
Dua hari berselang, sekali lagi pabrik itu geger, saat Budi kembali masuk. Banyak pertanyaan yang dialamatkan padanya. Tentang kronologi musibah itu, mana yang benar antara yang diceritakan Dino atau yang ada di berita.
Tentang keterlibatan Stevani. Banyak yang tidak percaya, dan belum percaya kalau Stevani adalah dalang dari musibah yang dialami Budi. Dan masih banyak lagi. Satu per satu pertanyaan itu dia jawab. Walaupun tidak sampai mendetil. Dia sampaikan kalau dia sendiri masih menunggu hasil penyelidikan polisi.
Isma menjadi orang yang paling heboh menanggapi kasus ini. Banyak hal dia tanyakan. Intinya dia takut, kalau Stevani menyimpan dendam setelah berkali-kali dia cecar saat meeting soal keuangan. Dan mengenai itu, Budi mengaku tidak tahu. Yang dia masalahkan hanya urusan Stevani dengan dirinya saja.
Aldo, yang masih menyimpan rasa cinta kepada Stevani, menyatakan rasa tidak percayanya atas tuduhan yang dilancarkan Budi kepada Stevani. Banyak hal dia pertanyakan, karena menurutnya Stevani bukan tipe cewek yang suka dengan kekerasan. Hanya galak dan judes saja.
Budi tersenyum menanggapi komentar Aldo.
Budi mengatakan, kalau semua yang di pabrik ini tidak percaya kalau Stevani adalah dalang dari tragedi itu, dia lebih tidak percaya lagi. Karena semua yang Stevani lakukan selama dia sakit, dia katakan terasa sangat tulus.
“Aku juga berharap kalo aku salah” kata Budi. Aldo mengernyitkan dahinya.
“Tapi bolanya, sekarang ada di tangan Stevani. Tugas dia untuk membuktikan kalau semua bukti yang dipegang polisi itu, salah” lanjut Budi.
Aldo tidak membantah lagi. Dia menyadari kalau terlalu mencecar Budi sama saja dengan mencari perkara. Walaupun dia masih tidak percaya, tapi dia memilih untuk menyudahi perbincangan tentang Stevani itu.
Di hari itu juga, ditengah euforia kebebasan dari bayang-bayang premanisme Dino dan kawan-kawannya, euforia kembalinya budi yang dahulu, maupun rasa sedih, karena harus menghadapi kenyataan, ada kawan mereka yang sedang ditahan polisi karena tuduhan kejahatan, Erika mengatakan, ada hal yang sangat mendesak untuk segera dibahas.
Itulah yang diamanatkan pak Paul kepada Erika. Dia meminta Erika untuk mengumpulkan semua kepala divisi. Termasuk ketiga punggawa PPIC.
“Tumben kita juga diajakin?” celetuk Riki.
“Kan bulan kemarin juga diajakin, kalian” jawab Erika.
“Itu kan karena Dino berulah. Pas banget ibunya Budi lagi sakit” sahut Aldo.
“Iya, kirain dikasih penghargaan. Nggak tahunya malah kena tegur” tambah Riki.
“Ya udah, buruan ke sana!” perintah Erika.
“Iya-iya” jawab Riki.
Keduanyapun langsung berjalan menuju ruang meeting di lantai dua. Tapi tidak dengan Budi. Dia masih duduk termenung di meja kerjanya. Erika menduga kalau perbincangan yang baru saja usai itu, Budi juga tidak mendengarnya.
“Belum lega, emang?” tanya Erika sambil menyentuh tangan Budi. Sontak Budi terkejut mendapat teguran itu.
“Apanya? Loh, mana Aldo?” tanya Budi kebingungan.
“Ya ampun, jadi dari tadi kamu nggak merhatiin kita?” komentar Erika.
“Udah naik noh, ke ruang meeting” lanjutnya.
“Astaghfirulloh” kata Budi sambil menutupi wajahnya dengan telapak tangannya.
“Apa lagi yang kamu pikirin, Bud? Bukannya harusnya kamu seneng, dua masalah hilang bersamaan?” tanya Erika.
“Masalah? Oh Vani sama Dino?” sahut Budi.
