nama orang?"


“Kayaknya dulunya nama orang, sih”


“Sekarang, nama apa?”


“Tank”


“Ha? tank perang ?”


“Iya”


“Ha ha ha ha. Yang punya moncong tank kan, cuman kamu, mas. Adel gak punya. Hi hi hi” Adel tertawa, merasa lucu membayangkan moncong senjatanya tank.


“Kok malah ke situ?”


“Ha ha ha ha. Aduh, sakit perut Adel, mas. Tapi bagus juga sih. Adel setuju”


“Fix, ya. Mas panggil Adel, Ta. Adel panggil mas, Bram”


“Oke” jawab Adel. Budi tersenyum senang.


“Abram, Tata mau makan dulu. Laper” lanjut Adel. Budi tergelak mendengar improvisasi Adel.


“Iya, Tata. Maem dulu, gih. Abram juga mau maem” jawab Budi. Gantian Adel yang tertawa.


“Assalamu’alaikum”


“Wa’alaikum salam”


Budi masih tertawa mengingat ide konyolnya malah ditrerima Adel. Dia juga tertawa saat membayangkan, pasti orang lain akan bingung mendengar panggilan sayang tak biasa ini. Sama seperti saat ada orang memanggil ayahnya, dedi. Bagi yang tidak tahu, pasti akan dianggap kurang ajar, memanggil ayahnya dengan menyebut namanya langsung.


****

__ADS_1


.


__ADS_2