“Ya, kalo Dino aku nggak mikirin. Tapi Vani, aku masih nggak habis pikir. Ngapain pake cara kasar gitu? Aku itu baru pacaran sama Adel. Kalo dipikir, kemungkinannya kan ada dua. Bisa jadi lanjut ke pelaminan, bisa jadi bubar. Orang udah nikah aja banyak yang kegoda, apalagi yang baru pacaran”
“Pelakor? Ha ha ha ha”
“Lha iya, kan?”
“Namanya jatuh cinta, Bud. kadang-kadang bikin orang buta. Bukan matanya, tapi hatinya. Kaya monyet kelaparan aja. Pokoknya lihat makanan, serbu. Nggak peduli itu rumah orang gentengnya pada terbang, dapur berantakan. Pokoknya, makan”
“Ha ha ha, suwek”
“Udah, yuk! Udah ditungguin pak Paul noh” tegur Erika.
__ADS_1
“Oh, iya”jawab Budi.
Merekapun segera berjalan menuju lantai dua, dimana ruang meeting berada. Dan ternyata mereka adalah orang yang paling terakhir datang. Semua kepala divisi sudah berkumpul. Erika duduk di sebelah pak Paul, sedangkan Budi duduk di samping Isma. Bersebelahan juga dengan Aldo di kirinya.
“Baik, bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian. Langsung saja kita mulai. Langsung pada pokok bahasannya” kata pak Paul memulai meeting itu. semua peserta kompak membuka buku catatan masing-masing.
“Sehubungan dengan kasus yang menimpa Stevani, dimana keputusan yang perusahaan berikan ternyata membuat dua freelance sales kita mengundurkan diri, termasuk juga beberapa rekan HRD yang bertepatan dengan habis masa kerja, maka terjadi kekurangan orang di divisi marketing dan juga HRD” lanjut pak Paul.
Semua orang masih menyimak tanpa ada yang menginterupsi. Semua masih menantikan kalimat lanjutan dari atasan mereka itu.
“Kita juga belum mendapatkan peminat untuk mengisi posisi yang ditinggalkan oleh Stevani, dan juga dua orang freelancer itu. sedangkan kita juga harus segera ngebut untuk mengejar target besar kita yang akan datang. Maka dari itu, saya memutuskan untuk melakukan rotasi”
Beberapa orang saling memandang. Mereka tampak saling bertanya walaupun hanya dalam bahasa isyarat.
“Pertama, dari divisi finance & purchasing. Saya memutuskan untuk menggeser Hilda, untuk masuk ke divisi marketing. Apa kamu keberatan, Isma?”
“Oh, tidak pak. Walaupun rasanya akan kurang, tapi masih bisa kami tangani” jawab Isma.
“Good. Tolong dicatat! Nanti setelah meeting ini langsung kamu sampaikan!” perintah pak Paul.
“Baik, pak” jawab Isma.
“Selanjutnya, yang kita semua sudah tahu. Ada teman kita yang sedang menanjak karirnya di bidang bisnis online. Sekalipun beda bidang, saya yakin, dia pasti bisa mengemban tugas ini. Seperti yang sudah saya sampaikan kemarin Ka, Ratna akan saya tarik juga ke divisi marketing. Apa kamu keberatan?” lanjut pak Paul.
“Em, sedikit keberatan sih, pak” jawab Erika. semua mata tertuju padanya.
“Ya, saya paham. Memang berat mengerjakan tugas HRD itu sendirian. Apalagi kamu juga saya bebani dengan tugas sebagai sekretaris saya. Saya tahu kamu butuh tenaga bantuan” sahut pak Paul
“Begitulah, pak. Urusannya dengan perut banyak orang. Kalo sampai saya terlambat, bisa didemo orang sepabrik, saya” komentar Erika.
“Ha ha ha ha” pak Paul tertawa mendengar komentar Erika.
“Maksud bapak?” tanya Erika.
“Ya, kemarin kan kamu sempat nyeletuk, kalo Ratna aku geser, kamu pengen gantinya itu, Budi”jawab pak Paul.
“Loh, pak?” celetuk Aldo, reflek. Wajahnya menyiratkan banyak sekali pertanyaan.
“Iya, iya. Saya paham, Aldo. Saya juga nggak pengen Budi meninggalkan tugasnya sebagai PPIC” sahut pak Paul.
“Lalu, pak?” tanya Aldo penasaran.
“Saya akan melebur divisi PPIC dengan divisi HRD/GA”
“Waduh” celetuk Riki.
“Kenapa, Ki?” tanya pak Paul.
“Oh, tidak pak” jawab Riki.
Pak Paul tersenyum. Dia bisa menebak kalau Riki tidak nyaman berada di bawah Erika. karena Erika memang suka tegas. Terkesan galak, malah.
“Jadi nanti, kalian bertiga akan berada dibawah kepemimpinan Erika. kalian akan tetap menjalankan fungsi kalian sebagai PPIC. Hanya saja, mungkin akan ditambah dengan tugas-tugas HRD. Dan pembagiannya, akan diatur oleh Erika, berdasar kebutuhan dan kompetensi kalian”
Mereka bertiga mengangguk-angguk. Tapi pikiran mereka sudah sibuk mensimulasikan keadaan jika mereka berada dibawah kepemimpinan Erika.
“Apa kalian siap?” tanya pak Paul.
“Siap” jawab mereka bertiga kompak.
“Bagus. Karena kita harus ngebut, maka hari ini juga, yang saya sebutkan tadi harus sudah mulai berpindah tempat. Hitam di atas putihnya akan menyusul kemudian” kata pak Paul.
__ADS_1
“Isma?”
“Siap, pak”
“Erika?”
“Siap, pak”
“PPIC?”
“Siap” jawab mereka kompakan lagi.
“Farah, segera bentuk tim baru kamu! Jadikan mereka sehebat tim kamu sebelumnya!”
“Siap pak” jawab Farah.
Beberapa saat kemudian, meeting kali ini dinyatakan selesai, dan semua peserta diperbolehkan kembali ke kantor masing-masing.
Tim PPIC masih sibuk membicarakan pergeseran mendadak yang diputuskan pak Paul. Mulai dari beban kerja, previlage yang akan mereka terima saat menjadi anggota HRD, sampai mengaitkan keputusan pak Paul itu dengan kedekatan pak Paul dengan Erika.
“Nggak usah takut, Ki! Takut amat lo ama gua”
Mereka bertiga terkejut mendengar teguran dari belakang. Dan seperti tebakan mereka, dialah Erika yang menegur mereka.
“He he” Riki hanya bisa nyengir, mendapati perasaannya diketahui Erika.
“Gua sering kepusingan, Ki. Makanya sering judes sama siapa aja. Tapi dengan adanya kalian, gua berharap, semoga gua bisa lebih kalem. Abisnya kalian tuh, orang-orang hebat semua” kata Erika lagi.
“Ah, ini. Malah bikin tambah takut, kalo udah muji begini” celetuk Riki.
“Kok bisa?” tanya Aldo.
“Lah, Tio kan dulu gitu. Awalnya dipuji-puji sama mbak Rika. Abis itu diprek-in. Persis tempe penyet di kantin. Cabut kan, akhirnya?” jawab Riki.
“Suwek lo” sahut Erika.
“Ha ha ha. Iya, bener” komentar Aldo.
“Beda masalah itu, Ki. Udah jangan dibahas! Buruan beresin komputer, pindah ke kantor HRD!” tukas Erika.
“Sekarang juga, mbak?” tanya Aldo.
“Iya, lah. Kapan lagi?”
“Saya mau ngurusin material, mbak. Bisa ngamuk entar itu sopir, kelamaan dianggurin”
“Oh, iya, ya?” kata Erika.
“Tuh kan, Do. Sepandai-pandai tupai melompat, bisa kejedot juga juga, kan?” celetuk Riki.
“Maksud lo?” tanya Erika.
“Sejeli-jelinya mbak Rika, giliran denger bakal diduetin sama Budi, jadi oon. Ha ha ha ha” jawab Riki.
“Apa?” pekik Erika kencang.
“Kabuuur”
Riki menarik tangan Aldo untuk berlari menghindari Erika. Mau tak mau, Aldo mengikuti Riki berlari sambil tertawa geli. Erika mendelik sambil berkacak pinggang. Terlebih saat Budi juga ikut tertawa. Pada akhirnya dia hanya bisa geleng-geleng kepala, tapi ikut tertawa juga.
Sambil terus mengerjakan tugas masing-masing, mereka bertiga sepakat untuk mencuri waktu memindahkan perlengkapan kantor tim PPIC ke kantor HRD. Mereka sempat bertemu Ratna saat memindahkan papan informasi. Merekapun bercanda sejenak.
__ADS_1